Bab Pertama

 

Hal Hidjrah

            ,,Bahwasenja orang-orang jang beriman, dan orang-orang jang hidjrah dan beroesaha soenggoeh-soenggoeh pada djalan Allah; mereka itoelah mengharap-harapkan Rahmat-Oellah; dan Allah adalah Pengampoen dan Pengasih”.

                                                                                                ( Al-Baqarah, ajat 218 )

          Di dalam Bagian Pertama Bab Kelima kita oeraikan dengan agak pandjang sebagian dari pada Riwajat Agama Islam dan Tarich Perdjalanan Rasoeloellah Çlm. pada choesoesnja, teristimewa sekali jang berkenaan dengan zaman hendak Hidjrah, zaman di dalam Hidjrah, ‘amal-perboeatan di dalam zaman Hidjrah hingga sampai kepada datangnja Falah dan Fatah, ja’ni hingga datangnja Bahagia dan Kemenangan.

Hidjrahnja sahabat-sahabat Nabi Çlm. jang berkali-kali itoe, ke Habsji, ke Madinah maoepoen ke Iç, poen dengan ringkas poela kota rawaikan seperloenja.

Sjahdan, maka Hidjrah itoe adalah salah satoe Perboeatan Nabi jang teramat penting; penting, karena sesoedah Hidjrah kaoem Moeslimin hidoep di zaman baroe, zaman jang terang tjoeatja, karena sorotnja Noer Ilahy ke tanah Madinah.

Lebih penting lagi bagi orang-orang jang ber-Toehankan kepada Allah Jang Esa, dan ber-Nabikan kepada Moehammad Rasoeloellah Çlm., jang soenggoeh-soenggoeh hendak mendjalankan perintah-perintah Allah dengan sempoernanja, dan mentjontohkan hidoep dan kehidoepannja kepada Perdjalanan dan Perboeatan jang dilakoekan oleh djoendjoengan kita, Nabi Moehammad Çlm.

Dalam zaman baroe itoe, dapatlah kita saksikan dengan boekti-boekti jang njata, apakah jang mendjadi sebab akan keloehoeran Oemmat dan Bangsa ‘Arab, hingga sampai kepada poentjak kemoeliaan, jang beloem pernah terkenal oleh ahli riwajat di dalam babad Doenia.

Dalam zaman baroe itoe poela kita dapat mengetahoei betapa ‘amal-oesaha serta langkah-perboeatan jang dilakoekan oleh Nabi dan sahabat-sahabatnja, baik menghadapi Oemmat Islam sendiri maoepoen berhadapan dengan Doenia Loear.

Di bawah ini dengan amat ringkas akan kita terangkan, apakah erti dan harga Hidjrah, apakah sebab dan maksoed serta toedjoeannja, betapakah bangoen dan sifatnja, dan lain-lain jang berkenaan dengan Hidjrah itoe, sepandjang adjaran-adjaran di dalam Kitaboellah dan Soennah Rasoeloellah Çlm.

 

Fasal 1.  Erti Perkataan Hidjrah.

Adapoen perkataan Hidjrah itoe asal moelanja terambil dari pada perkataan ,,hadjara”, jang mempoenjai ma’na amat berbagai-bagai, menoeroet keadaan, kedjadian dan waktoe dipakainja perkataan itoe.

Di antara ma’na-ma’na jang terkandoeng di dalam perkataan ,,hadjara” itoe adalah seperti jang berikoet:

 

(1)   Hidjrah di dalam Ma’na: Menjingkiri (sesoeatoe), seperti jang dimaktoebkan dalam Al-Qoer-an-oel-Karim, Soerah Al-Moedatsir (74), ajat 5:

,,Dan singkirilah ketjemaran itoe”

(2)   Hidjrah di dalam ma’na: meninggalkan dan berpaling (dari pada sesoeatoe), seperti ma’na jang terkandoeng di dalam Al-Qoer-an, Soerah Marjam (19), ajat 46:

(a)    ,,…….dan tinggalkanlah kami sebentar”.

Dan lagi di dalam Qoer’an, Soerah Al-Foerqan (25), ajat 30:

(b)   ,,Dan Rasoeloellah Çlm berkata: Hai Toehan ! Sesoenggoehnja kaoemkoe menganggap Qoer-an (seperti) barang jang ditinggalkan (disingkirkan)”.

(3)   Hidjrah di dalam ma’na: mendjaoehkan diri (dari sesoeatoe), seperti jang boleh kita ambil peladjarannja dari pada Al-Qoer-an, Soerah Al-Moezammil (73), ajat 10:

,,Dan hendaklah engkau sabar atas perkara jang mereka katakan dan hendaklah engkau (Moehammad !) mendjaoehkan diri dari mereka, dengan lakoe dan tjara (mendjaoehkan) jang bagoes”.

(4)   Hidjrah di dalam ma’na: memisahkan (sesoeatoe), seperti jang dimaksoedkan dalam Al-Qoer-an, Soerah An-Nisa (4), ajat 34:

,,…Dan pisahkanlah mereka (perempoean) di dalam tempat-tempat tidoernja….”.

(5)   Hidjrah di dalam ma’na:  mendapatkan (sesoeatoe) dengan sigera, seperti jang termaktoeb di dalam Al-Qoer-an, Soerah Al-‘Ankaboet (29) ajat 26:

,,Maka berimanlah Nabi Loeth ‘a. s. kepadaNja (Allah), (dan Ia berkata kepada kaoemnja): ,,dan sesoenggoehnja kami (hendak) mendapatkan Toehan kami dengan sigera”: bahwasenja Ia (Allah)-lah Jang Maha Koeasa dan Maha Bidjaksana.

(6)   Hidjrah di dalam ma’na: memoetoeskan perhoeboengan (dengan sesoeatoe) atau pindah (dari sesoeatoe kepada jang lainnja) seperti jang dimaksoedkan dalam Al-Qoer-an, Soerah Ali-‘Imran (3), ajat 194:

,,Maka mereka jang pindah (dari Mekkah – dan memoetoeskan perhoeboengan) dan (karena) dikeloearkan (oleh orang Qoerisj) dari tempat-tempat kediaman mereka itoe….

Keterangan:

(a)    Ajat jang pertama (74:5) ialah termasoek ajat-ajat jang terdahoeloe ditoeroenkan (ajat Mekkah);

(b)   Ajat kedoea (19:46) dan (25:30) termasoek poela ajat-ajat Mekkah jang pertama, mentjeriterakan tentang riwajat Nabi Ibrahim berhadapan dengan kaoem moesjrikin pada zamannja. Perkataan jang ada di dalam Al-Qoer-an itoe adalah sebagian dari pada kata-kata orang moesjrikin kepada Nabi Ibrahim ‘a.s., jang antaranja mengharap kepada ‘A.s. itoe, soepaja ia soeka meninggalkan mereka boeat sementara waktoe. Tegasnja mereka djangan merasa terganggoe di dalam penjembahan-berhalanja. Ajat ini kita koetip hanjalah oentoek meloeaskan faham kita tentang erti ,,Hidjrah”. Sedang ajat jang kedoea mentjeriterakan anggapan dan sikap penolakan kaoem Qoeraisj terhadap kepada Kitaboellah itoe.

(c)    Ajat jang ketiga (73:10) poen termasoek ajat Mekkah jang pertama-tama ditoeroenkan. Ajat ini mengandoeng ma’na choesoes jang mengenai Nabi Çlm. (ataupoen seorang Moeslim lainnja), sebab semoeanja itoe disandarkan atas penglihatan mata, pendengaran telinga, pendeknja bersandarkan atas penjelidikan dan pengetahoean serta pengalaman pantja-indera, jang hal ini memang tidak moedah dan sangat soekar disengadjakan bersama-sama.

Mitsalnja, seorang Moeslim melihat seorang moesjrik sedang menjembah berhala, jang timboel dari kejakinan-watsaniyahnja, tidaklah si Moeslim itoe akan mengadjak saudaranja oentoek melihat perboeatan-sjirk itoe, kemoedian baroe meninggalkan tempat-penjembahan berhala itoe ataupoen mendjaoehkan diri dari pada mereka (moesjrikin). Melainkan pada waktoe ia menjaksikan perboeatan itoe, maka pada waktoe itoe djoega ia wadjib meninggalkan tempat terseboet, atau mendjaoehkan diri dari pada mereka itoe.

Begitoe djoega, djika mereka itoe mengatakan oetjapan-oetjapan jang kotor dan boesoek, tidaklah perloe lagi si Moeslim jang mendengarnja mentjari kawan oentoek mendengar bersama-sama; tetapi pada sa’at ia mendengar perkataan-perkataan jang melanggar kepada kesopanan atau lain-lain jang tidak diperkenankan oleh Allah dan Rasoel-Nja, dengan sigera waktoe itoe djoega ia haroes meninggalkan tempat tsb. ataupoen mendjaoehkan diri dari pada mereka itoe. Dengan tidak tergantoeng kepada adanja kawan atau tidak.

Adapoen tjara-tjara melakoekan perboeatan jang demikian itoe, tjoekoeplah kiranja ditoendjoekkan dalam perkataan ,,djamila(n)” (jang bererti: bagoes, baik dlls.). Lagi poela di dalam tarich, jang sebagiannja telah kita soentingkan di dalam Bagian Pertama, dapatlah kita menjaksikan perboeatan Rasoeloellah Çlm. terhadap kepada kaoem Qoeraisj, jang kebagoesan dan kebaikan riwajat manoesia; perboeatan jang dilakoekan oleh perboeatannja tidak ada bandingnja di dalam Manoesia Oetama, tingkah lakoe jang dilakoekan oleh perboeatannja tidak ada bandingnja di dalam Manoesia oetama, tingkah lakoe jang dilakoekan oleh seorang jang ditinggikan dan dimoeliakan oleh Allah ; perboeatan Manoesia, jang wadjib mendjadi tjontoh bagi segenap peri-kemanoesiaan di seloeroeh ‘Alam ini.

Kemoerahan hati, keindahan boedi dan keloehoeran pekerti di dalam dada Rasoeloellah Çlm., jang menimboelkan perboeatan, sikap dan langkah jang sebaik-baiknja dan seindah-indahnja itoe, di tjontohi poela oleh sekalian sahabat-sahabatnja, bahkan sewadjibnja ditjontohi oleh sekalian kaoem Moeslimin, jang mengakoei dirinja sebagai Oemmat-Moehammad!

Dengan kata-kata ,,djamila(n)” itoe poela tjoekoeplah ditoendjoekkan dengan njata, bahwa perboeatan Rasoeloellah Çlm. dan orang-orang jang bersama-sama Çlm. (wal-ladzina ma’ahoe) itoe, djaoeh dari pada hawa nafsoe jang mengandoeng perbentjian. Moehammad bin ‘Abdoellah Çlm. ditoeroenkan di Doenia sebagi Oetoesan Allah, bagi membawa Rahmat Allah kepada sekalian Manoesia, jang soeka toeroet kepadanja !

Oentoek menjiarkan perdamaian, dan tidak oentoek menimboelkan permoesoehan antara seorang dengan seorang, ataupoen antara segolongan dengan segolongan manoesia jang lainnja !

Oentoek memboeat perikatan persaudaraan jang tegoeh dan koeat, dan boekan sekali-kali oentoek mengadakan pemboykotan antara satoe dan lain !

Oentoek memberi asas-persamaan-deradjat anatara manoesia dan manoesia, jang kaja dan jang miskin, jang pandai (‘alim) dan jang bodoh, jang koeat dan jang lemah, toean dan hambanja, jang semoeanja itoe masing-masingnja dan segenapnja wadjib menghambakan diri kepada Allah; Allah jang Toenggal. Allah jang tjoekoep dan tjakap oentoek mengoeroes dan memelihara sekalian hamba-Nja. Djadi tidak sekali-kali oentoek memboeat pemogokan, ataupoen menoendjoekkan kesombongan dan penolakan !

Oentoek mengandjoer-andjoerkan Persatoean Segenap Peri-kemanoesiaan, dan boekan oentoek menjebabkan petjah-belah atau tjerai-berai antara segolongan dengan golongan jang lainnja ! Tidak poela terkenal di dalam riwajat, maoepoen menoeroetkan Al-Qoer-an-oel-‘Adzim, bahwa Rasoeloellah  pernah berboeat-kasar ataupoen dlolim terhadap kepada seseorang manoesia, biar kepada moesoeh jang terdjahat atau jang amat berbahaja sekali poen !

Pendek-pandjangnja, Al-Qoer-an, jang selaloe mendjadi pedoman di dalam perdjalanan Rasoeloellah Çlm., dan riwajat jang njata dari pada perdjalanan Çlm. itoe, memberi boekti kepada tiap-tiap manoesia jang soeka mempergoenakan ‘akal fikirannja, bahwa Hidjrah Rasoeloellah Çlm. itoe tidak mengandoeng sifat bentji, meradjoe’, mogok, permoesoehan ataupoen lain-lain sifat jang tertjela sepandjang Agama Islam, ialah Agama jang di soetjikan oleh Allah dari pada tiap-tiap ketjemaran, dan kekotoran, karena hawa-nafsoe manoesia !

(d)   Ajat jang keempat (4:34), jang dimoelai dengan ,,Orang-orang lelaki itoe adalah pelindoeng bagi orang-orang perempoean……”, dan perkataan…….. di tempat-tempat tidoer mereka (perempoean-perempoean) itoe”, menoendjoekkan dengan njata-njata akan perhoeboengan antara laki-laki dan perempoean di dalam ikatan roemah tangga. Peristiwa jang demikian itoe boleh terdjadi di antara laki-laki dan perempoean, djika ada oedzoer di antara kedoea belah fihak itoe jang tidak moedah diselesaikan, jang boleh djadi achir-kemoediaannja akan menimboelkan ,,hoekoem noesjoe atas perempoean” atau boleh menjebabkan ,,djatoehnja talaq dari fihak laki-laki”.

Jang perloe diterangkan di sini ialah, bahwa kedjadian jang demikian itoe – perpisahan antara laki-laki dan perempoean, di dalam perikatan berlaki-isteri – tidak poela di dalam riwajat Nabi Çlm. ataupoen di dalam Al-Qoer-an, terdapat sikap ,,merdjoek” (eliq) di dalamnja.

(e)    Ajat kelima ditoeroenkan poela di Mekkah, mentjeriterakan riwajat Nabi Loeth. Adapoen tentang ,,Hidjrah ila-Llah”, ini, hendaklah perisa fasal VII, tentang ,,Matjam Hidjrah”, di bawah.

(f)    Dalam ajat keenam (3: 194)  jang termasoek ajat-ajat Madinah, teranglah soedah, bahwa erti perkataan ,,hadjara” di sini ialah: ,,poetoes perhoeboengan atau pindah dari satoe tempat kepada tempat lainnja”.

Poetoes hoeboengan, karena mereka dikeloearkan (dioesir) atau dihalaukan dati tempat-tempat kedoedoekannja jang moela-moela; boekanlah karena mereka sengadja memoetoeskan perhoeboengan itoe, karena hawa-nafsoenja.

Ajat ini mengenai ‘oemoem, sebab di dalam ajat itoe – selainnja soesoenan perkataan dan rangkaian kalimatnja, menoendjoekkan, bahwa hidjrah itoe dilakoekan bersama-sama – dimaktoebkan poela perkataan-perkataan ,,…….min dzakarin au oentsa….” (dari pada laki-laki atau perempoean). Djadi beda dengan ajat-ajat jang terseboet dalam (1), (2), dan (3).

 

Fasal 2.  Siapakah jang haroes Hidjrah.

Menoeroet riwajat Islam, dan lebih tegas dan njata, menoeroet ajat-ajat Al-Qoer-an, maka jang wadjib Hidjrah ialah tiap-tiap orang laki-laki dan perempoen, toea dan moeda.

Di dalam Bab ini, Fasal I, hoeroef (f), telah kita rawaikan dengan laloe lintas, bahwa orang-orang perempoean poen hidjrah poela. Lebih djaoeh, periksalah Soerah Al-Moemtahanah (60) ajat 12, di mana terdapat poela perkataan ,,Moehadjirat” (ertinja: orang-orang perempoean jang hidjrah – mendapatkan Nabi Çlm. di Madinah).

Selain dari itoe poen di dalam Al-Qoer-an, Soerah Al-Ahzab (33) ajat 50, dikatakan dengan tegas, bahwa orang-orang perempoean poen ikoet Hidjrah, sama2 dan bersamaan dengan laki-laki, istimewa Nabi :

,,…. (Mereka – orang-orang perempoean) jang hidjrah beserta engkau (Moehammad)…”

Mereka itoe melakoekan Hidjrah, sebeloem atau sesoedah Hidjrah Nabi Çlm.

Seperti di dalam tiap-tiap perkara dan di dalam tiap-tiap ketentoean ada djoega ,,perketjoealiannja”, maka di sini poen ada djoega perketjoealiannja, seperti Firman Allah di dalam Al-Qoer-an, Soerah An-Nisa (4) ajat 98:

,,Melainkan orang-orang jang dlo’if (lemah) dari pada orang laki-laki dan perempoean dan anak-anak, jang tidak mempoenjai kekoeatan (kekoeasaan), dan (atau) tidak mendapat djalan (oentoek hidjrah itoe)”.

Djadi njatalah di sini, bahwa jang diperketjoealikan dalam Hidjrah itoe, hanjalah orang-orang jang tidak berkoeasa, orang-orang jang dlo’if (lemah), baik laki-laki maoe perempoean ataupoen anak-anak.( [1] )

 

Fasal 3.  Kemana Hidjrah?

Di dalam tarich berkali-kali dilakoekan Hidjrah itoe, dan tempat jang ditoedjoeannja poen berbeda-beda :

(1)   Hidjrah ke Habsji (Abessynie), jang dilakoekan di dalam pertengahan zaman Mekkah;

(2)   Hidjrah Nabi Çlm. dan kemoedian di ikoeti oleh sahabat-sahabat dan sanak-keloearganja, ke Madinah; sebeloem itoe poen ada poelalah tertjatat tarich ,,hidjrah sahabat-sahabat Nabi ke Madinah” dalam awwal th. kenabian jang ke 13, sesoedah Bai’at ‘Aqaba kedoea.

(3)   Hidjrah ketjil ke ‘Ic, karena Madinah tidak lagi memberi tempat kepada mereka itoe; hidjrah ini terdjadi pada achir zaman Madinah.( [2] )

Bagi kaoem Moeslimin ‘oemoemnja soekarlah memperbedakan antara Mekkah dan Habsji, Mekkah dan Madinah, Mekkah dan ‘Ic, begitoe djoega perbedaan antara satoe dengan jang lainnja.

,,Mekkah” dalam anggapan dan kejakinan kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, boekan Mekkah di tanah ‘Arab, melainkan ialah ,,Mekkah di Indonesia”, dengan ringkasan kita katakan ,,Mekkah-Indonesia”.

,,Habsji”, satoe negeri jang mendjadi penting di dalam riwajat Islam karena mendjadi tempat-perlindoengan, boekan poela Habsji jang terletak di Afrika-Oetara, melainkan ialah ,,Habsji di Indonesia” atau dengan ringkas ,,Habsji-Indonesia”.

,,Madinah”, satoe negeri Haram, di mana Çlm. mendapat perlindoengan Allah S.W.T., dalam anggapan dan kejakinan kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, boekanlah poela Madinah di tanah ‘Arab itoe, melainkan ialah ,,Madinah di Indonesia” atau ,,Madinah-Indonesia”.

Begitoe djoega ,,’IÇ”, satoe tempat di pantai laet. Boekan dialah ‘IÇ dalam pandangan dan anggapan kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia, tetapi ialah ‘IÇ jang ada di Indonesia, ialah ,,’IÇ-Indonesia”.

Djadi, djika kita hendak mengikoeti (itba’) kepada langkah-perboeatan Nabi Çlm. di dalam bagian Hidjrah jang terlampau amat penting ini, boekanlah maksoednja, soepaja kita pergi ke Mekkah (di negeri ‘Arab) itoe dahoeloe, kemoedian laloe pergi ke Habsji (di Afrika-Oetara), atau ke Medinah (di negeri ‘Arab), ataupoen ke ‘IÇ (di negeri ‘Arab poela) !

Boekan  !  sekali-kali boekan  !

Sjahdan, maka Mekkah (tempat-kelahiran orang-orang Moeslimin jang masoek golongan Moehadjirin) dan Madinah, Habsji dan ‘IÇ itoe bagi faham dan kejakinan kaoem Party Sjarikat Islam, letaknja di Indonesia poela, di kampoeng dan negeri kita sendiri, di tempat-kelahiran dan tanah toempah darah kita sendiri.( [3] )

Djadi Hidjrah jang dilakoekan oleh Party Sjarikat Islam Indonesia itoe tampaknaj (menoeroet penglihatan ari mata-kepala jang kasar) agak beda, tetapi pada hakikatnja tidak beda, jang perloe dan penting bagi P.S.I.I. ialah ‘amal –oesaha dan langkah-perboeatan jang wadjib ditiroenja itoe !

Fasal 4.  Berlakoenja Hidjrah.

Fasal ini kita bagi mendjadi tiga bagian :

(1)   Wadjibnja Hidjrah.

Wadjibnja Hidjrah jang didjatoehkan atas kaoem Moeslimin, boekanlah orang-orang jang bertempat tinggal di madinah, di Habsji, di ‘IÇ ataupoen di lain-lain tempat, melainkan ialah wadjib atas kaoem Moeslimin jang bertempat-tinggal dan beroemah di Mekkah.

Orang-orang jang ada di Madinah atau lain-lain tempat di loear Mekkah itoe, boleh mendjadi kaoem Moeslimin jang membela dan memperlindoengi (AnÇar) saudara-saudara kaoem Moehadjirin; boleh djoega ia mendjadi kaoem Moenafiqin jang poera-poera masoek Islam, tetapi sesoenggoehnja hendak melakoekan chianat; ataupoen mereka itoe boleh tetap di dalam kekoefoerannja; tegasnja memegang tegoeh akan peratoeran dan kejakinan-agamanja jang doeloe-doeloe, (sebeloem Islam). Itoelah hanja terserah kepada mereka itoe sendiri, dan tergantoeng kepada pertolongan Allah S.W.T. semata-mata !

Orang-orang Moe’minin jang hidjrah baik ke Habsji, atau ke Madinah, atau ke ‘IÇ, sama-lah deradjatnja, seperti jang termaktoeb di dalam Qoer-an, Soerah Al-Anfal (8), ajat 75 :

,,Dan orang-orang jang kemoedian beriman, dan hidjrah, dan beroesaha soenggoeh-soenggoeh (pada djalan Allah) bersama-sama kamoe; mereka itoelah termasoek golonganmoe (Oemmat Moehammad)”.

 

(2)   Zaman Hidjrah.

Pada zaman inilah, jang berlakoe sedjak Hidjrah Nabi Çlm. hingga kepada zaman Fatah dan zaman Falah, jang lamanja koerang-lebih 8 tahoen itoe, kaoem Moeslimin jang termasoek bagian Ancar – soenggoehpoen mereka tidak ikoet Hidjrah, karena ta’ ada alasan oentoek melakoekan Hidjrah itoe – mempoenjai deradjat jang bersamaan dengan kaoem Moehadjirin.

Bahkan di dalam Al-Qoer-an, Soerah Al-Anfal (8) ajat 72, dikatakan, bahwa mereka itoe adalah pembela dan pelindoeng antara satoe dengan lainnja :

,,Sesoenggoehnja orang-orang jang beriman, dan sama hidjrah,dan sama oesaha dengan soenggoeh-soenggoeh pada djalan Allah daengan harta-benda dan djiwanja, dan orang-orang jang memberi tempat-perlindoengan dan membantoenja (membelanja); mereka itoelah pendjaga setengah dari pada setengah jang lainnja…”.

Lebih tegas lagi di dalam Qoer-an, Soerah tsb., ajat 74, dikatakan, bahwa mereka itoe—Moehadjirin dan Ancar – adalah orang-orang Moe’minin jang soenggoeh-soenggoeh :

,,Dan mereka jang beriman dan hidjrah dan bekerdja soenggoeh2 pada djalan Allah, dan orang2 jang memberi perlindoengan dan membela (mereka itoe) mereka (Moehadjirin dan Ancar) itoelah orang2 Moe’min (diberikan Allah) ampoen dan rizqi (pemeliharaan) jang tjoekoep2”.

(3)   Kesoedahan Hijdrah.

Hidjrah itoe – masoek bagian (1) dan (2) di atas – tidak boleh disoedahi atau diperhentikan sebeloem datang Falah (Bahagia) dan Fatah (Kemenangan atau Pemboekaan) jang njata.

Dan Hidjrah itoe wadjib poela teroes berdjalan, selama di tempat itoe masih meradjalela peratoeran-peratoeran penjembahan berhala, tegasnja peratoeran-peratoeran jang melanggar Agama Allah !

Dalam tarich ditoeliskan, bahwa berhentinja Hidjrah itoe pada waktoe Islam telah mendapat kemenangan atas Mekkah, satoe kemenangan jang diperoleh tidak dengan menoemboehkan pertoempahan darah, satoe kemenangan jang hanja akan tertjapai dengan kehendak (Iradat) dan Kekoeasaan (Qoedrat) Allah semata-mata!

Sedjak zaman itoe tidak lagi terdjadi poetoes perhoeboengan atau perpisahan antara Mekkah dan Madinah, melainkan kedoea itoe disatoekan diseboeahkan. Boekan ,,disatoekan” dalam erti kata, jang kedoea negeri itoe mendjadi satoe negeri Djaoeh djaraknja (antaranja), tidak beroebah watas-watas kedoea negeri itoe !

,,Satoe”, karena kedoea negeri itoe, sedjak datangnja Falah dan Fatah jang njata itoe, diikat oleh tali-tali (hoekoem-hoekoem) Allah !

,,Satoe”, karena negeri itoe mendjadi tempat penjembahan Allah jang teroetama !

,,Satoe”, karena kedoea negeri itoe masing-masingnja disoetjikan Allah ! Maka soedah sepatoetnjalah, jang kedoea negeri itoe sedjak moela disoetjikan oleh Allah hingga pada sa’at ini, terkenal namanja sebagai ,,Haramain”, tegasnja kedoea negeri jang soetji.


[1] Tentang hal ,,koeasa” atau ,,tidak-koeasa” itoe sesoenggoehnja hanjalah tergantoeng kepada faham Istitha’ahnja. Ada setengah orang jang mempoenjai ,,kekoeatan” dan ,,kekoeasaan”, tetapi ia merasa ,,tidak-berkoeasa”. Hanja karena hawa-nafsoe ,,mentjari-enak” meradjalelalah dalam dirinja. Periksalah lebih landjoet: Bagian Pertama, Bab Pertama, Fasal VI (3).

[2] Periksalah: Bagian Pertama, Istimewa Bab-bab Kedoea, Ketiga, dan Keempat !

[3] Djanganlah hendaknja pembatja keliroe faham akan kata-kata, seperti: ,,Mekkah-Indonesia”, ,,Madinah-Indonesia, ,,Habsji-Indonesia” dan IÇ-Indonesia”!

Boekan maksoednja oentoek mengadakan satoe Negeri jang bernamakan Mekkah, Madinah, Habsji atau ‘Ic di tanah toempah-darah kita ini!  Boekan poela maksoednja, soepaja negeri Mekkah dan lain-lain di benoea lain itoe, haroes di pindahkan ke sini !  Melainkan jang dimaksoed dengan perkataan-perkataan terseboet ialah, bahwa dalam pandangan faham dan kejakinan kaoem Party Sjarikat Islam Indonesia: Nama-nama tempat itoe mangandoeng erti Isti’arah (figuurlijk), dan tidak boleh difahamkan sepandjang kata-kata itoe sadja (letterlijk) Hal ini hanja bererti dalam bagian Hidjrah semata-mata, dan tidak sekali-kali berkenaan dengan ‘ibadah jang lainnja, misalnja: naik Hadji.

Dan perloe poela rasanja diperkatakan disini, bahwa dengan faham pandangan dan kejakinan Party Sjarikat Islam Indonesia seprti jang kita toeliskan diatas itoe, erti dan harganja Haramain tidak akan berkoerang-koerang, bahkan akan bertambah-tambah. Lagi poela mendjadi boekti kenjataan akan Kesempoernaan Agama Islam, Agama boeat Segenap Peri-kemanoesiaan, dalam tiap-tiap zaman dan di mana-mana tempat.