Umat Islam Bangsa Indonesia mempunyai jenis Aliran/Mahzab semajemuk jumlah suku bangsa yang ada di wilayah ini, akan tetapi seperti kebanyakan kondisi yang terjadi pada umat islam di seluruh dunia perbedaanya mengkerucut pada dua model, aliran yang disebut sebagai Islam Tradisi yang merupakan turunan dari berbagai model aliran dari Tariqot dan Tasawuf, dan yang kedua adalah Islam Moderat yang merupakan turunan dari berbagai model aliran yang dikenal sebagai aliran dari salafiyah, keduanya mempunyai perbedaan mecolok pada paradigm hukum tentang Bid’ah, Kurafat, dan Tahayul. Pemahaman terhadap penggunaan Hadits yang tidak sahih, dan keutamaan ulama salaf (Sahabat/Tabi’in/Tabi’I Tabi’in) sebagai rujukan utama dalam hujah.

Pada Abad 19 Akhir saat Belanda menggunakan Politik Etis bagi Pribumi di Nusantara maka dalam kebebasan berpolitik dan berorganisasi keduanya akhirnya mencuat dalam perdebatan panjang permasalahan darimulai yang sifatnya Aqidah hingga Fiqh. Islam Tradisi akhirnya mengelompokan Organisasinya dalam Organisasi seperti NU dan Perti, sedangkan Islam Moderat mewujud menjadi Organisasi seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, PUI. Pada masa Penjajahan Jepang mereka menyatukan diri dalam wadah MIAI yang berubah nama menjadi Masyumi, akan tetapi akhirnya kongsi organisasi ini terpecah juga.

Fenomena menarik muncul saat NKA NII akhirnya berdiri, dimana didalamnya terdapat kedua pemahaman ini. Sempat Kahar Muzakar (KPWB II) mengusulkan kepada imam Asy Syahid untuk menjadikan Negara ini sebagai Negara Wahabi seperti di Arab Saudi, akan tetapi Imam menolaknya, meski jika dilihat dari latar belakangnya sebagai anggota PSII Imam Asy Syahid adalah seorang moderat. Perbedaan keduanya di NKA NII pada saat perang tidak lah menjadi hal yang fital sehingga dapat menimbulkan perpecahan, didalam catatan sejarah ataupun dari pelaku sejarah belum pernah terjadi kondisi ini didalam tubuh Negara (NKA NII), hingga akhirnya generasi kedua (yang dikader langsung oleh Generasi Awal) dan ketiga (yang dikader oleh generasi kedua) muncul, dimana kondisi ini akhirnya menimbulkan permasalahan di sebagian kecil pemimpin puncak (kondisi ini tidak begitu terasa di struktur bawah), dan diantara mereka kemudian keluar dari struktur NKA NII, atau menolak kepemimpinan dari sebagian pemimpin mereka, setelah sebagian komandan mereka ternyata melakukan aktivitas ibadah yang dinilai sebagai pelanggaran syar’I secara fiqh (lebih tepatnya terdapat perbedaan pemahaman dalam memakai sumber hukum/hujah)

Ada yang mereka (TII yang keluar dari Negara) tidak fahami dari NKA NII, bahwa NKA NII bukan lah Jamaah aliran keagamaan, NKA NII bukanlah Tandzim, NKA NII bukanlah organisasi atau Harakah. NKA NII adalah sebuah Negara Islam, dimana kekuasaan tertinggi adalah Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah yang termaktub didalam Qonun Asasi dan Stractflech. Maka setiap permasalahan apapun dikembalikan secara hukum kepada keduanya.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

(QS. An Nisa [4]: 59)

Dan jika yang terjadi adalah menggantungkan Bai’at dan Bara’ah terhadap Negara Islam, maka alangkah kerdilnya jika kondisi ini terjadi kepada seorang TII yang faham ilmu. Jikalau memang seorang komandan TII ternyata menyalahi syari’at dan hukum Negara, akan tetapi komandan tersebut tidak mau diberikan tausyiah (karena merasa dirinya paling benar), maka tidak layak lagi komandan seperti ini menjadi komandan TII di NKA NII. Dan seyogiannya Komandan seperti ini diadili dengan hukum Islam dan Hukum Negara. Tidak malah kemudian diri kita yang akhirnya melanggar Syariat dengan melepaskan Bai’at dan keluar dari Jama’ah Negara.

Sungguh bagi saya, kemajemukan pemahaman jika ini masih dalam koridor aqidah yang lurus dan tidak melanggar syari’at Allah dan Rosulnya, kemajemukan ini adalah rahmat bagi NKA NII. Kondisi yang hanya terjadi saat kekhalifahan Bani Umayah dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz. Hingga Sunni, khawariz, dan Syi’ah pun memberhentikan konflik mereka.