Sepuluh Kesadaran Mujahid



Sabar adalah akhlak utama yang mendapat perhatian yang begitu besar di dalam Al-Quran, baik semasa makiyyah maupun semasa madaniyah[1]. Jumlahnya ada lebih dari 70 tempat[2]. Ini mengandung makna bahwa baik dimasa-masa sulit seperti semasa makiyyah maupun kondisi islam Berjaya semasa madaniyah kedua-duanya memerlukan kesabaran.

Sabar, secara lughowiyah (menurut bahasa) berarti menahan dan mengekang. Sedang menurut istilah Al-Quran sabar berarti menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridho الله (QS. 18:28 ; QS. 13:22). Lawan dari sabar adalah jaza’u yaitu sedih atau berkeluh kesah (QS. 14:21).

(lebih…)


Intelijen berasal dari kata intelegence yang artinya kecerdasan atau bisa juga berarti keterangan yang bersifat rahasia[1]. Dalam takaran Negara intelijen berarti kecerdasan didalam mengendalikan keterangan rahasia agar tetap terpelihara tegaknya sebuah system Negara. Sesederhana apapun Negara tersebut, tetap membutuhkan ‘telinga’ dari intelijen. Lebih-lebih bagi bagi Negara-negara yang sedang berjuang, maka tidak hanya badan  intelijen resmi yang dibentuk pemerintah saja yang diperlukan tetapi setiap individu, setiap rakyat, setiap warga Negara harus memiliki kepekaan Intelijen ini. Maksudnya  bahwa setiap warga Negara harus menyadari bahwa dalam kondisi “aman” sekalipun harus ada tindakan antisipasi yang sudah dipikirkan. Karena itu meskipun dirinya ‘berbeda’ dengan masyarakat sekitar (QS. 25 : 52-53), tidak ada salahnya bergaul secara dekat dengan mereka (QS. 41 : 34) dengan tujuan menyerap informasi yang  الله انشا berfaedah bagi Negara (QS. 40 : 28 & QS. 41 : 34 & 23 : 96).
(lebih…)


Masyarakat merupakan bentukan dari ideology sebuah Negara. Pada Negara yang berhaluan komunis, maka secara otomatis terbentuk masyarakat komunis. Tidak peduli apakah di dalamnya ada orang islan, orang Kristen atau agama lain. Demikian pula halnya pada Negara pancasila, meskipun sebagian besar penduduknya beragama islam tetapi karena ideologi yang dianut masyarakat tersebut adalah ideology pancasila. Maka masyarakat yang terbentuk secara otomatis dinamakan masyarakat pancasila. Sehingga karena merupakan masyarakat pancasila sadar tidak sadar setiap aktifitas yang dilaksanakan di dalamnya dengan sendirinya semakin memperkuat kedudukan pancasila sebab tidak satupun kehidupan berbangsa di Negara pancasila ini kecuali di dalamnya ada nafas pancasila. Sebagai contoh, dalam lapangan industry, pancasila Nampak dalam bentuk HIP (Hubungan Industrial Pancasila). Dalam lapangan agama-agama pancasila mengajarkan “toleransi” yang ditafsirkan dalam ujud kebersamaan di dalam melaksanakan ibadah seperti perayaan natal bersama atau buka puasa bersama. Bahkan di dalam membangun masjid yang diselenggarakan oleh nagara, masjid tersebut mempunyai cirri khusus dimana tulisan الله  ‘dibelenggu’ oleh segi lima sebagai symbol pancasila. Seolah-olah hendak mengatakan bila perlu ‘kepentingan’ الله  pun harus dibatasi agar tidak keluar dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yaitu pancasila itu sendiri. Dalam lapangan pendidikan, pancasila menjadi pelajar PPkn atau yang dulu disebut PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Dan dalam bidang politik, pancasila merupakan ideology yang harus dipertahankan. Terbukti dengan kewajiban setiap kontestant pemilu untuk tetap mempertahankan ideology pancasila meskipun partai tersebut berasaskan Islam. (lebih…)


Seorang Mujahid seharusnya mampu membagi waktunya secara proporsional menjadi 4 bagian. Yang pertama adalah waktu yang ia sisihkan untuk Robbnya. Yang kedua adalah waktu yang dia sisihkan bagi dirinya. Yang ketiga bagi keluarganya dan yang keempat adalah waktu yang ia pergunakan bagi kepentingan jihad.

Waktu bagi Robbnya bisa antum baca pada kesadaran – 2 yaitu kesadaran Ibadah. Sedangkan waktu yang kedua yaitu waktu yang ia peruntukan bagi dirinya adalah waktu-waktu yang bisa dimanfaatkan oleh Mujahid untuk memandaikan diri. Gambaran konkritnya bisa antum baca pada kesadaran – 1 : Kesadaran Ulul Albab. Sedangkan waktu yang ketiga yaitu waktu yang antum harus sisihkan bagi keluarga bisa antum ikuti pada tulisan kali ini. (lebih…)


Setiap Mujahid hendaknya berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan dirinya dari hasil tangannya sendiri. Dalam QS 78:11 “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”, menunjukkan bahwa الله telah memberikan peluang waktu agar manusia berusaha memenuhi penghidupannya di muka bumi. Disamping itu, dengan berusaha di muka bumi ini sang Mujahid memiliki kesempatan untuk bisa berlaku seutuhnya. Sebab ia mengetahui bahwa penggalangan dana sebelum futuh lebih tinggi derajatnya di sisi الله (QS 57:10). (lebih…)


Dalam kehidupan seorang Mujahid disuatu Negara, ia memiliki dua tugas utama sekaligus yaitu tugas Mujahid sebagai warga Negara dan tugas Mujahid sebagai penduduk suatu Negara. Sangat penting bagi Mujahid untuk mampu membedakan pada tugas yang mana ketika ia berada disuatu tempat. Sebab, jika Mujahid tidak mampu membedakannya dikhawatirkan akan terjadi kerancuan dalam berjuang. Ia tidak bisa membedakan antara harus berbuat sesuatu dengan tidak perlu berbuat sesuatu. (lebih…)


Seorang Mujahid haruslah menyadari bahwa negaralah yang menshibghah ummat yang ada di dalamnya, bukan seperti perkiraan banyak orang bahwa ummatlah yang menshibghah Negara. Jadi sesungguhnya warna ummat atau rakyat suatu Negara ditentukan oleh warga Negara itu sendiri. Pada sebuah Negara yang berwarna komunis tentu saja akan terbentuk masyarakat komunis. Demikian pula halnya pada Negara sekuler, sudah barang tentu masyarakat yang tercipta adalah masyarakat sekuler meskipun di dalamnya ada orang-orang islam yang taat. Bahkan meskipun jumlah penduduk muslim di Negara tersebut mencapai 80% akan tetapi karena Negara tempat mereka tinggal adalah Negara sekuler otomatis kehidupannya akan berwarna sekuler. (lebih…)


Perlu disadari bahwa tipe perjuangan Mujahid adalah perjuangan yang terstruktur. Bershaf-shaf sesuai dengan posisinya masing-masing. Setiap Mujahid hendaknya memahami dan mengetahui posisinya sendiri-sendiri. Sebab sebagaimana malaikat yang mengatur alam semesta ini. Mereka juga dalam kondisi bershaf-shaf, berjenjang, sehingga seperti itu malaikat bertasbih (QS 37:164-166). Sama halnya dengan antum yang Mujahid yang mengemban amanat (QS 33:72) untuk mengatur bumi dengan aturan islam (QS 21:105) maka antum tidak akan disebut bertasbih kalau tidak berstruktur seperti malaikat yang berstruktur didalam memakmurkan alam jagad raya ini. Untuk mengalahkan system islam, system kafirpun berstruktur (QS 8:7) karna itu janganlah antum terkalahkan oleh mereka lantaran tidak berstruktur.

(lebih…)


Di dalam QS 17:78-82, secara tersirat tahapan kemenangan Islam sebagai system dimulai dari kemenangan ruhiah (QS. 17:78-79), kemudian kemenangan structural (QS. 17:80-81), dan tahap berikutnya adalah kemenangan hukum Islam (QS. 17:82). Jadi, pasti tidak “nyunnah” mengharapkan kemenangan secara kaffah (QS. 2:208), manakala kemenangan ruhiah belum diraih. Karena itu seorang Mujahid hendaknya senantiasa memperhatikan aspek ibadahnya. Ia harus berusaha agar ibadahnya bernilai ibadah “Shohihah” yaitu ibadah yang memiliki dasar secara structural : Al-Qur’an, Hadits Sholih, dan Keputusan Pemerintah.

Seorang Mujahid harus piawai dalam persoalan-persolaan kaidah ibadah. Ia seyogyanya mengerti betul hukum-hukum yang berkenaan dengan ibadah yang dilakukannya. Jangan sampai ibadah yang dilakukannya atas dasar sangka-sangka sebab persangkaan tidak akan bermanfaat bagi kebenaran (QS. 53:28). Jangan pula ibadah tadi melampaui batas-batas yang telah ditetapkan Rosul (QS. 49:1) dan jangan pula ibadah yang dikerjakannya karena mengharap pujian manusia sebagaimana orang munafik melakukannya (QS. 4:142). Jadi, ibadah seorang Mujahid adalah ibadah yang tidak sekadar berhenti dikerongkongan tetapi harus tembus ke jantung hatinya (QS. 4:43). (lebih…)


Wahyu yang pertama turun kepada Rosululloh SAW adalah lima ayat pertama dari surat Al-‘Alaq. Kelima ayat ini turun mendahului ayat-ayat syari’at, hijrah, dan jihad serta hukum-hukum islam lainnya. Wahyu pertama ini seolah-olah ingin memberi pelajaran kepada manusia bahwa sebelum manusia menerima secara utuh Al-Islam maka sikap pertama yang harus dimilikinya adalah kemampuan beriqra yaitu kemampuan untuk membaca dengan seluruh indrawi yang telah الله anugerahkan kepada dirinya.

Arti Iqra yang sesungguhnya adalah mengumpulkan yang terserak sehingga memberi makna. Jadi kalau pengertian iqra dikaitkan dengan membaca maka iqra berarti mengumpulkan serakan huruf sehingga memberikan makna dan berdaya guna. Di QS. 62:2-3, الله berfirman “Dialah الله yang telah membangkitkan di antara orang-orang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata. Dan juga kepada orang-orang lain yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (lebih…)

Laman Berikutnya »