METODE KEBERLANGSUNGAN IMAMAH PADA ERA KHULAFAUR RASYIDIN

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Allah segala puji hanya bagiNya. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat dan siapa saja yang mengikuti beliau. Amma ba’du:

Pada pembahasan yang lalu kita telah membicarakan tujuan-tujuan dari imamah menurut perspektif Ahlus Sunnah, dan kita juga telah menjelaskan beberapa poin perbedaan pendapat Ahlus Sunnah dalam imamah, serta kita juga telah memaparkan tujuan-tujuan imamah menurut Ahlul Bid’ah kaum khawarij –Jama’ah Daulah-. Pada pembahasan kali ini dengan izin Allah kita akan mengkaji metode keberlangsungan khilafah (pergantian khalifah) menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita akan fokus membahas bab ini dengan mengacu pada metode-metode yang bergulir di era para Khulafaur Rasyidin semoga Allah meridhai mereka semua.

Terdapat dua alasan mengapa kita harus mengacu pada metode yang telah diterapkan oleh para Khulafaur Rasyidin dalam menentukan seorang khalifah, yaitu:

Pertama: Karena metode yang telah mereka gunakan dalam penetapan seorang khalifah merupakan dalil dan petunjuk bagi umat. Rasulullah SAW bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ، وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدِيْنَ

“Diwajibkan atas kalian untuk berpegang pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin.”

Berkata Ibnu Rajab: “Ini adalah perintah Nabi SAW untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafaur Rasyidin. Ini merupakan bukti bahwa sunnah al-khulafaur-rasyidin harus diikuti sebagaimana halnya mengikuti sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ini tidak berlaku bagi sunnah para pemimpin selain al-khulafaur-rasyidin.

Kedua: Sesungguhnya Nabi SAW telah berjanji pada kita, dan janji Nabi SAW adalah perintah, ia telah menjanjikan pada kita akan kembalinya khilafah yang berada diatas minhaj nubuwah. Jadi agar kita mengetahui bahwa suatu khilafah berada diatas minhaj nubuwah, maka hendaknya kita mengetahui tata cara penetapan seorang khalifah pada khilafah-khilafah yang diakui umat berada diatas minhaj nubuwah lalu kita buat perbandingan.

Apakah bai’at yang diperoleh Al-Baghdadi sama dengan bai’at yang diperoleh oleh para Khulafaur Rasyidin? Dengan ini kita bisa katakan bahwa metode pembai’atan Al-Baghdadi adalah tidak sesuai dengan metode pembai’atan Khulafaur Rasyidin. Jadi, khilafahnya Al-Baghdadi adalah tidak berada diatas minhaj nubuwah, dan tidak sesuai dengan era Khulafaur Rasyidin.

Pada era Khulafaur Rasyidin Islam ditegakkan dengan benar, merekalah kaum yang paling memahami kaidah-kaidah syari’at dan maqasid syari’at (tujuan syariat).

Pada pembahasan ini kita akan memaparkan satu persatu metode-metode pembai’atan Khulafaur Rasyidin dengan izin Allah.

  1. Khalifah Abu Bakr As-Siddhiq Radhiyallahu anhu

Sebagian ulama Ahlus Sunnah berpendapat bahwa memang terdapat nash dan dalil bahwa Nabi SAW telah memilih Abu Bakr sebagai khalifah untuk menggantikan beliau. Dan Sebagian yang lain berpendapat sebaliknya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berpendapat bahwa tidak ada nash atau dalil bahwa Nabi SAW telah memerintahkan kaum muslimin untuk menjadikan Abu Bakr sebagai khalifah sepeninggalnya. Akan tetapi Nabi SAW mengetahui bahwa kaum muslimin akan memilih Abu Bakr karena keistimewaan yang ia miliki yang menjadikan ia lebih dari yang lain. Inilah pendapat yang paling rajih (kuat), wallahu a’lam.

Pada saat itu kaum Anshar sedang berkumpul di Saqifhah Bani Sa’idah setelah wafatnya Rasulullah SAW, maka Abu Bakr datang menemui mereka disana. Disanalah tercapai kesepakatan setelah bergulirnya perdebatan tentang siapa yang berhak menjadi khalifah menggantikan Rasulullah SAW, hal itu diakhiri dengan berdirinya Umar bin Khattab lalu membai’at Abu Bakr sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari. Lalu berbondong-bondong kaum Muhajirin dan kaum Anshar membai’at Abu Bakr.

Ketika Umar bin Khattab berkhutbah di Masjdi Nabawi menceritakan perihal pembai’atan Abu Bakr, seseorang menimpali Umar: “Kalian telah membunuh Sa’ad bin Ubadah!” Umar berkata: “Allah yang telah membunuh Sa’ad bin Ubadah.” Lalu Umar berkata: “Demi Allah, kami tidak pernah menemui perkara yang lebih besar dari perkara pembai’atan terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka (kaum Anshar) tanpa ada yang dibai’at, lalu mereka (Anshar) kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at mereka yang pasti akan menimbulkan kehancuran. Maka, barang siapa membai’at Amir tanpa musyawarah terlebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh.”

Begitulah bai’at pertama yang dilakukan oleh pembesar para Sahabat Muhajirin dan Anshar, lalu keesokan harinya terjadi bai’at kedua atas Abu Bakr diatas minbar Masjid Nabawi oleh seluruh kaum muslimin Madinah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Berkata Az-Zuhri dari Anas bin Malik: “Umar berkata pada hari itu kepada Abu Bakar, ‘Naiklah ke atas mimbar,’ maka ia pun terus menuntut hingga Abu Bakar akhirnya naik ke atas mimbar dan dibai’at oleh seluruh kaum muslimin.”

Kita bisa melihat beginilah proses pembai’atan Abu Bakar terjadi karena adanya musyawarah antara pembesar Sahabat Muhajirin dan Anshar. Dan ini adalah dalil bahwa pihak yang berhak menjadi pemilih khalifah adalah para pemuka kaum, para Ulama, para pemimpin, merekalah yang dimaksud dengan Ahlul Halli wal A’qdi.

Pembaiatan Abu Bakar terjadi melalui proses pemilihan dan musyawarah Ahlul Halli wal A’qdi, inilah metode pertama dalam hal penentuan seorang khalifah.

Kita tutup metode pertama ini dengan perkataan Umar:

فَمَنْ بَايَعَ رَجُلًا مِنْ غَيْرِ مُشَوَرَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فَلَا يُتاَبِعْ (وفي رواية): فَلاَ يُبَايِعْ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ تغرّة أن يُقتلا

“Maka barangsiapa yang membaiat seseorang dengan tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, janganlah diikuti, (dalam riwayat lain): janganlah dibai’at dia begitu juga orang yang membai’atnya, karena dikhawatirkan keduanya terbunuh”. (H.R. Bukhari)

  1. Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallah anhu

Penentuan Umar menjadi khalifah terjadi dengan cara wasiat dan dipilih oleh khalifah sebelumnya. Setelah berdiskusi dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdi dan menjelang wafatnya, Abu Bakar memilih dan menentukan Umar untuk menjadi khaliah penggantinya. Lalu Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan untuk menuliskan wasiatnya:

“Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat wasiat dari Abu Bakar bin Abi Quhafah pada akhir hayatnya di dunia, yang sedang bersiap-siap hendak keluar dari dunia, yang merupakan awal masanya menuju ke akhirat dan yang bersiap-siap untuk memasuki akhirat, yang pada saat-saat seperti inilah orang kafir mau beriman, orang durhaka mau bertakwa dan pendusta mau menjadi jujur. Aku telah memilih pengganti sesudahku, yaitu Umar bin Khattab. Kalau dia berbuat adil, maka memang itulah yang kuharapkan darinya. Namun jika dia semena-mena dan berubah, maka kebaikanlah yang kuinginkan dan aku tidak mengetahui yang ghaib. Adapun orang-orang yang berbuat aniaya akan mengetahui di mana mereka akan dibalikkan.”

Kemudian setelah surat wasiat itu distempel maka Umar dipanggil masuk sendirian ke dalam kamar Abu Bakar. Abu Bakar meyakinkan Umar untuk menerima amanah ini, lalu Abu Bakar memberikan wasiat dan nasihat kepada Umar. Mereka keluar dari kamar, lalu Abu Bakar mengangkat tinggi kedua tangannya dan berdoa di hadapan para Sahabat yang telah berkumpul:

“Ya Allah sesungguhnya tidaklah yang aku inginkan dari hal ini kecuali kebaikan. Aku khawatir akan terjadi fitnah di tengah mereka, maka inilah yang aku upayakan pada mereka dan Engkau lebih mengetahui tentang ini. Saya telah memutuskan kepada mereka sebuah wasiat, saya pilih seseorang untuk memimpin mereka. Orang ini adalah yang terbaik diantara mereka, yang paling kuat diantara mereka, dan yang paling mengupayakan kelurusan di tengah mereka. Ya Allah, telah berlalu hari-hari dalam kehidupanku, Engkau memilihku menjadi khalifah bagi mereka, dan mereka adalah hamba-hambaMu. Ya Allah, hari ini aku serahkan mereka padaMu, perbaikilah perkara mereka, jadikanlah mereka para khalifah yang lurus, yang mengikuti petunjuk Nabi, dan petunjuk orang-orang shalih. Ya Allah peliharalah mereka dalam tanggung jawab mereka.”

Begitulah do’a Abu Bakar As-Shiddiq menjelang kepergiannya meninggalkan dunia. Sosok yang sangat menjaga umat Islam, sanantiasa memikirkan urusan mereka. Ia mengajarkan umat bagaimana mengurusi khilafah sepeninggalnya. Ia melihat khilafah sebagai amanah dan tanggung jawab besar, tapi ia malah mendoakan kebaikan umatnya dan tidak mementingkan dirinya. Di penghujung hidupnya dan di hadapan kematian yang semakin dekat ia lebih mementingkan urusan umatnya. Semoga Allah memberi balasan terbaik kepada Abu Bakar atas jasanya untu kita, untuk Islam dan untuk seluruh umat Islam.

Barangsiapa yang tidak menjadikan Abu Bakar sebagai suri tauladannya dalam menegakkan khilafah umat Islam, maka ia tidak layak menjadi pemimpin bagi umat Islam yang besar ini. Dan bergembiralah wahai umat Islam, Rasulullah SAW telah menjanjikan pada kita akan kembalinya khilafah diatas minhaj nubuwah.

Beginilah metode Umar diangkat menjadi khalifah dengan mendapat wasiat dan dipilih oleh Abu Bakar. Adapun Abu Bakar telah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdi sebelum yakin untuk menetapkan pilihannya pada Umar. Karena Abu Bakar memahami benar bahwa wasiat saja tidak cukup untuk, karena tetap harus adanya bai’at atasnya oleh umat.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Walaupun Umar mendapat wasiat dari Abu Bakar untuk menjadi Khalifah, tetapi sebenarnya ia sah menjadi amir karena umat membai’at dan menta’atinya. Seandainya umat tidak redha dengan wasiat Abu Bakar dan tidak mau membai’at Umar, maka Umar tidak akan menjadi pemimpin yang sah. Jadi Umar menjadi khalifah bukan hanya karena sekedar wasiatnya Abu Bakar.”

  1. Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhu

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tatkala Umar ditikam dan sekarat, maka ia mengumpulkan enam orang sahabat terdekat Rasulullah SAW dan ia pribadi redha terhadap mereka. Mereka adalah: Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhal bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin A’uf. Khalifah Umar meminta mereka untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi Khalifah sepeninggalnya.

Lalu Zubair memilih Ali, Thalhah memilih Utsman, Sa’ad memilih Abdurrahman bin ‘Auf, dan Abdurrahman memilih Ali dan Utsman. Sehingga kandidat pun kini bermuara pada dua orang sahabat, yaitu Ali dan Utsman. Maka Abdurrahman bin ‘Auf mulai mengumumkan dan bermusyawarah dengan umat pada saat itu tentang dua calon khalifah ini. Dalam sebuah riwayat dijelaskan:

“Abdurrahman bin ‘Auf mengumpulkan pendapat semua kaum muslimin, pendapat para pemuka kaum serta tokoh-tokoh terpandang. Ia bermusyaarah dengan mereka baik secara individu maupun kolektif.”

Abdurrahman bin ‘Auf terus melakukan ini selama 3 hari. Sehingga ia sampai pada kesimpulan setelah memohon petunjuk dari Allah bahwa Utsman terpilih untuk menggantikan Umar menjadi khalifah kaum muslimin. Begitulah proses pengangkatan Ustman bin Affan menjadi khalifah ketiga dengan ijma’ para sahabat.

Berkata Imam Ahmad: “Belum pernah terjadi ijma’ untuk membai’at seseorang sebagaiman ijma’ dalam membai’at Utsman.”

Jika kita perhatikan metode ini hampir serupa dengan wasiat, tetapi yang ditentukan lebih dari 1 orang dan tidak menunjuk secara langsung kepada hanya 1 orang. Menurut Ibnu Bathal bahwasanya Umar sedang mengkombinasikan metode Rasulullah SAW yang tidak menentukan penggantinya dengan metode Abu Bakar As-Siddhiq yang menentukan penggantinya.

  1. Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallah anhu

Setelah kesyahidan Utsman bin Affan radhiyallah anhu, terjadi konflik dalam hal keberlangsungan Imamah. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwasanya tatkala Utsman syahid, maka Ali pun mengurung dirinya di rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Para sahabat berdatangan ke rumah Ali dan menggedor-gedor pintu rumahnya, dan merekapun memaksa masuk ke rumah Ali seraya berkata:

“Sesungguhnya Utsman telah dibunuh dan umat membutuhkan khalifah yang baru, kami tidak melihat orang selain engkau yang lebih berhak untuk menjadi khalifah”

Ali berkata kepada mereka: “Carilah orang lain, aku cukup menjadi mentri saja (wazir)”

Para sahabat berkata: “Demi Allah tidak, engkaulah yang paling pantas menjadi khalifah”

Ali berkata: “Jika kalian tetap memaksaku maka hendaknya pembai’atan atas diriku tidak boleh secara rahasia, tapi hendaknya dilakukan di Masjid. Maka barangsiapa yang hendak membai’atku maka bai’atlah aku disana”

Ketika Ali keluar ke Masjid Nabi, maka orang-orang datang berbondong-bondong untuk membai’atnya.

Dalam riwayat yang lain: “Ketika Ali datang ke Masjid, para sahabat Muhajirin dan Anshar membai’atnya, lalu semua orang di Madinah ikut membai’atnya.”

Beginilah proses pengangkatan Ali sebagai khalifah ke-4 kaum muslimin. Karena adanya fitnah yang besar di masa itu, maka terjadilah apa yang telah terjadi. Mulai dari peristiwa Jamal dan Shiffin kemudian pemberontakan kaum khawarij setelah peristiwa tahkim. Dan Ali pun gugur syahid dibunuh oleh kaum khawarij.

Kesimpulannya adalah bahwasanya pembai’atan Ali radhiyallahu anhu terjadi melalui proses pemilihan oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi para sahabat Muhajirin dan Anshar.

Beginilah kisah-kisah pembai’atan para Khulafaur Rasyidin semoga Allah meridhai mereka, dari kisah-kisah ini kita bisa menyimpulkan dua metode yang digunakan pada saat itu:

Pertama: Pemilihan yang dilakukan oleh hasil musyawarah Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

Kedua: Penunjukan pengganti atau wasiat yang dilakukan oleh khalifah yang merasakan bahwa ajalnya telah dekat. Dimana ia menunjuk seseorang yang ia nilai pantas menjadi khalifah dan memimpin umat, tetapi tentu setelah ia musyawarahkan dengan Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Jadi metode ini juga akhirnya kembali pada peran vital Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

Kedua metode ini adalah metode yang disunnahkan dan disyariatkan untuk mengangkat khalifah bagi umat. Adapun metode ‘mengkudeta untuk menjadi khalifah’ akan kita bahas dan kita kaji perkataan para Ulama ahlus sunnah tentang metode menjadi khalifah dengan cara kudeta.

Berkata Syaikh Abu Qatadah: “Apa yang disebutkan dalam kita-kitab fiqh mengenai hukum pelengseran kekuasaan melalui kudeta adalah bahwasanya upaya ini bukanlah berasal dari asas. Karena asas khilafah ada dua metode: Pilihan Ahlul Halli wal ‘Aqdi dan penentuan atau wasiat khalifah sebelumnya.  Tidak boleh diraih dengan cara mengkudeta, namun ketika upaya kudeta ini menyebabkan terwujudnya tujuan imamah, maka upaya ini telah memberikan motif pembenaran bagi dirinya.”

Kita akan jelaskan lebih rinci mengenai pembahasan ini di bab berikutnya.

Sebelum merinci dua metode asas “Pemilihan” dan “Penentuan/Wasiat” maka perlu dingatkan bahwa kedua metode ini bermuara pada satu inti, yaitu Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Dan juga perlu diingat bahwa Imamah itu adalah wasilah bukan tujuan. Kita telah jelaskan bahwasanya tujuan dari Imamah adalah tercapainya tujuan Imamah itu sendiri. Maknanya adalah bahwa Imamah ini adalah wasilah untuk memenuhi tujuan, jangan sampai wasilah ini yang menjadi tujuan. Sebagaimana yang terjadi pada Jama’ah Daulah, mereka memelintir tujuan dari Imamah, kemudian pengumuman khilafah mereka adalah kontras dengan tujuan yang mereka klaim disebabkan kebathilan yang mereka lakukan. Sesungguhnya menjadikan wasilah sebagai tujuan adalah kerusakan besar imamah.

Sekarang kita masuk pada pembahasan dua metode yang menjadi kesimpulan kita dalam bab ini:

Pertama: Pemilihan yang dilakukan oleh Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

Telah berkata Syaikh Ad-Dumaiji dengan penjelasan panjang yang sangat indah, dan saya akan mengutip beberapa poin penting dari penjelasan beliau:

“Imamah sebagaimana yang telah kami sebutkan adalah sarana dan bukan tujuan. Sarana untuk menegakkan a’mar ma’ruf dan nahi munkar yang sempurna sebagaimana telah kami jelaskan sebagiannya dalam pembahasan tujuan-tujuan Imamah, dan perkara a’mar ma’ruf nahi munkar’ ini merupakan kewajiban bagi setiap individu umat. Perkara ini tidaklah mungkin ditegakkan dengan sempurna kecuali dengan adanya Imam yang memimpin kaum muslimin dan mengatur mereka untuk menegakkan kewajiban umum ini. Oleh karena inilah umat bertanggungjawab untuk memilih orang yang mewakili mereka untuk memimpin dan mengarahkan mereka untuk mewujudkan tujuan agung ini yang merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslimin.”

“Seorang Imam adalah wakil dan pelayan bagi umat, tidak ada hak istimewa baginya dalam Islam, seperti hak keagungan dan kedudukan yang lebih tinggi dari kaum muslimin yang lain. Maka tanggung jawab untuk memilih seorang wakil bagi umat dikembalikan pada umat itu sendiri. Karena seorang Imam itu berasal dari umat, maka hendaknya ia tahu bahwa umat ini terdiri dari kaum yang lemah dan kuat, diantara mereka ada yang alim dan ada yang jahil, ada pengikut hawa nafsu, ada yang cerdik, dan lainnya dengan berbagai karakter yang beraneka ragam. Oleh sebab itu hak untuk memilih imam bagi keseluruhan umat yang sangat beraneka ragam ini kembali hanya pada kaum berilmu dan berakal diantara mereka, orang-orang pilihan dan tokoh-tokoh utama mereka. Merekalah yang berhak memilih seseorang yang mereka nilai memiliki kapasitas untuk menanggung tanggung jawab syar’i yang Allah wajibkan ini. Yaitu kewajiban menegakkan syari’at Allah di muka bumi ini, beramar ma’ruf dan nahi munkar dalam segala lini kehidupan.”

“Darisinilah datang keadaan pentingnya bagi umat untuk memilih seorang pemimpin agar memimpin mereka menunaikan apa yang telah Allah wajibkan bagi mereka dalam bentuk sebuah khilafah yang tegak di muka bumi. Dan sebelum itu, wajib adanya para Ulama dan pemikir yang terhimpun dalam Ahlul Halli Wal ‘Aqdi yang umat mempercayai mereka, karena merekalah yang memiliki hak untuk memilih bagi umat seorang Imam yang akan memimpin mereka dengan kitab Allah diatas apa yang Allah ridhai. Adapun Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, mereka memikul tanggung jawab dan wajib memiliki integritas serta menjaga kepercayaan umat untuk memilih seseorang dari umat yang benar-benar layak dan mampu untuk berada di posisi yang berat itu. Dan mereka (Ahlul Halli Wal ‘Aqdi) akan menanggung dosa jika mereka memilih pemimpin bagi umat dengan cara yang salah dan cacat hukum. Oleh karena besarnya tanggung jawab amanah yang dipikul oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, maka mereka haruslah merupakan orang-orang pilihan, dan tokoh-tokoh berintegritas yang dimiliki umat. Agar imam yang mereka pilih dan tetapkan benar-benar jauh dari cacat, kepentingan, hawa nafsu, hendaknya ia terpilih dengan cara yang benar insya Allah.” Selesai perkataan beliau sampai disini.

Berkata Syaikh Abu Qatadah: “Akad Imamah adalah akad perwakilan, yang mana umat mengangkat wakil seorang laki-laki untuk menjadi pemimpin mereka; untuk menjalankan kewajiban Imamah dan Qiyadah atas keseluruhan umat. Oleh karena itulah akad ini merupakan tanggung jawab besar bagi pemikulnya untuk memenuhi tujuan dari Imamah. Umat Islam adalah tanggung jawab dari sebuah imamah, juga kekuatan dan bukti keberadaan imamah itu sendiri. Penegakan imamah harus dilakukan oleh kaum yang bijaksana, mereka haruslah perwakilan umat dari kalangan yang berilmu, mengetahui hikmah, dan memiliki kekuatan, merekalah yang menjadi ahlus syura atau Ahlul Halli Wal ‘Aqdi, yang mana ditangan merekalah terpenuhi maksud keseluruhan umat, merekalah kaum yang memahami mana perkara prioritas dan bukan bagi umat, bukan ditangan selain mereka.”

Semua yang telah kami jelaskan dalam bab ini menunjukkan akan penting dan urgennya metode penegakan khilafah/imamah dengan adanya Ahlul Halli Wal ‘Aqdi. Merekalah yang memilih Imam bagi umat, bukan seseorang yang memilih dirinya sendiri menjadi imam.

Wahai saudara-saudaraku ahlut tauhid, wahai para mujahidin, wahai kalian yang telah berhijrah di jalan Allah untuk menegakkan dienullah di muka bumi, berhentilah sejenak dan berfikirlah dengan apa yang sedang terjadi di medan jihad Syam hari ini! Renungkanlah kalimat per kalimat dari acuan ilmu yang telah kita bahas ini, kemudian tanyakan diri kita masing-masing dan jujurlah pada diri kita, karena sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala rahasia kita, bahkan Ia Maha tahu atas segala khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Saya memohon pada Allah, semoga hawa nafsu kita dapat terlepas cengkramannya dari akal dan hati, sehingga kita dapat melihat sesuatu sesuai dengan hakikatnya.

Apakah khilafah yang Rasulullah janjikan akan tegak diatas minhaj nubuwah -sedangkan janji Nabi adalah benar- sesuai dengan khilafah yang diumumkan oleh Jama’ah Daulah Al-Baghdadi?

Ingatlah kalimat-kalimat berikut ini baik-baik:

  1. Imamah (kepemimpinan) itu adalah haknya umat.
  2. Imam (pemimpin) adalah wakil dan pelayan umat.
  3. Orang-orang terpilih dari umat, seperti para Ulama, para pemuka, dan pemimpin-pemimpin merekalah yang berhak memutuskan siapa Imam yang layak memimpin keseluruhan umat sehingga tujuan imamah dapat dipenuhi.

Beginilah Imamah menurut ahlus Sunnah. Apakah Daulah Al-Baghdadi mengikuti metode ini?

Kita akan membahas lebih lanjut tentang siapa Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dan sejauh mana peran mereka dalam perspektif ahlus Sunnah dalam pembahasan selanjutnya InsyaAllah.

Kita memohon pada Allah agar menjadikan kita orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan menjadikan umat berbaik sangka pada kita. Dan sebelum semua itu semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang Allah terima dan ridhai. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan semua sahabatnya. Dan segala puji hanya milik Allah semata.