Sepintas Tentang Thoghut Thaghut berasal dari kata thaaghaa yang artinya melampaui batas. Thoghut menjadi arti lebih spesifik lagi setelah Allah SWT dalam beberapa firmannya memunculkan term kata Thaghut, sehingga kesimpulannya dapat diartikan Thoghut ini adalah suatu sosok yang di bentuk oleh manusia ataupun jin dengan melampaui batas posisi dari sebagai hamba menjadi sejajar atau lebih dari posisi sebagai ilah. Jadi ketika sosok hamba menyatakan dirinya (ataupun dinyatakan oleh hamba lainnya) menjadi sosok ilah (wajib di ibadahi, wajib di taati, wajib di sembah tanpa reserve baik salah satu ataupun ketiganya) sehingga menjadi andad (tandingan) dari Allah sebagai ilah yang sebenarnya, maka sosok hamba tadi telah mendeklarasikan/dideklarasikan sebagai Thoghut.

Beberapa jenis Thoghut :

1) Jin. Mari kita simak Qs 72:6 “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” Jin adalah mahluk ciptaan Allah yang dibuat dari Api. Jin ini sering disembah, diberi sesajian, ditakuti, padahal jin lebih rendah kedudu- kannya dari manusia. Di Tanah air sering kita dengar keris sakti (diisi jin) dan batu cincin sakti (juga didisi jin), karena “kesaktian tersebut (tipu daya jin) keris dan batu cincin diyakini dapat melindungi pemakainya, batu cincin dan keris menjadi taqhut.

2) Berhala, lihat Qs 7: 191 sampai dengan 198. Sangat jelas berhala menjadi Thaghut, padahal berhala itu dibuat oleh manusia (191), tidak mampu memberikan pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan dirinya sendiri (192), tidak dapat memperkenankan seruan/permintaan (193), mahluk lemah (194), tidak memiliki kemampuan apa-apa (195).

3) Manusia, simak Qs 9:31 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga mempertuhankan Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” Praktek menyembah manusia dilakukan oleh kaum nasrani, disamping mereka menyembah nabi Isa, mereka menyembah rahib-rahib mereka. Praktek menyembah manusia banyak juga dilakukan di Indonesia, khususnya mendatangi kuburan, meminta rizki, nomor buntut, keselamatan dsb.

4) Hawa nafsu, lihat pembahasan aqidah (1) uaitu Qs 25:43. Dipertegas lagi pada Qs 45:23 sbb: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya dan Allah membiarkannnya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan penutupan atas penglihatannya? …”

5) Aturan selain aturan Allah. Simak Qs 4:61 ” Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturun- kan sebelum kamu? mereka hendak berhakim kepada thaghut (ctt: thaghut dalam arti hukum selain hukum Allah – lihat ctt Terjemahan Dept. Agama), padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” Menetapkan sesuatu tidak berdasarkan hukum Allah, berarti mengikuti thaqhut. Allah menciptakan manusia, Allah paling tahu karakteristik ciptaanNya, kemudian Allah turunkan aturan-aturan (hukum-hukum) berdasarkan fitrah ciptaanNya, maka Hukum Allah paling tepat buat ciptaanNya itu. Berhukum selain hukum Allah berarti melanggar fitrah. Firman Allah yang memperkuat sbb: “Wa man la yahkum bima anzalallah faulaika humul kafirun” (tolong dicek ayat ini ada di surat mana”) artinya: siapa yang berhukum selain hukum Allah dia kafir
6) Benda-benda alam spt batu, bintang, matahari, hewan dsb. (masuk ketegori berhala) Saya ingin mengutip perkataan Imam Ibnu Qoyyim dalam Kitab Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid yang bunyinya : maka thoghut itu ada disetiap kaum, orang2 yang bertahkim (mengangkat hukum) kepada selain Allah dan Rasul-Nya atau mereka yang menyembah selain daripada Allah atau mereka yang mengikutinya tanpa keterangan dari Allah atau mereka yang ta’at pada sesuatu yang mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah hak ketaatan kepada Allah,

inilah thogut-thogut dunia Kewajiban pertama atas setiap Muslim adalah Tauhid (beribadah kepada Allah tanpa menyekutukanNya); dan pilar pertama Tauhid adalah Al Kufur Bit Thoghut, atau menolak Thoghut. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim kecuali mereka menolak semua bentuk Thoghut, apakah itu berbentuk konsep, benda tertentu atau seseorang. Thoghut telah di defenisikan oleh Shahabat dan Ulama klasik yang mengikuti jalan salaf yaitu: “Sesuatu yang disembah, ditaati atau diikuti selain dari Allah.” Imam Malik bin Anas berkata: “Thoghut adalah segala sesuatu yang disembah (atau ditaati) selian Allah.” (Diriwayatkan dalam Al Jaami’ li Ahkaam Al Qur’an oleh Imam Al Qurtubi).Syeikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Dan thoghut secara umum, adalah sesuatu yang disembah selain Allah, dan itu disetujui untuk disembah, diikuti atau ditaati.” (Risalatun fii Ma’naa At Thoghut oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab).
Lebih lanjut, karena sebuah objek diperlakukan sebagai thoghut seharusnya disembah selain Allah, dan bagi seseorang yang menjadi thoghut dia harus setuju untuk disembah atau ditaati. Sebagai contoh towaghit adalah berhala, batu, pohon, tempat keramat, patung, kuburan atau jimat dan sebagainya yang orang-orang sembah atau mencari pertolongan darinya; keinginan, filosofi, hukum, konstitusi, selebritis, atau Nabi palsu yang orang-orang ikuti; dan penguasa, Ulama serta pembuat hukum (anggota parlemen) yang melegalkan hukum mereka sendiri dan mengadili dengan hukum dan konstitusi buatan manusia. Seseorang bisa menghabiskan seluruh hidupnya untuk shalat atau berbicara tentang Islam, Jihad, Haji, shalat, Dakwah, Qur’an, Sunnah, Siyaam dan seterusnya, tetapi jika mereka tidak menolak thoghut dan mengingkari thoghut semua itu akan lenyap. Ini karena menolak thoghut adalah syarat pertama menjadi seorang Muslim, dan mengapa alasannya hal itu meliputi dalam bagian pertama pada Kalimah: 1. Laa ilaaha “tidak ada tuhan” (An Nafii – menolak thoghut dan Tuhan-tuhan palsu). 2. IllAllah “kecuali Allah” (Al ithbaat – penetapan keimanan) Selanjutnya, dengan melafadzkan dan mempercayai kalimah itu seseorang benar-benar mendeklarasikan ketidakpercayaannya dan menolak tuhan-tuhan palsu dan menetapkan keimanan kemudian menerima Satu, Tuhan yang benar – Allah. Tidak mungkin bagi seseorang menjadi Muslim kecuali mereka mengkufuri semua tuhan-tuhan palsu dan agama batil. Kunci untuk memahami Kalimah Allah SWT berfirman: “barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (kalimah).” (QS Al Baqarah, 2: 256)
Memahami maksud Kalimah adalah kondisi pertama Tauhid dan sebuah kewajiban atas setiap Muslim. Allah SWT menginformasikan kepada kita dalan ayat di atas bahwa hanya seseorang yang menolak thoghut dan beriman kepada Allah yang telah memahami maksudnya, dan selanjutnya akan menerima keberhasilan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang yang mati dan memahami (makna) laa ilaaha illallah akan masuk surga.” (Shahih Muslim, Jilid 1, bab 10 Hadits no. 26) Selanjutnya, rahasia untuk memahami Kalimah adalah dengan menolak thoghut. Karena alasan ini, sangat penting bagi kita untuk mempelajari cara menolak thoghut – itu jika kita ingin mempunyai pemahaman yang benar tentang Laa ilaaha illAllah.
Sikap Kita Terhadap Thaghut

1. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Batil; Cara pertama untuk menolak Thoghut dengan meyakini bahwa semua Thoghut adalah batil dan tidak berhak untuk disembah atau ditaati. Sebagian orang mungkin tidak menyembah thoghut, tetapi mereka tidak meyakini bahwa thoghut mutlak batil. Ini adalah kekufuran. Sebagai seorang Muslim perlu meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran dan semua agama yang lain itu batil, dan bahwa Allah adalah satu-satunya Illaah yang benar dan semua aalihah yang lain itu batil. Allah berfirman: “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al Hajj, 22: 62)
2. Menjauh dari Thoghut ; Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada setiap komunitas dengan risalah yang sama: beribadah dan hanya menaati Allah, dan menjauh dari Thoghut: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thoghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya . Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An Nahl, 16: 36). Perintah untuk “ijtanibuu” (menjauhi) mempunyai implikasi yang lebih besar daripada mengatakan ‘tidak menyembah (atau mendukung)’. Ini karena dalam Ushul Fiqih, sebuah perintah untuk ijtanaab (menjauhi) adalah lebih berat daripada sebuah larangan untuk tidak melakukan. Sebagai contoh Allah SWT memerintahkan kita untuk menjauhi khamr (alkohol); jika mendekati alkohol itu terlarang, memegang sebotol bir adalah lebih terlarang, apalagi meminumnya. Sama halnya, Allah telah memerintahkan kita untuk menjauh dari thoghut, terlebih lagi menjadi asisten mereka, sekutu, menteri, atau mufti atau bahkan bergabung dengan polisi, tentara atau pemerintah mereka. Faktanya adalah kufur untuk beribadah, melayani, menaati atau mengikuti thoghut manapun, dan siapa saja yang melakukan demikian akan menjadi murtad. Menyembah thoghut (dengan menaatinya) juga salah satu karekteristik Yahudi dan Nasrani, mereka mengambil rahib-rahib dan para pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allah dengan menaati mereka pada saat para pendeta dan juga rahib secara terang-terangan merubah dan melawan wahyu yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thoghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS Al Ma’idah, 5: 60)
‘Umar Bin Khattab
berkata: “Thoghut adalah Syaitan.” Karena setiap thoghut adalah Syaitan, kita harus selalu ingat dalam pikiran kita bahwa adalah sebuah ke-murtad-an beribadah, menaati atau melayani thoghut. Setiap penguasa atau Ulama yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah adalah Thoghut dan Syaitan; selanjutnya, adalah sebuah ke-murtad-an menolong mereka, bergabung dengan barisan mereka, mempertahankan mereka atau berperang untuk mereka. Sungguh, hanya kuffar dan Munafiqin yang menolong dan berperang untuk Thoghut: “Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” (QS An Nisaa’, 4: 73) Jika seorang Ulama menjadi Thoghut (dengan menghalalkan apa yang Allah haramkan, sebagai contoh) kita harus menjauh darinya, tidak belajar dengannya atau hadir dalam ceramahnya. Dengan berbuat demikian seseorang benar-benar beribadah kepada Allah dengan memenuhi perintahNya dan manjauh dari thoghut.

3. Menunjukkan kebencian kepada Thoghut; Setiap orang beriman harus mendeklarasikan kepada semua towaaghit kepada musuh-musuh mereka sebagaimana mereka adalah musuh-musuh Allah. Jika seseorang tidak mendeklarasikan thoghut itu batil, tidak menjauhinyadan tidak membencinya, dia tidak menolak thoghut dan masuk Islam. Pada dasarnya, jika seseorang memahami bahwa thoghut adalah musuh mereka, mereka tidak akan pernah bersekutu dengannya atau menjadi mufti atas rezim kufurnya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS Al Mumtahanah, 60: 4) Para Nabi dan Saalihah tidak bertoleransi kepada Ulama yang berada dipintu-pintu penguasa tiran Muslim. Terlebih lagi tidak diperbolehkan berada pada pintu-pintu penguasa murtad yang telah bersekutu dengan salibis dan menolak Syari’ah.

4. Membenci Thoghut; Setelah seseorang mendeklarasikan thoghut itu batil, menjauhinya dan mendeklarasikan menjadi salah satu musuh, mereka seharusnya membenci thoghut. Dalam Islam, tidak ada konsep “cintailah musuhmu”. Faktanya, dilarang untuk mencintai musuh kita dan itu hanyalah kebodohan kalau melakukan demikian. Ibrahim A.S. berkata kepada ummatnya, yang mengkufuri Allah dan beribadah kepada thoghut: “…kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja….” (QS Al Mumtahanah, 60: 4) Tidak diperbolehkan untuk menunjukkan kecintaan atau persahabatan kepada thoghut (Syaitan), atau kepada tentara-tentaranya, penolongnya, sponsor, asisten, pendukung, mufti, menteri, pengikut, dan sebagainya. Sebaliknya, seseorang harus beribadah kepada Allah dan membenci mereka.

5. Mendeklarasikan Thoghut Adalah Kafir (Takfir); Kewajiban selanjutnya dalam menolak thoghut adalah seseorang harus melakukan takfir kepada thoghut (Syaitan). Tidaklah mungkin bagi thoghut (syaitan) bersama-sama dengan seorang Muslim karena thoghut adalah sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah; atau karena thoghut adalah Tuhan palsu. “…barangsiapa yang ingkar kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS Al Baqarah, 2: 256). Seseorang yang tidak melakukan Takfir dengan mendeklarasikan Syaitan (thoghut) menjadi kafir adalah kafir. Ini karena Allah SWT telah mendeklarasikan Syaitan menjadi Kafir dalam Qur’an. Selanjutnya, Allah SWT telah juga mendeklarasikan seseorang yang menyembah thoghut (dengan memutuskan perkara kepadanya) menjadi Kafir juga: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An Nisaa’, 4: 60) Saat ini, sedang terjadi sebuah usaha yang gencar dilakukan untuk mengajak setiap orang beriman menjadi murtad dan selanjutnya menjadi kafir, dengan menggoda mereka menjadi dekat dengan thoghut dan tidak menjauh darinya. Dengan demikian, penting bagi kita untuk bertahan di bawah Tauhid dan bagaimana cara menolak thoghut; karena menolak thoghut (pemenuhan pilar pertama Tauhid) adalah kunci memahami Kalimah Syahadah, untuk selamat dari neraka dan memasuki surga.

Beberapa Ayat Al Quran yang terdapat kata Thaghut : al baqarah:256; Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. An Nisa:51 Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. An Nisa:60 Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. An Nisa:76 ;Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah. Al Maidah:60 Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. An Nahl:36 Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). Az Zumar:17 Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku,
Trilogi Thoghut (Firaun+Haman – Qorun – Bal’am) Thoghut pada dasarnya telah ada sejak manusia itu ada, saat Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam dan menyatakan untuk membawa anak cucu Adam kedalam posisinya sebagai penolak perintah Allah maka dirinya telah menjadi Thoghut. Dan Qobil putra Adam adalah sosok manusia pertama yang mengikuti ajakan tersebut. Setelah itu maka dengan sendirinya terciptalah dua kepemimpinan di muka bumi ini, satu pihak dibawah kepemimpinan Allah yang diwakili oleh sosok Khalifah hamba Allah yang loyal (bukan khalifah sebagai jabatan) sebagai wakil kepemimpinan Allah, yang kedua adalah kepemimpinan Thaghut yang diwakili oleh manusia dzalim yang loyalitasnya tidak sepenuhnya kepada Allah, bahkan sebagian diantaranya sama sekali menolak eksistensi Allah dalam kepemimpinannya. Allah menyatakan mereka itu adalah orang-orang yang melampaui batas, yaitu melampaui batas eksistensinya sebagai hamba Allah menjadi tandingan Allah dalam kepemimpinannya di muka bumi. Mereka (seluruh manusia) yang diciptakan oleh Allah sebagai Khalifatul fil Ard mempunyai kemampuan untuk menjalankan kepemimpinannya, karena memang Allah memberikan naluri tersebut kepada seluruh manusia yang diciptakanNya. Mereka mampu membangun peradaban, sistem sosial, kekuatan politik, sistem hukum, bahkan rekayasa ideologi maupun agama. Mereka adalah keturunan Adam makhluk terhebat yang pernah diciptakan Allah hingga makluk lainnya harus sujud dihadapannya, mereka mewarisi ilmu Adam dimana para malaikatpun harus mengakuinya.
Yang membedakan antara seorang Khalifah dengan Thoghut hanyalah tentang Mono Loyalitas. Loyalitas penuh kepada Allah hanya dimiliki oleh seorang Khalifah Allah, sedangkan Thaghut menolaknya. Thaghut menolak dalam kepemimpinannya muncul eksistensi Allah secara penuh, atau menolaknya sama sekali. Ketika keturunan Adam semakin banyak dan meluas dengan berbagai karakter sosial yang berbeda hingga membentuk sebuah tatanan baru yang lebih komplek dengan berbagai peradaban yang ditimbulkannya maka Thoghut pun mengkloning dirinya dalam 3 karakteristik kepemimpinan yang berbeda meski tetap dalam satu sistem kerjasama yang apik antara ketiganya. Satu sama lainnya saling membutuhkan dan saling mempengaruhi dalam kejahatannya secara ideologis. Mereka tidak mungkin bisa dipisahkan karena demi mempertahankan posisinya masing-masing.

Tiga karakter Thoghut ini akan selalu ada dimanapun dalam sebuah tatanan sosial politik suatu kelompok/kaum/suku/bangsa/negara, yang tidak menggariskan dirinya pada tatanan yang digariskan oleh Allah SWT. Mereka akan selalu berkolaborasi dalam membodohi rakyatnya demi eksistensi diri mereka yang berdasarkan nafsu keserakahan dan kesombongan yang sudah menguasainya dalam dirinya maupun sistem yang diciptakannya. Mereka membungkus kekuasaanya dengan gemerlap dunia dan mimpi-mimpi nikmatnya dunia melalui retorika-retorika yang menina bobokan para pengikut setianya. Seringkali pengikut setianya itu menjadi bodoh (tidak mampu melihat realita kedzaliman mereka) dikarenakan tujuan mereka pada dasarnya sama (dengan Thoghut). Mereka sama-sama penikmat dunia berdasarkan hawa nafsu dan kesombongannya. Diantara pengikutnya ada yang mengikuti bukan hanya karena loyalitas dan kecintaanya pada Thoghut, tapi karena rasa takutnya terhadap kedzaliman yang ditebarkan (meski kadang baru sebatas ancaman), dimana rasa takutnya itu melebihi takutnya kepada Allah Sang Khaliq. Dan ketakutannya itu menutup mata mereka, telinga mereka, hati mereka, terhadap kebenaran. Mereka terpuaskan dengan setetes “keadilan dan kebebasan” yang hampa meski harus mengorbankan samudra kebenaran (dimana keadilan dan kebebasan yang hakiki seharusnya mereka terima). Mereka adalah orang lemah yang paling menyesal di yaumil akhir, karena mengetahui kebenaran tapi tidak mengikutinya, mengetahui kedzaliman tapi tidak menolaknya, mengetahui kesesatan tapi diam, menunduk untuk tidak melihatnya, menoleh karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, tapi karena dibiarkan dirinya disebabkan ketakutannya itu akhirnya teraihlah mereka oleh kesesatan yang didiamkannya, sehingga terjerumuslah mereka secara tidak sengaja dalam kesesatannya itu, dan akhirnya mereka menikmatinya (dalam penindasannya).

Jadi pada dasarnya tetap sama, apakah disebabkan karena diawali keterpaksaan ataupun karena kecintaan atau mungkin karena kebodohan semuanya sama, sepanjang mereka mengikuti Thoghut tanpa penderitaan dan penyesalan yang sangat didalam hatinya, maka mereka adalah Para Pengikut Thoghut. Tiga Karakter Thoghut ini akan selalu ada di setiap masa, di setiap kaum, di setiap struktur, di setiap negara dan kerajaan, sepanjang sistem kepemimpinan tidak dijalankan oleh syariat-syariat Allah SWT. Dan Al Qur’an pun mengabadikannya, sejarah telah mencatatnya, dan hasil kedzaliman serta peradaban yang dibangun tidak lekang oleh waktu, artefak bahkan bangunan-bangunan pun tidak dimusnahkan oleh Allah, untuk menjadi bahan pelajaran dan peringatan bagi kita dan generasi mendatang. . Surah (40) Al-Mu’min ayat: 21 Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi, lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka itu adalah lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi [l320], maka Allah mengazab mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan mereka tidak mempunyai seorang pelindung dari azab Allah. [1320]

Maksudnya: bangunan, alat perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana. Mereka adalah Trilogi Kepemimpinan yang berbeda karakter tapi dalam satu sistem yang sama, sistem yang menolak eksistensi Allah dalam proses kepemimpinannya. Meskipun ketiganya selalu mencoba untuk saling mendominasi, terlihat seperti saling bertentangan, akan tetapi ketika berhadapan dengan eksistensi Allah, mereka seperti satu kesatuan yang bersenyawa, karena mereka pada dasarnya sama-sama memahami bahwa hanya Allah lah yang akan menghancurkan eksistensi mereka dalam kekuasaannya. Dan mereka adalah.. 1. Fir’aun dan Haman. Fir’aun menjadi Thoghut dengan strata di puncak sistem, dia adalah Raja, Kaisar, Presiden, Tzar, Sultan, Amir, Kepala Suku, dan berbagai sebutan lainnya di dunia. Pemegang Kekuasaan tertinggi, mereka adalah pemimpin dari rakyatnya, dia yang paling bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyatnya, yang menguasai dan menjalankan sistem yang sudah ditetapkan, mempunyai hak memerintah dan rakyatnya wajib mengikutinya. Dan Haman adalah tangan kanan dari Fir’aun, mereka adalah perpanjangan kekuasaan dari Fir’aun, Fir’aun tanpa Haman tidaklah mungkin menjadi penguasa atau mampu menjalankan kekuasaannya, mereka adalah pembantu setia yang siap mengejawantahkan setiap perintah Fir’aun. Mereka adalah Teknokrat, Mentri, Penasehat, Para Birokrat, Komandan Perang dan Kepolisian, Staff Ahli, dan berbagai sebutan lainnya. Fir’aun dan Haman adalah simbol kekuasaan sesungguhnya, keduanya berada dalam sistem yang sama dalam politik, mereka satu kesatuan dalam memerintah negaranya, dan Kedzaliman mereka adalah yang paling dirasakan oleh rakyat, Al Qur’an pun mengabadikannya : Surah (28) Al-Qashash ayat: 6 dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu 1114).  Fir’aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan dihancurkan oleh Bani Israil karena itu dia membunuh anak-anak laki-laki yang lahir dalam kalangan Bani Israil. Ayat ini menyatakan bahwa akan terjadi apa yang dikhawatirkannya itu. 2. Bal’am Siapakah Bal’am?; Bal’am yang nama lengkapnya adalah Bal’am bin Bau’rah, seorang “ulama” besar Bani Isra’il. Sebagai tokoh agama Bal’am memiliki ilmu yang luas dan dalam. Ia menjadi rujukan atas segala persoalan yang dihadapi ummat masa itu. Kesalehannya membuat seluruh do’anya didengar dan dikabulkan Allah. Ia juga memiliki pengikut dan murid-murid yang sangat banyak. Namanya masyhur diseluruh Mesir. Bal’am adalah sosok agamawan yang sangat ideal, memiliki integritas, bersih dan karena itu fatwanya selalu didengar. Disebabkan karena kepopulerannya sebagai “ulama”, Fir’aun bermaksud memanfa’atkannya. Bal’am diminta sang penguasa untuk mendo’akan Nabi Musa AS dan para pengikutnya agar mendapat kecelakaan. Sebagai imbalannya, Bal’am akan diberi harta yang berlimpah dan kedudukan yang tinggi. Para ahli sejarah menyebutkan, ternyata Bal’am jatuh pada kesesatan karena silau akan kilatan dunia. Bal’am seorang alim yang selalu membersihkan diri (tazkiyah al-nafs) akhirnya terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Al Qur’an pun mengabadikannya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.” [QS. Al-A’raf [7]: 175-176]. Bal’am yang seorang ulama (dari Bani Israil pula) mulai terusik ketika mimpi Fir’aun tentang akan datangnya Musa sebagai pengganggu kekuasaannya, sebagian dari ahli sejarah menyatakan bahwa Bal’am pulalah yang menta’wilkan mimpi Fir’aun, keterusikan Bal’am pada dasarnya adalah sama dengan Fir’aun, bahwa akan ada dari golongannya yang akan mengusik eksistensi dia sebagai ulama, pemimpin umat yang fatwanya selalu diikuti. Akan ada yang mengusik Fir’aun maka terusik pula kelancaran fasilitas yang diberikan Fir’aun untuknya. Perlu di ingat, sejak jaman Nabi Yusuf AS kedudukan Bani Israil di Mesir ditempatkan khusus oleh Fir’aun, dalam perkembangannya Bani Israil mendominasi kehidupan sosial di Mesir. Sehingga Fir’aun menjadikan Ulama Bani Israil selalu menjadi penasihat khusus termasuk meminta fatwa-fatwa yang pada akhirnya wajib diikuti oleh kalangan Bani Israil dan rakyat Mesir pada umumnya. Dan pada Akhirnya kedudukan khusus ini menjadi petaka bagi umat, ketika Fir’aun menghendaki kedzaliman maka sang pembuat fatwa wajib mengikutinya meski harus merubah ketetapan yang ditetapkan oleh Allah sebagai dasar pembuatan fatwa. Atau Fatwa yang muncul haruslah fatwa yang tidak menggoyahkan eksistensi kekuasaan. Sehingga selain merubah syariat, maka syariat yang haq dikuburkan sedalam-dalamnya kedalam kegelapan. Dalam struktur politik modern, Bal’am menjadi simbol bukan hanya bagi Ulama dan Mufti(Pembuat Fatwa Agama, bagi negara yang memisahkan agama dan politik), tapi termasuk struktur politik legislatif dan yudikatif, yang didalamnya diantaranya adalah Mahkamah/Kehakiman, Dewan, Senator, karena mereka adalah pembuat undang-undang, peraturan politik, dan para penjaga undang-undang bagi siapapun yang melanggar. Mereka di garis depan dalam membentuk sistem kekuasaan dan menjaganya agar penguasa Fir’aun langgeng berkuasa dalam kedzaliman. Dan berusaha agar rakyat yang dzalim tetap menikmati kedzalimannya. 3. Qorun; Qorun adalah penguasa informal, berkuasa karena kekayaannya. Menjadi Thoghut karena rela melakukan apa saja agar kekayaanya tetap terjaga, dan kedzalimannya terhadap rakyat yang diperas tenaga dan hartanya tidak diusik oleh siapapun, termasuk penguasa dan ulama. Dengan hartanya mereka menjadi penopang utama kekuasaan Fir’aun, dan dengan hartanya pula Bal’am tidak berani mengeluarkan fatwa dan undang-undang yang menghancurkan bisnis-bisnis haram yang didirikannya. Qorun adalah para konglomerat yang menggurita bisnisnya hingga rakyat nyaris tidak mampu hidup kecuali harus menopang dirinya terhadap mereka. Fir’aun tidak perduli dengan kondisi ini sepanjang aliran dana mengalir deras kedalam sistem kekuasaannya. Pelanggaran Syariat bagi Qorun bukanlah hal yang luar biasa, ketika kebenaran datang kepadanya dan akan merusak tatanan bisnis yang dibangunnya, serta merta Qorun akan mendustakannya, dengan bantuan Fir’aun sang penguasa, dan Bal’am sang pembuat Fatwa, kebenaran syariat Allah menjadi kalimat-kalimat yang tak bermakna, pembawa syariatnyapun seolah menjadi para pendusta. Surah (29) Al-‘Ankabuut ayat: 39 dan (juga) Qorun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). . Surah (40) Al-Mu’min ayat: 24 kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”. Trilogi Thoghut (Firaun+Haman – Bal’am – Qorun) ini berada di hadapan kita, Eksistensi mereka akan selalu dominan sepanjang rakyat mengikutinya, dengan iklas maupun terpaksa. Mereka adalah Andad (Tandingan) Allah karena eksistensinya menolak keberadaan Allah sebagai Penguasa Bumi melalui syariat-syariat yang dibawakan oleh para utusannya. Dan para pengikutnya menjadi satu paket dengan yang diikutinya, mereka menolak eksistensi kekuasaan Allah dalam sistem kehidupannya. Surah (2) Al-Baqarah ayat: 165-167 Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. Dan hanya orang-orang yang benar dalam keimanannya yang menolak eksistensi Thoghut, karena bagi mereka Allah lah sebenar-benarnya pemimpin, dan hanya syariat-syariatNyalah yang benar dan wajib diikutinya. Al Baqarah:256-257 Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah Thoghut, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Para Hamba Allah ini bukan hanya menolak Thoghut, tapi juga memeranginya. Begitu pula Thoghut dan hamba-hambanya, bukan hanya menolak eksistensi kekuasaan Allah, tapi juga memerangi para pengikutNya. An Nisa:76. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. Bagi para Thoghut, hamba Allah yang seperti inilah musuh yang nyata bagi mereka, Thoghut sangat hawatir terhadapnya karena mereka (Hamba Allah) tidak akan berhenti memerangi hingga Thoghut bersama sistem yang dibuatnya hancur dan berhenti membuat fitnah. Al Baqoroh:193. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. Al Anfal:39 Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah [611] dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah [612]. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. [611] Maksudnya: gangguan-gangguan terhadap umat Islam dan agama Islam. Dan jalannya Syariat Allah secara menyeluruh [612] Maksudnya: Menurut An-Nasafi dan Al-Maraghi, tegaknya agama Islam dan sirnanya agama-agama yang bat