ANTARA ISIS DAN NII DALAM MENSIKAPI

PROSES PENEGAKKAN DAULAH (NEGARA) ISLAM

 Bismillahirrohmanirrohim
Artikel ini ditulis dengan didasari niat yang tulus untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dilapangan di wilayah Syam dan Irak. Secara garis besar berdasarkan dari berbagai sumber baik yang pro ISIS maupun kontra ISIS maka saya menyimpulkan bahwa masih terjadi konflik antar Kelompok Mujahidin sendiri yang semuanya masing-masing telah memiliki wilayah kekuasaan, belum sepenuhnya dikuasai oleh ISIS secara 100%.

Berdasarkan artikel dari Al Mustaqbal.com dan Shoutussalam.com bahwa Dalam media Al Mustaqbal yang di posting Akhi Rifki (entah itu pendapat pribadi atau dari ISIS) maka bagi saya pribadi bersyukur dapat memahami pola pikir pengikut ISIS di Indonesia khususnya dan pengikut ISIS umumnya maka saya memahami ada perbedaan tentang menyikapi dan menamai proses pembentukan Daulah Islam yang mendasar yakni:

  1. NII dalam proses mendirikan daulah Islam (negara Islam) hanya mengklaim sebatas wilayah Indonesia dan disebut hanya sebagai daulah islam, bukan khilafah. Oleh sebab itu pemimpinnya disebut IMAM, bukan khilafah. Seiring dengan perjuangan jihadnya maka NII pun berkembang pesat sehingga ada beberapa wilayah yang menggabungkan diri dengan NII antara lain Jawa Barat (pusat NII), Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan wilayah lainnya yang belum diketahui oleh sejarawan. Penyebutan dan penamaan tersebut karena secara realita wilayah Indonesia belum dikuasai sepenuhnya oleh NII apalagi secara mendunia. Oleh sebab itu dalam melaksanakan syari’at Islam maka NII membagi menjadi 3 wilayah hukum yakni D1, D2 dan D3. Daerah D1 adalah daerah yang telah berhasil dikuasai NII secara 100% sehingga syari’at Islam bisa dilaksanakan seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. D2 adalah wilayah yang sebagian dikuasai NII dan sebagian lagi masih dikuasai oleh musuh Islam. Adapun D3 adalah wilayah yang masih dikuasai oleh musuh Islam.Berkaitan dengan penegakkan kembali khilafahmaka sesuai hasil kongres Cisayong tahun 1948 yang dihadiri ratusan ‘ulama maka NII telah membuat program perjuangan NII yang berisi 7 point diantara salah satu pointnya (point ke 7) berbunyi: “Bersama negarag–negara Islam yang lain,membentuk Dewan Imamah Dunia untuk memilih seorang kholifah,dan tegaklah KHILAFAH di muka bumi”.
  2. ISIS yang sebelumnya bernama ISI secara realita dilapangan kondisinya sama dengan kondisi perjuangan Mujahidin Indonesia era zaman SMK yakni banyak juga Kelompok Mujahidin lain yang berjihad di Syam dan Suriah. Bedanya ISIS di zaman kepemimpinan Abu Bakar Al Bagdadi ketika sudah berdiri tegak ISIS, dalam waktu tidak lama mereka mendeklarasikan ISIS berubah bentuk menjadi IS/ Daulah Islamiyyahataukhilafah dan pemimpinnya disebut Dan point yang lebih penting lagi mereka menafikan Mujahidin dan kelompok jihad lainnya diberbagai belahan bumi lainnya yang notabene mereka juga sudah mempunyai wilayah kekuasaan Islam.

Adapun dalam media shoutussalam.com dalam judul artikel;20 ‘ulama Mujahid dan Komandan Jihad tanda tangani pernyataan dukungan untuk ISIS bagi saya pribadi belum bisa memahami layaknya ISIS sebagai khilafah atau tidak jika ditinjau secara keilmuan. Mereka hanya mengungkapkan himbauan agar mendukung ISIS, meragukan segala sesuatu yang diberitakan media tentang ISIS. Berbeda sekali dengan yang Kontra ISIS (tidak mengakui ISIS sebagai khilafah dan Abu Bakar Al Baghdadi sebagai kholifah) yang menjelaskan secara keilmuan dan secara fakta (Insya Alloh akan diposting segera dalam blog saya dan grup facebook).

Adapun NII dalam masa kini maka pemerintahan NII dibawah kepemimpinan IMAM NII yang ke 3 tetap mengacu kepada hasil kongres Cisayong tahun 1948 yang salah satu isinya adalah 7 program perjuangan NII (bisa dilihat di blog saya: https://www.abuqital1.wordpress.com/ ) dan melanjutkan 7 program perjuangan tersebut dengan nama Marhalah Jihad NII.

Kesimpulan artikel ini:

Saya selaku pribadi menyimpulkan bahwa perbedaan ISIS dengan NII ada dalam penyebutan dan status pemimpinnya, serta mensikapi Kelompok Mujahidin lainnya padahal kondisi dilapangan tidak jauh beda seperti NII zaman SMK. Kalau NII hanya sebatas penamaan Negara Islam (Daulah Islam) dan pemimpinnya disebut IMAM sesuai proklamasi NII serta NII tidak menafikan (meniadakan) Mujahidin dibelahanbumi lain. Adapun ISIS merekamenamakan diri sebagai khilafah dan pemimpinnya sebagai kholifah serta menafikan Mujahid dan Kelompok Jihad lainnya di belahan bumi lain.

Pertanyaan Menggelitik:

Saya sudah mencari diberbagai media online jawaban dari pertanyaan seperti syaikh Al Maqdisi, Saya bertanya kepada ISIS dan pengikutnya: “Apa pandangan ISIS terhadap Mujahidin lainnya yang tidak berbaiat kepada Abu Bakar Al Baghdadi sebagai kholifah seperti AQIM, AQAP, JN, IIA dan sejenisnya. Dan sampai saat ini saya belum menemukan jawaban resmi dari ISIS, yang ada jawaban dari tiap-tiap individu. Jika ada yang tahu tentang pertanyaan tersebut mohon posting di facebook saya (Abu Qital).

Akhir Kalam saya beristighfar kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla jika ada kesalahan dan kekeliruan dalam artikel ini.

والله أعلم بالصواب

ألفقير أبو قتال