Radikalisme, Foundamentalisme, dan Teroris adalah tiga Jargon Politik penting yang dipergunakan oleh NKRI saat menghadapi NKA NII dalam Perang Propaganda (Ghozul Fiqr) sejak Orde Soekarno hingga SBY. Tiga kata yang berkonotasi baik ini dibuat menjadi pengertian yang seolah buruk untuk mendeskriditkan pemahaman NKA NII yang mengembalikan setiap urusan kepada dua hal (Qur’an dan Sunnah Rosulullah). Tiga kata ini diambil dari tulisan-tulisan para orientalis barat yang sengaja dibuat untuk para aktivis islam di dunia yang mulai bangkit dan secara politik sangat membahayakan kepentingan mereka (Negara Barat). Tiga kata ini sebenarnya tersirat didalam Al Qur’an sebagai pemahaman yang justru wajib dimiliki oleh setiap Umat Islam di Dunia,

  1. Radikal, yang diambil dari kata Radic yang berarti akar, mulai dipopulerkan oleh para Uskup di Roma (Katolik) untuk menyudutkan penganut Protestan, Radikal mempunyai pengertian sebagai Pemahaman keagamaan yang menolak segala pembaharuan agama yang tidak sesuai dengan akar dari agama itu sendiri (katolik Roma banyak melakukan pembaharuan yang dianggap bertentangan dengan Injil oleh kaum Protestan). Bagaimana dengan Islam? Tentunya tidak ada satu permasalahan di dunia ini yang tidak boleh didasari oleh apapun itu kecuali dikembalikan lagi kepada akar agama Islam, yaitu Aqidah dan Hukum dasar (Qur’an dan Sunnah Rosulullah). Maka dengan pengertian semacam itu, NKA NII memang pantas disebut Islam Radikal.
  2. Foundamentalis, diambil dari kata bahasa Inggris “Foundamental” yang berarti sesuatu yang mendasar. Kurang lebih artinya sama dengan Radikal. Baik Radikal maupun Foundamentalisme tersirat dalam Alquran :

14: 24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

  1. Teroris, kata ini sudah sejak lama dipergunakan oleh Amerika untuk politik belah bambu. Setelah Perang Minyak yang dilakukan oleh dunia Arab pada saat paska Perang Yom Kipur (Palestina-Israel) Amerika sangat berhati hati dalam menghadapi Islam, mereka memerangi yang dianggap ancaman politis bagi mereka (kelompok yang menghendaki berdirinya Daulah Islamiyah) dan menjadikan sahabat dekat bagi kelompok Islam yang dianggap menguntungkan bagi perekonomian/politik mereka, maka munculah Kata Teroris sebagai symbol pembeda untuk menyudutkan para Mujahidin di seluruh Dunia. Term ini kemudian dipergunakan pula oleh NKRI untuk menghadapi para Mujahidin di Indonesia, termasuk TII. Menghadapi NKA NII mereka (NKRI) menghadapi dengan politik berbeda, mereka mencoba melakukan politik perang yang sama seperti yang dilakukan oleh sekutunya Amerika. Hanya TII yang konsisten pada Revolusi dan Jihad Fii Sabilillah yang mereka perangi dian diberikan status Teroris ini. Dan berdasarkan Surat AtTaubah ayat 120 memang betul, TII adalah Teroris.

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,”

Hal ini adalah semata-mata sebagai ujian bagi Umat Islam Bangsa Indonesia, Foundamentalisme dan Radikalisme adalah keniscayaan pada setiap kepercayaan apapun jenisnya jika para pengikutnya memegang teguh ajaran yang diyakininya itu. Ketika Umat Islam Bangsa Indonesia melihat ada dua Negara yang saling berperang memperebutkan territorial yang sama (NKA NII & NKRI) dan terjebak pada perang propaganda diantara keduanya maka Umat Islam harus memilih salah satu diantara keduanya. Apakah memilih Negara dengan segala Hedonisme yang dimiliknya, atau menjadi pendukung Negara dengan konsekwensi dicap Radikal, Foundamentalis, dan Teroris?