Bismillahirrohmanirrohim

STATEMENT KOMANDEMEN TERTINGGI ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA (NEGARA ISLAM INDONESIA DALAM MASA PERANG)

Nomer: 01 Tahun 1435 H

TENTANG

PANDANGAN DAN SIKAP POLITIK NEGARA ISLAM INDONESIA DALAM KAITANNYA DENGAN   DEKLARASI DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH  YANG TERMAKTUB DALAM STATEMENT  Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al ‘Adnaniy Asy Syamiy Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyyah -Hafidlahullah-

A.   MUQODDIMAH

Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin wa bihi nastha’iin ‘alaa umuuriddunya waddien, Shalawat dan salam kita hantarkan bagi Rasulullah SAW, bagi keluarganya dan bagi para sahabatnya. Demikian pula bagi para shalihin, shadiqin, dan para syahidin; amma ba’du: Allah SWT berfirman;

“Jika kamu mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. ( QS Ali Imran 3 : 140 )

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” (4). Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan Itulah ketetapan yang pasti terlaksana (5). kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (6). jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai (7)”. (QS Al Isra 17 : 4 – 7)

Kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan yang luas kepada Ummat Islam Bangsa Indonesia dan juga bagi ummat Islam dunia pada umumnya untuk meraih kehidupan yang mulia atau mati sebagai syuhada, peluang dan kesempatan yang mulia itu seiring dengan perputaran dan peralihan kekuasaan al-hak dan al-bathil baik dalam skala lokal maupun dunia sebagaimana nash tersebut di atas.

(lebih…)


Dalam kitab”at Taraatiib al Idaariyyah”, juz I, hal 241-245, karya”al Kattani”, ada dijelaskan tentang struktur negara Rasulullah SAW sebagai berikut:

  • Kepala negara: Muhammad Saw.
  • Mu’awin Tafwidh: Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar Ibnu Khattab.
  • Mu’awin Tanfidz: Hudzaifah al Yaman dan Zaid bin Haritsah.
  • Amir al Jihad: Muhammad Saw.
  • Jaysy ( tentara):315-30. 000 personil.
  • Syurthah (Polisi): Qays bin Sa’id ( Kepala Kepolisian).
  • Qadha’ (Peradilan): Muhammad Saw (Kepala Qadhi).
  • Qadhi Khusumat: Ali bin Abi Thalib dan Muadz bin Jabal.
  • Qadhi Hisbah: Muhammad Saw (kasus di pasar).
  • Qadhi Madhalim: Muhammad Saw.
  • Mashalih Dawlah (Biro Administrasi Umum) terdiri dari:

(lebih…)


Struktur Kultur dan Figur

Struktur, kultur dan figur merupakan tiga komponen yang saling integral satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Islam tiga komponen tersebut sangat dibutuhkan dan tidak boleh dipisahkan. Rasulullah SAW sendiri dalam berdakwah di Mekkah, beliau tidak hanya menitik beratkan kepada masalah kulturnya saja tetapi juga membuat struktur bawah tanah yang tidak diketahui oleh musuh-musuhnya di Mekkah. Yang mana tentunya struktur yang dibuat oleh Rasulullah di Darul Arqam sangat jauh berbeda dengan struktur yang dibuat oleh Abu Lahab dan Abu Jahal yang ada di Darun Nadwah. Kalau struktur yang dibuat oleh Rasulullah adalah struktur haq di bawah naungan wahyu, sedang struktur yang dibuat oleh Abu Lahab dan Abu Jahal adalah struktur bathil di bawah naungan “ra’yu”.
(lebih…)


KEHEBATAN DAN KEISTEMEWAAN NABI MUHAMMAD DALAM MEMIMPIN STRATEGI DAKWAH ISLAM KE SELURUH DUNIA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan tentang wilayah dakwah Nabi Muhammad Saw:

[ وَماَ أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ – [ الأنبياء: 107

“Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”.

Strategi dakwah Islam Rahmatal Lil ‘Alamin yang dipimpin oleh Rasulullah Saw, dibuktikan oleh catatan sejarah berikut ini (disesuaikan dengan Geografi Negara saat ini):

A.  ASIA TENGGARA

  1. Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 Masehi. Perjalanan dakwahnya dilanjutkan ke dari Indonesia ke kawasan Nusantara, melalui: Timur Leste, Brunai Darussalam, Sulu, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Kampuchea. (Sumber: H.Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, Bulan Bintang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)
  2. Ja’far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)
  3. Ubay bin Ka’ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35)
  4. Abdullah bin Mas’ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay Archipelago)
  5. ‘Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. sekitar tahun 625 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38)
  6. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah. sekitar tahun 623 M/ 2 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929;  T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968)
  7. Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39)

(lebih…)


A. PENGERTIAN DAKWAH

Dakwah berasal dari kata دَعَا – يَدْعُوْ – دَعْوَةً  yang berarti mengajak atau menyeru, baik mengajak kepada kejahatan maupun kepada kebaikan. Adapun secara Syar’i dakwah berarti mengajak atau menyeru orang untuk memahami dan melaksanakan hukum-hukum Alloh (Rububiyyah), didalam kerajaan Alloh (Mulkiyyah) sebagai wujud pengabdian kepada Alloh (Uluhiyyah). Perhatikan firman Alloh Q.S. 16:125, 12:108

B. TUJUAN DAKWAH

  1. Untuk memenangkan Islam, Q.S. 61:109, 8:65-66
  2. Hujjah dihadapan Alloh, Q.S. 7:164, 4:165

C. SUBYEK DAKWAH

Subyek dakwah adalah mukmin dan mukminah sesuai dengan Q.S. 12:108, dan hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam: “Sampaikan dariku walau  satu ayat…”    (lebih…)


Sering terdengar pihak pihak yang mengatakan :’Kita effektifkan dakwah di sini, kita perbaiki orang orangnya, sehingga kalau Islam telah menyentuh seluruh ruangan kantor pejabat, bergema di tiap gedung pemerintahan. Maka keputusan keputusan Islami dengan sendirinyaakan mengatur negeri ini. Inilah upaya kita dakwah fisabilliah bil hikmah … Bukan menimbulkan permusuhan sebangsa dan membangkitkan rencana kekerasan. Islam itu damai, bawakanlah ia dengan damai, sejuk dan lembut…’’

Sebuah pernyataan yang indah, satu impian yang manis …. Janji perubahan tanpa pertumpahan darah dan chaos [kekacauan]. Sungguh merupakan puncak harapan manusiawai …… Saya pun sangan menginginkan itu terjadi, andai bisa terjadi ….

Kalau saja saya tidak melihat sejarah, kalau saja Quran tidak mendahului saya mengingatkan, tentu saya pun terbuai janji ideal di atas, kemudian mencukupkan diri berdakwah dari mimbar ke mimbar, seraya berharap semua orang segera bersedia menempuh jalan hidayah, agar impian tadi segera jadi … (lebih…)


Negara Saba adalah sebuah Negara merdeka dibawah pemerintahan yang syah dipimpin oleh seorang wanita [Ratu Balqis] berwawasan luas dan begitu demokratis [S.27:32-33]. Namun ia bukanlah Darul Islam yang membawa ummah ke Darus Salam, namun sebuah Darul Kuffar yang mengakarkan ideology negaranya pada pengagungan matahari [S.27:23-24]sebagai alasan untuk tidak berhukum, mengabdi dan berbakti mengikut aturan Ilahi [S.27:24-25] Sistem yang berlaku di sana menghalangi mereka dari utuhnya mendapat petunjuk wahyu serta tercegah dari menerima Islam sebagai aturan hidup [S.27:43].

Negara tersebut tidak memerangi DARUL Islam yang dipimpin Nabi Sulaiman, hingga Nabi pun tidak menyatakan perang kepadanya. Akan  tetapi terpanggil oleh kewajiban dakwah, maka risalah dakwah Islamiyyah tetap dilakukan beliau melalui sepucuk surat yang dikirimkan melalui Hud Hud. Kisah berlanjut hingga pada akhirnya dua kepala Negara tadi dipersatukan Alloh lewat pernikahan, jadilah kedua Negara itu Baldatun Thoyyibatu Wa Robbun Ghofur [S.34:15]. Andai Negara Saba tetap dalam ideology yang bersumber dari kesaktian matahari seperti anggagapan mereka tadi, maka kestabilan Negara dan keabsahan pemerintahannya tadi, dalam pandangan Alloh tidak lebih dari sekedar berkubang dalam kekafiran [S.27:43] dan kedzaliman [S.27:44]. (lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.