KEPEMIMPINAN ITU ADALAH HAK UMAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amalan kami, barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [An Nisa’: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam.” [Ali Imran: 102]

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [Al Ahzab: 70-71]

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan ada di dalam neraka.

Amma ba’du:

Ini adalah kumpulan pelajaran seputar pembahasan kekhilafahan yang saya beri judul “Masail Muhimmah Fie Al Imamah Haqqul Ummah” (Permasalahan-permasalahan Penting di dalam Kepemimpinan Yang Merupakan Hak Umat). Saya berharap semoga Allah membimbing kita semua dengan karamah dan anugerah-Nya.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita bagian dari umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, umat terbaik yang pernah ada. Di sini saya hanya ingin memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran dan beriman kepada Allah.

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman:

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” [An Nur: 55]

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan suri tauladan kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang pernah bersabda:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“…setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian)…” [HR Ahmad] serta kepada keluarga, sahabat, dan siapa saja yang berjalan di atas manhaj dan petunjuk mereka hingga hari kiamat kelak.

Allah telah memilihkan Islam sebagai agama bagi kita untuk mengeluarkan para hamba dari penghambaan kepada sesama hamba kepada penghambaan kepada Rabbnya para hamba, dari sempitnya dunia kepada luasnya dunia dan akhirat, dari kegelapan agama-agama lain kepada keadilan Islam.

Agama ini adalah agama yang agung, lurus, lengkap, sempurna dan mampu memberikan solusi bagi setiap permasalahan kehidupan, mencakup hal-hal yang tampak maupun yang tidak tampak, raga dan jiwa, mengakomodasi kehidupan pribadi dan sosial baik itu dalam kondisi perang maupun damai, baik itu di bidang politik, ekonomi dan sosial, mengatur tingkah laku manusia mulai dari tingkat personal hingga negara dan membatasinya. Ada hubungan ‘ubudiyah dengan Sang Pencipta ada pula hubungan dengan anak manusia, yang mukmin diberikan loyalitas dan yang kafir diberikan sikap bara’.

Agama yang mengatur hubunganmu bahkan terhadap dirimu sendiri, baik itu dikala engkau bergerak maupun engkau diam, baik itu gejolak hatimu maupun perasaan yang tersimpan di dalam lubuk hati yang terdalam. Agama yang mengatur interaksimu sampai kepada hewan sekalipun.

فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“apabila kalian membunuh maka bunuhlah secara baik, & apabila kalian menyembelih maka sembelihlah secara baik, & hendaknya salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya serta memberikan kenyamanan kepada sembelihannya.” [HR. Nasai No.4336].

Ini adalah agama agung yang berpondasikan tauhid, tauhid yang menjadi tujuan diciptakannya makhluk dan ciptaan lainnya,

“dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [Adz Dzariyat: 56]

Tauhid tidak akan tegak kecuali dengan jika orang-orang yang beriman mau memegang prinsip-prinsip tauhid, kemudian rela berkorban demi memegang prinsip-prinsip tadi dan menentang siapa saja yang menghadang prinsip-prinsip itu. Dari sinilah niat jihad di jalan Allah itu berasal, tujuannya adalah untuk melestarikan kebiasaan berperang antara kebenaran beserta pengikutnya melawan kebathilan beserta para pendukungnya.

Kemudian orang-orang beriman akan menghadapi ujian dan proses penyaringan, dan setelah Allah menggolongkan orang-orang beriman (yang terbunuh) ke dalam golongan para syuhada’, para pengikut kebenaran akan sampai pada tahapan yang selama ini mereka cita-citakan, yaitu tumbangnya hukum thaghut dan tegaknya negara tauhid yang berhukum kepada syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penegakan Daulah Islam merupakan bagian dari agama kita dan merupakan pembuktian atas keimanan kita kepada Allah, namun implementasi iman menurut ahlus sunnah harus dengan ucapan dan perbuatan, dan perbuatan di dalam konteks ini adalah aksi nyata untuk menegakkan Daulah Islam.

Daulah Islam didirikan dan dibangun melalui perlawanan dan penaklukan terhadap kekuatan kafir dan jahiliyah, sehingga yang dapat engkau saksikan ketika negara Islam tegak adalah tumbangnya kerajaan jahiliyah,

“Dan Katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” [Al Isra’: 81]

Ketika perlawanan dan penaklukan para pengikut kebenaran sudah mencapai taraf yang membuat para pengikut kebathilan menjadi tidak berdaya untuk menghancurkan bangunan para pengikut kebenaran, maka saat itulah kita bisa mengatakan bahwa kaum muslimin sudah mempunyai Daulah.

Makna ini tersirat dengan jelas di dalam Dokumen Abottabad yang di dalamnya terdapat pesan-pesan Syaikh Asy Syahid Usamah kepada komandan-komandan wilayah khususnya Yaman dan Somalia.

Kebathilan telah berupaya dengan sekuat tenaga dan dengan berbagai cara untuk melancarkan konspirasi, agresi, perjanjian, dan langkah-langkah lainnya untuk menghacurkan negara khilafah. Orang kafir telah mencurahkan kesungguhan hingga level tertinggi untuk menjatuhkan negara khilafah yang merupakan tonggak persatuan dan sumber kekuatan umat Islam. Sejak jatuhnya negara ini, orang kafir terus berusaha dengan giat untuk menggagalkan setiap upaya yang tulus dalam menghidupkan kembali kewajiban yang agung sekaligus lentera yang hilang ini.

Semenjak jatuhnya kekhilafahan, kaum muslimin masih terus berusaha memberikan perlawanan, berjihad dan berperang demi menegakkan Imarah Islam atau Daulah Islam yang menjadi pintu bagi kembalinya negara Khilafah Islamiyah yang mampu mengumpulkan kaum muslimin yang tercerai berai dan mengembalikan persatuan mereka. Dan cita-cita ini sudah terpatri di dalam sanubari umat karena mereka percaya terhadap janji yang benar:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“…setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian)…” [HR Ahmad]

Mengingat bahwa hadits ini adalah janji, dan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama bahwa; “janji itu adalah perintah untuk mengupayakan faktor-faktor penyebabnya dan berusaha untuk mewujudkannya.”

Sehingga jamaah mana saja yang di dalam visi misinya tidak tercantum agenda penegakan Daulah Islam dan bekerjasama untuk mengembalikan kekhilafahan, maka ideologinya harus dievaluasi dan jalan fikirannya harus dikoreksi.

Kami katakan seperti ini agar tidak ada yang memotong pembicaraan kami dan mengutarakan pendapat seperti yang telah diutarakan oleh Jamaah Daulah: “Kalian tidak menginginkan Khilafah dan Daulah Islam!”

Maka kami katakan dengan jelas dan gamblang, kami berjihad di jalan Allah untuk menggulingkan rezim thaghut dan menjatuhkan kerajaan kafir dan jahiliyah internasional, dan menegakkan hukum Allah di seluruh muka bumi atau sebagian kecil darinya semampu kita, sedangkan hukum Allah tidak akan tegak kecuali dengan Daulah Islamiyyah atau pemerintahan Islam atau negara Islam, sebagai sarana bagi tercapainya tujuan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam, yaitu Khilafah Islamiyah.

Namun khilafah yang kami inginkan adalah khilafah yang berdasarkan ideologi nabi, ideologi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat beliau yang mulia, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallahu Anhum, bukan khilafah yang berlandaskan ideologi khawarij yang hobinya menciptakan kontroversi dan merampas hak umat, insya Allah kami akan menjelaskan bagaimana khilafah yang sesuai dengan ideologi nabi itu, sehingga pihak yang kalah argumennya akan kalah dengan jelas dan pihak yang menang argumennya akan menang dengan jelas pula.

Kepada setiap orang yang berfikir untuk mengembalikan khilafah ke tangan umat Islam, ia tidak boleh lupa bahwa ada sebuah ikatan yang mengekang umat pasca runtuhnya khilafah, yang saya maksud dengan ikatan itu adalah Perjanjian Sykes Picot, dan perjanjian-perjanjian pembagian wilayah yang mengoyak-ngoyak tubuh umat ke dalam lebih dari 50 negara kecil, termasuk Deklarasi Balfour yang menjadi pangkal dibentuknya negara imitasi Yahudi di jantung negeri Islam.

Pembicaraan seputar khilafah dan Imamah Al ‘Uzhma selalu menjadi pembicaraan yang besar, saya tidak pernah menyangka bahwa setan mampu mempermainkan Jamaah Daulah melalui pembicaraan besar ini, meski ada banyak indikasi yang mengarah ke sana.

Khilafah dan imamah adalah pembahasan yang agung nan indah yang mampu membuat hati setiap orang yang bertauhid terpesona, namun ada perbedaan yang mencolok antara dunia angan-angan dan penuh kata dengan dunia keimanan, dunia keimanan yang saya maksud adalah dunia yang dipenuhi dengan ilmu dan amal, keduanya harus saling menopang, jika kita beramal tanpa berdasarkan ilmu, maka hasilnya sudah jelas:

مَنِ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ

“Barang siapa terburu-buru mencapai sesuatu sebelum waktunya, maka dia tersiksa dengan tidak memperoleh sesuatu itu.”

Syaikh Abu Qatadah Hafizhahullah berkata:

“Adapun kerusakan kedua juga lebih besar, yaitu terjadinya keburukan dan kerusakan dengan mengatasnamakan agama, maka ini adalah kerusakan yang besar, membuat kerusakan di muka bumi dengan mengatasnamakan Rabb yang Maha Terhormat dan Mulia, jika sebuah jamaah dianugerahi dengan kekuasaan, namun jamaah tersebut tidak layak untuk mendapatkan kekuasaan tersebut dari segi keilmuan dan pengetahuan, bukan dari segi kemampuan fisik…”

Maksudnya jamaah itu Allah berikan kemampuan fisik namun dari segi keilmuannya, jamaah itu tidak bisa diharapkan.

Syaikh melanjutkan:

“…karena apabila Allah memberikan kekuasaan, maka Dia juga akan memberikan kemampuan, karena kekuasaan tidak mungkin diraih jika tanpa kemampuan. Namun yang saya bicarakan di sini adalah dari segi keilmuan…”

Maksudnya jika terjadi kecacatan di dalam keilmuan, dan bukan di dalam kekuatan fisik.

“…Jika Rabb kita Subhanahu wa Ta’ala memberikan anugerah kepada suatu umat, maka Dia akan memberikan kekuasaan, kemenangan, kejayaan dan kemuliaan kepada umat tersebut dengan nama-Nya.

Kemudian jamaah tersebut akan memperlakukan makhluk dengan disokong oleh kekuasaan dan anugerah yang ia dapatkan, maka coba bayangkan dampak apa yang akan dihasilkan oleh (kelompok yang berisi) orang-orang bodoh tersebut (Jamaah Daulah)?! Apa yang akan mereka lakukan terhadap kaum lemah yang berada di bawah kekuasaan mereka?! Tidak ada yang akan terjadi kecuali kerusakan, dan dampak negatif dari kerusakan tersebut akan lebih berlipat…”

Tentu saja sumber kerusakan itu berasal dari jamaah yang bodoh.

“…dan dampak negatif dari kerusakan tersebut akan lebih berlipat karena dilakukan dengan mengatasnamakan Allah dan Islam. Sedangkan terjadinya kerusakan dengan menagatasnamakan Islam akan menjadi tabir terbesar yang menghalangi manusia untuk melihat hakekat agama Allah.” (habis)

Seorang muslim tidak akan ragu bahwa penegakan khilafah adalah kewajiban syar’i, namun penegakan khilafah atau upaya untuk menegakkannya melalui jihad dan perlawanan serta menempuh cara-caranya dan memberangus penghalang-penghalangnya secara bertahap melalui fase-fase yang alami, mulai dari bersusah payah, kemudian menjadi stabil, hingga berhasil meraih kekuasaan yang cukup untuk menegakkan kekhilafahan adalah ibarat sisi sebuah koin. Dan deklarasi khilafah tanpa menggubris fase-fase tadi dan tahapan-tahapan alami dan syar’i adalah sisi koin yang lainnya, keduanya adalah hal yang sangat bertolak belakang.

Yang ingin kami ajak bicara adalah umat Islam yang mau mempelajari hakekat khilafah yang selama ini didambakan, yang ingin kami ajak diskusi adalah orang yang ingin mendirikan Daulah Islam yang benar sebagai pembuka bagi tegaknya khilafah yang memiliki pandangan yang benar terhadap hukum alam dan kehidupan serta pemahaman yang benar mengenai Allah dan Rasul-Nya.

Khiafah dan imamah, begitupun negara, pemerintahan dan keimarahan ditegakkan dan didirikan, bukannya dideklarasikan padahal tidak ada wujud bangunannya. Barangsiapa melakukan hal yang sebaliknya ini maka ia telah menyelisihi hukum yang telah disepakati oleh anak manusia, dan menentang logika akal dan naluri yang lurus.

Merupakan tindakan bodoh, atau bahkan tindakan yang menjatuhkan nama baik dari makna yang agung ini adalah ketika ada yang mendeklarasikan tegaknya kekhilafahan sebagai sarana mencari solusi atas permasalahan yang terjadi di antara dua kelompok atau dua kubu atau dua jamaah, yang di antara keduanya terdapat hak-hak dan tuntutan-tuntutan kezhaliman yang harus dibayarkan, padahal cara untuk mencari solusi dari permasalahan semacam ini sudah jelas, yaitu pengadilan syar’i.

Inilah khilafah yang telah hilang dari hadapan kita selama hampir satu abad, yang mana semenjak hilangnya itu hingga kini umat Islam terus berusaha untuk mengembalikannya, sampai-sampai dalam memperjuangkannya ada jutaan jiwa yang melayang, ada sungai darah yang mengalir, jalan untuk mengembalikan khilafah ini dipenuhi dengan jutaan tengkorak dan potongan tubuh, penjara-penjara musuh umat Islam dipenuhi oleh jutaan pemuda Islam pilihan yang dijebloskan selama bertahun-tahun lamanya, peperangan juga berkecamuk di dalam negeri-negeri Islam untuk melawan para thaghut murtad dan orang-orang kafir dari kalangan yahudi, nashrani dan musyrikin, jamaah-jamaah jihad didirikan, yang satu tegak dan yang lain tumbang, setiap generasi umat yang baru menerima amanah dari generasi yang sebelumnya.

Bangsa muslim terusir seluruhnya, kehormatan umat Islam direnggut dan tempat tinggal mereka dimusnahkan, namun umat Islam tetap teguh memberikan perlawanan agar sampai kepada tujuan yang selama ini ditargetkan, umat memandang bahwa semua harga yang selama ini ia bayarkan pasti layak jika ditukar dengan kembalinya kekhilafahan, dan janji itu telah dekat dengan izin Allah.

Karenanya, pembicaraan mengenai khilafah selalu menjadi pembicaraan besar dan agung, siapa saja yang berbicara mengenai khilafah tanpa mengingat-ingat kembali seluruh pengorbanan yang telah lalu, maka ia dianggap orang asing bagi umat ini, oleh karena itu wahai umatku saya ingin memperingatkan, cukuplah bagi saya jika saya mampu mempertahankan hak kalian yang berusaha dicuri oleh para pencuri, karena mereka mengira bahwa hak kalian itu adalah kesenangan dunia yang bisa mereka curi, dan cukuplah bagi saya jika saya bisa menjadi generasi yang mampu mengemban amanah yang diberikan oleh generasi terdahulu.

Wahai umatku, sesungguhnya kekhilafahan ini adalah hak kalian, dan kami adalah putra-putra kalian, Insya Allah kami tidak akan menyia-nyiakan kalian, kami akan terus menepati janji, semoga Allah meneguhkan langkah kami selagi keringat masih menetes dan selagi mata belum terpejam.

Sesungguhnya deklarasi khilafah yang mereka langsungkan dengan cara seperti ini paling tidak dapat kita katakan bahwa ia tidak menggubris seluruh pengorbanan yang telah lalu, terlebih lagi deklarasi ini terindikasi sebagai upaya untuk memanen buah pengorbanan yang ada dengan sikap egois dan menjijikkan, deklarasi tersebut adalah perampasan terhadap hak umat Islam yang menjadi pemilik dari pengorbanan tadi.

Wahai umatku, jika sebelumnya kami tidak membolehkan musuh kalian memanen buah pengorbanan yang telah kalian pupuk agar sampai kepada kehilafahan, maka begitu pula sekarang, kami tidak akan membolehkan orang-orang munafik yang berusaha memanfaatkan jihad penduduk Iraq, kemudian penduduk Syam, dan juga jihad seluruh umat – tentunya dengan tetap memberikan segala hormat dan apresiasi kami atas tumpahnya darah suci kaum ahlus sunnah di negeri dua aliran sungai selama lebih dari 10 tahun yang lalu, tentu darah ini adalah darah kalian dan ini adalah pengorbanan kalian –.

Maafkanlah kami jika kami berbicara seperti ini, karena pembahasan khilafah ini seharusnya ditangani oleh para pakar saja, mulut kami telah lama bungkam demi menghormati para ulama yang sedang membahas permasalahan ini, sebagian dari mereka telah membahas permasalahan ini, maka semoga Allah membalas amal mereka dengan yang lebih baik, kami masih terus menantikan pembahasan dari ulama lain karena ini adalah hak umat, biasanya mereka yang membahas pembahasan ini secara singkat, tapi yang penting kami berharap semoga Allah meringankan beban para ulama kita dan membebaskan mereka yang tertawan.

Kami meminta maaf kepada umat Islam dan para ulama karena orang seperti kami ini sudah lancang membahas pembahasan yang agung ini, namun kita sedang berada di zaman langkanya para ulama, kami berdoa semoga Allah memanjangkan umur mereka yang masih tersisa dan menjadikan ilmu mereka bermanfaat bagi kita dan diberi kehormatan untuk melayani mereka. Kami juga berharap semoga Allah membimbing para mujahidin dengan adanya para ulama rabbani yang selalu menyertai medan jihad dan memperbaiki kesalahan yang ada. Kami berani bersumpah kepada Allah bahwa mayoritas musibah yang terjadi di medan jihad adalah disebabkan karena kurangnya ilmu dan ulama.

Setelah pendahuluan di atas, maka kami ingin membahas pembahasan ini dimulai dengan membahas beberapa poin penting, sambil tetap meminta kepada Allah agar mengampuni kita atas kelalaian kami dalam menjaga hak umat, serta membantu kami untuk berbuat baik kepadanya.

Kami ingatkan bahwa pembahasan kami mengenai khilafah pada hari ini tidak akan menggunakan bahasa slogan-slogan yang megah, namun langsung membahas hakekat dari konsep yang agung ini, agar putra-putra umat ini faham akan nilai dan urgensi dari konsep ini, dan agar mereka dapat memahami konsep ini dengan jelas.

Sesungguhnya ini adalah pembicaraan untuk mengajarkan konsep khilafah sesuai sunnah kepada generasi penerus umat ini, sehingga nantinya setiap muslim yang beraqidah ahlus sunnah, khususnya mujahid mampu memahami pembahasan ini dengan jelas, sehingga ia tidak terkecoh dengan kerancuan dan tidak dipalingkan oleh para pengikut kebid’ahan.

Poin satu:

“…janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu…” [An Nur: 11]

Sebagian orang yang berjuang dengan ikhlas meratapi kenyataan yang menimpa perjalanan jihad di Syam dan takut untuk menyongsong masa depan, maka kami katakan kepada orang-orang yang tulus itu: ingatlah bahwa Allah yang mengatur, Allah pun telah menjamin Syam dan penduduknya, dan apapun itu halnya jika telah Allah jamin, maka tidak ada kesempitan di dalamnya.

Jihad telah berjalan dengan diiringi pertolongan Allah Ta’ala, dan sejak runtuhnya khilafah umat ini telah diuji dengan banyak rintangan hingga berbagai ideologi berguguran. Kapitalisme dan Sosialisme telah runtuh, ideologi kesukuan, Nasionalisme, Ba’ts, dan Sekulerisme juga telah runtuh, begitu pula dengan Demokrasi, bahkan ada banyak dari kaum muslimin yang tertipu sehingga mengira bahwa Syura itu adalah Demokrasi, padahal tidak ada keraguan lagi bahwa ideologi itu adalah ideologi kufur yang akan membuat merasakan penderitaan.

Namun pada hari ini janji tegaknya khilafah itu hampir tiba setelah kader-kader umat mengambil pilihan yang tepat, yaitu pilihan berjihad dan mengambil kembali hak-hak yang terampas dengan kekuatan senjata, namun di sini masih harus ada proses pembersihan barisan khususnya setelah janji ini semakin dekat.

Yang sekarang perlu dikerjakan adalah menggagalkan agenda-agenda dan ideologi-ideologi bid’ah dan agenda para ekstrimis, namun untuk gagal, ideologi bid’ah itu haruslah melewati fase percobaan hingga fase kenyataan terlebih dahulu, agar semua orang dapat menyaksikan hakekatnya kemudian mereka mencampakkannya hingga akhirnya ia jatuh. Sama seperti agenda orang-orang yang beremeh-temeh dalam berjuang, pada awal euforianya saja ekspektasi masyarakat sudah menurun, apalagi ketika euforianya meredup, maka ekspektasinya terus menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Saya melihat – wallahu a’lam – bahwa di antara tanda-tanda dekatnya kebangkitan khilafah bermanhaj ahlus sunnah yang shahih adalah deklarasi khilafah para khawarij hingga kelak jatuhnya seluruh jargon-jargon mereka. Karena khilafah ala khawarij itu seakan menjadi pilot project yang gagal dan menjadi contoh kegagalan dalam pengelolaan tata kehidupan masyarakat, sehingga masyarakat menyaksikan bahwa kenyataannya jauh dari apa yang dijanjikan dan dikampanyekan, saat itulah mereka menyadari bahwa khilafah ala khawarij itu tidak mampu memenuhi tuntutan mereka, dan setelah itu umat mengetahui arti yang benar dari khilafah sehingga ia akan berupaya mewujudkannya.

Hari ini umat menyaksikan lahirnya khilafah gadungan! Khilafah itu merupakan bagian dari seruan yang sebentar lagi kedoknya akan dibongkar oleh umat – Insya Allah – atau bisa saja kita anggap bahwa kedok itu sudah terbongkar, yang saya maksud terbongkar di sini adalah terbongkar secara praktek bukan secara teori saja, usaha sederhana tidak lain merupakan upaya untuk membongkar, kami memohon kepada Allah agar senantiasa memudahkan dan menerima amal kita.

Dari sini, sebenarnya khilafah tidaklah sejauh yang kita bayangkan, karena saat ini umat sedang mendekat kepada janji ini dan berusaha menyusun rencana ke sana, jarak itu sendiri tergantung kepada besar kecilnya kesungguhan dan kemampuan untuk mengibaskan debu ketidak berdayaan dan kemalasan.

Syaikh Abu Qatadah Hafizhahullah berkata:

“Dan di antara sunnatullah adalah terjadinya fitnah di dalam tubuh jamaah dan umat, gejala-gejala tersebut akan terus merintangi perjalanan, maka terjadilah apa yang telah terjadi, khususnya dalam permasalahan ghuluw, orang-orang yang ghuluw mendengarkan perkataan para penempuh jalan tanpa memahami dan meneliti.

Fitnah-fitnah ini datang untuk menguji manusia, ia adalah cobaan yang akan memisahkan manusia sesuai dengan kedudukan mereka. Tebusan yang harus dibayarkan akibat perpisahan ini jumlahnya besar, dan ia adalah hal yang urgen. Dengan karunia Allah saya tidak merasa bersedih dengan apa yang sedang terjadi, bahkan saya justru melihat ada hikmah Allah di dalam cobaan ini, yaitu perjalanan ini sedang dibersihkan dari berbagai macam keganjilan, kotoran dan penyimpangan.

Sebelumnya masyarakat tidak dapat membedakan antara kaum ekstrimis dengan kaum jihadis karena urusan kita bagi orang-orang awam bukanlah hal yang penting. Namun pada hari ini perbedaan tersebut nampak jelas terlihat, dan setiap orang dapat berterima kasih kepada Allah karena ia tidak terjerumus ke dalam kejahatan, kebid’ahan dan penyimpangan, walaupun anggotanya banyak dan jumlahnya mayoritas.”

Kemudian Syaikh Hafizhahullah melanjutkan perkatannya:

“Dan sekarang tibalah saatnya penyaringan dan ujian, ia akan mendatangkan perpecahan serta akan melemahkan, namun ia akan memiliki dampak yang baik – insya Allah – namun syaratnya adalah sabar, teguh dan mamahami kondisi.”

Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan amalan kita ikhlas hanya karena wajah-Nya, karena sesungguhnya Ia mampu dan kuasa atas hal itu. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.