Dalam kitab”at Taraatiib al Idaariyyah”, juz I, hal 241-245, karya”al Kattani”, ada dijelaskan tentang struktur negara Rasulullah SAW sebagai berikut:

  • Kepala negara: Muhammad Saw.
  • Mu’awin Tafwidh: Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar Ibnu Khattab.
  • Mu’awin Tanfidz: Hudzaifah al Yaman dan Zaid bin Haritsah.
  • Amir al Jihad: Muhammad Saw.
  • Jaysy ( tentara):315-30. 000 personil.
  • Syurthah (Polisi): Qays bin Sa’id ( Kepala Kepolisian).
  • Qadha’ (Peradilan): Muhammad Saw (Kepala Qadhi).
  • Qadhi Khusumat: Ali bin Abi Thalib dan Muadz bin Jabal.
  • Qadhi Hisbah: Muhammad Saw (kasus di pasar).
  • Qadhi Madhalim: Muhammad Saw.
  • Mashalih Dawlah (Biro Administrasi Umum) terdiri dari:

(lebih…)


Struktur Kultur dan Figur

Struktur, kultur dan figur merupakan tiga komponen yang saling integral satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Islam tiga komponen tersebut sangat dibutuhkan dan tidak boleh dipisahkan. Rasulullah SAW sendiri dalam berdakwah di Mekkah, beliau tidak hanya menitik beratkan kepada masalah kulturnya saja tetapi juga membuat struktur bawah tanah yang tidak diketahui oleh musuh-musuhnya di Mekkah. Yang mana tentunya struktur yang dibuat oleh Rasulullah di Darul Arqam sangat jauh berbeda dengan struktur yang dibuat oleh Abu Lahab dan Abu Jahal yang ada di Darun Nadwah. Kalau struktur yang dibuat oleh Rasulullah adalah struktur haq di bawah naungan wahyu, sedang struktur yang dibuat oleh Abu Lahab dan Abu Jahal adalah struktur bathil di bawah naungan “ra’yu”.
(lebih…)


KEHEBATAN DAN KEISTEMEWAAN NABI MUHAMMAD DALAM MEMIMPIN STRATEGI DAKWAH ISLAM KE SELURUH DUNIA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan tentang wilayah dakwah Nabi Muhammad Saw:

[ وَماَ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ – [ الأنبياء: 107

“Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.

Strategi dakwah Islam Rahmatal Lil ‘Alamin yang dipimpin oleh Rasulullah Saw, dibuktikan oleh catatan sejarah berikut ini (disesuaikan dengan Geografi Negara saat ini):

A.  ASIA TENGGARA

  1. Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 Masehi. Perjalanan dakwahnya dilanjutkan ke dari Indonesia ke kawasan Nusantara, melalui: Timur Leste, Brunai Darussalam, Sulu, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Kampuchea. (Sumber: H.Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, Bulan Bintang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)
  2. Ja’far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)
  3. Ubay bin Ka’ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35)
  4. Abdullah bin Mas’ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay Archipelago)
  5. ‘Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. sekitar tahun 625 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38)
  6. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah. sekitar tahun 623 M/ 2 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929;  T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968)
  7. Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39)

(lebih…)


A. PENGERTIAN DAKWAH

Dakwah berasal dari kata دَعَا – يَدْعُوْ – دَعْوَةً  yang berarti mengajak atau menyeru, baik mengajak kepada kejahatan maupun kepada kebaikan. Adapun secara Syar’i dakwah berarti mengajak atau menyeru orang untuk memahami dan melaksanakan hukum-hukum Alloh (Rububiyyah), didalam kerajaan Alloh (Mulkiyyah) sebagai wujud pengabdian kepada Alloh (Uluhiyyah). Perhatikan firman Alloh Q.S. 16:125, 12:108

B. TUJUAN DAKWAH

  1. Untuk memenangkan Islam, Q.S. 61:109, 8:65-66
  2. Hujjah dihadapan Alloh, Q.S. 7:164, 4:165

C. SUBYEK DAKWAH

Subyek dakwah adalah mukmin dan mukminah sesuai dengan Q.S. 12:108, dan hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam: “Sampaikan dariku walau  satu ayat…”    (lebih…)


Sering terdengar pihak pihak yang mengatakan :’Kita effektifkan dakwah di sini, kita perbaiki orang orangnya, sehingga kalau Islam telah menyentuh seluruh ruangan kantor pejabat, bergema di tiap gedung pemerintahan. Maka keputusan keputusan Islami dengan sendirinyaakan mengatur negeri ini. Inilah upaya kita dakwah fisabilliah bil hikmah … Bukan menimbulkan permusuhan sebangsa dan membangkitkan rencana kekerasan. Islam itu damai, bawakanlah ia dengan damai, sejuk dan lembut…’’

Sebuah pernyataan yang indah, satu impian yang manis …. Janji perubahan tanpa pertumpahan darah dan chaos [kekacauan]. Sungguh merupakan puncak harapan manusiawai …… Saya pun sangan menginginkan itu terjadi, andai bisa terjadi ….

Kalau saja saya tidak melihat sejarah, kalau saja Quran tidak mendahului saya mengingatkan, tentu saya pun terbuai janji ideal di atas, kemudian mencukupkan diri berdakwah dari mimbar ke mimbar, seraya berharap semua orang segera bersedia menempuh jalan hidayah, agar impian tadi segera jadi … (lebih…)


Negara Saba adalah sebuah Negara merdeka dibawah pemerintahan yang syah dipimpin oleh seorang wanita [Ratu Balqis] berwawasan luas dan begitu demokratis [S.27:32-33]. Namun ia bukanlah Darul Islam yang membawa ummah ke Darus Salam, namun sebuah Darul Kuffar yang mengakarkan ideology negaranya pada pengagungan matahari [S.27:23-24]sebagai alasan untuk tidak berhukum, mengabdi dan berbakti mengikut aturan Ilahi [S.27:24-25] Sistem yang berlaku di sana menghalangi mereka dari utuhnya mendapat petunjuk wahyu serta tercegah dari menerima Islam sebagai aturan hidup [S.27:43].

Negara tersebut tidak memerangi DARUL Islam yang dipimpin Nabi Sulaiman, hingga Nabi pun tidak menyatakan perang kepadanya. Akan  tetapi terpanggil oleh kewajiban dakwah, maka risalah dakwah Islamiyyah tetap dilakukan beliau melalui sepucuk surat yang dikirimkan melalui Hud Hud. Kisah berlanjut hingga pada akhirnya dua kepala Negara tadi dipersatukan Alloh lewat pernikahan, jadilah kedua Negara itu Baldatun Thoyyibatu Wa Robbun Ghofur [S.34:15]. Andai Negara Saba tetap dalam ideology yang bersumber dari kesaktian matahari seperti anggagapan mereka tadi, maka kestabilan Negara dan keabsahan pemerintahannya tadi, dalam pandangan Alloh tidak lebih dari sekedar berkubang dalam kekafiran [S.27:43] dan kedzaliman [S.27:44]. (lebih…)


Ummah bermakna sekumpulan manusia yang terbina atas suatu aturan yang diyakini bersama, dan sepakat memberlakukan hukum tersebut dalam struktur kepemimpinan [=imamah] yang diterimanya. Dari itu pengertian ummah senantiasa terkait dengan imamah.

Contoh, dikatakan Ummat nabi Musa adalah mereka yang bersetia pada ajaran Alloh yang diamanahkan kepada Nabi Musa AS, mengikuti kepemimpinannya, mendukung gerak langkah perjuangannya, seta rela menderita bersamanya demi keyakinan tadi. Mereka bukanlah ummah Fir’aun, walaupun di masa itu Fir’aun eksis dengan kekuasaan dan kelengkapan aparat pemerintahannya. Bahkan mereka tetap terpisah dari ummah Fir’aun, terlepas dari kendali kekuasaan/kepemimpinan [imamah Fir’aun, sekalipun oleh sebab itu mereka harus hidup di bawah ancaman dan terror kekuasaan Fir’aun tadi [S.10:83].

Bahkan kalaupun ada yang menjabat satu posisi dalam struktur Fir’aun tadi, ia tidaklah berwala kepadanya, ia berjuang sebagai mukmin yang menyembunyikan imannya, yang akan tampil dalam moment yang tepat bagi kepentingan perjuangan yang tengah dijalankan Nabi Musa AS [lihat S.40:23-51. Cermati ayat ayat ke 28,30-35,38-44,45]. (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.