يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian meninggal kecuali kalian tetap sebagai muslim. (Qs Ali Imron: 101)

Larangan mati kecuali dalam Islam, mengandung arti perintah mempertahankan Islam sampai mati, sampai mati tetap membela Islam dan Ummat Islam. Sebagai muslim yang ingin meraih kemenangan tidak rela mati kecuali karena Islam. Harta, tenaga, maupun fasilitas apa pun tidak akan dikorbankan, kalau bukan untuk Islam. Sebagai muslim, rela berkorban —tapi ingat jangan sampai menjadi korban kelicikan pihak lain— hanya untuk Islam. Kita berekonomi, demi Islam. Berbudaya demi Islam. Berorganisasi demi membela Islam. Menjalankan siyasah Islamiyyah, kehidupan sosial Islam bahkan hingga pertahanan dan keamanan pun kita lakukan untuk menjaga tegaknya nilai-nilai Islam yang kita agungkan ini.

Dalam kehidupan perjuangan, tidak pernah ada kawan yang abadi, dan tidak pernah ada lawan yang abadi. Yang ada hanya kepentingan yang abadi. Kita sebagai muslim, kepentingan yang abadi adalah Islam. Yang kita bela adalah yang benar menurut Islam. Jam’iyah, organisasi massa, kelompok atau apa pun namanya mesti kita jalin menjadi satu kekuatan: Li i’laa-i kalimatillah (menegakkan Kalimah Allah) semata.

Di ayat lain, disebutkan bahwa, agar taqwa sempurna, tiada jalan lain kecuali kita memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata:

يايها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون

“Wahai manusia beribadahlah kalian kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. (Qs Al Baqoroh: 21)

Apakah ibadah itu? Dan siapakah Rabb itu? Apakah ibadah hanya sebatas ritual, dan apakah Rabb hanya semata-mata Tuhan dalam cita rasa nenek moyang kita jaman dahulu, yakni sekedar sasaran ritual belaka. Tentu saja tidak, Allah adalah Rabb yang aktif mencipta, memberi, dan memerintah; dan ibadah adalah kesetiaan mengikuti hukum dan perintah-Nya.

ان ربكم الله الذي خلق السموت والارض في ستة ايام ثم استوى على العرش يغشي اليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرت بامره الا له الخلق والامر تبارك الله رب العلمين

Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Qs Al A’raf: 54)

Allah adalah Rabb, yang memiliki hak mencipta dan memerintah. Mengakui Allah sebagai Rabb bermakna mengakui hanya Dialah satu- satunya Pencipta dan Pemerintah (yang berhak mengeluarkan perintah, peraturan, dan undang-undang). Dan ibadah adalah kesediaan mene-rima dan menjalankan hukum dari satu-satunya Pencipta dan Pemerintah itu  ( فإنه لا طاعة لمخلوق في معصية الله كما تقدم في الحديث الصحيح إنما الطاعة في المعروف وقال الإمام أحمد حدثنا عبد الرحمن حدثنا همام حدثنا قتادة عن أبي مراية عن عمران بن حصين عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا طاعة في معصية الله

Ayat di atas pun menumbuhkan kesadaran yang fithrah, bahwa kepada siapa sebenarnya kita beribadah, bisa diketahui dengan melihat kenyataan, siapa yang kita akui satu-satunya pencipta dan satu-satunya yang berhak mengeluarkan perintah, di mana perintah apa pun batal demi hukum ketika bertentangan dengan satu-satunya yang berhak mengeluarkan perintah tad

Hukum siapa yang kita ikuti, adalah bukti nyata kepada siapa sebenarnya kita sedang beribadah. Jika kita mengikuti perintah dan hukum Allah, maka nyata pada saat itu kita sedang beribadah kepada Allah, kita memang terbukti menerima Allah sebagai Rabb. Tetapi, jika kita mengikuti hukum dari selain Allah, maka berarti ketika itu Rabb kita (pembuat peraturan, yang memiliki hak memerintah) bukanlah Allah, dan kita tidak sedang beribadah kepada Allah.

Ini terbukti dengan penjelasan Nabi Muhammad SAW ketika mem-beberkan makna dari surat At Taubah ayat 31:

اتخذوا احبارهم ورهبانهم اربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما امروا الا ليعبدوا الها وحدا لا اله الا هو سبحنه عما يشركون

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb (Arbaban – tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh ibadah kepada Ilah Yang Esa, tidak ada Ilah/Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (Qs At Taubah:31).

Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits Nabi ketika menjelaskan masalah ini (Lihat Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 halaman 378, juz 2 halaman 172.

وفي المسند والترمذي كما سيأتي أن عدي بن حاتم قال

يا رسول الله ما عبدوهم قال بلى إنهم أحلوا لهم الحرام وحرموا عليهم الحلال فاتبعوهم فذلك عبادتهم إياهم

Ketika ayat di atas dibacakan, shahabat Adi bin Hatim yang dulunya seorang Nashrani berkomentar: “Ya Rasulullah, mereka tidak beribadah kepada pendeta dan rahib-rahib itu.” Dengan jelas Nabi SAW menjawab: Bahkan demikian, sesungguhnya ketika (pendeta dan rahib) itu menetapkan hukum halal ataupun haram pada mereka, mereka mengikuti saja (ketetapan hukum yang dibuat para rahib dan pendeta itu). Yang demikian adalah ibadah kepada rahib dan pendeta tadi.

Al Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya (Tafsir Al Qurthubi juz 4 halaman 106):

معناه أنهم أنزلوها منزلة ربهم في قبول تحريمهم وتحليلهم لما لم يحرمه الله ولم يحله الله

Makna menjadikan pendeta dan rahib sebagai tuhan (Rabb) karena sesungguhnya orang Nashrani telah memposisikan pendeta dan rahib itu pada posisi ketuhanan (Rabb) dengan cara mematuhi hukum halal dan haram yang ditetapkan pendeta dan rahib itu atas apa-apa yang tidak diharamkan dan dihalalkan Allah.

Dalam Tafsir Ath Thabari disebutkan:

حدثني محمد بن الحسين قال ثنا أحمد بن المفضل قال ثنا أسباط عن السدي اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله قال عبد الله بن عباس لم يأمروهم أن يسجدوا لهم ولكن أمروهم بمعصية الله فأطاعوهم فسماهم الله بذلك أربابا

Berkata Ibnu Abbas berkenaan dengan ayat di atas (QS 9:31) bahwa pendeta dan rahib itu tidak menyuruh kaum Nashrani untuk sujud kepada mereka tetapi karena para pendeta dan rahib tadi telah meme-rintah untuk maksiat kepada Allah dan kaum Nashrani menaati perintah itu. Maka Allah sebut pendeta dan rahib itu telah menjadi Arbab (Rabb-Rabb) atau tuhan-tuhan selain Allah.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa mengikuti hukum adalah ibadah, menerima sumber hukum lain selain Islam, berarti menerimanya sebagai Rabb. Jika kita melaksanakan hukum Allah dalam seluruh kehidupan kita, maka berarti seluruh hidup kita menjadi ibadah kepada Allah. Dan ridha menerima Allah sebagai sumber hukum serta satu-satunya peme-intah adalah bukti bahwa kita ridha Allah sebagai Rabb kita.

Sebaliknya jika bukan hukum Allah yang kita tegakkan, berarti kita tidak sedang ibadah kepada Allah, tetapi sedang ibadah kepada pembuat hukum yang kita terima dan jalankan itu, dan itu berarti kita telah mengangkat pembuat dan sumber hukum selain Allah itu sebagai Arbab (Rabb-Rabb) selain Allah dan inilah Musyrik Rububiyyah yang meng-hapus seluruh amal.

ام لهم شركؤا شرعوا لهم من الدين ما لم ياذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضي بينهم وان الظلمين لهم عذاب اليم

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensya-riatkan untuk mereka Dien (Undang-Undang) yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (Qs. Asy Syuura:21)

وما يؤمن اكثرهم بالله الا وهم مشركون

Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan musyrik (mempersekutukan Allah dengan sembahan-sem-bahan lain). (Qs.Yusuf: 106)

Tanpa disadari banyak muslimin yang di samping ibadah (mengikuti hukum) Allah ketika shalat, tapi ternyata mengambil hukum selain hukum Allah di luar shalatnya, berarti dia telah mempunyai dua Rabb, yang satu yang dia ikuti hukumnya (ibadah) ketika shalat sedang satu-nya lagi adalah yang dia ikuti hukumnya (ibadah) di luar shalat. Ini adalah kemusyrikan yang nyata. Tiada jalan lain kecuali bertobat, dan Rasulullah menawarkan pertobatan ini setiap kali kita mendengar adzan: Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia berkata:

أشهد أن لا إله رضيت بالله ربا وبمحمد رسولا وبالإسلام دينا غفر له ذنبه إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله

“Aku bersumpah, berjanji bahwa tiada ilah selain Allah satu-satunya tiada tandingan bagi-Nya dan aku berjanji bersumpah bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabb dan Nabi Mu-hammad sebagai Rasul dan Islam sebagai Dien maka diampuni dosa-dosanya”. (Shahih Muslim Juz 1, hlm. 290)

Mari kita utuhkan tekad kita, setiap kali adzan terdengar, bahwa kita ridha Allah sebagai (Rabb – sumber hukum, Pemerintah Tunggal yang hukumnya kita tegakkan di muka bumi), bahwa kita ridha menerima Nabi Muhammad sebagai rasul, utusan Maharaja Langit dan bumi yang datang membawa Islam untuk dimenangkan di atas dien-dien yang lain, karena kita telah ridha bahwa Islam saja sebagai sebagai Ad Dien (perun-dang-undangan) yang menaungi kita semua. Insya Allah, jika anda tekadkan ini dengan sepenuh jiwa, maka segenap dosa-dosa kita yang lalu akan diampuni Allah.

Jika ini saja tidak bisa kita lakukan, maka sampai kapan kita akan terus-menerus mendua (musyrik) dalam ibadah (mengikuti hukum) dan menerima Rabb (sumber pembuat hukum dan pemerintahan)? karena ibadah dibuktikan dengan menaati hukum, maka menegakkan hukum Islam adalah bukti ibadah kita kepada Allah. Sebaliknya jika kita ikut menegakkan hukum selain Islam, maka itu pun menjadi bukti bahwa kita terlibat dalam ibadah kepada selain Allah, dan ini adalah sebuah kekafiran:

فلا تخشوا الناس واخشون ولا تشتروا بءايتي ثمنا قليلا ومن لم يحكم بما انزل الله فاولئك هم الكفرون

“Janganlah kalian takut kepada manusia tetapi takutlah kepada-Ku (Allah), dan janganlah kalian menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, dan barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir”. (Qs Al Maidah: 44)

Karena itu menjadi kewajiban setiap Ummat Islam untuk mendengar dan taat pada Pemerintah yang menegakkan Hukum Islam. Karena mendengar dan menaatinya menjadi bukti ibadah kepada Allah; sebalik-nya membangkang atas pemerintah tersebut adalah bukti pembang-kangan kepada Allah dan Rasul-Nya. sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع الأمير فقد أطاعني ومن عصى الأمير فقد عصاني وهذا الحديث ثابت في الصحيحين

Barangsiapa yang menaati aku (Rasulullah SAW) maka sungguh dia telah menaati Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku (Rasul SAW) sungguh dia telah durhaka kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada Amir (pemerintah) maka sungguh dia telah taat kepadaku (Rasul SAW) dan barangsiapa yang membangkang kepada amirnya (pemerintahnya) maka sungguh dia telah durhaka kepadaku. (Shahihaini) (Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 halaman 529).

Bagaimana jika pemerintahan Islam belum ada? Tentu kita tidak bisa mencari pengganti dengan asal punya pemerintah sekalipun tidak menegakkan hukum Islam. Sebab menaati perintah dan hukum adalah ibadah, dan ibadah yang benar hanyalah ketika kita mengikuti perintah dan hukum Islam.

الم تر الى الذين يزعمون انهم ءامنوا بما انزل اليك وما انزل من قبلك يريدون ان يتحاكموا الى الطغوت وقد امروا ان يكفروا به ويريد الشيطن ان يضلهم ضللا بعيدا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (Qs An Nisa: 60)

yang selalu memusuhi Nabi dan kaum Muslimin dan ada yang mengatakan Abu Barzah seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk Thaghut juga: 1. Orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. Berhala-berhala (patung, lambang, simbol yang melambangkan suatu ideologi, ajaran, kepercayaan yang bukan Islam, tetapi dijadikan pengikat emosi rakyat) lihat Q.S. 29: 25 “Dan berkata Ibrahim: ‘Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.

Untuk menghindari inilah Allah perintahkan kita untuk memiliki pemerintahan sendiri:

يايها الذين ءامنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولي الامر منكم فان تنزعتم في شيء فردوه الى الله والرسول ان كنتم تؤمنون بالله واليوم الاءخر ذلك خير واحسن تاويلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nisa: 59)

 

Rasulullah memerintahkan ini dalam satu kesatuan: (1) mendengar, (2) taat, (3) jama’ah, (4) hijrah, dan (5) jihad:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا آمركم بخمس آمركم بالسمع والطاعة والجماعة والهجرة والجهاد في سبيل الله فمن خرج من الجماعة قيد شبر فقد خلع ربقة الاسلام من رأسه ومن دعا دعاء جاهلية فهو من جثا جهنم قالوا يا رسول الله وان صام وصلى قال وان صام وصلى ولكن تسموا باسم الله الذي سماكم المسلمين المؤمنين رواه أحمد ورواه الطبراني باختصار إلا انه قال فمن فارق الجماعة قيد قوس لم تقبل منه صلاة ولا صيام واولئك هم وقود النار

Rasulullah SAW bersabda: “Aku perintahkan kalian dengan lima perkara: untuk mendengar, taat, menetapi al jama’ah, hijrah, dan jihad fi sabilillah, maka barangsiapa yang keluar dari al jama’ah sekalipun hanya sejengkal maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari kepalanya (kecuali kalau dia kembali dalam jama’ah –lihat hadits senada pada footnote). Dan barangsiapa yang menyeru dengan seruan jahiliyyah maka dia dipastikan masuk neraka.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulallah sekalipun mereka shaum dan shalat?” Rasulullah menjawab: “Ya, sekalipun mereka shaum dan shalat bahkan sekalipun kalian menamai mereka dengan nama Allah yang telah menamai kalian: al muslimin al mukminin.” (H.R. Ahmad) (ورجاله ثقات رجال الصحيح خلا علي بن اسحق السلمي وهو ثقة) dan Ath Thabrani meriwayatkannya dengan lebih pendek hanya saja dia berkata “Barangsiapa yang meninggalkan jamaah selebar busur panah saja maka ti-dak diterima shalat dan shaumnya dan mereka itu bahan bakar neraka.”

Oleh karena itu, marilah kita syukuri nikmat kebersamaan dalam al jama’ah ini, kita pelihara, kita kokohkan dan bersihkan terus-menerus sehingga semakin hari semakin cukup dan cakap untuk menunaikan tugas suci: menegakkan kalimatillah di muka Bumi. Selanjutnya kita berusaha semaksimal kemampuan untuk merealisasikan al jama’ah ini sehingga tampil sebagai lembaga yang benar-benar committed terhadap Izzul Islam wal Muslimin.