Jihad tholabi (ofensive) adalah menyerang dan memerangi musuh di negeri mereka. Sedangkan jihad difa’i (defensive) adalah memerangi musuh yang terlebih dahulu menyerang kaum mukminin. (Lihat Al-Ikhtiyarot Al-Fiqhiyyah tulisan Ibnu Taimiyyah, tahqiq Al-Faqi terbitan Darul Ma’rifah hal. 309)

Dalil jihad tholabi :
Firman Alloh SWT:
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِآِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا
وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّآَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“…maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka . Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang…” (Qs. At Taubah:5)

Alloh SWT juga berfirman:
قَاتِلُوا الَّذِینَ لا یُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا یُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا یَدِینُونَ
دِینَ الْحَقِّ مِنْ الَّذِینَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى یُعْطُوا الْجِزْیَةَ عَنْ یَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rosul- Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Alloh), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Qs. At Taubah:29)

Adapun jihad difa’i, dalilnya adalah:
Firman Alloh SWT:
یَاأَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ الَّذِینَ آَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمْ الأَدْبَارَ
“Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (Qs. Al Anfal:15)

Dan firman Alloh SWT:
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِینَ یُقَاتِلُونَكُمْ
“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Baqoroh:110)

Dan firman Alloh SWT:

فَمَنْ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ

“Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Alloh dan ketahuilah, bahwa Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Al Baqoroh:194)

Perkara Syubhat:
Dalam rangka mengingkari adanya jihad tholabi dalam Islam, sebagian orang menggunakan dalil firman Alloh SWT:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…” (Qs. Al Anfal:61)

Menurut mereka lagi, selama orang kafir mengajak berdamai, maka tidak ada
jihad. Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi SAW:
لاتتمنوا لقاء العدو
“Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Jawaban Dari Syubhat Ini Adalah:

Pertama:
Rosululloh SAW dan para sahabatnya — yang mana mereka adalah umat Islam terbaik — tidak membawa makna nash-nash tersebut seperti yang mereka fahami yaitu meninggalkan jihad tholab.

Buktinya Nabi SAW sendiri memerangi bangsa Arab kemudian memerangi Romawi di Tabuk, Rosululloh SAW sendiri telah melakukan 19 kali perang ghozwah (Muttafaq ‘Alaih dari Zaid bin Arqom), 8 diantaranya beliau terjun langsung di dalamnya (HR. Muslim dari Buroidah)

Adapun utusan dan sariyah-sariyah yang beliau tidak turut di dalamnya, jumlahnya mencapai 36 kali menurut riwayat Ibnu Ishaq, sedangkan yang lain berpendapat lebih dari itu (Fathul Bari VII/279-281 dan Shohih Muslim bisyarhin Nawawi (XII/185). Setelah itu, sepeninggal Rosululloh SAW para sahabat berperang menyerang bangsa Rum, Persi, Turki, Mesir, Barbar dan lain sebagainya, sampai-sampai ini sudah menjadi perkara yang maklum.

Maka kepada orang yang berdalil dengan nash-nash tadi untuk membantah adanya jihad tholab, kami katakan kepadanya: Sesuaikah pemahaman Anda ini dengan yang dipahami Rosululloh SAW dan sahabatnya?

Kedua:
Adapun firman Alloh SWT:
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya…” (Qs. Al Anfal:61)
akan disebutkan perkataan salaf pada panduan ke-10.

Ketiga:
Sabda Rosululloh SAW: “Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh,” Imam Bukhori telah meriwayatkannya dari ‘Abdulloh bin Aufa, begini selengkapnya:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم في بعض أیامه التي لقي فيها، انتظر حتى مالت الشمس،
ثم قام في الناس خطيبا فقال: أیها الناس لاتتمنوا لقاء العدو، وسلوا الله العافية، فإذا لقيتموهم
فاصبروا، واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف، ثم قال: اللهم منزل الكتاب ومجري
السحاب، وهازم الأحزاب، اهزمهم وانصرنا عليهم
“Rosululloh SAW pernah menunggu musuh dalam salah satu peperangan yang beliau lakukan sampai matahari condong, kemudian beliau berdiri berkhutbah di hadapan manusia: “Wahai manusia janganlah kalian berangan-angan bertemu musuh dan mintalah keselamatan kepada Alloh, jika kalian bertemu bersabarlah; ketahuilah bahwa surga di bawah naungan pedang,” lalu beliau berdo’a: “Ya Alloh, yang menurunkan kitab, yang menjalankan awan dan yang menghancurkan pasukan Ahzab, hancurkanlah mereka dan menangkan kami atas mereka.” (Hadits 2965 dan 2966)

Saya katakan: Dalam nash hadits ini jelas bahwa Rosululloh SAW mengucapkan sabdanya tersebut dalam salah satu peperangan yang beliau lakukan sebagaimana dikatakan perowi (“…dalam salah satu peperangan yang beliau lakukan…”) yaitu ketika bertemu musuh, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim. Demikian juga sabda beliau: (“Jika kalian bertemu dengan mereka — musuh — maka bersabarlah…”) juga sabda beliau: “Kalahkanlah mereka dan menangkan kami atas mereka”, bagaimana ia berdalil dengan hadits tersebut untuk meninggalkan jihad sedangkan hadits tersebut beliau ucapkan dalam salah satu peperangannya?

Kemudian, hadits di atas sebenarnya berisi dorongan untuk berperang dan menyerang musuh, ini ditunjukkan dalam sabda beliau: “Sesungguhnya surga di bawah naungan pedang.”