Taushiyah ini disampaikan tgl 12 Syawal 1436H/ 28 Juli 2015 dalam rangkan mengevaluasi dan meningkatkan kinerja para Tentara Islam Indonesia guna mensukseskan program Marhalah Jihad NII.

A. Ber’azzam Menjalankan Hukum Al Quran Semaksimal Kemampuan

1). Gelisah hati karena belum bisa menjalankannya, merasa bertanggungjawab dengan ayat-ayat QS. 5: 44,45,47. Pengertian man mengandung arti kepada umum

2) Tidak enak bila mati belum memperjuangkan tegaknya hukum Alloh secara kaffah

3) Tidak rela terus dijajah oleh Thoghut tanpa perlawanan. Hidup mulia atau mati syahid

4) Tegaknya Islam secara kaffah hanya dengan DAULAH/ NEGARA ISLAM. Walaupun Masjid dibangun dan pesantren dibangun ditiap penjuru tetapi jika ummat tidak sebagai jundulloh bersenjata maka tetap saja dikuasai thoghut.

5) Adanya thoghut harus dijadikan ujian, QS. 47:4

“apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. (QS. Muhammad [47] ayat 4)

6) Jawaban diakhirat tidak cukup dengan jawaban “tidak mampu karena bukan negara Islam” tetapi harus dibuktikan dengan usaha sekuat kemampuan dan sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan. Perumpamaannya: Membongkar Rumah, membabat kebun dan lain-lain.

7) Ber’azzam dan bertekad bulat sekalipun hanya ada tiga orang saja yang satu tujuan, maka harus bergabung sebagai bukti menjalankan perintah Alloh semaksimal kemampuan. Soal kepemimpinan sekemampuannya.

“Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al Insyiqoq [84] ayat 6)

B. Berusaha Mempersiapkan Diri Pribadi Semaksimal Kemampuan Guna Merealisasikan ‘Azzam/ Tekad

1) Menjaga kesehatan jasmani guna kelancaran, seperti faktor hati dan makan.

2) Kesejahteraan ekonomi/ keuangan sebelum terjadi perang frontal, dalam arti selagi masih ada kesempatan, bukan hubbud dunya.

“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash[28] ayat 77)

Akan halnya berbeda ketika Imam NII sudah mengeluarkan komando umum tentang QITAL maka QS. 9:24 harus dilaksanakan.

Katakanlah: “Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS. At Taubah [9] ayat 24)

3) Menambah ilmu/ kompetensi dimana saja.

C. Optimisme

1) Hasil sedikit atau banyak tetap ditulis/ direkam.

“dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi Balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At Taubah [9] ayat 121)

2) Yakin dalam skenario Alloh

3) Dakwah kita belum maksimal, belum sampai waktunya serempet-serempet bahaya, belum mampun memperbanyak publikasi yang maksimal

4) Menuju kemenangan defacto yaitu adanya kekuatan inti dan kekuatan potensial (kelompok yang banyak akan mengikuti pihak yang dianggap akan eksis menurut opini masyarakat luas). Maka akan muncul para pahlawan kesiangan. Contohnya pada akhir zaman NASAKOM mengikuti yang bakal menang, terjadilah Nanglu (Menang Milu/ Menang Ikut).