KHILAFAH ITU REALITA ATAU HANYA SLOGAN MEDIA?

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya semua.

Kita menutup pembahasan yang lalu pada pertanyaan berikut ini:

Apakah khilafah itu perkara realita atau hanya cukup dengan poster dan slogan-slogan media saja?

Apakah khilafah bisa dibuktikan dengan bukti-bukti yang wujudnya riil dan dengan kewajiban-kewajibannya dalam syariat?

Kami katakan: ini adalah poin penting, dan teori pembuktian atas keberlangsungan khilafah itu sendiri. Oleh karena itu kita akan fokus membahas hal ini dalam pembahasan kali ini.

Apakah khilafah eksistensinya berasal dari keberadaannya yang nyata di muka bumi atau eksistensinya cukup berasal dari promosi yang ia berikan di media?

Siapa mereka yang berani memberikan klaim syar’i atas khilafah yang tidak eksis di kenyataan? Dan -apa alasan mereka berani mengatakan bahwa itu adalah benar-benar khilafah? Kita akan fokus membahas semua poin-poin ini dengan berserah diri pada Allah.

Kita memulai pembahasan ini dengan mengutip perkataan Syaikh Abu Qatadah hafizhahullahu: “Sesungguhnya merupakan hakikat wujud adalah sesuatu itu ada melalui eksistensinya dalam kenyataan. Sesuatu itu ada ketika ia diberikan lafadz kata untuk arti dan namanya, hingga definisi terminologi darinya. Adapun khilafah adalah kata yang hakiki, bukan sebuah kata yang tidak bermakna, yang engkau letakkan pada sesuatu yang tidak ada dan kemudian ia memiliki hakikat syariat!”

Kemudian beliau melanjutkan: “Lafadz khilafah, imamah dan imarah secara hakikat menjelaskan maksud kata itu sendiri. Jika suatu lafadz kosong dari makna/arti, maka hilang pula pelabelan syar’i atasnya.”

Abu Qatadah hafidhahullahu juga berkata: “Semua kata mengandung nilai semantik, yang muncul dari penjabaran dan pendefinisiannya. Yang mana nilai semantik itu dan penjabaran serta pendefinisiannya tidak berhak ia dapatkan melainkan jika eksistensinya wujud dalam realitas. Kata khilafah adalah sebuah terminolgi yang memiliki esensi-esensi (hakikat) yang dapat diketahui melalui maksud dari kata itu sendiri. Setiap kali kata ini tidak sesuai dengan yang dituju, maka hal ini menunjukkan bahwa kata ini telah kehilangan esensinya. Ini adalah perkara naluriah yang mana logika paling dasar saja tidak menyangkalnya.” Selesai perkataan beliau.

Dengan izin Allah kami akan menjelaskan maksud dari esensi kata khilafah di pembahasan ini.

Definisi khilafah secara terminologi adalah sebagaimana yang Syaikh Abu Qatadah jelaskan: “Apa yang disimpulkan dari perkataan Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengenai imamah adalah: imamah itu bukanlah merupakan ketetapan ilahiyah, maksudnya adalah ia bukanlah hukum syari’at yang otentik, melainkan ia adalah produk manusia. Ibnu Taimiyah berkata:

‘Jika seandainya Rasulullah SAW mewasiatkan imamah kepada seseorang, tetapi umat menyelisihi wasiat ini dan malah membai’at orang lain, maka pemimpin yang sah adalah yang mana umat membai’atnya, bukan orang yang nabi wasiatkan. Karena tujuan dari imamah telah dipenuhi oleh orang yang umat bai’at bukan pada orang yang nabi wasiatkan.’ Selesai perkataan Ibnu Taimiyah.

Ini menunjukkan bahwa imamah adalah sebuah akad (kesepakatan) sebagaimana akad-akad yang lain yang harus dihasilkan dengan keridhaan. Ia harus memenuhi syarat-syarat dan tujuan-tujuannya sebagaimana esensinya secara bahasa.” Selesai perkataan Abu Qatadah.

Kemudian Syaikh Abu Qatadah memberikan argumen bantahan kepada mereka yang menetapkan syarat tamkin (kekuasaan) secara batil: “Rasulullah SAW telah bersabda:

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَّقَى بِهِ

‘Seorang imam tidak lain adalah laksana perisai, dimana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.’ HR. Muslim

Junnah artinya adalah perlindungan dan sifat tidak terkalahkan. Dalam hadits diatas disebutkan dua perkara untuk memenuhi syarat menjadi seorang imam (pemimpin), yaitu: 1. Orang-orang akan berperang di belakangnya dan 2. Orang-orang menjadikannya sebagai pelindung. Maka seorang imam adalah seseorang yang dita’ati dengan ridha oleh orang-orang, dan kemudian sebagai gantinya ia mampu melindungi mereka.”

Sebagai penjelasan tambahan Syaikh Abu Qatadah menambahkan: “Kalimat nabi SAW dalam haditsnya ‘Seorang imam tidak lain adalah laksana perisai’ adalah sama dengan apa yang nabi SAW sabdakan dalam haditsnya ‘Haji itu adalah arafah’. Maka tatkala seorang imam tidak mampu memenuhi perisai ini atau tidak bisa memberikan perlindungan, maka ia telah kehilangan esensinya dan ia kehilangan hak mendapatkan sifat imamah. Maksud dari imamah disini adalah kepemimpinan dan kontrol politik.”

Kemudian Syaikh Abu Qatadah melanjutkan: “Tatkala umat sedang berada dalam keadaan membangun kembali tamkin mereka sebagaimana keadaan kita di hari ini, maka hendaknya mereka saling berbagi kekuasaan diatas muka bumi dan diatas suatu kaum.”

Ketika sebuah jama’ah dapat merebut kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, kemudian ada jama’ah lain juga berhasil menguasai wilayah tertentu, “….Lalu persoalan itu tidak boleh diselesaikan dengan cara saling berlomba untuk mengklaim imarahnya sendiri, atau menunjuk dirinyalah sebagai khalifah dan bukan selain dia. Hal seperti ini sungguh sangat kekanak-kanakan dan amat naif terhadap ilmu dan akal sehat.”

Syaikh Abu Qatadah menjelaskan keadaan Jama’ah Daulah: “Sesungguhnya keberhasilan Jama’ah Daulah menguasai beberapa wilayah di Irak tidaklah menjadikan mereka lebih utama untuk mengklaim imamah. Karena sesungguhnya Mulla Muhammad Umar dahulu pernah meraih tamkin total atas suatu negara, begitu pula mujahidin Somalia telah menguasai beberapa wilayah di negaranya, serta mujahidin Yaman dan mujahidin Mali. Dengan akal sehat dan ilmu yang mereka miliki, mereka tidak pernah terjatuh pada kebodohan dan keangkuhan seperti Jama’ah Daulah, dan mereka tidak pernah menyeru jama’ah mereka sebagai khilafah yang wajib dibai’at oleh setiap muslim di muka bumi ini. Karena sesungguhnya lafadz-lafadz syar’iyyah hanya dikeluarkan karena esensi kewujudannya atau karena esensi syar’inya, dan jika digunakan tanpa arti, maka itu adalah ajaran kaum rafidhah dan bathiniyah.”

Berkata Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafidhahullahu: “Sesungguhnya khilafah tidaklah diwujudkan dengan klaim seruan semata, penamaan atau niat saja. Melainkan khilafah itu haruslah diterapkan dalam kehidupan nyata. Tatkala Umar bin Khattab menamakan Abu Bakr dengan nama ‘khalifah’, kejadian itu bukanlah sekedar penamaan saja, melainkan gelar yang diberikan setelah jumhur para sahabat membai’at Abu Bakr dan tidak adalagi persilangan pendapat antara mereka.”

Sebuah pertanyaan diberikan kepada Syaikh Al-Maqdisi: “Apakah anda yang telah berkata bahwa tidak disyaratkan adanya tamkin untuk sebuah khilafah?”

Syaikh Al-Maqdisi menjawab: “Tidak, saya tidak pernah berkata seperti itu. Harus diketahui setelah jama’ah itu (Daulah -red) menamakan diri mereka sebagai khilafah, maka kata khilafah sudah menjadi sangat dekat pada umat (populer kembali –red).”

Kemudian beliau ditanya lagi: “Apa pendapatmu dengan pengumuman khilafah mereka?”

Syaikh Al-Maqdisi berkata: “Setiap kita mengharapkan kembalinya khilafah, hancurnya batasan negara-negara kaum muslimin, dan tegaknya bendera tauhid serta jatuhnya bendera-bendera berhala. Yang tidak bercita-cita demikian pastilah seorang munafik. Maka hendaknya penerapan nama itu harus sesuai dengan hakikatnya, keberadaannya dan penerapannya benar-benar ada dan berjalan dalam realitas kehidupan. Barangsiapa tergesa-gesa meraih sesuatu sebelum waktunya, maka ia dihukum untuk tidak bisa mendapatkan itu.” Selesai jawaban Syaikh Al-Maqdisi.

Khilafah adalah kata yang digunakan untuk sesuatu yang esensinya diwujudkan dalam realitas. Jikalau bukan karena kebodohan orang-orang bodoh dan bebalnya orang-orang keras kepala, sebenarnya pengumuman mereka terhadap khilafah sudah cukup untuk menghancurkan klaim itu dengan sendirinya. Karena khilafah yang mereka klaim tidaklah memiliki esensitas dalam realitas dan kehidupan nyata, mereka hanya menggunakannya sebagai istilah yang mereka jadikan propaganda untuk umat manusia. Khilafah yang benar adalah merupakan perkara dan hakikat yang nyata, sesuai dengan yang disifati syari’at dari eksistensinya yang nyata di muka bumi. Dan kriteria syar’i ini tidak diberikan kecuali ia memenuhi esensinya sebagai khilafah.

Maka anda dapat menilai penamaan dan pelabelan atas segala sesuatu melalui esensitas serta hakikatnya yang riil, dan dilihat  dari eksistesnsinya yang nyata dalam kehidupan.

Apabilah suatu imarah atau suatu daulah mampu memenuhi tujuan dari khilafah, dan ia memiliki kemampuan, kekuatan, dan kekuasaan, maka ia telah menjadi khilafah tanpa perlu mengumumkannya. Dan jika ia belum mampu, pengumuman apapun tidak akan merubah kenyataan. Penggunaan propaganda media dalam hal mengangkat diri sendiri sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW sabdakan:

الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak diterimanya sama seperti orang yang memakai dua pakaian palsu.” HR. Muslim

Mereka telah meresa kenyang dengan apa yang tidak mereka terima, mereka jadikan jama’ah mereka sebagai jama’ah seluruh kaum muslimin, mereka jadikan amir mereka sebagai pemimpin untuk seluruh umat. Sungguh amat bodoh dan palsu!

Kami ingin tekankan sekali lagi bahwa penamaan semata tidak dapat mengubah kenyataan. Jika hakikat mereka adalah hanya sebuah jama’ah, maka penamaan diri mereka sebagai khilafah tidak dapat mengubah hakikat mereka sebagai sebuah jama’ah. Dan hakikat amir mereka adalah seorang amir bagi jama’ah, maka penamaan dirinya sebagai khalifah tidak dapat mengubah kenyataan bahwa dia hanya seorang amir bagi jama’ahnya saja. Hindarkanlah dirimu dari manhaj ghuluw dan dari bid’ah kaum khawarij.

Pemerintahan-pemerintahan dan negara-negara di dunia saat ini dikenali dan diakui keberadaannya karena kemampuan mereka mengelola wilayah dan perangkatnya, serta memiliki kekuatan dan kemampuan yang benar-benar nyata. Maka khilafah juga semestinya demikian, bahkan seharusnya lebih dari itu.

Itu adalah sudut pandang pertama, dan dari sudut pandang kedua; sesungguhnya jama’ah ini tatkala menamakan dirinya sebagai sebuah daulah, mereka tidak memiliki kemampuan dan kekuatan. Begitu pula tatkala mereka menamakan diri mereka sebagai sebuah khilafah, mereka membuat perbedaan besar yang tidak sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh jama’ah kaum muslimin. Khilafah seharusnya didirikan oleh jama’ah kaum muslimin bukan oleh sebuah jama’ah dari kaum muslimin.

Jama’ah kaum muslimin adalah jumhur umat ini, dan representatif mayoritas umat. Maka tidak ada ada khilafah jika masih jauh dari kriteria ini.

Dan jika kita kembali pada bab pentingnya menegakkan khilafah oleh sebuah jama’ah, maka jama’ah yang dimaksud adalah jama’ah kaum muslimin. Kami katakan: ini adalah definisi yang telah final bagi semua pihak, memisahkan antara imamah ‘udzma dan hak umat untuk memilihnya adalah aqidah rafidhah. Rafidhah menamakan sebagian keturunan ahlul bait sebagai khalifah dan imam bukan karena mereka memenuhi esensi dan hakikat khilafah dalam kehidupan nyata, melainkan karena hak khusus yang mereka yakini dalam aqidah mereka.

Bekata Syaikhul Islam rahimahullahu: “Ketika seseorang berhak menjadi imam masjid, hal ini tidak serta merta menjadikannya imam. Seseorang yang berhak menjadi qadhi juga tidak serta merta menjadi qadhi. Seseorang yang berhak menjadi panglima perang tidak serta merta menjadi panglima perang. Sesungguhnya shalat tidak sah kecuali dipimpin imam yang benar-benar memimpin shalat, bukan sebatas berada di belakang seseorang yang seharusnya menjadi imam! Begitu pula yang memutuskan hukum bagi manusia adalah yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melaksanakannya, bukan bagi yang berhak untuk memutuskan hukum. Para tentara juga berperang dibawah komando panglima yang memimpin mereka, bukan dibawah orang yang tidak memimpin mereka walaupun orang itu lebih berhak untuk memimpin mereka.

Kesimpulannya, untuk menjalankan sesuatu disyaratkan memiliki kemampuan untuk itu. Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan dan kekuatan atas suatu wilayah dan imarah, maka dia bukanlah seorang imam (pemimpin), walaupun dia berhak untuk berkuasa. Keadaan dimana dia diharuskan memiliki kekuasaan menunjukkan bahwa ia belum mampu menguasai, karena seorang imam (pemimpin) adalah seseorang yang telah menguasai dan mampu serta memiliki kekuatan.” Selesai perkataan Ibnu Taimiyah

Jadi khilafah itu bukanlah perintah otentik syariat yang semata-mata dilaksanakan dengan adanya seseorang yang mengklaim melaksanakannya, tapi dia tidak memenuhi syarat-syarat imamah seperti tidak memiliki kekuatan dan kemampuan, yang mana dua syarat itulah yang memenuhi tujuan dari imamah. Imamah bukanlah sekedar nama tanpa tujuan, ia memiliki kewajiban-kewajiban syar’i yang harus dipenuhi, yang mana kewajiban itu dapat dipenuhi dengan adanya kemampuan dan kekuatan.

Berkata Syaikhul Islam rahimahullahu: “Sesungguhnya tegaknya khilafah disyaratkan dengan adanya kesepakatan antara pemegang kekuasaan dengan jumhur yang mewakili perkara ini. Sehingga memungkinkan mereka memenuhi tujuan dari sebuah imamah.”

Perhatikanlah perkataan beliau: “Sehingga memungkinkan mereka memenuhi tujuan dari sebuah imamah.”

Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan: “Tidaklah seseorang menjadi seorang imam (pemimpin) melainkan dengan mendapatkan kesepakatan dari orang-orang yang dengan keta’atan merekalah tujuan imamah (kepemimpinan) dapat terpenuhi. Sesungguhnya tujuan imamah hanya akan terpenuhi dengan adanya kemampuan dan kekuatan. Jika seseorang dibai’at, dan dengan bai’at tersebut ia memiliki kemampuan dan kekuatan (untuk memimpin) maka ia telah menjadi seorang Imam (pemimpin yang sah).” Selesai perkataan Syaikhul Islam.

Apa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah diatas adalah bantahan terhadap kaum Rafidhah atas i’tikad mereka yang telah kami sebutkan.

Dalam sebuah makalah yang berjudul “Apakah Khilafah Adalah Sebatas Pengumuman Atau Harus Dibuktikan Nyata?” terdapat pemaparan yang serupa dengan pembahasan kita:

“Jika demikian, bukanlah makna dari perkataan para ulama tentang wajibnya menentukan seorang khalifah adalah untuk menyempurnakan maslahat dunia dan agama atau wajib mengumumkan khilafah untuk mengangkat dosa dari kita. Makna dari perkataan para ulama tentang wajibnya memilih seorang khalifah adalah: Perlunya menempuh usaha memupuk kembali kepercayaan umat, dan tatkala umat telah siap dengan itu maka disaat itu mereka wajib memilih seorang imam (pemimpin). Jika kepercayaan umat belum kembali maka segala diskusi tentang khilafah hanyalah kesia-siaan belaka. Apabila kita membicarakan tentang kewajiban menegakkan khilafah maka hendaklah kita memulainya dengan kaidah:

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

‘Segala sesuatu yang tidak sempurna suatu kewajiban tanpanya maka ia menjadi kewajiban pula’

Seperti wajibnya terlebih dahulu menyingkirkan segala hambatan yang dapat mencegah upaya penegakan khilafah. Hambatan yang paling nyata saat ini adalah wajibnya terlebih dahulu berjihad melawan musuh dan anteknya yang masih bercokol dan memecah kesatuan umat Islam dan memetak-metakkan mereka dalam sekat-sekat negara. Merekalah yang menghalangi hukum Allah ditegakkan, maka melawan cengkraman musuh kafir ini adalah kewajiban utama saat ini yang pasti dan tak dapat dielakkan.”

Saya masih mengutip dari makalah yang sama: “Melawan cengkraman musuh kafir adalah kewajiban utama saat ini yang pasti dan tidak bisa dielakkan. Tatkala cengkraman ini telah runtuh dan halangan-halangan lain telah sirna serta kaum muslimin telah kembali pada kekuatan dan izzah mereka dan jama’ah-jama’ah mereka telah bersatu kembali bersama umat, maka akan sangat mudah disaat itu kita menentukan seorang khalifah. Yang mana ia menjadi khalifah yang memiliki imamah yang nyata dan realistis, bukan semata-mata propaganda dan promosi media.”

Sebagai penutup poin ini, saya ingin katakan: Terdapat banyak sekali syi’ar-syi’ar besar dan vital yang dimilki umat Islam. Hal-hal ini dinyatakansebagai perkara suci dan sakral bagi umat, maka nama dan syi’ar-syi’ar ini wajib untuk tetap terjaga dan tak boleh tersentuh oleh penyalahgunaan. Ia hanya boleh digunakan pada saat yang tepat saja agar esensitas tujuannya terpenuhi dengan benar, seperti penggunaan istilah Daulah dan Khilafah serta Imarah dan lain-lain. Kita harus menjauhkan hal ini dari penyalahgunaan anak-anak kemarin sore dan keisengan orang-orang bodoh. Tidak berhak seorangpun memaksakan penerapannya jika memang waktunya belum tiba. Sayangnya, Jama’ah Daulah telah menyabotase syi’ar-syi’ar agung ini dengan cara buruk yang tidak memberikan maslahat apapun kepada umat, bahkan mereka menggunakannya hanya demi kepentingan politis dan jama’ah mereka sendiri tanpa mementingkan umat. Mereka bergegas mengklaim khilafah untuk diri mereka agar tidak ada yang mendahului mereka, seakan-akan kita berada di gelanggang perlombaan, barangsiapa yang terlebih dahulu mengumumkan khilafah maka ia pemilik sah dalam syari’at.

Seakan-akan inti dari penegakan khilafah itu adalah mengumumkannya bukan sebagaimana kajian ilmu yang telah kita bahas di awal. Jama’ah Daulah telah mengumumkan khilafah dengan motif-motif tertentu yang semakin terungkap ke permukaan. Diantaranya untuk menutupi rasa malu karena mereka telah bermaksiat dengan memisahkan diri secara sepihak dari tandhim Al-Qaeda, modus mereka mengumumkan khilafah agar mereka memiliki pembelaan diri bahwa kedudukan khilafah lebih tinggi dari tandhim, bahkan lebih tinggi dari seluruh umat beserta jama’ah-jama’ah dan tandhim-tandhim yang dimiliki umat. Kini mereka berseloroh: “Kami ini khilafah dan mereka hanyalah sebuah tandhim”, dengan argumen itu mereka mengira telah keluar dari masalah yang mereka perbuat. Jama’ah Daulah pasti akan mendapati efek dari maksiat mereka yang telah memecah barisan jihad, dan keluar sepihak dari tandhim Al-Qaeda, itu adalah perkara mudah bagi Allah dan Allah Maha berkuasa untuk segala urusan.

Kita telah menyelesaikan poin ini dimana kita telah membahas khilafah yang diakui oleh syari’at, dan kita akan masuk pada pembahasan tentang Al-Imamah dengan mengkaji terlebih dahulu perkataan-perkataan Ulama Ahlus Sunnah tentang ini. Kita akan membahas bab Al-Imamah dengan merujuk kepada kitab “Al-Imamah Al-‘Udzma ‘Inda Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” (Imamah Dalam Pandangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) yang ditulis oleh Syaikh Ad-Dumaiji.

Maka kami katakan dengan berlindung diri pada Allah: Kita mengetahui bahwa ahlus sunnah berada di manhaj pertengahan diantara firqah-firqah, berada ditengah antara ahlu ifrath dan tafrith, dan ahlus sunnah dalam bab Al-Imamah juga berada di pertengahan. Ahlus sunnah  tidak seperti kaum Rafidhah yang menjadikan Al-Imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama, Rafidhah juga menisbatkan istilah imamah pada hal-hal yang tidak ada dalam realitas kehidupan nyata. Dan Ahlus sunnah juga bukan seperti Mu’tazilah yang menentukan imamah secara nalar dan logika.

Ahlus sunnah juga bukan seperti ahlu tafrith yang menyelewengkan makna Al-Imamah dari tempat sebenarnya dalam Islam, merekalah kaum pengusung ideologi sekuler dan liberal yang ingin memisahkan antara persoalan agama dan negara. Ahlus sunnah juga bukan seperti kaum yang coba mengkerdilkan penegakan Islam dengan beberapa syi’ar saja, sehingga sampai pada perkara mereka menyeru bahwa Islam ini hanya agama dakwah saja, tidak ada urusan dengan politik dan negara.

Ahlus sunnah wal Jama’ah berkata: “Imamah diadakan untuk untuk menggantikan nubuwah dalam menjaga agama  dan mengurus dunia dengan agama.”

Ibnu Khaldun mendefinisikan Imamah dengan: “Upaya membawa seluruh umat untuk mengikuti pandangan syari’at agar meraih kebaikan-kebaikan ukhrawi mereka dan kebaikan-kebaikan duniawi yang juga kembali ke (kebaikan) ukhrawi. Sebab perkara-perkara dunia itu menurut syar’i semuanya harus diukur dengan nilai kebaikan di akhirat. Jadi, pada hakikatnya imamah ialah menggantikan Pemilik syari’at dalam menjaga agama dan mengurus dunia.”

Ahlus Sunnah telah sepakat mengenai kewajiban memilih seorang imam (pemimpin), dan adapun segala kewajiban syari’at ini tentu sesuai dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Namun tatkala suatu kewajiban gugur karena ketidak sanggupan mengerjakannnya, tidak berarti kewajiban untuk berusaha melaksanakannya menjadi gugur pula. Sebagaimana kewajiban jihad gugur ketika dalam keadaan tidak mampu, namun diwajibkan I’dad. Begitu juga kewajiban menentukan seorang khalifah gugur dengan ketidakmampuan secara keadaan dan syar’i, namun diwajibkan bagi kita untuk tetap mengupayakan momen yang tepat agar kita bisa mengangkat seorang khalifah bagi umat.

Hukum mengangkat seorang khalifah bagi umat adalah fardhu kifayah. Berkata Qadhi Abu Ya’la: “(Khilafah) hukumnya adalah fardhu kifayah. Ditentukan oleh salah satu dari dua kelompok manusia: Pertama, ahlu ijtihad yaitu ahlul halli wal ‘aqdi, mereka yang memilih seorang Imam bagi umat. Kedua, orang-orang yang yang memiliki kriteria syarat-syarat seorang imam (pemimpin), lalu mereka memilih salah satu dari mereka menjadi imam bagi umat.”

Istilah “Imam”, “Khalifah” dan “Amirul Mukminin” adalah tiga istilah yang bersinonim bagi ahlus Sunnah. Berkata Imam An-Nawawi: “Imamah, khilafah dan Imarah adalah sinonim.”

Istilah imamah banyak digunakan oleh ulama ahlus sunnah dalam kitab-kitab membahas aqidah dan firqah-firqah, adapun istilah khilafah sering digunakan dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ulama ahlus sunnah membolehkan penggunaan kata khalifah kepada selain Khulafaur Rasyidin walaupun ia hanya seorang raja biasa, dengan syarat memiliki nasab Quraisy. Dan penjelasan tentang kedudukan nasab Quraisy akan kita jelaskan di penjelasan selanjutnya, dengan izin Allah.

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami ilmu yang dapat bermanfaat bagi kami, dan berikanlah kami manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan pada kami, tambahkanlah ilmu kami, pemahaman dan amal kami dalam urusan agama wahai Engkau yang Maha pemberi.