Hukum Syar’i Mengenai Jamaah ‘Daulah’ (ISIS) 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga Sholawat dan Salam tercurahkan atas Nabi kita Muhammad (SAW), dan keluarganya, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebenaran hingga hari kiamat, Amma Ba’du:

Pada saat penduduk Syam tengah berusaha membebaskan diri mereka dari penindas tirani Syam, Thaghut Nushairiyyah, yang telah menyebar kerusakan di dalamnya selama beberapa dekade, dan harapan orang-orang ini telah kembali melalui perlawanan pasukan Islam di Tanah Syam yang mana ianya tengah berusaha mengembalikan kehormatan dan kemuliaan umat.

Dan di bawah bayang-bayang kemenangan terus menerus Mujahidin, sebuah kelompok baru muncul di arena pertempuran, dia adalah ‘Jamaah Daulah’. Dan sejak saat itu kondisi umat Islam memburuk, dan Mujahidin menjadi terpecah belah – kecuali kepada siapa yang diberikan rahmat oleh Allah. Di sisi lain Rezim Nushairiyyah sedang mengalami kemajuan. Telah dibuat jelas bagi semua umat Islam melalui pernyataan dan tindakan dari kelompok ini (Daulah) yang akhirnya mendapat penolakan dari para Ulama, para pemimpin dan masyarakat umum.

Banyak yang bertanya mengenai Hukum (Keputusan) mengenai kelompok ini. Maka kami akan menjelaskan hal ini, seraya memohon bantuan dari Allah dan kemudian bersandar pada perkataan dan nasehat para Ulama kami yang memiliki pengetahuan yang luas, baik yang dahulu maupun yang sekarang. Harus disadari bahwa putusan yang diberikan mengenai sebuah individu atau kelompok, haruslah berdasarkan pada bukti dan penjelasan, jauh dari hawa nafsu dan taassub (fanatik terhadap golongan), demikian pembukaan dari pamflet ini kami susun, semoga Allah memberikan petunjuk-Nya:

Prinsip-prinsip kelompok ini, dan karakteristiknya, berkorelasi sepenuhnya dengan prinsip-prinsip ekstrimis Khawarij dan karakteristik mereka. Khawarij adalah sebuah kelompok di antara kelompok sesat yang pertama muncul dalam Islam, ciri-ciri mereka dapat dilihat melalui ekstremisme dan sikap keras kepala mereka. Dan kemunculan mereka tidak akan berhenti, melainkan akan terus muncul sampai saat Dajjal datang sebagaimana tercantum dalam Hadits. Banyak Ulama yang terdahulu dan modern yang telah mendalami mereka. Sehingga diketahui bahwa Khawarij memiliki prinsip-prinsip dan karakteristik yang telah diklarifikasi oleh Ulama mu’tabar.

Mereka diberi nama “Khowarij”, karena penyimpangan mereka dari Sunnah ke Bid’ah, keterasingan mereka dari Jamaah umat Islam, dan penyimpangan mereka dari Din (agama). Di antara karakteristik mereka yang paling menonjol adalah:

1. Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam Imamah (kepemimpinan) dan Bai’at (janji setia)

Khawarij mewajibkan Baiat kepada pemimpin mereka, dan menganggapnya Imam Al-A’dham (Imam besar), dan menganggap diperbolehkannya untuk menumpahkan darah (membunuh) dari setiap orang yang tidak memberikan Baiat kepada imam mereka, dengan berargumen bahwa orang itu melakukan kekufuran (kekafiran) atau Baaghy (pelanggaran).

Imam Al-Shahrastani mengatakan: “Siapa pun yang mereka tunjuk melalui penilaian mereka, dan berurusan dengan manusia dengan apa yang mereka anggap sebagai adil dan jauh dari berat sebelah maka ia menjadi Imam (pemimpin). Dan siapa pun yang memberontak terhadap mereka, maka diwajibkan untuk memeranginya.” Kaum Rafidhah (Syiah) menyerupai mereka dalam hal ini, karena Syiah menganggap Imamah (kepemimpinan) sebagai sebuah prinsip dari prinsip-prinsip agama, untuk alasan ini mereka menganggap Imamah sebagai kewajiban tak peduli apapun itu bahkan jika (Imamah itu didirikan) tanpa tamkin (memiliki kemampuan) atau musyawarah dengan kaum muslimin.

Dan sifat ini menyerupai Jamaah Daulah, dari nama mereka semakin memperjelas Ghuluw mereka dalam hal Imamah, dan menjadi hal yang difokuskan dalam Jamaah mereka. Mereka mendeklarasikan Daulah yang merupakan imajinasi dan negara media sosial semata (tidak ada darinya unsur-unsur sebuah negara). “Khalifah” mereka bersembunyi, tak terlihat dan lemah, namun mereka menganggap berbai’at kepadanya sebagai suatu hal yang wajib pada zaman ini, mereka beranggapan menumpahkan darah setiap orang yang tidak berbaiat kepada mereka adalah halal bahkan menyerukan agar menembak kepala mereka dengan peluru, sebagaimana yang telah dikatakan langsung oleh juru bicara mereka. Mereka menggambarkan Daulah mereka sebagai Baqiyah (kekal) – sedangkan sifat kekal (Al-Baqa’) itu hanyalah semata-mata untuk Allah – namun mereka telah menjadikan panggilan untuk Daulah mereka. Juga sudah merupakan hal yang diketahui bersama, dengan hanya berbai’at kepada mereka, maka bai’atnya akan menebus semua dosa yang pernah dilakukan sebelumnya, tak peduli apakah dia sebelumnya seorang Shabihah, kriminal atau pecandu narkoba. Untuk alasan ini, maka akan kita dapati banyak pemimpin mereka berasal dari tokoh partai Baath, pencuri, penjahat atau bahkan mata-mata yang telah menemukan tempat perlindungan dan tempat tinggal dalam jamaah tersebut. Kemudian masalah ini semakin berkembang saat mereka mengumumkan sebagai Khilafah atas seluruh kaum Muslimin, dan kemudian membatalkan Jihad setiap Jamaah (yang tidak berbai’at) di seantero dunia.

2. Mencela dan mencaci para U’lama kaum Muslimin dari para Pemimpinnya

Gembong mereka dalam hal ini adalah Dhul Khuwaysirah orang yang mencela Rasulullah (SAW) dan menggambarkannya sebagai zalim dan tidak adil. Jadi ini memang telah menjadi kebiasaan mereka di masa lalu hingga masa kini. Mereka juga telah mengkafirkan sahabat Ali (ra) dan sebagian besar para sahabat yang hidup di zaman itu.

Dan di sinilah mereka hari ini, mencela dan mencaci maki para U’lama dan para pemimpin di antara para pemimpin Jihad dan sikap mereka terhadap Syaikh Al-Zawahiri dan kata-kata bodoh Zawabiri (Pemimpin GIA) Syam sudah cukup menjelaskan hal itu. Mereka juga mencela dan memaki sebagian besar Masyayikh seperti Syaikh Al-Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah, Syaikh Hani Siba’i dan banyak lainnya, hingga tidak ada pemimpin dan Ulama yang bersama mereka kecuali orang-orang yang jahil lagi bodoh.

Dan tidak dipungkiri, bahwa mencela dan memaki para U’lama dan orang-orang yang mulia adalah metodologi Syiah Rafidhah untuk menjatuhkan umat, apa yang tersisa dari suatu umat setelah U’lamanya hancur? Bagaimana kita akan memahami agama tanpa penjelasan dan tuntunan dari ahli Ilmu, mereka adalah orang-orang yang menghapus dan menangkal penyimpangan-penyimpangan yang menyesatkan, pandangan yang salah dari orang-orang bathil (orang-orang yang menolak syariat), dan sebagai pentafsir bagi orang-orang yang bodoh.

3. Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam Takfir (mengkafirkan):

Takfir adalah suatu perkara yang diatur dalam hukum Syari’at dan merupakan hal yang sangat sensitif, Pedoman dan tempat rujukan dalam hal takfir ini adalah Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu al-Kitab dan as-Sunnah), tidak diperbolehkan untuk membuat Takfir muayyan (tertentu/atau secara khusus) kecuali setelah memenuhi syarat dan mawani’ (penghalangnya) telah direalisasikan oleh orang-orang yang memenuhi syarat untuk memutuskannya. Dosa meninggalkan seribu orang kafir lebih sedikit dibandingkan dengan dosa menumpahkan darah seorang Muslim tanpa ada alasan Syar’i. Khawarij sangat ekstrim dalam Takfir sampai mereka menjadi terkenal karena sikapnya itu, mereka mengkafirkan Ali (ra) dan sebagian besar para sahabat, dan umat yang setelah mereka (tabi’in dan tabiut tabi’in), kecuali orang-orang yang bergabung dengan jamaah mereka. Bahkan Ghuluw mereka tidak terbatas pada mengkafirkan para pelaku dosa besar, akan tetapi aliran pemikiran ini telah berkembang pesat, Ghuluw mereka berkembang pada hal-hal yang mereka anggap pokok, maka mereka membuat (hal pokok ini) sebagai prinsip keimanan dan menganggap semua orang yang menentang mereka dalam keyakinan tentang hal itu sebagai kafir dan murtad. Ibnu Taimiyah berkata: “Khawarij adalah yang pertama untuk mengkafirkan umat Islam atas dosa-dosa mereka, dan mereka mengkafirkan semua orang yang menentang mereka di kebid’ahan mereka dan menghalalkan darahnya dan hartanya (buat mereka). Ini adalah kondisi masyarakat yang penuh dengan bid’ah, mereka mengada-adakan suatu hal, kemudian mengkafirkan orang-orang yang menentang mereka dalam hal itu (bid’ah).” Untuk alasan ini mereka mengkafirkan hanya berdasarkan asumsi, konsekuensi dari masalah, dan kemungkinan, dengan terburu-buru dan nekad tanpa verifikasi dan klarifikasi, seperti yang mereka lakukan terhadap sahabat Ali (r.a) dikarenakan beliau tunduk pada Tahkim (mediasi).

Berlebih-lebihan dalam mengkafirkan telah menyebar pada Jamaah Daulah melalui publikasi mereka, mereka telah mengkafirkan seluruh Jamaah Jabhah Nusrah dan telah menyebutnya sebagai Sahawat, dengan argumen yang lemah selemah jaring laba-laba. Dan sebagian dari mereka sampai pada sikap mengkafirkan Syaikh Ayman Al-Zawahiri dengan argumen bahwa ia telah menyimpang dari Manhaj (metodologi). Sehingga Takfir yang dibuat oleh mereka menjadi lebih gampang daripada menuangkan air. Di wilayah timur Suriah yang telah mereka telah mengkafirkan kaum Muslimin seluruhnya dan menganggap bahwa pada dasarnya para penduduk di sini (timur Suriah) semuanya kafir, ini dibuktikan dengan penyebaran pamflet yang berjudul ‘Seruan Untuk Bertaubat (Al-Istitabah)’ yang memaksa orang untuk membuktikan terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah kafir dan murtad …. Wallahu Musta’an.

4. Keluar dari Jamaah kaum Muslimin dan menghalalkan (pengambilan) Darah dan Kekayaan mereka

Pemahaman Ghuluw di dalam mengkafirkan lambat laun pasti akan menyebabkan pelakunya keluar dan memberontak dari Jamaah kaum Muslimin dan sampai pada menghalalkan darah mereka. Belum pernah ada orang tenggelam dalam perilaku bid’ah kecuali mereka akan menghunuskan pedangnya terhadap kaum Muslimin. Dan belum pernah ada pedang yang terhunus dalam sejarah umat ini seperti terhunusnya pedang Khawarij. Mereka telah membunuh dua Khalifah Ar-Rasyidain, Utsman dan Ali (radhiyallahuanhuma) dan banyak orang mulia dari umat ini, Ibnu Taimiyah mengatakan: “Tidak dikenal dari kalangan kelompok-kelompok (Ahlul Bid’ah) yang (pedangnya) lebih besar daripada pedang Khawarij.”

Di sini hari ini adalah Jamaah Daulah menghancurkan rakyat Syam, bahkan yang terbaik dari mereka dari kalangan Mujahidin, merebut kekayaan mereka, senjata dan pangkalan dan menghancurkan rumah-rumah mereka. Rezim Nushairiyyah bahkan tidak mampu membunuh para Mujahidin sebanyak apa yang telah dibunuh oleh kelompok ini. Bahkan mereka membanggakan adegan pembantaian mayat dan meminum darah, mengancam semua orang yang menentang mereka dengan menyembelih dengan cara yang mengerikan – Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan (daya dan upaya) Allah.

5. Ketidaktahuan dan Kurangnya Pengetahuan dan Pemahaman

Rasulullah (SAW) telah menggambarkan mereka sebagai: “Orang yang muda-muda umurnya lagi pendek akalnya, mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka.”

Pada dasarnya kesesatan mereka berasal dari ketidaktahuan mereka tentang Al-Qur’an dan Sunnah meskipun mereka terlihat rajin beribadah, Wara'(saleh), dan mempesona. Tapi mereka mudah tertipu dan bodoh tanpa pemahaman atau pengetahuan, dan tidak ada U’lama yang membimbing mereka, mereka tidak lain hanyalah sekelompok orang yang jahil dalam agama.

Ini adalah kondisi Daulah hari ini dan kondisi riil mereka di lapangan, para Syar’i mereka (pembimbing agama) dan mahkamah mereka dipenuhi dengan kebodohan dan kurangnya ilmu, sehingga muncullah berbagai Fatwa (vonis) yang aneh, – Wallahu Musta’an.

6. Pengkhianatan, Ingkar janji dan Kebohongan

Allah berfirman: “Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Baqarah, Ayat 27). Diriwayatkan dari Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqaas: “Aku bertanya kepada ayahku- tentang makna ayat- ini, ia menjawab: “Mereka adalah Haruriyyah – yang berarti Khawarij.”

Di antara sifat kelompok Daulah yang paling terkenal adalah pengkhianatan, melanggar perjanjian dan kesepakatan dan melanggar kepercayaan dan mereka memperbolehkan untuk melakukannya. Berapa banyak perjanjian yang telah mereka buat dengan Mujahidin kemudian mereka batalkan sendiri, apakah itu di Aleppo, Badiyah atau Sharqiyah. Dan ini adalah karakteristik yang menyerupai karakteristik dari kaum Syiah Rafidhah yang terkenal dengan pengkhianatan dan pengingkaran janji mereka.

  1. Sombong, Kasar Dan Jelek Akhlaqnya:

Khawarij dikenal karena kekejaman mereka terhadap umat Islam, karena mereka menganggap umat Islam selain dari golongan mereka telah murtad. Mereka meninggalkan kaum kafir dengan argumen bahwa melawan murtad lebih didahulukan dari lainnya, seperti yang telah disebutkan oleh Al-Musthafa (Muhammad) SAW: “Mereka membunuh penganut Islam dan meninggalkan para penyembah berhala.”

Inilah mereka para prajurit dari Jamaah Daulah yang menyebabkan kerusakan di tanah Syam dan berurusan dengan orang dengan sombong dan perilaku kasar. Para hamba (Allah) telah memohon bantuan kepada Allah karena hambatan yang mereka ciptakan dan kejahatan mereka. Dan seberapa cepat mereka berlepas diri dari orang-orang yang menentang mereka, dan seberapa besarnya su’udhon mereka (terhadap orang lain). Pada saat yang sama, rezim Nushariyyah dan pendukungnya dari Syiah Rafidhah aman dari tangan-tangan mereka, kecuali melalui rilisan-rilisan panjang lebar yang diproduksi oleh media-media mereka yang menipu.

Keputusan Syar’i Mengenai Khawarij

Umat ​​telah sepakat mengenai mengenai wajibnya memerangi Khawarij jika: mereka terang-terangan menyebarkan kesesatan mereka, mereka bangkit melawan kaum muslimin dan menumpahkan darah dan merampok kekayaan mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah mengatakan: “Sesungguhnya umat Islam telah sepakat mengenai wajibnya memerangi Khawarij dan Rawaafidh dan sejenisnya, jika mereka keluar dari Jamaah umat Islam, seperti Ali (r.a) memerangi mereka.” Dan dari Umar Abdul Aziz: “Beliau memerintahkan untuk menjauhkan diri dari Khawarij selama mereka tidak menumpahkan darah tanpa hak atau merampok kekayaan, jika mereka melakukan itu, maka perangilah mereka meskipun jika itu anak saya sendiri.”

Tidak ada keraguan tentang wajibnya memerangi Jamaah Daulah karena mereka telah melakukan semua hal tersebut, selain itu kenyataan bahwa mereka adalah para penyerang, menyerang Mujahidin di markas dan daerah Ribaat mereka, karena itu perlu untuk mempertahankan diri dari serangan mereka dan menghalau serangan mereka. Ditambah dengan penolakan mereka untuk mematuhi Hukum Allah apakah itu melalui Pengadilan Syariah independen atau bersama. Belum lagi kerusakan besar yang telah menimpa Syam dan Jihadnya. Saat Ahlu Sunnah mengalami penindasan dan kezaliman dari Syiah Nushairiyyah dan Rafidhah, mereka (Daulah) telah menambahkan penindasan atas penindasan – Wallahu musta’an. Diriwayatkan dari Ibnu Hajar dari Ibn Hubayrah: “Sesungguhnya memerangi Khawarij lebih utama daripada memerangi kaum Musyrikin, dan hikmah yang terkandung di dalamnya adalah, memerangi mereka yang berarti mengamankan ibukota Islam, sedangkan dalam memerangi kaum Musyrikin yang dicari adalah keuntungan, sehingga melindungi ibukota lebih utama.”

Maka beruntunglah mereka membunuh mereka, dan dibunuh oleh mereka.” Seperti yang telah disabdakan oleh Nabi Musthafa Muhammad SAW.

Beberapa perkataan para Cendekiawan Kontemporer Mengenai Jamaah Daulah:

  • Syaikh Dr. Ayman Al-Zawahiri: menyatakan berlepas diri dari mereka dan dari Jamaah (Daulah) dan kelompok mereka dan menggambarkan mereka sebagai cucu dari Ibnu Muljam. Dan beliau menganggap perbedaan dengan mereka adalah perbedaan Manhaj (metodologi) dan aqidah (keyakinan), bukan hanya sekedar perbedaan kebjakan politik.
  • Syaikh Abu Qatadah Al-Filistini: Telah jelas bagi saya dengan pasti di mana saya tidak ragu bahwa kelompok ini melalui kepemimpinan militer dan Syar’inya yang melegitimasi tindakan mereka, bahwa mereka adalah anjing neraka, dan mereka adalah yang paling layak dimasukkan dalam kata-katanya beliau SAW: “Mereka membunuh kaum Muslimin tapi meninggalkan penyembah berhala, jika aku hidup sampai waktu mereka, aku pasti akan membunuh mereka dengan cara pembunuhan kaum Aad.”
  • Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi: “Tandhim Daulah di Irak dan Syam (IS/ISIS), adalah sebuah organisasi yang telah menyimpang dari jalan kebenaran, melampui batas terhadap Mujahidin, memiliki kecenderungan terhadap Ghuluw, terlibat dalam penumpahan darah orang-orang yang dilindungi, dan menyita kekayaan mereka, merampas daerah yang dibebaskan oleh mereka dari rezim, mereka telah menyebabkan distorsi (penghancuran) dalam Jihad, dan perpecahan di barisan Mujahidin, mereka telah merubah moncong senjata mereka dari dada kaum murtad (Nushairiyyah) dan pendukungnya kearah dada Mujahidin dan kaum Muslimin.” Dan beliau juga berkata tentang mereka: “Mereka adalah kelompok mayoritas yang terkena mahaj Ghuluw, dan manhaj yang memecah belah kaum Muslimin dan membasmi semua orang yang menentang mereka. Mereka tidak peduli dengan U’lama dan orang-orang terkemuka dari umat. Mereka mengaku menginginkan pembentukan syariah atas umat sementara mereka sendiri, sampai sekarang, telah menolak untuk menerima pengadilan Syariah mengenai (tumpahnya) darah dan (terampasnya) harta dan sengketa lainnya”.
  • Keduanya Syaikh Hani Al Siba’i dan Syaikh Tariq Abdul Halim: Telah menggambarkan mereka sebagai Khawarij, Mariqah, Haruriyyah, Qaramithah dan Batiniyah (sekte dengan ideologi tersembunyi non Islami).

Kesimpulan:

Dengan demikian kami telah memperingatkan semua umat Islam dan Mujahidin agar tidak terpedaya oleh Jamaah ini atau bergabung dengan mereka, karena konsekuensi yang akan diterima adalah meliputi membantu para penindas, menumpahkan darah kaum Muslimin dan mengkafirkan mereka.

Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahuinya.”