Paska kekalahan Perang hingga berbagai penghianatan yang dilakukan beberapa komandan TII terhadap prajuritnya Gerakan Revolusioner TII berjalan dengan sangat hati-hati, kontra Intelegen yang di bentuk untuk mengantisipasi infiltrasi dan penetrasi dari NKRI mengakibatkan pola aktivitas Jamaah sangat tertutup dan eksklusif. Bagaimanapun harus difahami oleh Umat Islam Bangsa Indonesia, bahwa musuh terbesar sepanjang sejarah bagi NKRI adalah NKA NII, karena hanya NKA NII lah secara hukum Internasional (hukum yang dianut oleh NKRI) yang berhak menuntut territorial yang sekarang diduduki oleh NKRI, hanya dengan NKA NII lah peperangan antar negara terlama terjadi. Dan Hanya NKA NII lah dimana NKRI harus disibukan secara politik hampir setiap dasawarsa sejak didirikannya Negara mereka (hingga hari ini dan detik ini). Maka apapun akan mereka perbuat untuk menghancurkan NKA NII demi berlangsungnya ideology jahiliyah mereka. Bahkan melakukan strategi-strategi Penjajah Belanda dan sekutu mereka Amerika, diantaranya adalah membentuk pemerintah boneka tandingan (NII Zaytun).

Gerakan Eksklusif dari NKA NII ini sering disalah artikan oleh Umat Islam Bangsa Indonesia, dan oleh ulama-ulama pro NKRI hal ini bahkan dijadikan sebagai aktivitas yang menyalahi syari’at (ahlu sunnah wal jama’ah), tidak mau menggabungkan diri dengan Umat Islam pada umumnya. Yang tidak diketahui oleh Umat Islam Bangsa Indonesia (bahkan aparat NKRI non Intelegen) bahwa NKA NII melakukan gerakan Revolusi melalui berbagai metoda (untuk antisipasi serangan NKRI terhadap laju Revolusi), yaitu gerakan structural (hanya kader utamaTII yang berada didalamnya), dan gerakan non structural (gerakan sayap, kepemimpinan dipegang oleh TII, akan tetapi secara operasional gerakan ini terbuka),Gerakan structural ini jelas sangat eksklusif, didalamnya terdapat gerakan politis, hukum, dan militer. Gerakan structural adalah gerakan internal, didalamnya berlangsung aktivitas Negara dari mulai infaq, munakahat, pengadilan, pelatihan militer, pengkaderan aparat, dll. Sedangkan Gerakan non structural merupakan gerakan terbuka, orientasi utama adalah Revolusi Budaya, mempersiapkan Umat Islam Bangsa Indonesia untuk siap menerima Syariat Allah. Gerakan ini didominasi oleh Dakwah, Pendidikan, dan Ekonomi. Gerakan ini sangat terbuka hingga Umat Islam tidak mengetahui seandainya organisasi tertentu yang menjadi lembaga cover gerakan ini adalah termasuk aktivitas dari NKA NII. Bahkan umat yang berkecimpung didalamnya tidak menyadari, bahwa dirinya berada didalam jaringan gerakan Revolusi NKA NII.

Gerakan Eksklusif NKA NII ini digambarka didalam Al Qur’an surat Al Kahfi ayat 20 :

Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.

Sikap Eksklusif kadang muncul dari Umat Islam NKA NII, ketika mereka mengaplikasikan syariat Allah di lingkungan Jahiliyah tentunya membuat keimanannya terganggu, pada akhirnya mereka para warga NKA NII secara Naluriah melakukan aktifitas social cenderung dengan sesama warga NKA NII yang mempunyai aqidah dan akhlaq yang sama, melaksanakan tarbiyah dengan sesama mereka pula. Kondisi ini memunculkan sikap eksklusif pada setiap warga NKA NII. Eksklusif dari kalangan Jahiliyah.

Maka hingga terbentuknya kembali Daerah 1/Darul Islam/Basis Teritorial, gerakan eksklusif dari NKA NII ini akan tetap berlangsung demi keamanan Negara, demi berlangsungnya Revolusi, Demi berlangsungnya Daulah Islamiyah di Indonesia, demi melindungi Umat Islam yang Loyal terhadap hukum Allah dan menolak tegas hukum Jahiliyah dari NKRI. Sedangkan bakti kader TII untuk Umat Islam Bangsa Indonesia secara umum tetap berlangsung melalui gerakan-gerakan sayap dalam dakwah, pendidikan dan ekonomi, siapapun umatnya, termasuk umat islam yang masih loyal terhadap NKRI karena ketidak fahaman mereka terhadap al Furqon. Jadi jika ada Umat Islam Bangsa Indonesia yang menolak eksistensi NKA NII hanya karena gerakan eksklusif dari Negara ini, saya anggap mereka berfikir terlalu awam dalam memahami sebuah gerakan politik dalam situasi peperangan. Akan tetapi konsekuensi ini memang harus ditanggung oleh kader-kader TII, hingga Basis Teritorial benar-benar kembali dikuasai, dan saya pun menerima konsekuensi ini, tetap berjuang didalamnya dan mempercepat laju Revolusi hingga pembeda akan benar-benar kembali jelas, siapa hamba Allah sesungguhnya, dan siapa hamba-hamba Thoghut NKRI.