NKA NII (Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia) secara politis, social, keamanan, adalah penghambat terbesar bagi kekuasaan mereka (Konspirasi Internasional Amerika+Freemasonry+Zionist) sejak berdirinya 7 Agustus 1949 mereka sudah mulai gerah. Maka melalui Amerika mereka menekan Belanda untuk segera memunculkan Negara boneka yang dianggap mampu menjadi perpanjangan tangan dalam memberantas NII sebagai satu-satunya Negara di wilayah ini yang menghendaki penguasaan politik berdasarkan Syariat Allah (yang sangat mereka takutkan). Dan tekanan itu berhasil setelah perundingan Meja Bundar betul-betul sesuai dengan harapan mereka terhadap rencana besar yang tersimpan (penguasaan wilayah Nusantara), salah satu klausul dalam perundingan itu (yang tidak dimunculkan secara umum) adalah syarat pemberian hadiah kemerdekaan Negara boneka Indonesia Serikat yaitu memberantas habis Negara yang mempunyai hak penuh atas wilayah ini NII. Dan itupun dibuktikan oleh Soekarno 1 tahun kemudian dalam musyawarah di Majelis (MPRS) dalam pidatonya secara resmi menyatakan perang terbuka terhadap NII (setelah meyakini bahwa dia (soekarno) didukung penuh oleh kekuatan Amerika dan Belanda). Dan pada akhirnya memenangkan perang (untuk sementara) pada tahun 1958 (Aceh), 1962(Jawa), 1965(Sulawesi).

Maka setelah itu terjadilah Kiamat Wustho (Istilah yang dikeluarkan Imam AsSyahid SM Kartosuwirjo jika tidak ada lagi kekuatan Islam menghadapi gelombang kejahiliyahan) dimana kemusyrikan dan kejahiliyahan terbebas dari cengkraman dan belenggu, hingga mencampai puncaknya saat ini. Para Mujahidin (TII/APNII) mulai bertebaran setelah banyak dari komandan mereka malah menggabungkan diri dengan Republik, akan tetapi berkat pertolongan Allah jua maka mereka yang istiqomah masih bertahan dan membentuk kader-kader baru yang lebih berilmu, lebih Radikal, dan Lebih Foundamental. Meskipun guncangan Fitnah yang datang dari luar (Republik) atau dari dalam (pemimpin yang terjebak oleh kekuasaan individu) datang silih berganti akan tetapi mereka konsisten sebagai Tentara Islam Indonesia, sebagai Mujahidin yang siap untuk menegakan kembali Negara dan menguasai kembali tanah-tanah yang menjadi hak mereka yang direbut paksa oleh Republik sebagai antek Penjajah (Amerika dkk).

Perjuangan ini tidak akan lepas dari Shaff dan Persekutuan jika menghendaki Islam ini kembali tegak di bumi ini. TII tidak akan bisa mengalahkan konspirasi internasional yang sudah menggenggam Indonesia dengan sangat kuatnya. TII pada dasarnya bukanlah hanya melawan Republik Indonesia yang lemah dan bangkrut ini. TII sedang menghadapi kekuatan besar konspirasi yang dimotori oleh Amerika dan Zionist. Politikus Republik hanyalah wayang-wayang yang siap digerakan menurut keinginan mereka, maka perlulah kiranya TII tidak hanya berkutat didalam tapi juga memperluas kekuatan dan persekutuan baik dengan berbagai kalangan sendiri (faksi-faksi yang ada, tandzim yang terbentuk secara independent, ormas-ormas cover yang akhirnya terlepas secar koordinasi) ataupun kekuatan dari luar. Pertemanan dan persekutuan itu dapat dibagi menjadi tiga criteria :

  1. Teman Ideologis. Persekutuan yang paling utama harus dilakukan adalah merapatkan barisan di dalam yang terdiri dari berbagai faksi dan tandzim turunannya. Melepas segala permasalahan masa lalu dan perbedaan pandangan demi Shaff yang tersusun rapat. Maka teman Ideologis ini akan menjadi persekutuan utama dengan persamaan dasar ideology gerakan yang bersumber dari ideology Hijrah. Diantaranya adalah :

Jaringan Abdullah Sungkar. Beserta turunannya

Jaringan Tahmid. Beserta turunannya

Jaringan Abdul Fatah Wiranagapati. Beserta Turunannya

Jaringan Ajengan Masduki. Beserta Turunannya

Jaringan Abu Thoriq. Beserta Turunannya

Jaringan Husaeni (Aceh). Beserta Turunannya

Jaringan Ibnu Hajar (Kalimantan). Beserta Turunannya

Jaringan Kahar Muzakar (Sulawesi). Beserta Turunannya

Jaringan Abdul Qadir Baradja(Lampung). Beserta Turunannya

Jaringan Jihad Fillah. Beserta Turunannya

Jaringan Lainnya. Beberapa jaringan terlepas dari awal dengan jaringan-jaringan di atas.

  1. Teman Strategis. Sekutu kedua yang terpenting adalah dengan menyamakan gerak dan langkah Revolusi bersama Tandzim dan Organisasi yang sama-sama menghendaki Islam tegak di Bumi Indonesia, yang sama-sama memandang bahwa Republik Indonesia ini hanyalah Thogut kecil perpanjangan dari penguasa Thogut besar Amerika. Dengan tidak melihat latar belakang mereka dan memperkecil perbedaan dan friksi. TII dan mereka pada dasarnya sama dalam hal target dan tujuan akhir, yaitu membentuk Kekhalifahan Islam tegak kembali. Meski latar belakang mereka (kebanyakan) adalah gerakan dari luar Indonesia akan tetapi jika melihat target akhir yang sama toh pada akhirnya cepat atau lambat kita (TII) tetap akan menyatukan diri dengan gerakan internasional paska Futuh Mekah (Berdirinya kembali NKA NII dan lenyapnya NKRI). Diantaranya mereka ini adalah :

Al Qaeda

Mujahidin di Luar Indonesia. Contohnya Moro (MILF), Patani, Malaysia.

Hizbut Tahrir

  1. Teman Taktis. Sekutu ketiga adalah mereka yang sama-sama menghendaki Islam Tegak, akan tetapi masih belum (ragu) melepaskan dirinya dari keterikatan dengan Republik Indonesia, baik dalam hal pandangannya terhadap Republik (masih belum berani menyatakan Thoghut) atau masih mempunyai pemikiran klasik, bahwa Republik dapat diislamkan dari dalam, baik melalui dakwah atau politik (dengan system Demokrasi). Diantara mereka ada yang mempunyai ideology islam foundamental dan mempunyai pengetahuan agama yang tinggi, akan tetapi masih enggan berkonfrontasi secara langsung dengan Republik (malah sebagian mempunyai loyalitas yang fanatic). Mereka hanya pantas dijadikan sekutu taktis, sekutu operasional. Dengan tidak perlu membuka identitas dan pemahaman ideology gerakan (kecuali dalam hal mendakwahi mereka), mereka masih resistant untuk dijadikan teman strategis apalagi ideologis. Mereka ini diantaranya adalah :

Masyumi. Dan turunannya : (DDII, PBB, Persis, dll)

Tarbiyah/Ikhwanul Muslimin. Yang di Indonesia diwakili oleh PKS.

Ormas Militan. Diantaranya FPI, secara organisasi FPI loyal terhadap Republik, akan tetapi secara personal diantara mereka ada yang mempunyai pandangan bahwa Republik adalah Thoghut yang harus dimusnahkan. Personal seperti ini sudah pantas dijadikan sekutu strategis setelah diberikan pemahaman ideology gerakan.

Islam cepat atau lambat akan kembali tegak di Bumi Indonesia sepanjang para Mujahidin istiqomah dalam Jihad Fii Sabilillah. Mereka sedang membuat Makar, tapi Makar siapakah yang lebih hebat daripada Makar Allah. Dan Kemenangan bukan lah segalanya bagi kita, kemenangan hanyalah target antara untuk menuju pengabdian setelah nya. Allah melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi saat ini, kita hanya perlu untuk memperlihatkannya, sejauh mana pengabdian kita kepadaNya.

Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Allahu Akbar.

Madinah Indonesia, 18 Dzulhijah 1432 H.