Mulai pertama muncul Tandzim sempalan dari NKA NII adalah kelompok harakah Tarbiyah yang lebih dikenal dengan Ikhwanul Muslimin (mengikuti nama Tandzim dari Mesir yang dibentuk oleh Hasan Al Bana), Tandzim ini dibentuk oleh beberapa kader NKA NII yang dimotori oleh Ustadz Hilmi Aminudin yang notabene adalah putra salah satu Jendral TII Danu. Pada saat hampir seluruh komandan TII ditangkap dari mulai tahun 1976, beberapa gelombang kader NKA NII mulai keluar Negeri, diantaranya ke Mesir dan Malaysia (Abdullah Sungkar), scenario keberangkatan kebanyakan berupa melanjutkan pendidikan. Saat Ustadz Hilmi datang kembali ke Indonesia beliau kemudian melihat bahwa gerakan Islam haru di reformasi untuk tidak lagi melakukan Qital, akan tetapi pendidikan dan keilmuan lah yang utama.

Sebelumnya Sulawesi membentuk organisasi Hidayatullah, dan yang lainnya lebih cenderung infiltrasi ke organisasi yang sudah ada seperti PII, GPI, PUI, Persis, Muhamadiyah dll.

Tandzim dan organisasi baru mulai kembali marak paska Reformasi politik di NKRI, dimana banyak dari mujahid TII yang I’dad dari Afganistan serta beberapa kelompok dari Malaysia melihat peluang baru di NKRI dalam hal keterbukaan politik. Abdullah Sungkar akhirnya membentuk JI (Jama’ah Islamiyah), Irfan M Awwas dan Ustadz Abu membentuk organisasi MMI (perkembangan berikutnya Ustadz Abu keluar dari MMI dan membentuk Anshorut Tauhid). Abdul Qodir Baraja membentuk Khalifatul Muslimin (Lampung). Masih banyak lagi tandzim baru muncul dan sebagian dari mereka benar-benar menyempal secara politis menolak eksistensi NKA NII sebagai Daulah Islamiyah, sebagian lainnya masih loyal dibawah kepemimpinan Komandan Puncak salah satu Faksi yang ada.

Bagaimana terjadinya jika akhirnya ada sebagian TII yang menanggalkan Bai’atnya dengan alasan apapun (diluar syar’i), kemudian cenderung memilih membentuk Tandzim baru. Siapapun dia, apakah seorang komandan ataupun hanya prajurit biasa. Tapi kemudian menanggalkan Bai’at di lehernya…?

Mari kita fahami lebih jauh tentang Bai’at NKA NII, dimana setiap warga NKA NII bersumpah kepada Allah dengan pernyataan didalamnya :

Bai’at NKA NII,

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillahi tawakkalna ‘alallah, lahaula wala quwwata illa billah!

Asjhadu an-la ilaha illallah, wa asjhadu anna Muhammadar Rasulullah.

Wallahi. Demi Allah!

  1. Saja menjatakan Bai’at ini kepada Allah, dihadapan dan dengan persaksian Komandan Tentara/Pemimpin Negara, jang bertanggung djawab.
  2. Saja menjatakan Bai’at ini sungguh-sungguh karena ichlas dan sutji hati, lillahi ta’ala semata-mata, dan tidak sekali-kali karena sesuatu diluar dan keluar daripada kepentingan Agama Allah, Agama Islam dan Negara Islam Indonesia.
  3. Saja sanggup berkorban dengan djiwa, raga dan njawa saja serta apapun jang ada pada saja, berdasarkan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurna tawakal ‘alallah, bagi:
  4. Mentegakkan kalimatillah—li—I’lai Kalimatillah—; dan
  5. Mempertahankan berdirinja Negara Islam Indonesia; hingga hukum Sjari’at Islam seluruhnja berlaku dengan seluas-luasnja dalam kalangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, di Indonesia.
  6. Saja akan tha’at sepenuhnja kepada perintah Allah, kepada perintah Rasulullah dan kepada perintah Ulil Amri saja, dan mendjauhi segala larangannja, dengan tulus dan setia-hati.
  7. Saja tidak akan berchianat kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Komandan Tentara, serta Pemimpin Negara, dan tidak pula akan membuat noda atas Ummat Islam Bangsa Indonesia.
  8. Saja sanggup membela Komandan-komandan Tentara Islam Indonesia dan Pemimpin-pemimpin Negara Islam Indonesia, daripada bahaja, bentjana dan chianat darimana dan apapun djuga.
  9. Saja sanggup menerima hukuman dari Ulil Amri saja, sepandjang ke’adilan hukum Islam, bila saja inkar daripada Bai’at jang saja njatakan ini.
  10. Semoga Allah berkenan membenarkan pernjataan Bai’at saja ini, serta berkenan pula kiranja Ia melimpahkan Tolong dan Kurnia-Nja atas saja sehingga saja dipandaikan-Nja melakukan tugas sutji, ialah haq dan kewadjiban tiap-tiap Mudjahid: Menggalang Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia! Amin.
  11. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

9 poin Bai’at diatas adalah pernyataan sebagai seorang TII (Tentara Islam Indonesia), dan setiap TII menyatakan Bai’at ini dari mulai Jendral hingga Prajurit biasa. Dari mulai Aparat Pusat hingga aparat paling bawah. Ini adalah sumpah mereka, janji mereka kepada Allah SWT, yang akan dipertanggung jawabkan pelaksanaanya secara hukum syari’at dan Negara di Dunia, dan akan dipertanyakan pula di Yaumil Akhir.

Ini adalah sumpah dirinya bukan kepada Komandan yang ada dihadapannya saat mereka bersumpah, atau komandan puncak/tertinggi saat itu (yang diwakili oleh komandan dihadapannya sebagai saksi baiat) jadi tidak ada hubungannya dengan siapapun pemimpinnya saat itu. Sumpah ini adalah sumpah dirinya yang berhubungan dengan janjinya kepada Allah (bukan kepada siapapun di NKA NII atau di dunia ini), dan janji ini memuat 4 hal penting yang tidak boleh dilanggar :

  1. Umat Islam Bangsa Indonesia, tidak boleh menodainya, dan berusaha memenuhi kebutuhan pokok mereka, yaitu memberlakukan hukum Allah (Syari’at Islam)
  2. Negara Islam Indonesia, mempertahankannya hingga Negara tegak, li’I lai ‘I kalimatillah.
  3. Komandan TII (sepanjang komandan tersebut konsisten dalam Jihad fii Sabilillah/Revolusi), Mentaatinya (sepanjang untuk kepentingan/sesuai dengan perintah Allah, Rosulullah, Negara), melindunginya, membelanya.
  4. Untuk dirinya, menjalankan Syariat Allah, siap menerima hukuman (hukum islam), dan tidak berkhianat kepada janjinya, tidak pula kepada Allah, Rosulullah, Negara, dan para komandan yang konsisten dalam Jihad Fii Sabilillah.

Mari kita lihat bagaimana Syari’at Bai’at ini berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah.

Setia pada Bai’at pertama, kepada Negara yang diberikan bai’atnya, dan kepada para pemimpin yang ada didalamnya :

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Rasulullah saw. beliau bersabda: Dahulu Bani Israil itu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi mangkat, maka akan digantikan dengan nabi lain. Dan sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun setelahku dan akan muncul para khalifah yang banyak. Mereka bertanya: Lalu apakah yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi saw. menjawab: Setialah dengan bai’at khalifah pertama dan seterusnya serta berikanlah kepada mereka hak mereka, sesungguhnya Allah akan menuntut tanggung jawab mereka terhadap kepemimpinan mereka. (Shahih Muslim No.3429)

Tunduk dan Taat pada Bai’at sesuai kemampuan yang ada pada dirinya, perlu difahami, yang dimaksud mampu disini adalah, ilmunya dan fisiknya, yaitu sepanjang dalam kondisi sadar (untuk mengaplikasikan ilmu) dan kondisi tidak sakit (dalam mengaplikasikan bai’at)

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata:

Kami membaiat Rasulullah saw. untuk tunduk dan taat. Beliau bersabda kepada kami: Yaitu terhadap sesuatu yang kamu mampu. (Shahih Muslim No.3472)

Dalam mengaplikasikan Bai’at haruslah secara Total.

Barangsiapa membaiat seorang imam (pemimpin) dan telah memberinya buah hatinya dan jabatan tangannya maka hendaklah dia taat sepenuhnya sedapat mungkin. (HR. Muslim)

Dengan mengaplikasikan Bai’at sesuai isi bai’atnya.

Hadis riwayat Salamah ra.:

Dari Yazid bin Ubaid ra. ia berkata: Aku bertanya kepada Salamah: Untuk apakah kamu membaiat Rasulullah saw. pada hari Hudaibiah? Salamah menjawab: Untuk (berperang sampai) mati. (Shahih Muslim No.3462)

Menyelesaikan janji Bai’atnya hingga terpenuhi atau Allah sendiri yang memberhentikannya (ajal datang)

48: 10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
(QS. Al Fath [48]:10)

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya, dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imron [3]:76)

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al Baqoroh [2]:40)

Pemutusan janji atau terputusnya Bai’at hanyalah terhadap kemusyrikan, maka untuk TII hanya jika empat poin diatas, didalamnya terdapat kemusyrikan, atau tidak berlaku lagi Bai’at ini jika :

  1. Terhadap Umat Islam Bangsa Indonesia yang melaksanakan kemusyrikan dengan sadar.
  2. NII tidak lagi menjadi Daulah Islamiyah, dengan ditandainya pernyataan hukum dari Negara tersebut baik Undang-undang atau sejenisnya, dimana didalamnya tertera kemusyrikan dalam aturannya. Maka terputuslah Bai’at ini terhadap NKA NII.
  3. Tidak lagi mengikuti Komandan yang berbuat musyrik, baik secara Syar’I (aqidah personal) ataupun secara Politis (komandan yang melanggar aturan Negara atau yang bergabung kembali ke NKRI)
  4. Jika TII atau dirinya sendiri yang berbuat musyrik, secara otomatis Bai’atnya batal.

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”
(QS. At Taubah [9]:114)

Dan Azab Allah bagi yang berkhianat terhadap Janji/Bai’atnya.

3:77. Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (QS. Ali Imron [3]: 77)

Membentuk Tandzim atau organisasi bagi TII bukanlah sesuatu yang diharamkan/terlarang, dan banyak sekali Tandzim maupun Organisasi yang dibentuk oleh TII, akan tetapi jika pembentukan Tandzim /Organisasi ini adalah dikarenakan dirinya tidak lagi mengakui eksistensi NKA NII (dimana dia pernah berbai’at), menolak untuk membela dan mempertahankan NKA NII (dimana dia pernah berjanji akan melaksanakannya) maka dia telah melanggar Janjinya kepada Allah SWT. Dia tidak lagi menyelasikan janjinya yang seharusnya diselesaikannya hingga kematian mendatanginya.

Bahwa didalam tubuh NKA NII terdapat beberapa komandan yang tidak lagi melaksanakan Janjinya, bukanlah berarti menghapus seluruh janjinya itu termasuk kepada NKA NII, karena siapapun Komandan puncak yang ada di NKA NII, mereka adalah komandan yang wajib diTaati sepanjang mereka tidak melanggar janjinya pula, tidak ada sangkut pautnya dengan eksistensi Negara yang didiaminya (NKA NII), siapapun dia termasuk Imam NKA NII, tidaklah menjadi identik dengan Negara yang dipimpinnya (NKA NII), karena seorang Imam akan tetap menjadi Imam sepanjang dia melaksanakan janjinya dan tidak mengingkarinya.

Maka ketika sebagian TII membentuk Tandzim atau mengikuti Tandzim apapun namanya itu, sedangkan dirinya kemudian melepaskan Bai’atnya kepada NKA NII, sedikitpun saya tidak tergoda untuk mengikuti langkah-langkah seperti ini, langkah inkonsistensi ketaatan yang akan sangat berat mempertanggungjawabkannya kelak di Yaumil Akhir.

NKA NII adalah Daulah Islamiyah bukan Harakah Islamiyah, bukan pula Tandzim.

Beberapa aktivis islam mengalami distorsi pemahaman terhadap NKA NII paska kekalahan perang 1965, dimana NKA NII tidak lagi mempunyai territorial yang dikuasainya. Pemahaman yang cacat ini menyebar ke warga NKA NII termasuk TII, dimana sebagian mereka kemudian menyamakan NKA NII dengan gerakan islam lainnya yang mereka (gerakan islam/harakah islamiyah) itu tidak pernah berhasil dalam sejarah pergerakannya mampu mendirikan sebuah Daulah. Mereka terjebak dengan pemahaman teori politi barat yang mana territorial adalah menjadi syarat mutlak tentang keberadaan sebuah Negara, mereka lupa, bahwa NKA NII adalah sebuah Negara dalam kondisi perang, dalam kondisi terjajah oleh Negara lain.

Harakah Islamiyah maupun Tandzim bukanlah sebuah Daulah, dimana syarat-syarat hukum/syar’I tentang waliyul amri termaktub didalamnya, Harakah Islamiyah atau Tandzim hanyalah sebuah organisasi, sebuah jama’ah minal muslimin yang mempunyai tujuan yang sama tentang sesuatu hal yang menjadi tujuan harakah tersebut dibentuk. Mereka tidak terikat secara politik dimana berbagai hal tentang syari’at islam harus dijalankan. Termasuk didalamnya adalah masalah hubungan social atau hukum (peradilan). Jadi jangan samakan antara Thaliban (yang telah mendirikan sebuah Daulah, meski saat ini hampir seluruh teritorialnya kembali dikuasai murtadin dan kafirin) dengan Al Qoida, jangan pula samakan beberapa Tandzim Jihad di Iraq dengan Daulah Islamiyah di Iraq (meskipun Daulah Islamiyah di Irak saat ini tidak mempunyai territorial yang 100 % dikuasainya), begitu pula di Indonesia, jangan samakan antara NKA NII dengan Tandzim apapun namanya atau siapapun penggeraknya (apakah TII, eks TII, atau Mujahidin manapun), karena memang berbeda , Negara bukan Tandzim, Tandzim bukan Negara.

Penutup

NKA NII adalah kebutuhan bagi Umat Islam Bangsa Indonesia

Sejak diproklamasikannya Negara ini, Umat islam Bangsa Indonesia pada dasarnya telah diberikan oleh Allah jalan untuk memilih, apakah meneruskan tradisi jahiliyah sesuai apa yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, atau kembali kepada syari’at Allah yang telah ditancapkan NKA NII. Daulah Islamiyah adalah kebutuhan pokok bagi Umat Islam dimanapun berada, tidak adanya Daulah Islamiyah menjadikan Umat Islam terlepas dari Buhul Allah seikat demi seikat, tidak adanya keadilan sesuai dengan keadilan Allah, kebebasan bermaksiat tanpa ada yang mampu mencegahnya secara sistematis, menghilangnya generasi hamba Allah dari masa ke masa tanpa ada yang mampu mengantisipasinya. Tandzim maupun Organisasi tidaklah mungkin mengelola kekuatan politik untuk manifestasi Qur’an khususnya dalam hal “pemaksaan politis” yang hanya bisa dilakukan oleh sebuah Daulah, kecuali tentunya mereka memberontak terhadap kekuasaan yang sudah ada. Seperti apa yang sudah dilakukan Thaliban di Afganistan.

NKA NII yang dalam perjalanannya dipenuhi oleh berbagai cobaan yang diberikan oleh Al Malikul Mulki Dzul Jalal li wa al Ikrom menguji kesungguhan para Mujahid yang berada di dalamnya, menguji Umat Islam Bangsa Indonesia, menguji para Ulama dan Pemimpin Umat, sejauh mana mereka bersabar atas segala ujian yang diberikanNya itu. Dan saat ini, seperti yang digambarlan oleh Al Qur’an, NKA NII ibarat Tabuk yang hanya bisa dijadikan media kemenangan Islam oleh orang sejenis Thalut dan Daud. Para pemimpin yang sabar dan konsisten didalam Jihad Fii Sabilillah.

Revolusi Islam dibawah kepemimpinan Darul Islam, Memilih satu-satunya jalan, bershaff dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia

NKA NII bukanlah milik siapapun, bukanlah milik dari Imam Asy Syahid SM Kartosuwirjo atau keturunannya, bukan pula dimiliki oleh Para Mujahid generasi awal, atau para Komandan Puncak yang memimpin berbagai faksi yang ada saat ini. NKA NII adalah Berekah dan Rahmat Allah untuk Umat Islam Bangsa Indonesia. Lembaga suci yang dinaungi Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah. Allah lah yang akan menjaganya atau mengakhirinya. Dan setiap manusia yang mencoba berbuat makar di dalamnya, siapapun dia, Allahlah yang akan menghadapi makarnya.

Revolusi Islam di Indonesia adalah keniscayaan. Dengan atau tanpa adanya NKA NII. Akan tetapi NKA NII saat ini ada dihadapan kita, Allah masih memeliharanya untuk kita Umat islam bangsa Indonesia, didalamnya masih ada para Mujahid yang dengan sabar berdakwah, I’dad, mempersiapkan kembali Revolusi. Mereka yang mengkader generasi awal Tandzim-tandzim Jihad dan Harakah Islamiyah yang ada di Indonesia. Sedangkan Revolusi dan Jihad Fii Sabilillah tidak akan mendapatkan Rahmat dari Allah dengan gerakan parsial, karena Allah lebih mencintai Shaff dalam persatuan yang kokoh kuat. Kondisi ini hanya bisa terjadi jika Revolusi dijalankan oleh berbagai fihak, dan Tentara Islam Indonesia haruslah yang paling depan mengawalnya.

Para Komandan Tandzim Jihad harus pula menyadarinya, bahwa anda pada saat yang lalu pernah pula Berbai’at yang sama dengan Tentara Islam Indonesia yang masih konsisten di NKA NII. Bahwa sumpah dan janji kepada Allah untuk mengawal NKA NII kepada Kemenangan tidak akan terhapus oleh keberhasilan aksi Jihad yang saat ini dilaksanakan. Sudah selayaknya para Komndan Tandzim me review terhadap sumpahnya itu. Tanpa harus kemudian kecewa dan kembali taat pada Komandan TII yang telah meninggalkan Jihad Fii Sabilillah, karena mereka pada dasarnya bukan lagi menjadi Komandan TII. Tapi terhadap Negara, anda sudah berjanji kepada Allah untuk mengawalnya hingga pintu Futuhat.

Para Komandan TII yang telah meninggalkan Jihad dan Revolusi, anda harus secepatnya bertaubat kepada Allah karena telah meninggalkan Bai’at Janji Anda kepada Allah. Meninggalkan Revolusi tidaklah akan mendatangkan kemenangan, tidak ada satu Nabi pun melakukannya. Dan jika anda tetap pada pendiriannya untuk meninggalkan Jihad Fii Sabilillah, tidak lagi melanjutkan Revolusi seperti yang pernah anda janjikan, maka relakanlah Anda untuk digantikan dengan generasi baru, generasi yang mencintai Allah, Rosulullah, dan Jihad Fii Sabilillah. Janganlah anda mengatasnamakan Lembaka Karunia Allah ini sebagai pembenaran langkah-langkah Anda yang bertolak belakang dengan aturan Negara. Karena Allah tidak berkehendak menjadikan Anda sebagai pemimpin Mujahid lagi.

Dan Bagi Tentara Islam Indonesia yang masih konsisten didalam Revolusi dan Jihad Fii Sabilillah. Bagi aparatur Negara yang masih konsisten mengawal Hukum Islam di Indonesia, bersabarlah, istiqomahlah. Kemenangan sesungguhnya semakin dekat dan semakin dekat menghampiri kita. Api Revolusi tidak akan pernah padam sepanjang Anda Tentara islam Indonesia masih konsisten didalam Jihad dan Revolusi.

Dan Bagi Umat Islam Bangsa Indonesia, apakah yang menjadi warga NKA NII ataupun yang terzalimi di NKRI, berdo’alah, dengan tulus dan ikhlas hati. Berdo’alah dengan uraian air mata karena dizalimi oleh kejahiliyahan Thoghut NKRI yang selalu menyombongkan diri. Berdo’alah atas ketertindasan anda. Berdo’alah hingga Penolong dari sisiNya menghampiri kita. Berdo’alah agar Keadilan Hukum Allah kembali tegak di Bumi Indonesia. Dan Kedzaliman (NKRI) sirna selamanya….. Amien.