A. Musuh yang Tersembunyi

1. Siasat Dengan Membangun Mesjid

Bila dalam kalangan yang menentang kedaulatan Islam itu di antaranya ada yang mendirikan mesjid, maka darinya tak usah kita tercengang. Sebab, musuh-musuh Islam pada zaman Nabi pun di dapat pula yang membangun mesjid. Hal itu diterangkan dalam ayat yang bunyinya :

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ…(107)

“Dan di antara orang-orang (munafik) ada yang mendirikan mesjid karena hendak membuat bahaya dan kekafiran, juga untuk memecah belah antara orang-orang mu’min….” (QS. At-Taubah : 107).

Dengan ayat diatas itu nyatalah bahwa di antara sekian banyak taktik yang digunakan musuh, antara lain mereka pakai pula siasat dengan cara membangun mesjid sebagai politik menyelimuti diri agar tidak diketahui sebagai musuh Islam. Tak ragu lagi bahwa mesjid yang bagaimana pun mewahnya, bila sementara di bawah kekuasaan zalim, maka sebagian jama’ahnya pun pada umumnya kerap kali tidak dapat menahan arus kebudayaan yang senantiasa merusak kepribadian muslim. Juga, kegiatan jama’ah serta isi yang dikhutbahkannya pun acap kali tidak luput dari ketentuan yang digariskan oleh para aparat thogut. Sehingga masjid serupa itu sukar untuk berfungsi sebagaimana mestinya.

Hanya sekedar adanya mesjid yang jama’ahnya tidak mampu menterapkan syari’at Islam secara keseluruhan, maka darinya pula musuh akan tetap merasa senang. Setan dan yang sebangsa dengan iblis lainnya pun masih bergembira. Sebab, setan-setan itu menganggap keadaan sedemikian itu telah hampir mencapai hasil yang ditargetkan dalam penyesatan terhadap manusia. Yang penting bagi setan bahwa manusia itu harus masuk neraka. Tampaknya biarlah manusia itu pada masuk ke mesjid asalkan sebagian hukum-hukum Allah tidak mereka pakai, hal itu cukup buat menemani setan di jahannam. Itu pola tujuan setan yang asli. Maka, bagaimanakah bedanya dengan para setan yang boleh kita sebut sebagai “Thagut di Indonesia” ? Silahkan merenung….Ya, thagut itu tidak akan apa-apa asalkan muslim di Indonesia pun tidak berpegang pada Kitabbullah, melainkan pada “aturan hukum jahiliyah”, Kehendak setan.

Wahai generasi penerus tegaknya “Aturan-Aturan Allah”, hayatilah bahwa meskipun sering kali bersujud dalam mesjid, namun bila berdiam diri, tidak berpijak pada posisi “Furqan”, maka berarti belum dapat bersujud yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, bahwa menegakkan atau mendhahirkan negara yang berlandaskan Islam itu berarti membangun mesjid yakni tempat bersujud yang sangat luas. Karena, di dalamnya itu insya Allah kita dapat mengamalkan semua yang dikandung dalam Kitabbullah tanpa penghalang dari kekuatan mana pun.

2.  Siasat Dengan Cara Melakukan Shalat

Selain musuh Islam yang menjalankan gerak tipu dengan cara membangun mesjid, ada pula siasat musuh yang menggunakan taktik dengan cara melakukan sholat. Lihat petikan ayat yang bunyinya:

… وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاَةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلاَّ قَلِيلاً (142)

“Bila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri malas. Mereka bermaksud untuk dilihat manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa : 142).

Yang dimaksud dengan sedikit sekali, yakni mengerjakannya hanya sewaktu-waktu bila berada dihadapan orang. Tentu terhadap perintah-perintah Allah pun hanya menyetujui sebagian dan menolak sebagiannya lagi.

Tidak dipungkiri bila sejarah telah membuktikan bahwa sebagian dari muslimin terjebak oleh tipuan serupa dengan yang sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas itu. Sehingga banyak yang tidak merasakan keberadaannya musuh, atau tidak adanya pemisahan antara diri dan musuh Agamanya. Bahkan membiarkan musuh memperoleh peluang guna mengembangkan pengaruh. Sehingga musuh yang tersembunyi itu menyetir umat Islam kejurang yang tidak dapat membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.

Guna menghadapi persoalan itu marilah kita lihat Firman Allah yang bunyi-Nya :

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا…(70)

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia…” (QS. Al-An’aam : 70).

Kita diperintah meninggalkan mereka, artinya kita harus membuat garis pemisah dari mereka. Karena itu, harus mempunyai ketegasan dalam penentuan terhadap siapa saja yang masih memihak atas thagut, pula siapa yang sudah berpihak pada jama’ah pengemban amanat Allah SWT.

3. Siasat   Dengan  Menyelenggarakan Upacara – Upacara  yang Bernada Keagamaan

Janganlah terpesona bila melihat para penggede dari pemerintah thagut yang melakukan upacara ritual, untuk mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur’an. Sebab, bahwa sikap musuh terhadap Al-Qur’an itu terdiri dari beberapa macam :

1) Ada yang menjalankan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an, dan menolak sebagiannya lagi. Firman Allah yang bunyi-Nya :

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْءَانَ عِضِينَ (91)

“Orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi.” (QS. A Al-Hijr : 91).

2) Ada yang mengetahui Al-Qur’an, tetapi tidak menjadikannya pedoman hidup, karena hati mereka tertutup dari kebenaran Ilahi. Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an atau hati mereka terkunci ?” (QS. Muhammad : 24).

3) Ada yang sama sekali tidak mempercayai Al-Qur’an. Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْءَانِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (46)

“Dan apabila engkau membaca Al-Qur’an dihadapan mereka, Kami jadikan antara engkau dan di antara mereka yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu tirai yang tertutup”. (QS. Al Israa : 45).

“Dan kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbat telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya”. (QS. Al Israa : 46).

Dengan keterangan ayat-ayat di atas itu, pantaslah bagi kaum thagut bahwa pendengungan ayat-ayat Al-Qur’an itu hanya merupakan “show” terhadap publik atau pelarian diri dari kesepian, serta keuntungan lainnya di luar maksud ibadah. Sebab, bahwa musuh tersembunyi itu ada yang melalui lisannya ; percaya terhadap Al-Qur’an, tetapi dalam hatinya sungguh ingkar. Firman Allah yang bunyi-Nya :

… مِنَ الَّذِينَ قَالُوا ءَامَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ…(41)

“….orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka : “Kami telah beriman, padahal hati mereka tidak beriman….” (QS. Al Maidah : 41).

Kesimpulannya bahwa musuh Islam yang tersembunyi itu yaitu semua yang berusaha merintangi tujuan bertegaknya kekuasaan Islam. Baik merintanginya itu dengan berterang-terangan maupun dengan cara lumat. Juga, apa itu datangnya dari penguasa atau ulama model Van Snouk dan Van der vlas yang berfungsi selaku corong-corongnya.

B. Musuh yang Nyata

Telah kita nyatakan bahwa tujuan perjuangan ini adalah mengabdi kepada Allah. Hal demikian mengandung arti bahwa pangkal ketundukan kita hanya satu ; kepada Allah SWT. Sehingga wajib berhijrah (ingkar) dari kekuasaan yang bathil kemudian mempertahankan yang hak dan melawan yang bathil, sebagai realisasi (pembuktian diri) dalam bertujuan menjalankan Undang-Undang Allah SWT di muka bumi.

Bila telah berhijrah pada jalan Allah secara terbuka, berarti sudah harus dengan nyata terang-terangan melawan musuh. Akan tetapi, bila hijrah kita ini baru dalam bentuk aqidah (maa’ny), maka meskipun masih dikuasai musuh, namun tetap wajib mendobraknya. Dan dibuktikan dengan membuat gerakan tersembunyi (sirron). Yaitu membuat persiapan dengan tidak diketahui oleh musuh (telah kita kemukakan QS. 3 : 28-30). Perlawanan underground itu hanyalah dalam batas sementara, belum mampu melawan secara terbuka atau memang sengaja karena bertugas menyusup kedalam struktur musuh. Dengan demikian, maka sebenarnya bagi yang sudah berhijrah pada jalan Allah itu, sudah memahami pula penentuan mengenai “musuh yang nyata (dhahir)”. Yakni yang secara terang memusuhi atau merintangi terhadap jalannya kedua bentuk hijrah tadi. Ya, kalau bagi yang tidak berhijrah, mana bisa dia merasakan adanya musuh Islam. Toh, dirinya pun sama dengan kafir (kompromi dengan thagut). Sehingga dibiarkan oleh pemerintah musyrik.

Karena itu, kita tidak heran bila melihat yang seolah-olah suka melakukan puasa dan shalat dan menunaikan haji, namun menentang terhadap tujuan berlakunya hukum Islam secara totalitas. Manusia sedemikian itu telah mencampuradukkan antara yang hak dan yang bathil. Dari sikap itu kita terhadap semua yang merintangi gerakan kita, mereka adalah musuh yang dhahir alias “nyata”. Adanya hal semacam itu hanya dapat dirasakan oleh yang benar-benar tidak ingin mencampuradukkan antara yang hak dengan yang bathil. Artinya, hanya oleh yang sudah berada dalam “FURQON”.