Stigmatisasi NII (Negara Islam Indonesia) dan Bantahannya Selama peperangan NII (Negara Islam Indonesia) dengan RI (Republik Indonesia),

Stigmatisasi terhadap NII oleh RI telah berlangsung sejak awal peperangan. Dari mulai pemberian nama Gerombolan, DI yang disingkat Duruk Imah (Pembakar Rumah), Perampok, dll. membuat perjuangan suci TII menjauh dari dukungan umat islam yang masih taat pada RI. Paska peperangan selesai (1962) stigmatisasi terhadap NII tidaklah serta merta selesai, apalagi gerakan NII kemudian terdeteksi kembali mengkristal sejak 70-an awal. Maka propaganda serta fitnahpun disebar dengan melalui media resmi ataupun melalui antek-anteknya di kalangan bawah yang kontak langsung dengan rakyat. Tidak jarang hal ini membuat beberapa umat NII kembali murtad dan berkhianat, rakyat umum lebih membenci gerakan suci ini, dan beberapa harokah (gerakan islam) mulai melakukan konflik gerakan dan pemikiran dengan NII, meski pada hakekatnya tujuan gerakannya sama. Dan citra burukpun muncul kembali demi memisahkan Mujahidin TII dengan umat ataupun yang berpotensi menjadi sekutu (harokah islam lainnya). Dan hal yang paling buruk terjadi ketika fihak RI berhasil menyusupkan agen-agennya yang berbaju mujahid masuk ke barisan NII dan berusaha melakukan pembentukan citra buruk dan konflik baru yang bukan hanya antara NII dengan fihak luar, juga didalam tubuh NII sendiri. Dan dibawah ini gambaran-gambaran stigmatisasi yang berhasil dilakukan oleh fihak RI beserta bantahan-bantahan yang didasari oleh Qur’an, Hadis Rosulullah, Undang-undang/Hukum yang telah ditetapkan oleh negara (NII).

1. Ashobiyah

. .ليس منا من دعا إلى عصبية ، وليس منا من قاتل على عصبية ، وليس منا من مات على عصبي

” Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang mengajak kepada ashobiyah (fanatik golongan, suku, bangsa, kelompok dsb, pokoknya selain fanatik Islam). Dan bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang berperang atas dasar ashobiyah. Dan tidak termasuk golongan kami pula, siapa saja yang mati atas dasar ashobiyah.

Untuk lebih memastikan apakah NII bersifat ashobiyah (seperti gambaran hadis diatas) atau tidak, mari kita lihat hasil kongres para ulama dimana kongres tersebut merupakan cikal bakal berdirinya NII : Tanggal 12 dan 13 Februari 1948 merupakan tonggak perjuangan penegakan Kekholifahan (kedaulatan) kerajaan Alloh di mukabumi pasca tumbangnya kekhalifaan Turki Utsmani, dengan berkumpulnya kurang lebih 362 orang ulama di Cisayong yang di kenal dengan “ KONGRES CISAYONG” dan memutuskan 7 program perjuangan Jihad Fi Sabilillah sebagai manifestasi penegakkan dienul Islam. Adapun 7 program perjuangan tersebut adalah:

  1. Mendidik rayat agar cocok menjadi warga negara islam
  2. Memberikan penerangan bahwa Islam tidak bisa di menangkan dengan Flebisit/referendum/pemilu
  3. Membentuk daerah basis.
  4. Memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia .
  5. Memperkuat NII kedalam dan keluar, kedalam: Memberlakukan Hukum Islam dengan seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. keluar: Meneguhkan identitas internasionalnya,sehingga mampu berdiri swejajar dengan negara lain.
  6. Membanntu perjuangan muslim dinegara negara lain,sehingga mereka segera bisa melaksanakaan wajib sucinya,sebagai hamba Allah yang menegakan hukum Alloh di bumi Alloh.
  7. Bersama negara–negara Islam yang lain,membentuk Dewan Imamah Dunia untuk memilih seorang kholifah,dan tegaklah KHILAFAH di muka bumi.

Mari kita lebih cermat lagi melihat poin 6 dan 7. Dua poin ini sudah cukup membuktikan bahwa NII mempunyai target akhir tegaknya khilafah di muka bumi. Jadi salah besar jika mujahid TII berperang karena suku atau kelompok apalagi golongan. Mujahid TII berperang karena Allah demi tegaknya kembali kekhalifahan yang telah runtuh. Dan hanya untuk tegaknya Dienullah (syariat Islam) untuk lebih lengkap lagi mari kita lihat bagaimana teks Proklamasi NII yang menggambarkan NII adalah negara yang berlandaskan syariat Allah dan Rosulnya, bukan Negara Nasionalis (Ashobiyah) . P R O K L A M A S I B E R D I R I N Y A N E G A R A I S L A M I N D O N E S I A Bismillahirrohmanirrohim Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah Kami Ummat Islam bangsa Indonesia menyatakan berdirinya : N E G A R A I S L A M I N D O N E S I A Maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu ialah : H U K U M I S L A M Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Atas nama Ummat Islam bangsa Indonesia Imam Negara Islam Indonesia, (Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo) Madinah Indonesia, 12 Syawal 1368 H 7 Agustus 1949 M

2. Sebagai Sekte (Aliran Keagamaan)

Sekte atau aliran agama tertentu kerap sekali ditujukan oleh umat islam baik yang awam hingga aktifis harokah. Hal ini muncul terutama ketika beberapa kelompok dengan mengatas namakan NII (menyebar di daerah Garut, Jawa Barat) membuat syari’at/hukum dimana sebelum tegaknya Madinah Indonesia maka Sholat (secara ritual) belum dilaksanakan dengan hujah bahwa turunnya perintah sholat terjadi ketika Madinah sudah tegak. Kelompok lainnya yang dibawa oleh NII Al Zaitun (Abu Too/Panji Gumilang dipengaruhi oleh aliran Isa Bugis) malah menyatakan bahwa melaksanakan perintah Imam (melaksanakan aktifitas sebagai aparatur negara) itu sudah sholat, sehingga sholat dalam arti ritual sudah tidak usah dilaksanakan lagi. Pemahaman diatas tentang sholat tentunya sudah melanggar undang-undang NII (Straf Recht NII), kita lihat pasal tentang sholat didalam undang-undang NII : BAB IX Pasal 23 Murtad (Orang murtad, yaitu orang Islam yang mengganti ke-islamannya dengan I’tiqad (maksud,niat) atau dengan perkataan mengingkari iman sebagaimana keterangannya terdapat dalam kitab fiqh. Maka orang itu oleh Imam atau hakim wajib diperintah bertaubat, Kalau orang itu setelah diperintah tidak mau bertaubat, maka orang itu dijatuhi hukuman berat (dibunuh mati).

Pasal 24 Tarikush Sholah (Meninggalkan sholat). Siapa orang yang meninggalkan shalat dengan beri’tiqad tidak mewajibkan shalat,dijatuhi hukuman sebagaimana yang termaktub dalam pasal 23, ayat 1, 2, dan 3. Siapa yang sengaja meninggalkan shalat denagn beri’tiqad bahwa shalat itu tidak wajib, maka Imam wajib memerintahkan shalat. Kalau ia tidak mau menurut, ia dijatuhi hukuman berat (dibunuh mati). Orang yang meninggalkan shalat karena lupa atau tertidur, tidak ada hukumannya, hanya diwajibkan membayar shalatnya. Orang ‘abid (budak belia ) hukumannya hanya setengah hukuman orang merdeka.

Jelas sekali, bahwa cikal bakal pemahaman umat islam tentang NII sebagai aliran agama sesat karena beberapa oknum yang mengatas namakan NII membuat aktifitas yang melanggar Syariat Islam terutama tentang sholat terbantahkan dengan Straf Recht NII. Mengapa TII tidak mengeksekusi mati Panji Gumilang dkk. Jawabannya belum, hingga saatnya Madinah Indonesia tegak (program utama TII menegakan syariat islam di Bumi Allah).

3. Mengkafirkan Umat Islam diluar NII

Entah berawal dari mana bahwa NII terkenal mudah mengkafirkan umat islam lainnya yang tidak menjadi warga negara NII. Dan faktanya bahwa beberapa kelompok yang mengatasnamakan NII melakukannya, contoh NII Al Zaitun/KW IX palsu. Yang ironisnya mereka selalu berangkulan mesra dengan pejabat RI, bahkan peresmiannyapun (ponpes Al Zaitun) dilakukan oleh pejabat RI. Ketika jaman peperangan jelas (1949-1962/65), dimana NII mempunyai teritorial yang secara murni menjalankan Syariat Islam. Bahwa siapapun yang memerangi NII berarti memerangi Syariat Islam dan Dia yang membuat dan memerintahkan syariat tersebut dijalankan, sehingga mereka (siapapun itu, meski mengakui beragama islam) jelas dinyatakan Bughot/murtad/kafir.

QS. An Nisa:89;Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling [330], tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, [330] Diriwayatkan bahwa beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah SAW di Madinah. Lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa “demam Madinah”, karena itu mereka kembali kafir lalu mereka keluar dari Madinah. Kemudian mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa “demam Madinah”. Sahabat-sahabat berkata : “Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah ?” Sahabat-sahabat terbagi kepada dua golongan dalam hal ini. Yang sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sedang yang sebahagian lagi berpendapat bahwa mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini yang mencela kaum Muslimin karena menjadi dua golongan itu, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.

QS. An Nisa:91; Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

QS. An Nisa:97; Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri [342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, [342] Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu. Asbabun Nuzul : Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beberapa orang kaum muslimin ikut bersama orang-orang musyrik mendapat upah dari mereka dalam menghadapi Rasulullah saw. di perang Badar. Maka adakalanya datang anak panah yang dilepaskan hingga menimpa salah seorang di antara mereka dan menewaskannya, atau ia terkena pukulan hingga membawa ajalnya. Maka Allah pun menurunkan, “Sesungguhnya orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan aniaya terhadap diri mereka…sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 97) Ibnu Murdawaih mengetengahkan bahkan tidak lupa menyebutkan beberapa nama dalam riwayatnya, yaitu Qais bin Walid bin Mughirah, Abu Qais bin Fakihah bin Mughirah, Walid bin Utbah bin Rabi’ah, Amar bin Umayah bin Sufyan dan Ali bin Umayah bin Khalaf lalu diceritakannya peristiwa mereka bahwa mereka berangkat ke medan perang Badar. Dan tatkala melihat sedikitnya jumlah kaum muslimin, hati mereka pun dimasuki keragu-raguan, kata mereka, “Rupanya mereka tertipu oleh agama mereka.” Dan riwayat mereka ini pun berakhir dengan kematian, terbunuh, di perang Badar ini. Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dengan menambahkan kepada nama-nama tadi Harits bin Zam’ah bin Aswad dan Ash bin Munabbih bin Hajjaj. Thabrani mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada suatu kaum di Mekah yang telah masuk Islam. Tatkala Rasulullah saw. hijrah, mereka takut dan keberatan untuk pindah. Maka Allah pun menurunkan, ‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan aniaya terhadap diri mereka…’ sampai dengan firman-Nya, ‘….kecuali mereka yang tertindas.'” (Q.S. An-Nisa 97-98). Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir mengetengahkan dari Ibnu Abbas, katanya, “Ada suatu golongan di Mekah yang telah masuk Islam tetapi keislaman itu mereka sembunyikan. Maka di waktu perang Badar, mereka dipaksa keluar oleh orang-orang musyrik dan ikut mereka hingga sebagian di antara mereka mendapat kecelakaan. Kata kaum muslimin, ‘Mereka itu sebenarnya beragama Islam, tetapi dipaksa oleh musuh,’ lalu mereka mohonkan ampun buat mereka. Maka turunlah ayat, ‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat…sampai akhir ayat.’ (Q.S. An-Nisa 97). Ayat itu mereka tulis lalu mereka kirimkan kepada orang-orang Islam yang masih berada di Mekah dengan catatan bahwa tak ada maaf untuk mereka. Orang-orang yang di Mekah itu pun keluarlah dan pergi menuju Madinah, tetapi orang-orang musyrik menyusul dan mengancam mereka, hingga mereka pun kembali, maka turunlah ayat, ‘Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah lalu apabila ia disakiti di jalan Allah, maka dianggapnya fitnah manusia seperti siksa Allah.’ (Q.S. Al-Ankabut 10) Maka ayat itu ditulis oleh kaum muslimin dan mereka kirim ke Mekah, hingga mereka pun berduka-cita, kemudian turunlah pula ayat, ‘Kemudian sesungguhnya Tuhanmu pelindung terhadap orang-orang yang berhijrah setelah mereka menerima fitnah…sampai akhir ayat.’ (Q.S. An-Nahl 110.) Ayat itu pun mereka susulkan pula ke Mekah dan mendengar itu orang-orang Islam di Mekah berangkat kembali untuk hijrah. Tetapi orang-orang musyrik menyusul mereka, dan kesudahannya orang-orang yang lolos selamat, dan yang tidak menemui ajalnya. Dan diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir yang serupa dengan ini dari jalur yang banyak.” dan bagi yang lemah (tidak berhijrah karena sesuatu selain sebagai intelejen/infiltran) maka Allah menyatakan dalam Qur’an : An Nisa:98. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), An Nisa:99. mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.

Maka saat Darul Islam dan Darul Kufar secara real ada, tidak ada alasan bagi umat islam bangsa Indonesia tidak berhijarah dari RI ke NII, An Nisa:100. Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabun Nuzul : Ibnu Abu Hatim dan Abu Ya’la mengetengahkan dengan sanad yang cukup baik dari Ibnu Abbas, katanya, “Dhamrah bin Jundub keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Katanya kepada keluarganya, ‘Bawalah saya dan keluarkan dari bumi musyrik ini kepada Rasulullah saw.’ Kebetulan di tengah jalan, sebelum bertemu dengan Rasulullah ia meninggal dunia. Maka turunlah wahyu, ‘Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah…sampai akhir ayat.'” (Q.S. An-Nisa 100) Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Said bin Jubair dari Abu Dhamrah Ar-Rizqi yang ketika itu berada di Mekah, “Tatkala turun ayat, ‘…kecuali golongan yang lemah, baik laki-laki maupun wanita atau anak-anak yang tidak mampu berupaya…’ (Q.S. An-Nisa 98) maka katanya, ‘Saya ini mampu dan saya mempunyai upaya,’ lalu ia mengadakan persiapan untuk menemui Nabi saw. Tetapi di Tan`im ia menemui ajalnya. Maka turunlah ayat ini, ‘Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya…’ sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 100). Ibnu Jarir mengetengahkan seperti demikian dari beberapa jalur, yakni dari Said bin Jubair, Ikrimah, Qatadah, As-Saddiy, Dhahhak dan lain-lain. Pada sebagian disebutkan Dhamrah bin Aish atau Aish bin Dhamrah dan pada sebagian yang lain lagi, Jundab bin Dhamrah Al-Junda’i atau adh-Dhamri. Ada pula yang menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Dhamrah, seorang laki-laki dari Khuza’ah, seorang laki-laki dari Bani Laits, dari Bani Kinanah dan ada lagi dari Bani Bakr. Diketengahkan pula oleh Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat, yakni dari Yazid bin Abdillah bin Qisth bahwa Junda’ bin Dhamrah Adh-Dhamri berada di Mekah dan kemudian jatuh sakit. Maka katanya kepada putra-putranya, “Keluarkan saya dari Mekah ini, kerisauannya telah membunuh saya.” Jawab mereka, “Ke mana?” Maka diisyaratkannya dengan tangannya ke Madinah, maksudnya berhijrah lalu mereka membawanya keluar. Tatkala sampai di mata air Bani Ghaffar, ia pun wafat. Maka Allah pun menurunkan, “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah…sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 100) Ibnu Abu Hatim, Ibnu Mandah dan Barudi mengetengahkan dari golongan sahabat dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya bahwa Zubair bin Awwam mengatakan, “Khalid bin Haram berhijrah ke Habsyi, kebetulan dalam perjalanan ia dipatuk ular hingga wafat, maka turunlah ayat, ‘Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah…sampai akhir ayat.'” (Q.S. An-Nisa 100) Dalam buku Al-Maghazi Al-Umawi mengetengahkan dari Abdul Malik bin Umair, katanya, “Tatkala sampai ke telinga Aktsam bin Shaifi hijrahnya Nabi saw. ia pun bermaksud hendak menemuinya. Tetapi kaumnya berkeberatan untuk memanggilnya, maka kata Aktsam, ‘Carilah yang akan membawa pesan dari saya kepadanya, dan yang akan membawanya daripadanya kepada saya.’ Demikianlah tampil dua orang utusan, lalu mendatangi Nabi saw. Kata mereka, ‘Kami ini adalah utusan dari Aktsam Shaifi yang hendak menanyakan kepada Anda, siapakah Anda ini, tugas atau jabatan apakah yang Anda pegang, dan apa yang Anda bawa?’ Jawabnya, ‘Saya ini adalah Muhammad bin Abdullah, dan tugas saya ialah menjadi hamba Allah dan utusan-Nya.’ Kemudian dibacakan ayat yang artinya, ‘Sesungguhnya Allah menyuruh agar berlaku adil dan berbuat baik…sampai akhir ayat.’ (An-Nahl 90). Kedua utusan itu pun kembali kepada Aktsam lalu menceritakan apa yang mereka dengar. Kata Aktsam, ‘Manalah kaumku! Ternyata orang ini menyuruh kepada akhlak mulia dan melarang pekerti durjana. Maka hendaklah dalam urusan ini kalian menjadi kepala atau pemuka, dan janganlah menjadi ekor atau sekedar embel-embel belaka.’ Kemudian dinaikinya untanya hendak menuju Madinah, tetapi dalam perjalanan itu ajalnya sampai. Maka diturunkanlah di sini, ‘Dan barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud untuk berhijrah…sampai akhir ayat.” (Q.S. An-Nisa 100). Hadis ini mursal dan isnadnya lemah. Dan diketengahkan oleh Hatim dalam buku Al-Muammarain dari dua buah jalur dari Ibnu Abbas, bahwa ia ditanyai orang tentang ayat ini, maka jawabnya, “Ia diturunkan tentang Aktsam bin Shaifi.” Lalu ditanyakan orang, “Kalau begitu di mana Laitsi?” Jawabnya, “Ini pada saat sebelum Laitsi, dan ia dapat umum dan dapat pula khusus.” Didalam kitab undang-undang NII (strafrecht) :

Pasal 2 Hukum Islam dalam Masa Perang; Barang siapa tidak tunduk pada peraturan Pemerintah Negara Islam Indonesia adalah bughat. Barang siapa telah kedatangan dakwah ( penerangan ) dari Pemerintah Negara Islam Indonesia, kemudian ia baik ke sini, bagus ke sana, adalah munafik. Barang siapa yang mengaku menjadi Umat Islam,kemudian tidak menjalankan hukum-hukum syariat Islam, adalah fasik. Barang siapa yang menjadi alat penjajah (musuh) baik yang menjadi sipil, militer maupun hanya membantu saja (kecuali orang yang menjadi infiltrasi dari kita ) seperti mata-mata, adalah musuh negara. Di dalam masa perang dalam Negara Islam Indonesia, hanya ada dua golongan umat, ialah : Umat (rakyat) Negara Islam ( Umat Muslimin ) Umat ( rakyat) penjajah ( Umat Kafirin ).

Pasal 3 Penetapan Hukum; Barang siapa yang menjalankan yang tersebut dalam Bab I, pasal 2, ayat 1, setelah dakwah ( penerapan, ajakan ) telah sampai kepada mereka, dijatuhkan hukuman berat ( hukuman dibuang atau mati). Menurut Al-qur’an surat An-Nisa ayat 58. Barang siapa mengerjakan pertbuatan yang termaktub dalam Bab I, pasal 2, ayat 2 dijatuhi hukuman berat ( mati ). Menurut Al-qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 1, dan surat At-Taubah ayat 73,surat AT-tahrim ayat 9. Barang siapa yang menjalankan yang termaktub dalam Bab I, pasal 2 ,ayat 3, dijatuhi hukuman diperintah taubat ( disuruh menjalankan agama yang sempurna ). Apabila ia tidak mau tunduk, dijatuhi hukuman : musuh Islam . Barang siapa mengerjakan pekerjaan tersebut dalam Bab I, pasal 2, ayat 4 hukumannya dibagi menjadi dua: a. Orang yang membantu penjajah (musuh ) ,seperti Recomba atau sebagainya, ia harus diperiksa apabila ia tidak menguntungkan kepada Negara Islam Indonesia, hukumannya harus disuruh keluar dari pekerjaannya. Apabila ia tak menguntungkan kepada Negara Islam Indonesia dan tak mau keluar dari pekrjannya (tak mau meninggalkan pekerjaannya), ia dijatuhi hukuman : menjadi musuh negara. b. Orang yang menjadi mata-mata (militer penjajah ,musuh ), dijatuhi hukuman berat : dibunuh mati.Menurut surat An-nisa ayat 89.

Akan tetapi setelah kekalahan perang dimana Darul Islam (Daerah Basis) telah dijajah oleh RI, maka belumlah layak undang-undang NII di jalankan secara terbuka (kecuali hanya untuk mujahid TII), sehingga pendusta bagi yang masih menjalankan dan menuduh/memfitnah warga NII jika ada umat islam bangsa Indonesia menyatakan bahwa warga NII mengkafirkan umat islam lainnya. Kecuali umat islam yang terjerat hukum Allah, dan Allah lah yang mengkafirkan mereka (bukan NII) dalam surat Al Maidah:44. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Asbabun Nuzul : Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis demikian pula Imam Muslim dan selain mereka berdua ada juga dari jalur Barra bin Azib. Ia berkata, “Pada suatu hari lewat di hadapan Nabi saw. seorang Yahudi yang dalam keadaan dicorengi dengan arang dan didera. Kemudian Nabi saw. memanggil mereka, dan bersabda kepada mereka, ‘Apakah memang demikian kamu jumpai dalam kitabmu mengenai hukuman pelaku zina?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau memanggil orang yang paling alim (ulama) di antara mereka dan bersabda kepadanya, ‘Aku mohon atas nama Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa a.s. apakah memang demikian kamu jumpai dalam kitabmu mengenai hukuman bagi pelaku zina?’ Orang alim itu menjawab, ‘Demi Allah! Sebenarnya tidak demikian, seandainya engkau tidak menganjurkan kepada diriku supaya mengemukakan yang sebenarnya niscaya aku tidak akan menceritakannya kepadamu. Sebenarnya engkau dapat menemukan hukuman rajam bagi pelaku zina di dalam kitab kami. Akan tetapi setelah banyak para pelaku zina dari kalangan orang-orang kami yang terhormat, hukuman itu kami batalkan, apabila ada seseorang yang lemah dari kalangan kami melakukannya, maka kami tegakkan hukuman had itu atasnya. Setelah itu kami sepakat untuk membuat suatu hukum yang dapat ditegakkan terhadap orang yang mulia dan hina. Akhirnya kami sepakat untuk menetapkan hukuman pencorengan dengan arang dan dera bagi pelaku zina.’ Setelah itu Nabi saw. bersabda, ‘Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah orang pertama yang kembali menghidupkan perintah-Mu setelah mereka (kaum Ahli Kitab) matikan.’ Kemudian beliau memerintahkannya agar dihukum rajam. Setelah itu lalu turunlah ayat, ‘Hai Rasul! Janganlah engkau dibuat sedih oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya…’ (Q.S. Al-Maidah 41) sampai dengan firman-Nya, ‘Jika kamu diberi ini (yang sudah diubah-ubah oleh mereka), maka terimalah…’ (Q.S. Al-Maidah 41). Mereka mengatakan, ‘Datanglah kamu sekalian kepada Muhammad, jika ia memberi fatwa kepadamu dengan hukuman pencorengan dengan arang dan hukuman dera (bagi pelaku zina), maka turutilah kehendaknya olehmu. Dan jika memberi fatwa kepadamu agar kamu menegakkan hukuman rajam, maka hati-hatilah kamu.’ Ayat di atas berkaitan dengan ayat-ayat sesudahnya sampai dengan firman-Nya, ‘Barangsiapa yang tidak menghukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang zalim.'” (Q.S. Al-Maidah 45).

4. Penguras Uang Rakyat

QS. Ali Imron:134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Berinfaq adalah kewajiban bagi setiap muslim baik dalam kondisi lapang atau sempit.

Banyak ayat maupun hadis menggambarkan tentang itu, labih tegas lagi belum beriman seorang muslim jika dia tidak menyisihkan hartanya di jalan Allah. Seberapa jumlah yang harus disisihkan maka Allah tidak memberi batasannya (kecuai dalam bentuk zakat ada aturannya tersendiri), dan kepada siapa seharusnya hartanya disisihkan Allah memberikan aturannya tersendiri pula. Bagi yang tidak melakukannya atau bahkan melakukannya dengan enggan, Allah menyatakan kepada mereka sebagai orang yang telah mengingkariNya : QS. at-Taubah (9) : 54 Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.

Rosulullah menggambarkan bagi mereka yang berinfaq dan yang tidak seperti gambaran dalam hadis dibawah ini: Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Setiap hari, di mana para hamba memasuki waktu pagi, pasti ada dua malaikat yang turun. Satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak”, dan yang satu lagi berdoa: “Ya Allah, berikanlah kemusnahan (kerugian) kepada orang yang enggan berinfak” Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim : 1678

Maka kerugian besarlah bagi seorang muslim jika tidak menyisihkan hartanya untuk orang lain. Dan dalam kondisi Revolusi dimana Islam sedang diperjuangkan oleh para Mujahid untuk dimenangkan, Infaq lebih utama untuk disalurkan kepada perjuangan tersebut, baik personalnya maupun lembaga yang menjalankannya (jihad). Al Baqarah:273. (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.

Tentunya Infaq di jalan Allah tidak akan menjadikan si pemberi menjadi miskin dan sempit, malah sebaliknya Allah akan membalasnya di dunia dan akhirat. QS. al-Baqarah (2) : 261 Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: Seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui. QS. at-Taubah (9) : 121 Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Dalam kondisi Revolusi (Jihad), infaq dalam Hijrah dan Jihad menjadi sebuah paket kemenangan disisi Allah, karena keduanya memang memerlukan harta/biaya dalam merealisasikannnya: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan,QS. at-Taubah (9) : 20.  Bagi warga negara NII, berinfaq fii sabilillah untuk jihad adalah hal yang biasa. Baik bagi mereka yang melimpah rizkinya maupun yang fakir, mereka berinfaq karena keiklasannya kepada Allah SWT demi mendapatkan ridhoNya. Akan tetapi agen intelegen RI yang bernama Abu Toto (Panji Gumilang) menjadikan sedikit huru-hara yang mengakibatkan fitnah baik di dalam tubuh NII (sebelum ke agen an nya terungkap) maupun rakyat RI yang pada dasarnya meragukan aktifitas Jihad TII. Panji Gumilang (pendiri NII al Zaytun) yang haus kekuasaan dan kemewahan berhasil meyakinkan para aparatnya untuk melakukan penarikan dana besar-besaran untuk membiayai istananya di Indramayu (ponpes Al Zaytun) dan segala akomodasi lembaganya (NII boneka RI). Berbagai cara dari mulai biaya baiat Hijrah, Qirodh, Infaq taubat, dll dengan jumlah dan aturan diluar syariat, betul-betul menguras harta umat. Hal ini menjadi masalah besar ketika terdapat umat yang belum memahami betul tentang hakikat infaq menjadi terkuras hartanya kemudian keluar dari jama’ah dan menyampaikan keteledoran ini kepada aparat maupun rakyat RI yang memang membenci perjuangan islam, maka munculah stigma bahwa NII (secara global) sebagai lembaga penguras uang umat, dan hanya infaq yang menjadi arahan perjuangannya. Akan tetapi kemudian Allah memperlihatkan siapa yang benar-benar di jalan Allah dan siapa yang munafik. Sedikit demi sedikit terungkaplah siapa Panji Gumilang yang sebenarnya. Meski masih banyak umat yang merasa dirinya berada dalam rel yang benar (NII) padahal terkena tipu daya oleh para aparat al Zaytun, semoga Allah tetap membalas amalan-amalan infaq mereka, dan menjadikannya (aparat Al Zaytun) bertaubat di jalan Allah, kembali kepada lembaga yang sebenar-benarnya (NII).

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Seseorang berkata, ‘Sungguh saya akan bersedekah dengan suatu sedekah.’ Lalu, ia mengeluarkan sedekahnya, dan sedekah itu diberikan ke tangan seorang pencuri. Maka, orang-orang memperbincangkannya, ‘Pencuri diberi sedekah.’ Ia mengucapkan, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu,[8] sungguh saya akan bersedekah.’ Lalu, sedekah itu diberikan kepada wanita pezina. Maka, sedekahnya itu menjadi pembicaraan, ‘Tadi malam wanita pezina diberi sedekah.’ Lalu, ia mengucapkan, ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah itu jatuh ke tangan wanita pezina. Sungguh saya akan bersedekah.’ Lalu, ia mengeluarkan sedekahnya, dan sedekah itu diberikan kepada orang kaya. Kemudian hal itu menjadi pembicaraan orang banyak, ‘Orang kaya diberi sedekah.’ Lalu, ia mengatakan, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji, sedekah itu jatuh ke tangan pencuri, pezina (pelacur), dan orang kaya.’ Ia didatangi (malaikat dalam mimpi) dan dikatakan kepadanya, ‘Adapun sedekahmu kepada pencuri mudah-mudahan ia menjaga diri dari mencuri. Adapun pezina semoga dia menjaga diri dari zinanya. Adapun orang kaya, semoga ia mengambil pelajaran. Lalu, ia menginfakkan terhadap apa yang telah diberikan kepadanya.'” [8] Yakni: bukan bagiku. Karena sedekahku jatuh ke tangan orang yang tidak berhak menerimanya, maka segala puji adalah bagi-Mu. Karena, hal itu terjadi atas kehendak-Mu, bukan atas kehendakku. Karena iradah (kehendak) Allah itu semuanya bagus. (Fahtul Bari)

5. Bughot/Pemberontak

Pada tahun 1950-an Soekarno memanggil ormas islam (baca; Nahdlotul Oelama/NO) untuk membicarakan cara pemberantasannya. tempatnya di Cipanas, Puncak, Bogor. Wal hasil berdasarkan uji kelayakan yg dilakukan oleh ulama dari NO dihasilkan keputusan Soekarno diangkat sebagai waliyul Amri ad doruri bisyaukah. sebab dengan status Soekarno sebagai waliyul amri, aksi yg dilakukan Kartosuwiryo adalah Bughot. untuk memperkuat legitimasi Soekarno sebagai waliyul Amri dibuatlah masjid dilingkungan istana (maaf saya belum tau masjid di istana mana yg dimaksud).

Menurut buku : Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama Penulis : Ali Maschan Moesa Penerbit : LKiS Yogyakarta Cetakan : 1, November 2007 (dari resensi buku, lihat link: http://gp-ansor.org/resensi-buku/4536-042008.html) Sebagai bukti bahwa kiai sangat konsisten menjaga nasionalisme pada masa pra-kemerdekaan adalah mereka bersikap non-kooperatif terhadap penjajah, menolak perintah Belanda untuk masuk Staat Van Orloog & Belg (SOB), sebuah instruksi yang mirip dengan wajib militer, gigih melakukan perlawanan terhadap penjajah, bahkan mengharamkan umat Islam memakai celana dan dasi karena menyerupai tradisi orang Belanda, dan ikut serta dalam perumusan Piagam Jakarta dan Pancasila yang direpresentasikan oleh KH A Wahid Hasyim. Pasca kemedekaan, konsistensi menjaga nasionalisme dibuktikan dengan mengeluarkan fatwa jihad pada 22 Oktober 1945 untuk melawan Belanda dan Sekutu, konsisten dengan bentuk Negara Pancasila sehingga memandang Negara Islam ( daru al-Islam ) sebagai tidak sah, dan Kartosuwiryo dinyatakan sebagai pemberontak (bughot), dan bahkan penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi semua ormas diputuskan dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Situbodo (hal. 244). Selain pernyataan diatas (keduanya berbasis NU/Nahdlatul Ulama) beberapa kelompok harokah dan Organisasi barbasis islam mempunyai pandangan yang sama. Bahwa NII (SM Kartosuwijo) adalah Boghot. Kenapa yang dipermasalahkan adalah statement dari Ormas Islam, karena hal ini akan besar pengaruhnya terhadap konflik rumit antar pejuang/aktifis/mujahid yang pada dasarnya sama-sama memperjuangkan Islam di Bumi Allah ini. Kita tidak usahlah mempermasalahkan statement dari kaum Nasionalis, Sosialis, Yahudi, Naserani, Komunis, dll yang tidak berbasis Islam, karena baik pemimpin dan pengikutnya (meski beragama Islam) sudah jelas pandangannya berdasarkan Qur’an ataupun Sunnah Rosulullah. Tapi bagi Ormas Islam, hal ini akan menjadi permasalahan besar jika terjadi konflik yang akhirnya menguntungkan musuh Allah. Maka lebih jelasnya akan di terangkan dengan terperinci hingga umat tidak menjadi bingung dalam memposisikan diri, juga kepada para pimpinan Ormas/Harokah agar lebih faham dalam memposisikan diri dan NII dalam pandangannya. Apa yang dimaksud dengan Bughot? bughat memiliki beragam definisi dalam berbagai mazhab fiqih, meskipun berdekatan maknanya atau ada unsur kesamaannya.

Berikut ini definisi-definisi bughat yang dihimpun oleh Abdul Qadir Audah (1996:673-674), dalam kitabnya التشريع الجنائي الإسلامي ) At-Tasyri’ Al-Jina`i Al-Islamiy)

1). Menurut Ulama Hanafiyah. .. البَغْيُ … الخُرُوْجُ عَنْ طَاعَةِ إِمَاِم الْحَقِّ ِبغَيِْر حَقِّ , وَ الْبَاِغيْ … الْخَاِرجُ عَنْ طَاعَةِ ِإمَاِم الْحَقِّ بِغَيِْر حَقٍِّ ( حاسية ابن عابدين ج: 3 ص: 426 – شرح فتح القدير ج: 4 ص: 48 ) “Al-Baghy[u] (pemberontakan) adalah keluar dari ketaatan kepada imam (khalifah) yang haq (sah) dengan tanpa [alasan] haq. Dan al-baaghi (bentuk tunggal bughat) adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada imam yang haq dengan tanpa haq.” (Hasyiyah Ibnu Abidin, III/426; Syarah Fathul Qadir, IV/48).

2). Menurut Ulama Malikiyah … الْبَغْيُ … اْلِإمِْتنَاعُ عَنْ طَاعَةِ مَنْ ثَبَتَتْ إِمَامَتُهُ ِفيْ غَيِْر مَعِْصيَةٍ ِبمُغَالَبَتِهِ وَلَوْ تَأِْويْلًا … … البغاة … فرقة من المسلمين خالفت الإمام الأعظم أو نائبه لمنع حق وجب عليها أو لخلفه ( شرح الزرقاني و حاشية الشيبان ص: 60) “Al-Baghy[u] adalah mencegah diri untuk mentaati orang yang telah sah menjadi imam (khalifah) dalam perkara bukan maksiat dengan menggunakan kekuatan fisik (mughalabah) walaupun karena alasan ta`wil (penafsiran agama)… Dan bughat adalah kelompok (firqah) dari kaum muslimin yang menyalahi imam a’zham (khalifah) atau wakilnya, untuk mencegah hak (imam) yang wajib mereka tunaikan, atau untuk menggantikannya.” (Hasyiyah Az-Zarqani wa Hasyiyah Asy-Syaibani, hal. 60).

3) Menurut Ulama Syafi’iyah … البغاة … المسلمون مخالفو الإمام بخروج عليه و ترك الانقياد له أو منع حق توجه عليهم بشرط شوكة لهم و تأويل و مطاع فيهم ( نهاية المحتاج ج: 8 ص: 382 ؛ المهذب ج: 2 ص: 217 ؛ كفاية الأخيار ج: 2 ص: 197 – 198 ؛ فتح الوهاب ج: 2 ص: 153 ) “Bughat adalah kaum muslimin yang menyalahi imam dengan jalan memberontak kepadanya, tidak mentaatinya, atau mencegah hak yang yang seharusnya wajib mereka tunaikan (kepada imam), dengan syarat mereka mempunyai kekuatan (syaukah), ta`wil, dan pemimpin yang ditaati (muthaa’) dalam kelompok tersebut.” (Nihayatul Muhtaj, VIII/382; Al-Muhadzdzab, II/217; Kifayatul Akhyar, II/197-198; Fathul Wahhab, II/153). … هم الخارجون عن طاعة بتأويل فاسد لا يقطع بفساده إن كان لهم شوكة بكثرة أو قوة و فيهم مطاع ( أسنى المطالب ج: 4 ص: 111 ) “Bughat adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan dengan ta`wil yang fasid (keliru), yang tidak bisa dipastikan kefasidannya, jika mereka mempunyai kekuatan (syaukah), karena jumlahnya yang banyak atau adanya kekuatan, dan di antara mereka ada pemimpin yang ditaati.” (Asna Al-Mathalib, IV/111).

Jadi menurut ulama Syafi’iyah, bughat itu adalah pemberontakan dari suatu kelompok orang (jama’ah), yang mempunyai kekuatan (syaukah) dan pemimpin yang ditaati (muthaa’), dengan ta`wil yang fasid. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sesuatu kelompok dikatagorikan Bughot adalah : 1. Sebuah kelompok/jama’ah yang mempunyai pemimpin. 2. Mempunyai kekuatan (Materi dan Peralatan juga secara Politis) 3. Memberontak dari Pemimpin yang adil (Imam negara Islam, Khalifah/Kekhalifahan).

Dan bagaimana gambaran untuk negara yang bernama Republik Indonesia? mari kita simak catatan dibawah ini : Firman Allah Ta’ala : أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ  “Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari. Dan siapakah yang lebih baik hukumnya dari Allah bagi kaum yang yakin?” [QS. Al Maidah :50].

Allah Azza Wa Jalla menyebutkan hukum jahiliyah yaitu perundang-undangan dan sistem jahiliyah sebagai lawan dari hukum Allah, yaitu syari’at dan sistem Allah. Jika syari’at Allah adalah apa yang dibawa oleh Al Qur’an dan As Sunah, maka apalagi hukum jahiliyah itu kalau bukan perundang-undangan yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunah?. Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengatakan, “Perhatikanlah ayat yang mulia ini, bagaimana ia menunjukkan bahwa hukum itu hanya ada dua saja. Selain hukum Allah, yang ada hanyalah hukum Jahiliyah. Dengan demikian jelas, para penetap undang-undang merupakan kelompok orang-orang jahiliyah; baik mereka mau (mengakuinya) ataupun tidak. Bahkan mereka lebih jelek dan lebih berdusta dari pengikut jahillliyah. Orang-orang jahiliyah tidak melakukan kontradiksi dalam ucapan mereka, sementara para penetap undang-undang ini menyatakan beriman dengan apa yang dibawa Rasulullah namun mereka mau mencari celah. Allah telah berfirman mengenai orang-orang seperti mereka: “Mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya dan Kami siapkan bagi orang-orang kafir adzab yang menghinakan.” (Risalatu tahkimil qawanin hal. 11-12)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: ينكر تعالى على من خرج عن حكم الله المُحْكَم المشتمل على كل خير، الناهي عن كل شر وعدل إلى ما سواه من الآراء والأهواء والاصطلاحات، التي وضعها الرجال بلا مستند من شريعة الله، كما كان أهل الجاهلية يحكمون به من الضلالات والجهالات، مما يضعونها بآرائهم وأهوائهم، وكما يحكم به التتار من السياسات الملكية المأخوذة عن ملكهم جنكزخان، الذي وضع لهم اليَساق وهو عبارة عن كتاب مجموع من أحكام قد اقتبسها عن شرائع شتى، من اليهودية والنصرانية والملة الإسلامية، وفيها كثير من الأحكام أخذها من مجرد نظره وهواه، فصارت في بنيه شرعًا متبعًا، يقدمونها على الحكم بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم. ومن فعل ذلك منهم فهو كافر يجب قتاله، حتى يرجع إلى حكم الله ورسوله [صلى الله عليه وسلم] فلا يحكم سواه في قليل ولا كثير

Allah mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah yang muhkam yang memuat segala kebaikan dan melarang segala kerusakan, kemudian malah berpaling kepada hukum lain yang berupa pendapat-pemdapat, hawa nafsu dan istilah-istilah yang dibuat oleh para tokoh penguasa tanpa bersandar kepada syariah Allah. Sebagaimana orang-orang pengikut jahiliyah bangsa Tartar memberlakukan hukum ini yang berasal dari sistem perundang-undangan raja mereka, Jengish Khan. Jengish Khan membuat undang-undang yang ia sebut Ilyasiq, yaitu sekumpulan peraturan perundang-undangan yang diambil dari banyak sumber, seperti sumber-sumber Yahudi, Nasrani, Islam dan lain sebagainya. Di dalamnya juga banyak terdapat hukum-hukum yang murni berasal dari pikiran dan hawa nafsunya semata. Hukum ini menjadi undang-undang yang diikuti oleh keturunan Jengis Khan, mereka mendahulukan undang-undang ini atas berhukum kepada Al Qur’an dan As Sunah . Barang siapa berbuat demikian maka ia telah kafir, wajib diperangi sampai ia kembali berhukum kepada hukum Allah dan Rasul-nya, sehingga tidak berhukum dengan selainnya baik dalam masalah yang banyak mau pun sedikit.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/131)

Tidak ada perbedaan antara Tartar dengan para penguasa kita hari ini, justru para penguasa kita hari ini lebih parah dari bangsa Tartar, sebagaimana disebutkan melalui komentar ‘Alamah Syaikh Ahmad Syakir atas perkataan Al Hafidz Ibnu Katsir di atas. “Apakah kalian tidak melihat pensifatan yang kuat dari Al Hafidz Ibnu Katsir pada abad kedelapan hijriyah terhadap undang-undang postif yang ditetapkan oleh musuh Islam Jengish Khan? Bukankah kalian melihatnya mensifati kondisi umat Islam pada abad empat belas hijriyah? Kecuali satu perbedaan saja yang kami nyatakan tadi ; hukum Ilyasiq hanya terjadi pada sebuah generasi penguasa yang menyelusup dalam umat Islam dan segera hilang pengaruhnya. Namun kondisi kaum muslimin saat ini lebih buruk dan lebih dzalim dari mereka karena kebanyakan umat Islam hari ini telah masuk dalam hukum yang menyelisihi syariah Islam ini, sebuah hukum yang paling menyerupai Ilyasiq yang ditetapkan oleh seorang laki-laki kafir yang telah jelas kekafirannya….Sesungguhnya urusan hukum positif ini telah jelas layaknya matahari di siang bolong, yaitu kufur yang nyata tak ada yang tersembunyi di dalamnya dan tak ada yang membingungkan. Tidak ada udzur bagi siapa pun yang mengaku dirinya muslim dalam berbuat dengannya, atau tunduk kepadanya atau mengakuinya. Maka berhati-hatilah, setiap individu menjadi pengawas atas dirinya sendiri.” (Umdatu Tafsir IV/173-174)

Ketika berhukum dengan Ilyasiq bangsa Tatar sudah masuk Islam. Tetapi ketika mereka berhukum dengan Ilyasiq ini dan mendahulukannya atas kitabullah dan sunah Rasul-Nya, para ulama mengkafirkan mereka dan mewajibkan memerangi mereka. Dalam Al Bidayah wa Nihayah XIII/360, Ibnu Katsir berkata tentang peristiwa tahun 694 H, “Pada tahun itu kaisar Tartar Qazan bin Arghun bin Abgha Khan Tuli bin Jengis Khan masuk Islam dan menampakkan keislamannya melalui tangan amir Tuzon rahimahullah. Bangsa Tartar atau mayoritas rakyatnya masuk Islam, kaisar Qazan menaburkan emas, perak dan permata pada hari ia menyatakan masuk Islam. Ia berganti nama Mahmud…” Beliau juga mengatakan dalam Bidayah wa Nihayah, “Terjadi perdebatan tentang mekanisme memerangi bangsa Tartar, karena mereka menampakkan keislaman dan tidak termasuk pemberontak. Mereka bukanlah orang-orang yang menyatakan tunduk kepada imam sebelum itu lalu berkhianat. Maka Syaikh Taqiyudin Ibnu Taimiyah berkata, “Mereka termasuk jenis Khawarij yang keluar dari Ali dan Mu’awiyah dan melihat diri mereka lebih berhak memimpin. Mereka mengira lebih berhak menegakkan dien dari kaum muslimin lainnya dan mereka mencela kaum muslimin yang terjatuh dalam kemaksiatan dan kedzaliman, padahal mereka sendiri melakukan suatu hal yang dosanya lebih besar berlipat kali dari kemaksiatan umat Islam lainnya.” Maka para ulama dan masyarakat memahami sebab harus memerangi bangsa Tartar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan kepada masyarakat, “Jika kalian melihatku bersama mereka sementara di atas kepalaku ada mushaf, maka bunuhlah aku.” (Al Bidayah wan Nihayah XIV/25, lihat juga Majmu’ Fatawa XXVIII/501-502, XXVIII/509 dst)

Maksud dari disebutkannya peringatan ini adalah menerangkan tidak benarnya alasan orang yang mengatakan para penguasa hari ini menampakkan Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat sehingga tidak boleh memerangi mereka. Bangsa Tartar juga demikian halnya, namun hal itu tidak menghalangi seluruh ulama untuk menyatakan kekafiran mereka dan wajibnya memerangi mereka, disebabkan karena mereka berhukum dengan Ilyasiq yang merupakan undang-undang yang paling mirip dengan undang-undang positif yang hari ini menguasai mayoritas negeri-negeri umat Islam. Karena itu, Syaikh Ahmad Syakir menyebut undang-undang ini dengan istilah Ilyasiq kontemporer, sebagaimana beliau sebutkan dalam Umdatu tafsir. Telah menjadi ijma’ ulama bahwa menetapkan undang-undang selain hukum Allah dan berhukum kepada undang-undang tersebut merupakan kafir akbar yang mengeluarkan dari milah.

Ibnu Katsir berkata setelah menukil perkataan imam Al Juwaini tentang Ilyasiq yang menjadi undang-undang bangsa Tatar : “Barang siapa meninggalkan syari’at yang telah muhkam yang diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah penutup seluruh nabi dan berhukum kepada syari’at-syari’at lainnya yang telah mansukh (dihapus oleh Islam), maka ia telah kafir. Lantas bagaimana dengan orang yang berhukum kepada Alyasiq dan mendahulukannya atas syariat Allah? Siapa melakukan hal itu berarti telah kafir menurut ijma’ kaum muslimin.” (Al Bidayah wan Nihayah XIII/128).

Jadi jelas dalam keterangan diatas bahwa Republik Indonesia berhukum Jahiliyah, dan bagaimana mungkin Kartosuwirjo sebagai Imam Negara Islam Indonesia yang berhukum kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah disebut Bughot dalam perjuangannya (jihadnya) Dari sudut hukum positif internasionalpun pernyataan pemberontakan sangat jauh panggang dari api, mari kita simak kronologis berdirinya NII. – Sikap Hijrah PSII Pada tahun 1936 SM Kartosuwirjo yang saat itu sebagai Vice-President PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia) diserahi tugas oleh majelis partai untuk membuat konsep haluan politik partai ke depan. Maka SM Kartosuwirjo dengan mencontoh pola gerakan politik Rosulullah SAW membentuk konsep gerakan politik islam melalui tulisannya yang terbagi dalam 3 bagian: 1. Sikap Hijrah PSII I, yang didalamnya terdapat sejarah bagaimana Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dalam menegakan Islam. 2. Sikap Hijrah PSII II, yang didalamnya menyimpulkan tulisan pertama. 3. Daftar Oesaha Hijrah, yang didalamnya merupakan tafsir dari dua tulisan sebelumnya, serta memasukan konsep hijrah sebagai manifesto politik real.

3 tulisan ini pada dasarnya merupakan konsep awal dari SM Kartosuwirjo dalam mendirikan Negara Islam Indonesia, dimana saat itu para politikus (termasuk Soekarno) belum terpikirkan seperti apa negara di Indonesia ini harus dibentuk (Konsep negara baru dibicarakan secara serius hanya pada saat Jepang membentuk BPUPKI), meski bahasa-bahasa tentang Indonesia merdeka sudah mereka dengungkan. – Membentuk Majelis Shuffah Pada Tahun 1939 melalui kebijaksanaan Partai SM Kartosuwirjo membentuk lembaga Shuffah PSII untuk menjadi lembaga pengkaderan, yang kemudian setelah terjadi perpecahan dalam tubuh PSII lembaga tersebut berubah nama menjadi Institut Shuffah pada tahun 1940, dan pada saat Jepang datang ke Indonesia yang kemudian membentuk lembaga pelatihan militer (untuk membantu Jepang dalam peperangannya dengan Sekutu) maka pada saat Masyumi menyambutnya dengan membentuk dua laskar islam (Hizbullah dan Sabilillah) maka Institut Shuffah bukan hanya melakukan pengkaderan politik, juga menjadi lembaga I’dad (pelatihan militer) sebuah momen yang dipergunakan oleh SM Kartosuwirjo dalam mempersiapkan barisan militer seandainya nanti Negara Islam terbentuk. – Pertemuan para ulama di Cisayong, Membentuk Majelis Islam (persiapan berdirinya NII) Setelah melihat perjalanan politik RI semakin tidak jelas (bahwa RI sudah dipastikan tidak akan menegakan Syariat Allah) maka ratusan ulama terutama di Jawa bagian barat berkumpul untuk membentuk sebuah majelis yang ber orientasi kepada pembentukan sebuah Negara ber syariat Islam. Dan hasil dari majelis tersebut diantaranya adalah untuk sesegera mungkin mempersiapkan sebuah Negara Islam sebelum kemudian menegakan kembali keKhalifahan yang sudah tenggelam di telan bumi. (selengkapnya dapat disimak kembali dalam poin 1. Ashobiyah) – Proklamasi NII (diatas tanah tak bertuan) Setelah RI mulai lemah dalam mentalitas politiknya dihadapan penjajah Belanda, maka pada perjanjian RI-Belanda diatas kapal Amerika USS Renville, 17 Januari 1948 RI menandatangani perjanjian dimana salah satu isinya bahwa wilayah teritorial RI tinggal sebatas Jogja. Sehingga seluruh komponen baik politik maupun militer harus keluar dari daerah yang dikuasainya untuk masuk hanya ke daerah Jogja saja. Sehingga otomatis daerah selain itu menjadi sebuah wilayah tak bertuan, tidak ada satu negara pun yang mengakui teritorial tersebut. Termasuk Belanda. Maka Allah SWT memberikan berkah dan karunia kepada Umat Islam Bangsa Indonesia, karena kesempatan emas ini.

Sesudah pertemuan para ulama 1 bulan setelah perjanjian Renville, 1 tahun kemudian pada 7 Agustus 1949 di Proklamasikanlah Negara Islam Indonesia, yang secara De Facto dan De Jure berdiri diatas tanah tak bertuan, diatas wilayah teritorial yang disana tidak ada satu negarapun mengaku sebagai wilayahnya. Dan dengan serta merta seluruh Umat Islam di wilayah tersebut (yang Taat kepada Allah dan Rosulnya) ber baiat untuk menjadi rakyatnya, dan siap dihukumi oleh Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah, sedangkan orang munafik dan yang masih hubudunia (cinta dunia) mereka lebih baik menyingkir ke Jogja atau ke Jakarta/Bandung yang masih dikuasai penjajah kafir, sungguh ironis. Jadi seandainya ada rakyat Indonesia ataupun para pemimpin politik di RI masih berfikir bahwa NII adalah pemberontak/Bughot. Maka mereka tidak memahami Hujah (jika mereka ulama RI) dan tidak pula memahami sejarah, juga tidak memahami hukum-hukum internasional tentang keabsahan berdirinya NII.

Akan tetapi kerakusan Soekarno dan antek-anteknya tidak menjadikannya faham tentang keteledoran negaranya (RI) atas berdirinya NII di wilayah yang nyata-nyata bukan wilayahnya (RI), ke rakusan Fir’aun Indonesia (Soekarno dkk) itu dibuktikannya dengan menyerang wilayah NII di Jawa Barat pada pertempuran di Antralina, dan kemudian setelah diberi kemerdekaan oleh Belanda (NII tidak mengakuinya karena memasukan wilayah NII dalam wilayah RI) 27 Desember 1949, 3 bulan setelah proklamasi NII, agresi militer RI terhadap wilayah NII menjadi-jadi. Dan puncaknya adalah pemaklumatan kondisi perang oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1953. 6. Gerombolan dan Teroris Setelah diberikan cap Gerombolan pada saat era Soekarno, maka pada saat era perang global dengan Amerika cap Teroris menjadi andalan para Thogut untuk menamakan para Mujahid TII yang masih konsisten dalam program NII, Yuqtal au Yaglib. Baik Gerombolan yang berarti bergerak secara berjamaah (sesuai Al Qur’an surat As Shaff:4) maupun Teroris yang berarti membuat teror terhadap orang kafir/musuh islam (sesuai Al Qur’an surat At Taubah:120) sebenarnya sebuah stigmatisasi terhadap NII tapi juga gelar yang mulia bagi para mujahid karena diakui aksi-aksinya sesuai dengan tuntunan Allah (bagi orang yang faham). Tapi bagi rakyat Indonesia pada umumnya, yang mudah terkena propaganda negatif dari penguasa Thogut, gelar atau sebutan tadi menjadi sesuatu yang sifatnya melecehkan dan buruk. Padahal Allah memerintahkannya demikian, dan Allah memuliakan seorang muslim yang melaksanakannya.

Mari kita lihat tentang aksi Teror yang diberi pahala oleh Allah : Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik;QS. at-Taubah (9) : 120

Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan; QS. at-Taubah (9) : 121 bahkan yang membiayai (meng infaq an hartanya untuk aksi) dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik. Dan jangan lupa, bahwa saat ini RI yang sudah mengakuisisi wilayah NII dengan paksa, juga bersekutu dengan Amerika yang juga mengakuisisi wilayah-wilayah islam di seluruh dunia, baik secara langsung (Iraq, Afganistan, dll) ataupun secara tidak langsung melalui Thogut-thogut lokal (Arab, Israel, Afrika, Pakistan, Indonesia, dll) mereka RI-Amerika setatusnya belum berubah sejak 1949, mereka berperang dengan NII. Sehingga sangatlah terhormat bagi Mujahid TII ketika mereka (Amerika/RI dan rakyat Indonesia yang masih loyal terhadap Thogut/RI) menyatakan Mujahid TII adalah Teroris. Karena ternyata mereka merasakan aksi-aksi teror tersebut hingga muncul rasa takut dan geram/marah sampai ke ubun-ubun mereka. Tapi dalam pandangan Allah Al Qowiyu Wa Al Matiin, mereka (mujahid TII) mendapatkan amal sholeh.