ADAB DAN AKHLAQ KHAWARIJ MODERN
Studi Kritis Kesesatan Manhaj Aman Abdurahman –Hadahullah-
(Bagian 2)
Oleh : Abu Jihad Al-Indunisy

Demikian sifat-sifat umum yang melekat pada diri mereka, dampak pemahaman ini juga melahirkan cara-cara beragama yang menyelisihi kebanyakan Ahlus Sunnah, di antaranya adalah :

1. Tidak Memakan Daging Sembelihan

Alasan mereka adalah tidak jelasnya aqidah orang yang menyembelih hewan potong tersebut, hingga menimbulkan syubhat tersendiri bagi mereka. Jelas ini adalah pemahaman Takfiri dikarenakan mereka tidak mempercayai sembelihan orang Islam lainnya. Ketika kami sama-sama dipenjara di Polda Jakarta, kami merasakan betul bagaimana kelompok sesat ini menuliskan risalah agar berhati-hati memakan daging hewan potong ini, isi surat berikutnya terkadang membolehkan dengan syarat-syarat dengan alasan tersyubhat. Ketika kami menjalani sidang di PN Jakarta Barat, salah satu Amir dari kelompok mereka ini disuguhi nasi padang dengan daging ayam, maka mereka marah-marah dengan mengatakan mereka disuguhi bangkai ayam dan mereka meminta di belikan telur ayam.

(lebih…)


ADAB DAN AKHLAQ KHAWARIJ MODERN
Studi Kritis Kesesatan Manhaj Aman Abdurahman –Hadahullah-
Oleh : Abu Jihad Al-Indunisy
Segala puji bagi Allah Ta’ala yang memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki, salam dan shalawat terlimpah kepada Qudwatuna wa Uswatuna Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam, kepada keluarga dan kepada shahabat juga kepada umatnya yang senantiasa sabar, istiqamah dan teguh di jalan Dakwah dan Jihad.

Allah ta’ala berfirman :

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [Al-Mâ’idah (5): 77]

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda :

“Lemparlah dengan batu seperti ini!” Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai sekalian manusia, jauhilah sikap ghuluw (melampaui batas) dalam agama. Sesungguhnya perkara yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap ghuluw mereka dalam agama.” (Hadits shahîh, diriwayatkan oleh an-Nasâ’i (V/268), Ibnu Mâjah (3029) dan Ahmad (I/215), al-Hâkim mengatakan: “Shahîh, sesuai dengan syarat al-Bukhâri dan Muslim.” Dan disetujui oleh adz-Dzahabi.(

(lebih…)


METODE KEBERLANGSUNGAN IMAMAH PADA ERA KHULAFAUR RASYIDIN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Allah segala puji hanya bagiNya. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat dan siapa saja yang mengikuti beliau. Amma ba’du:

Pada pembahasan yang lalu kita telah membicarakan tujuan-tujuan dari imamah menurut perspektif Ahlus Sunnah, dan kita juga telah menjelaskan beberapa poin perbedaan pendapat Ahlus Sunnah dalam imamah, serta kita juga telah memaparkan tujuan-tujuan imamah menurut Ahlul Bid’ah kaum khawarij –Jama’ah Daulah-. Pada pembahasan kali ini dengan izin Allah kita akan mengkaji metode keberlangsungan khilafah (pergantian khalifah) menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita akan fokus membahas bab ini dengan mengacu pada metode-metode yang bergulir di era para Khulafaur Rasyidin semoga Allah meridhai mereka semua.

Terdapat dua alasan mengapa kita harus mengacu pada metode yang telah diterapkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menentukan seorang khalifah, yaitu: (lebih…)


TUJUAN IMAMAH MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, beserta keluarga, para sahabat dan siapa saja yang berwala’ kepada beliau, wa ba’du:

Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membahas tujuan-tujuan imamah, pada pertemuan kali ini kita akan mengidentifikasi lebih lanjut tujuan-tujuan tersebut.

Pemerintahan dan imamah bukanlah tujuan melainkan sarana, yaitu sarana untuk meraih tujuan-tujuan tertentu yang diperjelas oleh pengertian berikut: “Menegakkan agama dan mengatur dunia dengan agama.”

Inti dari tujuan tersebut adalah menegakkan perintah Allah di muka bumi dengan cara yang sesuai dengan syariat, memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang dari berbuat kemungkaran, menyebarkan kebaikan serta menjunjung siapa saja yang menjunjungnya, menumpas segala kerusakan serta merendahkan siapa saja yang mengagungkannya, Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al Hajj: 41] (lebih…)


KHILAFAH ITU REALITA ATAU HANYA SLOGAN MEDIA?

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga Allah curahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya semua.

Kita menutup pembahasan yang lalu pada pertanyaan berikut ini:

Apakah khilafah itu perkara realita atau hanya cukup dengan poster dan slogan-slogan media saja?

Apakah khilafah bisa dibuktikan dengan bukti-bukti yang wujudnya riil dan dengan kewajiban-kewajibannya dalam syariat?

Kami katakan: ini adalah poin penting, dan teori pembuktian atas keberlangsungan khilafah itu sendiri. Oleh karena itu kita akan fokus membahas hal ini dalam pembahasan kali ini.

Apakah khilafah eksistensinya berasal dari keberadaannya yang nyata di muka bumi atau eksistensinya cukup berasal dari promosi yang ia berikan di media?

Siapa mereka yang berani memberikan klaim syar’i atas khilafah yang tidak eksis di kenyataan? Dan -apa alasan mereka berani mengatakan bahwa itu adalah benar-benar khilafah? Kita akan fokus membahas semua poin-poin ini dengan berserah diri pada Allah. (lebih…)


KEPEMIMPINAN ITU ADALAH HAK UMAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amalan kami, barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [An Nisa’: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” [Ali Imran: 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al Ahzab: 70-71] (lebih…)


(Penjelasan atas Beberapa Musykilat)

 Keberadaan Negara Islam Indonesia bagi sebagian orang dipandang sebagai sebuah penyimpangan dari prinsip-prinsip Islam. Satu hal yang ramai diperbincangkan adalah keberadaan NII sebagai sebuah Republik (Jumhuriyyah) yang dianggap tidak sesuai dengan sistem khilafah yang diajarkan oleh Islam. Benarkah demikian?? Benarkah sebuah negara dalam bentuk republik merupakan pengkhianatan atas sistem Islam; atau justru inilah bentuk negara yang paling mendekati atau bahkan berjalan di atas prinsip-prinsip khilafah. Lewat pengkajian yang obyektif dan komprehensif sesungguhnya keberadaan Negara Islam Indonesia kental dengan dimensi khilafah baik dalam tingkat nasional ataupun ketika dikaitkan dengan cita-cita NII sendiri untuk membentuk Kekhilafahan Dunia bersama dengan negara-negara Islam lain. Anggapan-anggapan salah di atas perlulah diluruskan dan permasalahan ini harus juga ditimbang dari ilmu ketatanegaraan baik Ketatanegaraan Islam maupun Ketatanegaraan Umum, sehingga analisa kita akan sampai pada kesimpulan yang obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT dan di hadapan manusia umumnya. (lebih…)

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 90 pengikut lainnya.