Ummah bermakna sekumpulan manusia yang terbina atas suatu aturan yang diyakini bersama, dan sepakat memberlakukan hukum tersebut dalam struktur kepemimpinan [=imamah] yang diterimanya. Dari itu pengertian ummah senantiasa terkait dengan imamah.

Contoh, dikatakan Ummat nabi Musa adalah mereka yang bersetia pada ajaran Alloh yang diamanahkan kepada Nabi Musa AS, mengikuti kepemimpinannya, mendukung gerak langkah perjuangannya, seta rela menderita bersamanya demi keyakinan tadi. Mereka bukanlah ummah Fir’aun, walaupun di masa itu Fir’aun eksis dengan kekuasaan dan kelengkapan aparat pemerintahannya. Bahkan mereka tetap terpisah dari ummah Fir’aun, terlepas dari kendali kekuasaan/kepemimpinan [imamah Fir’aun, sekalipun oleh sebab itu mereka harus hidup di bawah ancaman dan terror kekuasaan Fir’aun tadi [S.10:83].

Bahkan kalaupun ada yang menjabat satu posisi dalam struktur Fir’aun tadi, ia tidaklah berwala kepadanya, ia berjuang sebagai mukmin yang menyembunyikan imannya, yang akan tampil dalam moment yang tepat bagi kepentingan perjuangan yang tengah dijalankan Nabi Musa AS [lihat S.40:23-51. Cermati ayat ayat ke 28,30-35,38-44,45].

Begitu pula dengan Ummah Muhammad SAW, Ummat Islam pengikut Nabi Akhir Zaman, disebut Ummah Islam bukan berarti secara hati dan fikir menerima ajaran Islam, bukan sekedar mereka yang melaksanakan rukun Islam. Tapi disamping semua itu, Ummat Islam adalah mereka yang bersetia pada Islam, mengikuti dan berjuang bersama Ulil Amri minal mukminain, bernaung di bawah Imaroh yang mengejawantahkan nilai nilai Islam, serta kufur kepada thoghut dan baro [tidak bersetia] dengan segenap kepemimpinan yang menimbulkan kemurkaan Ilahi.

Kalaupun ada ketika itu yang secara pribadi adalah seorang muslim, namun bila malah bertahkim kepada thoghut, atau berwakilan orang orang yang dimurkai Alloh, maka statusnya bergeser tidak lagi sebagai Ummat Islam walaupun tidak serta merta disebut Ummat kafir, tapi baina dzalik [di tengah tengah antara itu] Lihat S.58:14-16,4:60. Bagi golongan ini, jelas tidak mendapat jaminan keamanan sebagaimana halnya Ummat Islam yang utuh. Lihat S.8:72.

Ummat Islam adalah mereka yang di bawah Struktur Rosululloh SAW, bukan mereka yang berada di bawah kepemimpinan Abu Jahal, [sekalipun secara pribadi mereka muslim ! Lihat S.4:97]. Yang disebut Ummah Islam adalah mereka yang berada dalam kepemimpinan Mukminin dan berjuang menata kekuasaan Islam. Mereka yang tidak demikian tidaklah disebut Ummat Islam tapi munafiqin [S.4:138-139].

Jika telah jelas arti Ummah, seperti di atas, maka apakah yang mereka maksud dengan ‘’Membangun Ummah’’. Apakah sekedar membina kepribadian muslim, sekalipun secara struktur di bawah Kuffar ? Bila mereka bersikeras, bahwa itulah yang dimaksud membangun ummah, maka nyata ada perbedaan asasi antara kita dengan mereka dalam mengartikan ‘’Membangun Ummah’’ tadi.

Bagi kita membangun ummah tidak bisa dilepaskan dengan membangun imamah, sebab keduanya adalah sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan. Tapi jika mereka bersikeras mencukupkan diri dalam bidang pembinaan ummah sebatas apa yang mereka mengerti, maka biarlah ia dalam kesungguhan seperti itu sementara. Walaupun tidak berdampak langsung, apa yang dikerjakannya tidak sepenuhnya buruk bagi kita, tak perlu kita menghabiskan energy mengajak mereka, sebab kembali pada kapasitas mental dan wawasannya, Nampak hanya akan menjadi calon rakyat Islam id masa datang. Jika ditarik tarik/diajak sekarang, malah kita yang cape harus menarik narik melulu …. Coba perhatikan S.9:44-47,42

Atau ada orang yang berkata : “ Kendaraan sudah butut masih dipakai,coba cari yang lebih canggih?”Orang berkata demikian ,berarti tidak tahu hakikat perjuangan Negara. Ketahuilah rakyat dari sebuah Negara tidak mungkin begitu saja meninggalkan negaranya, dalam keadaan terburuk sekalipun!

Bagaimana penilaian anda, apabila ketika Vietnam diserbu tentara Amerika, lantas rakyat Negara yang diserang malah ramai ramai meminta naturalisasi, pindah kewarganegaraan, ingin diakui sebagai rakyat  AS sekalian.Atau ketika Republik Indonesia diserang kembali oleh Belanda [NICA], mereka lantas ramai ramai ingin jadi warga kerajaan Belanda. Anda akan mengutuknya dan menghukum sebagai pengkhianat Negara ! Ya, di belahan bumi manapun, tingkah rakyat menyerahkan negaranya pada musuh, dikutuk habis habisan. Itu untuk Negara yang bukan Islam, anda bisa bayangkan betapa kemurkaan Allah pada rakyat Daulah Islamiyyah yang rela berhenti mempertahankan Negara berjuang yang dimasukinya hanya karena kekalahan yang panjang !

Benar kita tengah kalah. tapi kalah dalam satu babak pertempuran, bukan kalah perang secara keseluruhan. Kami belum, dan tidak akan menyerah ! ! ! Hingga Allah ssendiri menurunkan keputusanNya, di sini atau di Yaumil Akhir nanti !

Namanya Negara tengah kalah bertempur. sedang terpuruk dan terus didesak, wajar kalau mengalami banyak kekurangan, sekarang tinggal dikembalikan pada mental rakyatnya. Apakah mereka akan berjuang untuk bangkit meneruskan perjuangan, atau malah memperburuk keadaan dengan ocehan ocehan putus asa serta caci maki atas Negara sendiri dengan mengandalkan kekecewaan kekecawaan pribadi.

Aneh memang, presidennya sendiri tidak pernah merasa kecewa, walau telah berkali kali di tawan musuh, tapi rakyatnya, yang terkadang tidak pernah diinterograsi sama sekali, tapi paling vokal meneriakkan kekecewaan dan ingin berhenti. Na’udzu billahi min dzalik !

Orang kecewa itu boleh, bahkan pada sa’at sa’at tertentu terkadang harus. Tentu tidak normal namanya kalau orang merasa puas dengan kondisi yang buruk, sebab jika demikian, keadaan yang buruk tadi malah akan terus dipertahankan. Orang harus kecewa, agar timbul gagasan untuk memperbaikinya. Itulah kecewanya orang yang penuh asa. Yang tidak boleh adalah : anda kecewa, kemudian anda tinggalkan tanggung jawab memperbaikinya. Sudah jelek, dibuang lagi ……. Astaghfirullohal ‘Azhiem.

Sekali lagi, kalau suatu sa’at anda bertemu ummat yang mengeluhkan kekecewaannya atas perjalanan juang ini, jangan terburu salah sangka. Ajaklah duduk bersama, dan mintai pendapat bagaimana sebaiknya keluar dari problema tersebut, memperbaiki apa yang jadi sumber kekecewaan.

Sebab boleh jadi ia kecewa karna, berkeyakinan seharusnya bukan demikian pengelolaan Negara berjuang yang tengah bergerilya di daerah lawan. Ia ingin memperbaikinya, ia butuh telinga yang mendengarkan gagasannya. Bila kita mau menyimak dan menyambut usulan usulan mereka, dalam ketenangan hati dan kelembutan mendengarkan tadi terkandung dua keuntungan.[1] Saudara kita tadi bisa menyalurkan aspirasinya secara bertanggung jawab,[2] Daulahpun mendapat masukan baru demi perbaikan selanjutnya.

Tapi bila Sipengeluh, ketika ditanya tentang usulan jalan keluar, malah tetap menuntut keluar jalan. Berarti memang ia ngomong begitu, karena sudah tidak betah tinggal di Negara berjuang. Perlakukan ia dengan hati hati, agar tidak menambah musuh baru, yang berasal dari kalangan dalam sendiri. Sebab menurut Imam Awwal, yang begini ini lebih berbahaya dari iblis !