Bismillahirrohmanirrohim

Prolog berdirinya sebuah Negara

Islam adalah aqidah aplikatif, aqidah yang menghasilkan nidzom( Sistem) yang Universal dan Integral. Ia juga merupakan;

  1. Sistem yang mengatur hubungan Individu dengan Robbnya dengan jalan beribadah hanya pada Robbnya
  2. Sistem yang mengatur hubungan individu dengan dirinya sendiri dengan jalan keharuan menjaga kesehatan, makanan, pakaian dan lain-lain.
  3. Sistem yang mengatur hubungan individu dengan keluarga dengan jalan berkasih sayang, melindungi, memberi nafkah, memberi warisan dll.
  4. Sistem yang mengatur hubungan individu dengan sesama manusia dengan jalan bermuamalah.
  5. Sistem yang mengatur hubungan individu dengan Negara, Dengan keharusan taat dan tunduk kepada keputusan negara selagi negara tersebut merealisir syariat allah. dan ia juga merupakan
  6. Sistem yang mengatur antara darul Islam dengan sesama Darul Islam lainnya dan Darul Islam dengan ghoiru darul Islam.

Rosulullah dengan penuh kesabaran bahkan dengan kesabaran yang tidak sanggup ditanggung oleh para rosul ulul azmi sekalipun. Ia terus menerus mendakwahkan Islam di makkah,hingga kurang lebih 68 surat (4780 Ayat) diturunka di makkah ( Ayat ayat Makiyah) dari 114 surat yang ada dalam Quran. dalam kurun waktu 13 tahun, Rosulullah terus menerus mengadakan perbaikan Aqidah syirik yang dianut manusia saat itu dengan tida atau belum mempertimbangkan Aqidah manusia lain di luar kota makkah.

Dalam penataan aqidah yang terus menerus tanpa kenal lelah itu bernatizahkah pada dua bentuk:

  • Kewajiban mentaati Allah dengan ber wala kepadaNya dan
  • Kewajiban mengingkari Thogut dengan ber Baro kepadaNya

ô‰s)s9ur $uZ÷Wyèt/ ’Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqߙ§‘ Âcr& (#r߉ç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# ( Nßg÷YÏJsù ô`¨B “y‰yd ª!$# Nßg÷YÏBur ïƨB ôM¤)ym Ïmø‹n=tã ä’s#»n=žÒ9$# 4 (#r玍šsù ’Îû ÇÚö‘F{$# (#rãÝàR$$sù y#ø‹x. šc%x. èpt7É)»t㠚úüÎ/Éj‹s3ßJø9$# ÇÌÏÈ

“dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[826] itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang  telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”(QS : An Nahl [16] : 36)

Dengan penanaman Aqidah seperti itu Manusia amat mudah di kondisikan “beriman kepada Allah dan mengingkari Thoghut” tidak ada alternatif lain.

Namun bila penanaman Aqidah belum tsabit maka akan melahirkan alternatif lain :

  1. Yu’min Billah Wa La Yakfur bithoghut ( ber Iman pada Alloh namun tidak ingkar thogut )
  2. Yakfur Bithoghut Wa la Yumim Billah ( Ingkar pada thogut namun tdk Iman pada Alloh )
  3. La yu’min billah wa la yakfur bit thogut ( tdk berIman pada Alloh dan tdk ingkar thogut )

Dengan Fenomena ini semua maka timbullah berbagai kelompok dan golongan-golongan manusia yang kian hari kian banyank, membesar dan menyebar, dengan berbagai kesepakatan dan kesepahaman antar golongan kelompok tadi. mereka terorganisir disuatu tempat membentengi komunitasnya dengan berbagai peralatan canggih pada masanya dan mengikat mereka dengan peraturan-peraturan yang mereka sepakati.

Maka berawal dari sini pulalah terbentuknya negara dengan berbagai corak nama negara tersebut, sekaligus penamaan Negara tersebut , ada yang diberi nama Darul Islam dan ada juga Dar Dar yang lainnya.

Jadi kesimpulan dari prolog tersebut ;

  • Negara Adalah Alat untuk menentukan cita-cita bersama, dimana baik pemerintah dengan segala kebijakannya atau rakyat dengan segala keikut sertaannya bersama sama mengisi negara dan melaksanakan hukum yang mereka sepakati dan kehendaki
  • Negara adalah lembaga hukum tertinggi dalam satu wilayah yang dengan segala perangkat kekuasaannya ia memiliki kemampuan untuk memberlakukan suatu aturan atau hukum dan memaksa seluruh penduduk yang tinggal di dalamnya untuk mentaatinya dan tidak melanggar setiap peraturan yang telah di undangkan.

Negara memiliki falsafah dan hukum tertinggi yang menjadi pondasi berdirinya, dan setiap hukum serta peraturan yang berlaku mestilah selaras dan menjiwai asas dan hukum tertinggi tersebut.

Demikian pentingnya posisi dua hal tersebut hingga dikokohkan sedemikian rupa, tidak mungkin berubah kecuali Negaranya berubah pula, sebab perubahan asas negara berarti perubahan semua sistem hukum, berarti pula memporak porandakan sistem lama yang di anut.

Maka dalam hal ini Qonun asazi NKA NII telah menetapkan bab tentang Negara, Hukum dan Kekuasaan dalam Bab 1 Pasal 1, 2 dan 3

Pasal 1

  • Ayat 1 Negara Islam Indonesia adalah Negara karunia Allah kepada bangsa Indonesia
  • Ayat 2 Sifat Negara itu Jumhuriyyah
  • Ayat 3 Negara menjamin berlakunya syariat Islam dalam kalangan kaum muslimin
  • Ayat 4 Negara memberikan keleluasaan kepada pemeluk agama lain dalam melakukan ibadahnya.

Pasal 2

  • Ayat 1 Dasar dan Hukum yang berlaku di Negara Islam Indonesia adalah Islam
  • Ayat 2 Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits Shoheh

Pasal 3

  •  Ayat 1) Kekuasaan yang tertinggi membuat hukum dalam Negara Islam Indonesia adalah Majlis Syuro/Parlemen.
  • Ayat 2) Jika keadaan memaksa hak majlis syuro boleh beralih kepada imam dan dewan Imamah.

Dengan Perundang-undangan ini sangat jelas dan gamblang apa yang dimaksud dengan negara, wabil khusus Negara Islam Indonesia.

Muncul pertanyaan “ Kita kan berbicara Islam, Islam itu kan mendunia tidak dikotak-kotakan disuatu Negara, sebab sekali kita berfikir Negara maka jelas ada pembatasan wilayah kekuasaan. bagaimana mungkin ini akan sesuai dengan pandangan Islam, padahal Islam ini “ Alamiah” tidak berbatas geografis ataupun bangsa, mengapa membatasi islam dengan suatu negara saja, yang pasti ide-ide tentang negara Islam hanya bersumber dari orang –orang yang haus kekuasaan walaupun harus mengorbankan globalisasi Islam.

Jawabannya :

  • Pentingnya Negara adalah jaminan bagi warganya dalam menjalankan hukum atau peraturan –peraturan yang dibuat dengan rasa aman.
  • Adapun pembatasan wilayah sebenarnya hanya berkait dengan tanggung jawab kerja sebuah negara. Sama sekali bukan membatasi misi universal Islam yang memang diturunkan sebagai tata aturan Ilahi di Bumi.
  • Negara Islam sama sekali tidak mengorbankan globalitas Islam malah Ia merupakan tangga menuju Globalitas Islam itu sendiri.

Ruang lingkup Islam dengan Negara memang berbeda sebab, Islam adalah ciptaan Allah untuk mengatur ciptaannya sedangkan negara adalah hasil karya manusia yang lengkap dengan segala keterbatasannya,sebagai contoh ; Nabi kita saja diutus untuk segenap manuasia.

!$tBur y7»oYù=y™ö‘r& žwÎ) Zp©ù!$Ÿ2 Ĩ$¨Y=Ïj9 #ZŽÏ±o0 #\ƒÉ‹tRur £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw šcqßJn=ôètƒ ÇËÑÈ

dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”. (Q S. Saba [34] ayat 28)

!$tBur š»oYù=y™ö‘r& žwÎ) ZptHôqy‘ šúüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ

dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Qs Al Anbiya [21] ayat 107_

Tapi kemampuan memberlakukan maupun perlindungan hukum saat beliau hidup hanya di madinah saja, terhadap mereka yang diluar madinah apalagi dengan darul kuffar yang nabi terkait perjanjian dengannya, sama sekali tidak punya kewajiban mempertanggung jawabkan mereka dalam arti melindungi secara hukum.

Sepintas nampak adanya pertentangan. di satu sisi kehadiran Rosul sebagai “ Kaaffatan Linnas dan Rahmatan Lil Alamin” namun disisi lain Rosul dan warga madinah tidak dibebani dan tidak bertanggung jawab secara hukum atas orang-orang mukmin di luar madinah.Lantas apakah ini berarti bahwa madinah telah mengkotak-kotakan muslim menciutkan arti Rahmatan Lil alamin. tentu saja tidaak, sebab dikatakan Rahmatan Lil Alamin itu apabila dikaitkan dengan misi yang dibawa oleh Muhammad SAW sebagai Rosul pembawa Islam adapun pembatsan perlindungan tadi dikaitkan dengan muhammad dan ummat mukmin sebagai pemerintah dan warga daulah Islam yang berdaulat di satu wilayah.

Jadi penyebutan negara Islam, terlebih ada nama embel embel nama negara lainnaya adalah berkenaan dengan kemampuan tanggung jawab kerja negara tersebut.

Negara yang bagaimana yang sah berdidri di bumi dalam pandangan Ilahi

Mari kita awali dengan 3 ayat ini

’n?»yètGsù ª!$# à7Î=yJø9$# ‘,ysø9$# 3 Ÿwur ö@yf÷ès? Èb#uäöà)ø9$$Î/ `ÏB È@ö6s% br& #Ó|Óø)ムšø‹s9Î) ¼çmã‹ômur ( @è%ur Éb>§‘ ’ÎT÷ŠÎ— $VJù=Ïã ÇÊÊÍÈ

Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Qs. Thaahaa [20] ayat 114)

È@è%ur ߉ôJptø:$# ¬! “Ï%©!$# óOs9 õ‹Ï‚­Gtƒ #V$s!ur óOs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° ’Îû Å7ù=ßJø9$# óOs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! @’Í<ur z`ÏiB ÉeA—%!$# ( çn÷ŽÉi9x.ur #MŽÎ7õ3s? ÇÊÊÊÈ

dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.(  Qs. Al Israa [17] ayat 111)

“Ï%©!$# ¼çms9 à7ù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur óOs9ur õ‹Ï‚­Gtƒ #Y‰s9ur öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° ’Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu‘£‰s)sù #\ƒÏ‰ø)s? ÇËÈ

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053]. (Qs. Al Furqaan [25] ayat 2)

[1053] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

Dari 3 ayat ini sudah sangat jelas bahwa bumi adalah bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Allah, manusia yang tinggal di bumi disadari atau tidak disadari adalah penduduk kerajaan Allah maka pada posisi ini sikap yang terbaik hanya ada 2, yaitu :

  • Menjadi warga atau penduduk kerajaan Allah yang taat atau
  • Menjadi Aparat Allah yang Amanah

Maka apabila dibumi ini ada sekelompok orang yang mengklaim satu wilayah sebagai satu kekuasaan mereka, bahkan mereka memaksa seseorang yang tinggal didalamnya untuk mentaatii hukum yang mereka buat sendiri, mengelola air dan sumber kekayaan alam lain yang ada di bumi untuk memperlancar roda pemerintahan atau kekuasaannya, maka sebenarnya mereka ini sedang memberontak kepada Allah, membuat makar,membuat kerajaan kerajaan kecil di dalam kerajaan Allah yang besar. mereka telah mencaplok wilayah secara tidak sah. Subversif kepada Raja yang sebenarnya.

Artinya dimana saja kita menemukan suatu negara yang tidak bersandar kepada kebenaran Ilahi /Islam, maka sampai kapanpun Negara tadi tidak akan pernah memberlakukan Islam sebagai perundang-undangannya, ia hanya akan memberikan kebebasan pada beberapa aspek ajaran Islam tapi tidak pada hukum perdata dan pidananya maka “ Menjadi mimpi indah di siang bolong yang manis kalau ada yang beranggapan dan berharap suatu saat indonesia akan memberlakukan Hukum Islam”

Kesimpulan:

Belajar dari apa yang sudah dibangun oleh Rasul di madinah, yang ketika itu Madinah memiliki 3 fungsi:

  • Melindungi dan menegakkan hukum Islam, memiliki tentara yang membela, hakim yang menghukum orang yang bersalah, dan badan –badan lain yang menjamin kesejahteraan rakyat dalam melaksanakan Islam.
  • Berfungsi sebagai lembaga dakwah keluar. Rosul menyurati Raja-raja negara lain untuk masuk ke dalam Islam atau menerima perlindungan Islam, dengan membayar jizyah, jika tika maka kerajaan itu harus memberikan kebebasan penduduknya untuk mendengar dan menerima dakwah Islam, jika tidak pula Tahun:maka Rosul mengumumkan perang pada mereka Qs. 9 ayat 29; “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (Yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah[638] dengan patuh sedang mereka dalam Keadaan tunduk.”
  • Menyiapkan kekuatan sarana dan prasarana untuk memberikan perlindungan bagi kaum mukmin yang tinggal di negara lain jika mereka minta bantuan.

Adapun Qonun Asazi NKA telah menetapkan bab khusus tentang kewarga negaraan yang di atur dalam Bab 10 Pasal 27 Ayat 1 & 2.

  • Ayat 1) Yang menjadi warga negara ialah orang indonesia yang asli dan orang-orang bangsa lain yang di syahkan dengan undang –undang sebagai warga negara
  • Ayat 2) Syarat-syarat mengenai warga negara ditetapkan oleh Undang-undang.

Catatan penting :

Seorang Mukmin/Muslim tidak mungkin disebut kafir /musyrik begitu juga sebaliknya, karena ia adalah dua hal yang berbeda, bersebrangan, yang keduanya tidak mungkin bersatu dalam satu waktu dan dalam satu objek. ia bagaikan siang dan malam, maka bila datang siang malampun menghilang begitu sebaliknya, tafakkuri 3 ayat dibawah ini :

â/ä3Ï9ºx‹sù ª!$# ÞOä3š/u‘ ‘,ptø:$# ( #sŒ$yJsù y‰÷èt/ Èd,ysø9$# žwÎ) ã@»n=žÒ9$# ( 4’¯Tr’sù šcqèùuŽóÇè? ÇÌËÈ

Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka Bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (Qs. Yunus [10] ayat 32)

$¯RÎ) çm»uZ÷ƒy‰yd Ÿ@‹Î6¡¡9$# $¨BÎ) #[Ï.$x© $¨BÎ)ur #·‘qàÿx. ÇÌÈ

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Qs.Al Insaan [76] ayat 3)

uqèd “Ï%©!$# ö/ä3s)n=s{ ö/ä3ZÏJsù ֍Ïù%Ÿ2 /ä3ZÏBur Ö`ÏB÷s•B 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÅÁt/ ÇËÈ

Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. At Taghaabun [64] ayat 2)

Tiga ayat di atas adalah ayat ayat yang muhkam yang sangat jelas dan gambalang, tinggal kejernihan akal dan keberanian hati untuk meneguhkannya. ia tidak lagi samar dan tidak lagi memerlukan penafsiran yang ngejelimet. Ummat yang haq adalah haq Ummat yang bathil adalah bathil, Yang syukur adalah syukur dan yang kufur adalah kufur yang kafir adalah kafir siapa dan apa dan kedudukannya “ hatta seorang anak nabi sekali pun ”. Sebaliknya yang mukmin adalah mukmin, siapa dan apapun status kedudukannya. tidak bisa keduanya melekat pada satu tubuh atau hilang dari satu tubuh pada waktu dan tempat yang bersamaan.

Sudah menjadi kehendak Allah bahwa mahluknya akan terbagi menjadi dua bagian yaitu Mukmin dan Kafir, ini merupakan kehendak Allah terhadap alam menurut taqdir ( Masi’ah qauniyah qodariyah) Qs. 8 ayat 42; “(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada di bawah kamu[617]. Sekiranya kamu Mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan[618], Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)[619]. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

Walhamdulilahi rabbil alamin.

Munajatku

Kepada Allah kita bertawakal kepada Allah kita Mohon ampunannya di tanganNyalah hidup dan mati kita sebagai ujian siapa yang paling baik amalnya.

Ya Allah….. kami tidak risau tentang berapa lama lagi kami bisa hidup bebas dan bertahan, yang kami takutkan hanyalah kemampuan kami dalam memegang teguh amanah iman ini.

 Ya Allah….. janganlah engkau matikan kami sebagai seorang pengkhianat, jangan matikan kami dalam keadaan lari Dari medan dan dari tugas jihad, dan jangan pula engkau matikan kami sebagai orang yang hina menyerah pada musuh. matikanlah kami dalam tugas dijalanMu baik ketika berjaya maupun sedang berjuang, sebab itulah satu-satunya keberuntungan besar bagi kami.

 Ya Robbana… Ya Maliikanaa… Ya Ilaahana… di tanganMu lah nilai akhir kehidupan kami. kami lakuakan semua ini, melawan rasa ketakutan dan rasa cemas memberanikan diri berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari kemampuan kami, jauh lebih banyak dari bilangan kami, jauh lebih sempurna perlengkapannya dari kami, semata-mata agar Engkau ridho di ujung hayat kami.

 Ya Allah….. ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta, berfikir sebelum berbuat, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda, sabar dalam setiap ujian, syukur dalam setiap kenikmatan.

 Ya Allah….. jadikannya kami orang-orang yang selembut Abu Bakar, sebijaksana Umar, sedermawan Ustman dan secerdas Ali bin Abi Tholib.

 Ya Allah….. jagalah saudara-saudara kami dikala penjagaan kami tak sampai padanya, sayangilah mereka dikala rasa kasih sayang kami tak mampu merangkul dalam dekapnya, muliyakanlah mereka dikala penghargaan kami tak bisa terangkum dalam kata-kata bijak dan sahaja, karuniakanlah kepada mereka kekuatan dan kemampuan serta kesabaran selama berada pada jalanMu, karena Engkau punya segala apa yang tak kami punya. kami ingin mereka selalu menjadi sodara –sodara kami dalam kehidupan dunia dan berharap bisa berjumpa dengannya senantiasa di jalanMu menuju keridhoan dan jannahmu

.Ya Ilahi….. anta maqshuudi waridhoka mathluubi

hasbunallah wanimal wakil ni’mal maula wani’man nashir

La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.