TUJUAN IMAMAH MENURUT AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, beserta keluarga, para sahabat dan siapa saja yang berwala’ kepada beliau, wa ba’du:

Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membahas tujuan-tujuan imamah, pada pertemuan kali ini kita akan mengidentifikasi lebih lanjut tujuan-tujuan tersebut.

Pemerintahan dan imamah bukanlah tujuan melainkan sarana, yaitu sarana untuk meraih tujuan-tujuan tertentu yang diperjelas oleh pengertian berikut: “Menegakkan agama dan mengatur dunia dengan agama.”

Inti dari tujuan tersebut adalah menegakkan perintah Allah di muka bumi dengan cara yang sesuai dengan syariat, memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang dari berbuat kemungkaran, menyebarkan kebaikan serta menjunjung siapa saja yang menjunjungnya, menumpas segala kerusakan serta merendahkan siapa saja yang mengagungkannya, Allah Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” [Al Hajj: 41]

Syaikh Islam berkata : “Tujuan inti dari pemerintahan Islam tidak lain adalah memerintahkan berbuat kebaikan dan melarang dari berbuat kemungkaran.”

Syaikh Abu Qatadah berkata: “Tujuannya – maksudnya imamah – adalah menegakkan hukum, menjaga keamanan, berdakwah kepada Allah dengan jihad, ini semua adalah tujuan-tujuan logis, dan semuanya tidak akan terwujud kecuali dengan adanya instrumen yang biasa dinamakan dengan syarat-syarat.”

Sebelumnya kami telah merinci sebagian dari tujuan khilafah dalam pembahasan mengenai sebab disyariatkannya khilafah.

Tujuan pertama khilafah adalah menegakkan agama, menurut Ibnu Al Humam menegakkan agama adalah “menegakkan syiar-syiar di wilayah yang dikuasai, dengan cara mengikhlaskan ketaatan, menghidupkan sunnah dan memberantas kebid’ahan.”

Ada beberapa faktor yang paling penting dalam kegiatan menegakkan agama, yang pertama adalah penjagaan, yaitu menjaga agama dan aqidah masyarakat, menjaga cara pandang orang-orang yang beriman terhadap agama ini agar selalu terbebas dari kegelapan, dan melanggengkan makna dan hakikatnya agar tetap seperti yang diturunkan oleh Allah dan disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, serta menerapkannya di dunia nyata serta menghukumi manusia dengannya.

Jika kita perhatikan kenyataan yang ada pada Jamaah Daulah pada hari ini dengan menganggapnya sebagai institusi kekhilafahan, maka kenyataannya masih sangat jauh dari yang diharapkan! Karena memang sebenarnya mereka bukanlah khilafah ataupun negara, mereka hanya sekedar kelompok!

Mereka melestarikan kebidahan khawarij dan menumpahkan darah, kemudian mereka mulai menguji aqidah masyarakat, mereka tidak hanya merusak agama masyarakat, namun mereka juga merusak dunia masyarakat.

Di antara sarana untuk menjaga agama dengan menyebarkannya adalah mendakwahkannya, baik dengan tulisan, perkataan maupun kekuatan, Al Juwaini berkata:

“ada dua cara dalam mendakwahkan agama ini, yang pertama adalah argumen (hujjah) untuk menjelaskan, sedangkan yang kedua adalah kekuatan dengan menggunakan pedang, untuk membungkam orang-orang yang bersikeras diatas kebodohannya”

Sarana kedua untuk menjaga agama adalah menahan dan melawan syubhat serta kebohongan, Abu Ya’la berkata:

“Imam bertugas menjaga agama agar tetap pada dasar awalnya yang sesuai dengan ijma’ salaful ummah, jika ada orang sesat yang ingin membuat syubhat tentang agama, ia (imam) harus menjelaskan hujjah kepadanya, menerangkan yang benar kepadanya, dan menindaknya sesuai dengan hak-hak dan hukum yang berlaku, agar agama tetap terlindungi dari segala penyimpangan dan umat terlindungi dari usaha penyesatan.”

Yang menjadi pertanyaan kami di sini adalah, apakah perilaku mengkafirkan para mujahidin pilihan, memecah belah barisan mereka, dan memerangi mereka seperti yang dilakukan oleh Jamaah Daulah ini termasuk dasar-dasar yang sesuai dengan ijma’ salaful ummah?!

Apakah Jamaah Daulah menahan syubhat atau menyebarkannya? Apakah Jamaah Daulah memberantas bid’ah atau melestarikannya?!

Daulah Islam itu haruslah memerangi kebid’ahan dan memberantas syubhat, karena hal yang paling berbahaya adalah berdirinya pemerintahan di atas ide yang bid’ah dan pemikiran-pemikiran sejenisnya.

Fudhail berkata:

“Barangsiapa yang membantu pelaku bid’ah, maka ia telah membantu proses penghancuran Islam.”

Ibnu Al Azraq berkata:

“Eratnya hubungan pelaku bid’ah dengan kalangan penguasa merupakan kecacatan terbesar di dalam aspek penjagaan – terhadap agama – berdasarkan dua alasan berikut: akan ada ancaman penjara, penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang yang enggan menerima kebid’ahan tersebut.

Yang kedua adalah akan ada banyak orang yang menyambut baik ajakan kebid’ahan tadi, karena opini masyarakat akan lebih mudah digiring dengan adanya restu dari penguasa ketimbang sekedar motif relijius.

Karena itulah penguasa harus menangani golongan yang celaka ini dan menjadikan mereka tunduk pada hukum Sunnah. Pertama karena ditakutkan fitnah yang mereka bawa, dan kedua karena ditakutkan keburukan mereka yang akan merusak agama.

Sarana ketiga dalam menjaga agama adalah: menjaga keamanan dan mengamankan perbatasan, karena tujuan imamah adalah memberikan rasa aman kepada kaum muslimin.

Al Mawardi berkata: “Menjaga keamanan dan melindungi para wanita, agar masyarakat bebas berusaha mencari penghidupan dan dapat melakukan perjalanan dengan aman, tidak terancam jiwa dan hartanya.”

Al Juwaini berkata: “Ketelitian seorang pemimpin dalam menjaga perbatasan adalah hal terpenting.”

Ini baru dari segi menjaga agama yang merupakan aspek pertama dalam menegakkan agama, adapun yang segi menerapkan agama, maka ada beberapa hal yang menjadi PR:

Yang pertama adalah menegakkan syariat dan hudud serta menerapkan hukum. Syaikh Islam berkata:

“Menegakkan hudud merupakan kewajiban bagi penguasa, hal ini dapat terealisasikan dengan menjatuhkan hukuman kepada orang yang meninggalkan kewajiban dan mengerjakan hal-hal yang diharamkan.”

Yang kedua adalah mengajak masyarakat untuk lebih dekat kepada agama baik dengan cara lembut maupun keras.

Jika kita menyaksikan Jamaah Daulah, kita akan mendapati bahwa mereka hanya menerapkan hudud kepada kaum muslimin yang lemah dan yang berada di bawah kekuasaan mereka, sedangkan kepada para gembong penjahat yang telah banyak membunuh tidak mereka terapkan.

Mereka menegakkan hudud agar dapat meraih keuntungan-keuntungan politik dan ketenaran yang dapat meng-cover kejahatan-kejahatan mereka, serta agar mereka dapat mengelabuhi manusia sehingga mengira bahwa mereka menerapkan syariat. Jikalau mereka benar-benar tulus tentu mereka akan tunduk dan bersedia memperkarakan kejahatan dan kezhaliman dan menjadi tanggung jawab mereka, dan tentu saja mereka akan menerima proses penegakan hukum yang diserukan oleh para mujahidin dan ulama baik yang ada di luar maupun di dalam negeri Syam, namun sampai hari ini mereka tetap tidak mau duduk bersama untuk menyelesaikan perkara, sehingga tudingan Syaikh Al Maqdisi Hafizhahullah kepada mereka bahwa mereka adalah kelompok pembangkang yang tidak mau menjalani proses hukum pun menjadi terbukti. Sebelumnya kami juga telah menuding mereka demikian.

Tujuan imamah yang kedua: mengatur dunia dengan agama ini, maksudnya adalah menerapkan hukum Allah dalam mengelola urusan kehidupan, yaitu dengan cara mengelola dan mengatur seluruh perkara kehidupan sesuai dengan kaedah, prinsip dan hukum syariat. Dan tujuan ini jauh lebih luas dari pada sekedar penegakan hudud, karena penegakan hudud hanyalah sebagian kecil dari hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah.

Di antara tujuan imamah yang lain adalah keadilan dan memberantas kezhaliman, tetapi tujuan ini justru dibuktikan secara terbalik oleh Jamaah Daulah, tujuan mereka adalah menebar kezhaliman dan memberantas keadilan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…” [An Nisa’: 58]

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ وَالِي أُمَّةٍ قَلَّتْ أَوْ كَثُرَتْ لَا يَعْدِلُ فِيهَا إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ

“Tidaklah seorang pemimpin kaum baik sedikit atau banyak, kemudian ia tidak adil kecuali Allah akan melemparkan wajahnya ke Neraka.” [HR. Ahmad]

Padahal Allah telah mewajibkan kepada manusia untuk bersikap adil bahkan terhadap musuh sekalipun:

“…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Al Maidah: 8]

Allah juga mewasiatkan kepada Nabi sekaligus Khalifah Daud Alaihis Salam dengan firman-Nya:

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” [Shad: 26]

Allah menjadikan kezhaliman sebagai sebab kehancuran bagi suatu umat:

“dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” [Hud: 102]

Syaikh Islam Rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya keadilan merupakan aturan bagi segala hal. Jika urusan dunia ditegakkan dengan adil, maka dunia tetap akan tegak, meski di akhirat orangnya tidak beruntung. Selama tidak ditegakkan dengan adil, maka dunia tidak akan tegak, meski orangnya beriman, dan di akhirat mendapatkan balasan atas keimanannya.”

Ad Dumaiji berkata:

“Di antara gambaran keadilan adalah mencegah kezhaliman dan menghilangkannya dari orang yang terzhalimi, mencegah terampasnya kehormatan dan hak masyarakat yang berkaitan dengan jiwa, harkat, dan harta, memberantas sisa-sisa permusuhan yang masih bercokol di tengah-tengah mereka, mengembalikan hak mereka kepada mereka, dan menjatuhkan sanksi yang sesuai kepada orang yang berbuat jahat terhadap hak tadi.”

Beliau juga berkata:

“Di antara gambaran keadilan juga adalah tidak adanya intervensi kelompok-kelompok masyarakat atau kabilah-kabilah dalam urusan perkara mereka yang ditangani seorang qadhi. Karena syari’at diterapkan kepada siapapun tanpa memandang apakah dia golongan kuat atau lemah. Tidak boleh ada kepentingan apapun antara seorang hakim dengan terdakwa. Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh kaum sebelum kalian telah binasa karena apabila salah seorang yang mulia diantara mereka mencuri, maka ia dibiarkan. Sedangkan jika orang lemah yang mencuri, maka hukum ditegakkan atasnya”

Di antara tujuan lainnya adalah menyatukan pendapat, membasmi perpecahan dan menyatukan barisan kaum muslimin di bawah satu pimpinan, karena Allah telah memerintahkan kita untuk bersatu dan saling berpegang teguh satu sama lain, serta mengharamkan perpecahan, Ia berfirman:

“dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” [Ali Imran: 103]

“…dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” [Al Anfal: 46]

Dari tujuan ini kita semua dapat membayangkan, betapa sering Jamaah Daulah memecah belah barisan para mujahidin yang sebelumnya bersatu, berapa sering ia menciptakan perbedaan pendapat, dan betapa sering ia memecah belah.

Pertama ia memecah belah Jabhah Nushrah dengan deklarasi negaranya (ISIS), kemudian ia merobek-robek jihad Syam dan dilanjutkan dengan jihad Iraq, kemudian ia memecah belah barisan jihad di seluruh medan perjuangan dengan deklarasi khilafahnya, atau ia mengupayakan ke arah itu. Demi Allah seandainya dalam deklarasi khilafah mereka tidak ada kerusakan sama sekali kecuali kerusakan ini, tentulah kekhilafahan mereka sudah layak dicap sebagai khilafah yang berbahaya.

Deklarasi khilafah mereka juga memecah-belah barisan yang telah mengumpulkan mujahidin di medan jihad di bawah panji Jamaah Qaidatul Jihad atau panji kelompok yang dekat dengannya atau paling tidak mau bekerjasama dengannya.

Jika tujuan ditunjuknya seorang imam adalah untuk menjaga persatuan kaum muslimin, maka bagaimana pendapat kalian dengan kelompok yang memecah belah persatuan kaum muslimin secara umum dan mujahidin secara khusus dengan mengatasnamakan khilafah?! Apakah ini khilafah yang berlandaskan manhaj nabi atau khilafah berbahaya yang tidak berniat untuk mencari ridha Allah?!

Kita akan membahas permasalahan ini lebih lanjut di dalam pembahasan mengenai taghallub (penaklukan), yang jelas kita dapat menyimpulkan bahwa deklarasi khilafah mereka tidak mampu merealisasikan tujuan yang satu ini, yaitu menyatukan pendapat dan barisan, sehingga deklarasi mereka dapat dikatakan sebagai deklarasi yang bathil.

Syaikh Al Maqdisi Hafizhahullah berkata mengenai sejumlah kerusakan yang ditimbulkan dari deklarasi mereka:

“Dengan deklarasi mereka yang terakhir – seperti disebutkan sebelumnya, mereka semakin beringas memecah belah barisan orang-orang yang bekerja untuk dien ini, mencerai-beraikan barisan mujahidin, dan membatalkan jamaah-jamaah mereka yang bergerak untuk agama Allah, membuat pengikut tidak taat kepada pemimpin, dan murid lancang kepada guru mereka!”

Beliau menambahkan:

“Deklarasi khilafah itu adalah konspirasi lain terhadap gerakan jihad yang diberkahi dan kelompok-kelompok yang ikhlas. Ringkasnya, mereka memberikan pilihan: bersama kami, atau kami akan menghembuskan perpecahan di barisan kalian. Kami akan bekerja untuk mencerai-beraikan barisan kalian…”

Hingga perkataan beliau:

“Sejatinya, itulah yang paling berbahaya dalam deklarasi mereka yang terakhir itu. Seperti saya katakan sebelumnya, saya tidak masalah dengan pengumuman khilafah mereka di Syam, Irak, atau London! Hanya saja, yang saya khawatirkan adalah dampaknya. Dan kenyataannya memang demikian!”

Beliau melanjutkan:

“Kami bukanlah musuh khilafah. Justru kami mendukung, menyeru, dan bekerja untuk menegakkannya, dan berusaha mengembalikannya. Akan tetapi, khilafah adalah proyek untuk menjaga kesatuan kaum muslimin, bukan untuk merusak, memecah belah, dan mencerai-beraikan barisan mereka.”

Kemudian beliau berkata:

“Khilafah wajib menjadi tempat berlindung dan aman bagi setiap muslim, bukan ancaman, dan intimidasi, dan penebar ketakutan di setiap kepala manusia.

Mereka (ISIS) telah membatalkan bai’at awalnya kepada pemimpin mereka dan memberontak kepada amir-amir mereka (Al Qaeda). Menjelek-jelekkan senior mereka, ketika mengumumkan daulah yang pertama (ISI). Dan ketika mereka mengumumkan yang kedua (ISIS), mereka menumpahkan darah yang diharamkan, dan menolak tahkim kepada syariat. Karena itu, kami wajib mempertanyakan, apa yang akan mereka lakukan setelah deklarasi khilafah?

Ulah mereka yang paling berbahaya bagi dakwah hingga hari ini adalah memecah-belah kaum muslimin, dan giat menghancurkan barisan jamaah jihad dan dakwah, setelah mereka memecah belah kaum muslimin secara umum, dengan pilihan bersama mereka atau menjadi musuh. Orang yang lemah di antara kaum muslimin tidak mereka kasihani.”

Beliau juga berkata:

“Maka, hakikat seruan mereka kepada orang-orang agar melepaskan bai’at jamaahnya merupakan tindakan yang merusak gerakan jihad, memecah belah organisasi jihad, mencerai-beraikan barisan mujahidin. Inilah yang mendorong kami mengungkap ada apa di balik deklarasi khilafah itu. Kita tidak menilai mereka dari kalangan awam mereka. Kita telah melihat ancaman sebelum pengumuman khilafah: bersama kami atau menjadi musuh kami. Lantas bagaimana setelah deklarasi?

Khilafah mestinya menjadi kenikmatan bagi kaum muslimin dan surga yang hilang bagi mereka. Mereka sedang mencari itu. Maka jangan jadikan khilafah sebagai neraka bagi mereka dan menambah keputus-asaan.

Khilafah adalah impian kaum muslimin. Mereka berusaha mewujudkannya. Janganlah kalian perburuk impian indah ini dengan memenggal kepala orang yang menyelisihi dan mengeluarkan isinya!! Bila kalian benar-benar tulus, wujudkanlah kekhilafahan itu dengan rahmat bagi kaum muslimin dan menolong orang yang lemah.

Kalian sedang bermigrasi sebagaimana orang lain juga demikian. Maka tetaplah dengan peringatan yang baik, bukan menyebarkan keburukan. Dan bersama-samalah dalam membangun pilar-pilar Khilafah Islamiyah Ar-Rasyidah, bukan bughat yang sesat dan berpaling. Bersama-samalah dalam hal yang orang-orang Islam dan jamaah-jamaah mereka belum lengkap, bukan mencerai-beraikan mereka. Bersama-samalah dalam menolong orang-orang yang lemah dan mengangkat yang tumbang di antara mereka, bukan malah menambahnya. Bersama-samalah dalam melindungi darah kaum muslimin, bukan malah mengalirkannya.” (habis)

Syaikh Abu Qatadah berkata:

“Sesungguhnya deklarasi ini tidak merubah kondisi perlawanan terhadap kejahiliyahan. Kekuatan Jamaah Al Baghdadi dan Al Adnani beserta pengikut mereka berdua tidak akan bertambah, dan barisan jahiliyah tidak akan melemah, jamaah-jamaah jihad secara umum berada dalam satu alur, bahkan kebanyakan dari mereka berada di bawah satu kepemimpinan, yaitu berada di bawah sumpah setia kepada sang Doktor (Ayman Azh Zhawahiri – red), maka masuknya nama khilafah tetap tidak akan merubah kondisi peperangan melawan musuh-musuh agama, bahkan ia justru membawa petaka, ia akan menyeret para pelaku jihad ke dalam perang internal, dan seruan khilafah ini pada hakekatnya adalah perlawanan terhadap jamaah-jamaah jihad yang bergerak di seluruh dunia, mulai dari Yaman, Somalia, Aljazair, Kaukasus, Afghanistan, Mesir, dan seluruh negeri Syam, dan bukanlah kepada orang-orang awam dari kaum muslimin. Petaka tersebut benar-benar ada, ia adalah bagian dari peperangan melawan imarah dan qiyadah.”

Beliau menambahkan:

“Jalan pintas yang mereka maksudkan untuk memecahkan masalah dan mereka klaim untuk mewujudkan mimpi kaum muslimin ini justru akan memperdalam jurang perselisihan, dan menjadikan pertumpahan darah. Dengan ini, engkau harus tahu asal hukumnya dalam agama Allah.

Jika engkau tidak mampu mengetahui masalah hukum sesuatu, maka lihatlah hasil yang diakibatkan darinya. Ingatlah! Darah yang akan ditumpahkan adalah darah para mujahidin, bukan darah orang-orang murtad dan zindiq.”

Beliau melanjutkan:

“Yang kita bicarakan bukanlah tentang dalil-dalil syar’i tentang wajibnya imamah dan khilafah, karena ia adalah hal yang telah disepakati sebagaimana yang tertera di dalam kitab-kitab fiqh dan siyasah syariyyah. Akan tetapi agar ia mengetahui bahwa jamaah ini (Jamaah Daulah) adalah jamaah yang menyempal dari barisan, dan menciptakan perpecahan.” (habis)

Tujuan imamah yang selanjutnya adalah memakmurkan bumi dan memanfaatkan kebaikannya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin, Allah Ta’ala berfirman:

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya…” [Hud: 61]

Dan itu dapat tercapai dengan cara menyiapkan seluruh kebutuhan manusia, mulai dari berbagai macam industri, kerajian dan ilmu pengetahuan, serta memenuhi kebutuhan riset ilmiah dan penemuan-penemuan baru.

Ibnu Abidin berkata: “di antara instrumen yang hukumnya fardhu kifayah adalah melakukan transaksi yang diperlukan.”

Dan menginvestasikan sumber daya negeri untuk memenuhi kebutuhan masyarakat muslim umum, seperti membuat jalan raya, membangun pabrik-pabrik, mengeksploitasi sumber daya alam, memperbaiki sarana pertanian, dan membuka lapangan pekerjaan yang layak.

Umar Radhiyallahu Anhu berkata:

“Seandainya ada seekor keledai terjatuh di Irak, sungguh aku yakin bahwa Allah akan bertanya kepadaku (di hari Kiamat) tentangnya, ‘Kenapa engkau tidak membuatkan jalan untuknya wahai ‘Umar?’”

Mengatur urusan dunia dengan agama – yang merupakan tugas daulah khilafah di zaman ini – adalah menyediakan segala kebutuhan negara yang setara dengan negara modern yang ada pada saat ini, mulai dari sistem pendidikan, jasa, kesehatan dan lain sebagainya yang merupakan kebutuhan urgen bagi sebuah negara modern.

Gambarannya adalah negara melaksanakan kewajibannya kepada rakyatnya untuk menjamin keamanan dalam negeri, mengembangkan sistem yang cocok untuk masyarakat muslim, menjamin pasokan bahan makanan, pengobatan, dan layanan kesehatan melalui lembaga-lembaga amal dan jasa, serta rumah sakit, khususnya lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari sekolahan, universitas dan pesantren, dan kebutuhan masyarakat muslim lainnya seperti pertanian, industri dan lain-lainnya, agar negara tersebut tumbuh layaknya negara lain yang dihuni oleh manusia lainnya.

Adapun yang dilakukan oleh Jamaah Daulah adalah mengeruk sumber daya negeri yang sebelumnya mayoritas digunakan untuk memenuhi kebutuhan kaum muslimin serta berjihad melawan musuh-musuh mereka, kini mayoritas digunakan untuk memerangi para mujahidin.

Berikut ini kami paparkan secara ringkas tujuan-tujuan imamah atau yang disebut juga dengan tugas-tugas utama imamah:

Tujuan pertama: menegakkan agama, bentuknya adalah penjagaan terhadap agama, yaitu dengan menyebarkannya, berdakwah kepadanya dengan tulisan, ucapan dan kekuatan, meng-counter dan memerangi syubhat, bid’ah dan kebathilan, menjaga keamanan dan mengamankan perbatasan, agar kaum muslimin dapat merasakan bahwa agama, jiwa, kehormatan dan harta mereka dalam keadaan aman.

Kemudian menerapkan agama ini, dengan menegakkan syariat dan hududnya, dan menerapkan hukum-hukumnya, ditambah dengan mengajak manusia kepada agama baik secara lembut maupun keras.

Adapun tujuan kedua adalah mengatur urusan dunia dengan agama, dan itu dapat dicapai dengan berhukum kepada apa yang diturunkan oleh Allah dalam setiap urusan kehidupan, tujuan ini menghasilkan beberapa tujuan cabang yang di antaranya adalah:

  • Keadilan dan memberantas kezhaliman
  • Menyatukan pendapat dan membasmi perpecahan
  • Memakmurkan bumi dan memanfaatkan kekayaan alamnya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin

Masih ada tugas lain yang harus dikerjakan oleh seorang imam, dan akan disinggung di dalam pembahasan mengenai kewajiban dan hak seorang imam, jika Allah memudahkan.

Melalui penjelasan mengenai tujuan-tujuan imamah menurut ahlus sunnah wal jamaah di atas, kita dapat mengetahui bahwa jamaah Al Baghdadi tidaklah kapabel untuk melaksanakan tujuan-tujuan ini, sehingga deklarasi khilafahnya otomatis batal, karena mereka tidak menegakkan agama dengan cara menjaganya, menyebarkannya dan mendakwahkannya, mereka juga tidak meng-counter dan memerangi syubhat, kebathilan dan kebidahan! Bahkan mereka adalah ahlul bid’ah ekstrim dan pengikut hawa nafsu itu sendiri, mereka meminum darah orang-orang yang menentang mereka demi membela kebidahan dan hawa nafsu mereka.

Adapun mengenai keamanan dan perbatasan, mereka hanya peduli terhadap urusan jamaah mereka saja, mereka tidak menegakkan hudud kecuali jika isunya dapat menutupi kejahatan mereka dan dapat memberikan stigma kepada masyarakat bahwa mereka adalah orang-orang yang menerapkan syariat. Padahal seandainya mereka benar-benar tulus, tentu mereka akan menerapkannya kepada diri mereka sendiri dan tunduk kepada hukum Allah, sedangkan mereka adalah orang-orang yang paling jauh dari sikap adil, jubah mereka adalah kezhaliman.

Deklarasi Daulah dan Khilafah mereka telah mengoyak persatuan dan barisan mujahidin, sehingga khilafah mereka dianggap sebagai mara bahaya bagi para mujahid di timur dan barat, mereka memanfaatkan harta benda yang mereka rampas dari kelompok lain untuk memerangi kaum muslimin dan mujahidin yang menentang mereka.

Jika kita meninjau hakekat deklarasi khilafah mereka yang bid’ah, tentu kita akan mendapati beberapa tujuan yang bid’ah, di antaranya adalah:

Menghindari pemutusan perkara menggunakan syariat Allah, mereka ingin mencari solusi atas permasalahan yang terjadi antara mereka dengan para penentang mereka dengan bersepakat kepada khalifah, tak lama kemudian mereka mendeklarasikan khilafah!

Tentu saja metode yang bid’ah ini tidak ada hubungannya dengan perselisihan, karena satu-satunya solusi untuk menanggulangi perselisihan, pertikaian dan permusuhan adalah pemutusan perkara melalui lembaga peradilan syar’i, bukan yang lain, dan segala solusi bid’ah yang ditempuh pasti bertujuan untuk menghindari solusi yang pertama, dan saya menduga bahwa setelah mereka menggunakan mubahalah yang bukan pada tempatnya, mereka akan nekad menggunakan cara lain!

Mereka akan terus melakukan kebidahan yang tidak ada tuntunannya sama sekali di dalam dalil, ilmu pengetahuan maupun sejarah. Mereka beristinbath dengan perspektif bid’ah mereka bahwa mereka adalah lembaga negara, dan sekarang mereka menjelma menjadi khilafah, dan daulah khilafah seperti mereka tidak lagi pantas memutuskan perkara dengan lembaga sekelas kelompok ataupun jamaah. Orang-orang bodoh itu lupa bagaimana para qadhi di dalam sejarah Islam dapat leluasa menggugat dan menginterogasi para khalifah, mereka lupa bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah imam sekaligus khalifah, namun beliau pernah menunjuk Saad bin Muadz Radhiyallahu Anhu sebagai qadhi untuk memutuskan perkara melawan yahudi Bani Quraizhah, dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam ridha dengan keputusan Saad, padahal lawan beliau di pengadilan adalah orang-orang yahudi dan mereka telah membatalkan perjanjian, artinya hujjah telah tegak kepada mereka.

Syaikh Abu Qatadah berkata seputar poin ini:

“Bagi para pemikir, ahli agama dan orang-orang yang bijaksana, hal ini adalah sangat penting, yaitu berusaha untuk bersepakat dalam satu hal, lalu menjadikan hal tersebut berada di atas landasan kesepakatan itu, bukannya bergerak berdasarkan doktrin yang menyelisihi pedoman para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, sebagaimana yang akan saya jelaskan nanti.

Cara terbaik untuk mewujudkan kesepakatan dalam bermasyarakat baik ditimbang dari sisi agama, akhlak, ketaqwaan maupun keilmuan, yaitu cara yang banyak orang telah mengajak untuk melakukannya adalah Tahkim Syariat.

Namun mereka merasa sombong, maka mereka menolaknya, mereka membesar-besarkan diri mereka dengan berkata bahwa tanzhim mereka adalah negara, tidak pantas untuk duduk dengan jamaah-jamaah yang lebih kecil dalam majelis tahkim dan pengadilan, lalu para penipu dari mereka yang mengenakan baju keilmuan palsu mulai mencari pembenaran dengan merujuk kepada sejarah Islam, lalu mengatakan bahwa tidak ada sejarahnya sebuah negara duduk di majelis tahkim dengan tanzhim.

Jika saja mereka membaca firman Allah:  “Dan jika kedua kelompok dari orang-orang beriman berperang…” [Qs. Al Hujurat: 9] dan tafsirnya dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, pastilah mereka tidak akan membuat kedustaan semacam ini untuk mendustakan Al-Quran dan As Sunnah. Jika saja mereka membaca sejarah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, pastilah mereka akan melihat bagaimana Rasulullah menerima putusan hukum Saad bin Muadz dalam tahkim pada saat perang Yahudi Bani Quraizhah.

Jika saja mereka mengkaji sejarah, pastilah mereka akan melihat bagaimana Khalifah Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menerima putusan tahkim antara dirinya dengan Muawiyah Radhiyallahu Anhu…” (habis)

Di antara tujuan mereka yang bid’ah juga adalah, mereka menunjukkan diri mereka kepada ummat bahwa mereka telah melewati fase keorganisasian dan kini memasuki fase Daulah Khilafah, ini mereka lakukan agar dapat menguasai seluruh tanzhim dan jamaah, bahkan seluruh ummat manusia. Dan mereka tidak menemukan cara untuk berkuasa di dunia nyata dan alam realita sehingga mereka terus berupaya untuk berkuasa di alam khayalan dan mimpi dengan terus mempropagandakan kekhilafahan mereka yang posisinya berada di atas semua jamaah, sehingga setiap jamaah yang ada harus mendatangi dan membaiat amir mereka yang akhir-akhir ini mereka besar-besarkan namanya hingga digelari khalifah! Serta berbagai tipu daya dan propaganda lainnya.

Duduk permasalahan yang sebenarnya adalah, apa yang mereka kerjakan bertujuan untuk menghindar dari hukuman pembangkangan mereka terhadap sang amir yaitu Syaikh Al Hakim Ayman Azh Zhawahiri Hafizhahullah, serta ketidak taatan dan upaya mereka yang memecah belah barisan dan ide jamaah, kemudian mereka mendeklarasikan khilafah untuk kabur dari tuntutan pertanggung jawaban atas kejahatan mereka yang membuat ummat dan proses jihadnya terguncang, padahal proses jihad ummat ini dalam melawan musuh-musuhnya sedang berada di dalam fase yang sensitif, dan sedang berada di dalam episode yang sangat-sangat sensitif dari rangkaian episode perlawanan ummat ini, yaitu bumi Syam yang diberkahi.

Mereka mendeklarasikan khilafah abal-abal mereka untuk menutupi kejahatan memecah belah barisan jihad dengan jubah syariat, namun penipuan semacam ini tidak akan berhasil kecuali kepada orang-orang bodoh, para ulama sendiri telah berbicara seputar poin ini, maka semoga Allah membalas amal kami dan kaum muslimin sekalian dengan segenap kebaikan.

Tujuan bid’ah yang lain dari khilafah mereka adalah legalisasi peperangan melawan jamaah-jamaah jihad, tujuan ini dinyatakan oleh sang jubir mereka, ia meminta kepada para prajuritnya untuk memecah kepala orang yang keluar dari barisan dengan peluru kemudian mengeluarkan isi kepalanya!

Dia lupa bahwa dialah yang telah keluar dari barisan dan memecah-belah, ia lupa terhadap hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Muslim ini:

وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

“…Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, & tak pernah mengindahkan janji yang telah di buatnya, maka dia tak termasuk dari golonganku & saya tak termasuk dari golongannya.” [HR. Muslim No.3436].

Walaupun hadits di atas terletak di dalam Bab Imamah, namun apa yang dilakukan oleh jamaah khawarij ini sesuai dengan apa yang disebutkan di dalam hadits di atas.

Pemahaman mereka yang bid’ah terhadap berbagai permasalahan telah menimbulkan banyak persoalan sebagaimana yang disebutkan oleh juru bicara mereka di dalam pidatonya.

Syaikh Abu Qatadah menjelaskan sebagian dari persoalan itu:

“Mereka tidak ingin jamaah-jamaah kaum muslimin menguasai wilayah-wilayah yang ada kecuali jamaah mereka. Penghinaan ini mereka lakukan untuk mewujudkan deklarasi khilafah, dan sudah dijelaskan sebelumnya tentang keburukan yang akan ditimbulkan akibat hawa nafsu terhadap tujuan ini, maka deklarasi dan kekhalifahan mereka tidak perlu diikuti.”

Beliau juga berkata di dalam tulisan yang sama:

“Ancaman mereka untuk membunuh siapa saja yang memecah belah tongkat kaum muslimin (khilafah) adalah didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: 

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa mendatangi kalian sedangkan perkara [kepemimpinan] kalian telah bersepakat atas diri seorang pemimpin, lalu orang yang datang tersebut bertujuan mematahkan tongkat ketaatan kalian atau memecah belah jama’ah [persatuan] kalian maka bunuhlah ia!”

Jelas sekali di dalam hadits ini beliau bersabda: “sedangkan perkara [kepemimpinan] kalian telah bersepakat atas diri seorang pemimpin,” sedangkan mereka berbeda dengan kondisi yang disebutkan oleh Nabi diatas, karena pada hari ini manusia itu terbagi dalam berbagai jamaah, tidak ada yang boleh mengumpulkan mereka menjadi satu kecuali orang yang diridhai atau jika terjadi kemenangan mutlak.

Saya katakan: Kemenangan mutlak ini bukanlah sebuah lampu hijau untuk menggunakan cara penaklukan, bukan juga peperangan melawan pihak yang berselisih dengan mereka…” (habis)

Syaikh Al Maqdisi berkata Hafizhahullah sembari mengungkap sejumlah kerusakan yang terjadi akibat deklarasi daulah dan khilafah mereka, kami akan menyebutkan sebagian darinya secara ringkas. Syaikh berkata:

“Ia – maksudnya pimpinan Jamaah Daulah – senantiasa menciptakan propaganda terhadap gerakan jihad ini dengan berbagai cara, di antaranya:

  • Menghabisi setiap mujahidin senior dan orang-orang terpilih di antara mereka yang dianggap akan menjadi penghalang bagi mereka untuk memetik buah jihad di Suriah, sehingga di medan jihad nantinya tidak ada lagi yang akan mengganggu orang-orang yang keras kepala, bodoh, dungu, dan lalai.
  • Menjatuhkan kredibilitas para tokoh dan ulama gerakan jihad yang tidak sepakat dengan pilihan organisasi ini.
  • Membelokkan arah kompas gerakan jihad dan memecah-mecah wilayah konflik dengan para penguasa thaghut; membalikkan peluru dari dada musuh umat ke dada generasi mujahidin yang tulus atau kepada kaum muslimin awam.
  • Mencerai-beraikan umat Islam dan memalingkan mereka dari misi Islam. Merusak setiap bibit kesadaran umat yang mulai memahami tugasnya, dan memalingkan setiap dukungan dari ummat kepada gerakan jihad ini.
  • Mencemarkan nama baik misi penegakan khilafah dan negara islam di mata umat Islam, dengan tingkah laku mereka, kekerasan kepala mereka, keekstriman mereka, dan kekejaman mereka, sehingga perilaku tersebut kemungkinan akan membuat masyarakat berpaling dari misi ini selama bertahun-tahun mendatang.

Dengan deklarasi mereka yang terakhir–seperti disebutkan sebelumnya, mereka semakin beringas memecah belah barisan orang-orang yang bekerja untuk dien ini, mencerai-beraikan barisan mujahidin, dan membatalkan jamaah-jamaah mereka yang bergerak untuk agama Allah, membuat pengikut tidak taat kepada pemimpin, dan murid lancang kepada guru mereka!”

Kemudian Syaikh melanjutkan:

“Kepemimpinan beliau bukan untuk membelah kepala orang-orang yang terlindungi darahnya dengan peluru, atau memenggalnya dengan pedang dan mengeluarkan isinya, melainkan untuk melindunginya, menjaga akal, mengembangkan, dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Agar dengan akal itu manusia selamat dari perkara-perkara yang hina.

Bahkan beliau berusaha menyelamatkan kelompok-kelompok militan, yang karena keadaannya tidak memungkinkan untuk berbaiat kepada Nabi saw dan masuk di bawah wilayah politik beliau, seperti kelompok Abu Bashir pada masa perjanjian Hudaibiyah. Demikian pula orang-orang yang melawan Al Aswad Al Ansi setelah mengkudeta pegawai Rasulullah di Yaman.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengklaim jihad beliau batal, menyerukan hijrah terbatas, dan meninggalkan medan amal dan hijrah beliau. Mereka tidak menyatakan bahwa orang yang tidak mau bergabung dengan mereka berdosa, menebar ancaman, memecah belah, atau menganggap batal semua kelompok lain. Sebaliknya, mereka tetap fokus pada pekerjaan hingga mendapatkan kemenangan dan bergabung dengan negeri Islam.

Demikian pula pada zaman khilafah, tidak ada khilafah yang dibentuk untuk membatalkan jihad mujahidin, memecah belah mereka, atau menyeru mereka untuk melakukan perlawanan terhadap para guru, tokoh, dan ulama mereka di negeri yang keluar atau memisahkan diri dari khilafah…” (habis)

Sebagai penutup, berikut ini kami paparkan beberapa tujuan bid’ah, bathil dan rusak yang timbul dari deklarasi mereka yang bid’ah itu, sehingga menjadikan status deklarasi mereka tidak sah, wallahu a’lam.

Di sini kami sudah memaparkan tujuan khilafah menurut ahlus sunnah wal jamaah, kami juga memaparkan tujuan khilafah menurut para ahlul bid’ah tersebut, maka kami biarkan saudara tercinta untuk membandingkan dan memutuskan.