Ketika banyak dari Umat Islam Bangsa Indonesia yang buta politik memandang dengan nada sinis tentang eksistensi NKA NII, mereka menyatakan,” Dimana tempatnya Negara ini?” Sebagian para aktivis Islam yang tidak faham syari’at menyatakan hal yang senada, “NKA NII bukanlah Negara, dimana mereka mau memberlakukan hukum?”, banyak diantara mereka menolak ajakan untuk bershaff dengan NKA NII dengan alasan yang sama, dan menyebutkan Negara ini hanyalah Negara Utopia, Negara Imajinasi, Negara khayalan, Negara Dongeng, Negara diatas Negara, Negara yang tidak mempunyai Teritorial.

Seorang Penulis Belanda Holk Denggell membuat analisa bahwa NKA NII mencapai puncak kekuasaannya pada tahun 1958, hampir 10.000 pasukan di Jawa bagian Barat siap untuk memasuki ibukota Jakarta, Penulis tersebut juga menyatakan rata-rata dari desa perbatasan antara NKA NII (Darul Islam/Daerah 1/D1)) dengan NKRI (Darul Kuffar/Daerah 3/D3), yang lazim disebut Darul Harb (daerah 2) 3 desa loyal kepada NKA NII dan 2 desa loyal kepada NKRI, akan tetapi Imam Asy Syahid melihat bahwa penghianatan didalam Negara sama besarnya dengan keberhasilan NKA NII dalam Infiltrasi terhadap Divisi Siliwangi di Jawa Barat, Imam Asy Syahid membuat pesan perang yang paling controversial terhadap beberapa TII yang masih loyal pada Jihad Fii Sabilillah, pesan tersebut adalah :

WASIAT IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA S.M. KARTOSOEWIRJO

Bismillahirrahmaanirrahiim

Wasiat Imam pada pertemuan dengan para Panglima/Prajurit (Mujahid) pada tahun 1959 diantaranya berbunyi : “Saya (Imam) melihat indikasi bencana angin yang akan menyapu bersih seluruh mujahid kecuali yang tertinggal hanya serah/biji mujahid yang benar-benar memperjuangkan/mempertahankan tetap tegaknya cita-cita Negara Islam Indonesia, sebagaimana diproklamasikan tanggal 7 Agustus 1949. Di saat terjadinja bencana angin tersebut ingatlah akan semua wasiat saya ini :

  1. Kawan akan menjadi lawan, dan lawan akan menjadi kawan.
  2. Panglima akan menjadi Prajurit, Prajurit akan menjadi Panglima.
  3. Mujahid jadi luar Mujahid, luar Mujahid jadi Mujahid.
  4. Jika mujahid telah ingkar, ingatlah;”Itu lebih jahat dari iblis”, sebab dia mengetahui strategi dan rahasia perjuangan kita, sedang musuh tidak mengetahui. Demi kelanjutan tetap berdirinya Negara Islam Indonesia, maka tembaklah dia.
  5. Jika Imam berhalangan, dan kalian terputus hubungan dengan Panglima, dan yang tertinggal hanja Prajurit petit saja maka Prajurit petit harus sanggup tampil jadi Imam.
  6. Jika Imam menyerah tembak saja, sebab itu berarti iblis. Jika Imam memerintahkan terus berjuang, ikuti saja sebagai hamba Allah SWT.
  7. Jika kalian kehilangan syarat berjuang, teruskanlah perjuangan selama Pancasila masih ada, walaupun gigi tinggal satu, dan gunakanlah gigi yang satu itu untuk mengigit.
  8. Jika kalian masih dalam keadaan jihad, ingat rasa aman itu, sebagai racun.

Indikasi ini kemudian lebih terlihat lagi setelah seorang Jendral bekas Komandan Divisi Siliwangi AH Nasution (Prajurit Nasionalis lulusan PETA) mengambil alih dalam menghadapi TII, terinspirasi oleh strategi Perang Belanda maka membuat tiga strategi dalam mengalahkan TII di Jawa Barat sebagai pusat NKA NII.

  1. Mengeluarkan Divisi Siliwangi dari Jawa Barat dan ditempatkan ke Sulawesi, memasukan Divisi Dipenogoro dan Brawijaya (Kedua Divisi ini, banyak unsur dari Komunis dan Non Islam) ke Jawa Barat.
  2. Menebar Fitnah dan Teror, di Daerah 1 dan 2 untuk menjauhkan TII dengan Umat Islam. , Kedua Divisi ini banyak melakukan Fitnah dengan membakar Desa-desa di daerah 1 dan 2, juga melakukan perampokan-perampokan mengatas namakan TII, Padahal TII selama ini selalu disuplai logistic (tanpa harus dirampok) oleh Desa-desa.
  3. Melakukan strategi Pager Betis (singkatan dari Pasukan Gerakan Rakyat Berantas Tentara Islam), dimana TNI melakukan peperangan kotor dengan menempatkan Umat islam di garis paling depan sebagai tameng peluru (karena TNI yakin, bahwa TII tidak mungkin menembak rakyatnya sendiri).

Strategi ini berhasil mengisolir seluruh kekuatan TII, dan Allah menguji hambanya hingga pembuktiannya yang terakhir, Imam Asy Syahid benar, pada Peperangan yang penuh fitnah dan godaan ini, sebagian besar dari para Komandan TII memilih kembali loyal kepada NKRI, meninggalkan Imam Asy Syahid dengan 74 umat yang tidak mau tunduk pada Thoghut, diantara 74 orang itu hanya terdapat sekitar 5 orang tentara yang kelelahan dengan amunisi yang minim. Selebihnya adalah orang tua, wanita, dan anak-anak. Ketika pertemuan dua pasukan antara TII yang siap syahid dengan TNI, Imam Asy Syahid kembali melarang pertempuran sampai syahid antara 5 orang TII dengan 1 peleton (sekitar 30-40 orang TNI) untuk melindungi sebagian besar umat yang lemah (wanita dan anak),

Pada tahun 1965 hampir bisa dipastikan seluruh wilayah Daulah Islamiyah di Indonesia diambil alih oleh Negara Thoghut NKRI, maka sejak saat itu Umat Islam Indonesia secara total kembali terjajah oleh Hukum Jahiliyah, tidak ada satu jengkal lagi tanah yang dikuasainya, akan tetapi sebagai sebuah Daulah/Negara dalam kondisi perang, Teritorial bukanlah syarat mutlak tentang keberadaan Daulah tersebut, beberapa contoh sejarah dapat menjadi referensi tentang hal ini :

  1. Daulah Bani Israil. Sejak Nabi Musa AS dijadikan Rosul oleh Allah, beliau langsung mendapatkan tugas untuk membentuk sebuah Negara/Daulah untuk Bani Israil di tanah yang “dijanjikanNya” untuk keturunan Ibrahim dan Yakub (Yerusalem), ketika akhirnya mereka menolak memasukinya maka Allah membiarkan mereka selama 40 tahun menjadi suku nomaden di padang Ti’ih, bahkan setelah itu suku bani Israil kembali dijajah oleh suku lain hingga Thalut akhirnya menguasai Tanah di Jerusalem setelah mengalahkan Zalut, barulah setelah itu mempunyai Negara yang berteritorial jelas, dan mencapai keemasanya setelah Nabi Sulaiman menguasai hampir seluruh jazirah Arab dan Mediterania.
  2. Bani Umayah pun pernah terjadi miss territorial saat Bani Abasyiah menguasai Bagdad dan seluruh wilayah yang menjadi territorial Bani Umayah sebelumnya, hingga akhirnya mampu mengalahkan Sepanyol dan kembali mempunyai territorial di sana selama beberapa abad.
  3. Yang paling ironis adalah saat RI sama sekali tidak mempunyai territorial paska Operasi Milter 2 saat akhirnya Belanda menguasai Jogja, areal satu-satunya milik RI, Pemerintahan Darurat di Sumatra malah dianggap illegal oleh Soekarno
  4. Daulah Islamiyah Iraq pun kurang lebih sama, mereka tidak mempunyai territorial yang 100 % menjadi kekuasaannya, mereka masih harus bergrilya dengan gerakan bawah tanah, yang sekali-kali meledakan beberapa target polisi-polisi Iraq yang bersekutu dengan Amerika.

Jika kita ambil contoh lebih banyak lagi sebenarnya bisa menjadikan tulisan ini dipenuhi oleh cerita sejarah bagaimana Negara-negara kuat di masa lalu maupun yang sekarang masih eksis diawali atau pernah merasakan dimana pemerintahan mereka tidak mempunyai territorial yang 100 % dikuasai, terutama saat-saat Revolusi masih berlangsung, atau saat dimana Allah SWT mepergilirkan Kekuasaan. Jadi alangkah sempitnya jika ada Umat Islam Bangsa Indonesia dari golongan intelektual atau yang aktiv di harokah/tandzim mempermasalahkan eksistensi NKA NII saat ini hanya karena tidak mempunyai territorial.

Saya malah memandang dari paradigm yang berbeda, ketika ada sebuah Negara yang notabene adalah Daulah Islamiyah yang sedang diperangi hingga tidak ada satu jengkal tanah lagi dikuasai, respons saya yang pertama adalah bahwa tidak ada alasan lain yang lebih tepat untuk merapatkan diri dalam barisan mereka hingga mereka kembali menguasai jengkal demi jengkal tanah untuk tegaknya kembali Daulah yang mereka perjuangkan dengan Darah dan Doa, dengan aplikasi nyata dalam Dakwah hingga qital. Inilah alasan yang paling tepat untuk menjadi Tentara Islam Indonesia. Sebuah bukti nyata bagaimana NKRI memerangi Daulah Islamiyah puluhan tahun hingga tidak berakhir sampai kini (dan tidak akan mereka akhiri hingga Umat seluruhnya kembali kepada Dien/Ideologi mereka), ketidak beradaan Teritorial adalah sebagai bukti nyata yang tidak terbantahkan untuk menjadi alasan utama saya dihadapan Allah bagaimana Negara ini (NKRI) layak untuk diperangi, karena telah memerangi Daulah Islamiyah hingga tidak sejengkal tanahpun disisakan, dan ini lebih buruk daripada Israel yang masih memberikan Gaza dan Tepi Barat kepada Palestina. (Ironisnya adalah bahwa para aktivis Islam Republik berdemonstrasi tentang penjajahan Israel kepada Palestina, sedangkan Umat Islam yang berada dalam naungan Daulah Islamiyah/NKA NII mengalaminya lebih lama dari rakyat Palestina).