Ada satu pernyataan yang sering dilontarkan oleh sebagian aktivis foundamentalis islam NKRI yang dengan alasan pernyataanya itulah dia menolak menggabungkan diri dengan pergerakan kemerdekaan NKA NII dan masih berada di NKRI (meski kenyataanya di NKRI nasib ideology/aqidahnya dipertaruhkan), pernyataan tersebut adalah “NKA NII tidak mempunyai Imam”, sebuah pernyataan yang jikalau ditarik ke areal syar’I ini menjadikan permasalahan pokok. Sehingga sebagian dari Komandan NII juga sebagian warganya (yang labil ideologinya) menyatakan tidak lagi bergabung dengan NKA NII.

Pada dasarnya secara syari’at permasalahan Imamah di NKA NII tidaklah menjadi masalah kalau memahaminya dengan baik, karena para Komandan Faksi cukuplah sudah menghapus syarah sahnya kepemimpinan setiap umat yang ada di NKA NII, termasuk berdasarkan hukum Negara, jika ada 10 prajurit TII yang terpisah dari barisan mengangkat salah satunya menjadi komandan perang mereka, maka legalitas Negara sudah mensahkannya, hingga bertemu dengan pasukan yang lebih besar dan masih melaksanakan Revolusi (Jihad Fii Sabilillah). Dan secara hukum Perangpun demikian adanya. Seperti halnya Pasukan Abu Jandal di lembah Is. Sedangkan Imam dalam arti Pemimpin Puncak Negara, NKA NII mempunyai tiga aturan pokok mengenai masalah ini :

  1. Imam Negara dipilih oleh Majelis Islam, (seluruh komponen masyarakat yang ada diwakili oleh para pimpinannya). Hal ini terjadi pada saat Imam As Syahid SM Kartosuwirjo diangkat menjadi Imam Negara.
  2. Imam Negara dipilih oleh Majelis Imamah, (kondisi ini hanya bisa berlangsung ketika NKA NII sudah merdeka secara menyeluruh, minimal mempunyai Basis Teritorial/Darul Islam yang aman). Terdapat didalam Qonun Asasi NII.
  3. Imam Negara sebagai KPSI (Komandan Perang Seluruh Indonesia), Kondisi ini berlaku dalam Perang Totaliter, Kondisi dimana Perang secara frontal telah berlangsung, tersusun sesuai dengan Sapta Palagan (Tujuh Medan Tempur), Jika Imam Syahid penggantinya adalah sesuai kepangkatan dibawahnya), termaktub dalam MKT 11 (Maklumat Komandemen Tertinggi No 11), kondisi ini pernah terjadi sejak dikeluarkannya Maklumat hingga 1965 saat Syahidnya Kahar Muzakar sebagai KPSI terakhir. Setelah itu tidak ada satu Komandan pun yang kemudian berhasil menyusun kembali Sapta Palagan dan melanjutkan Perang. Persiapan untuk itu pernah dilakukan dua kali, yang pertama oleh Daud Beureueh (Komandan Wilayah Besar 1 yang kemudian menjabat KPSI) akan tetapi gagal, karena Daud Beureueh sendiri saat itu dalam tahanan NKRI. Dan dipredikisi dieksekusi secara perlahan oleh Intelejen. Yang kedua adalah oleh Ajengan Masduki dan Abdullah Sungkar melalui proses I’dad ke Afganistan, kemudian terjadi fitnah diantara keduanya sehingga proses penyusunan kembali gagal, ditambah masalah kepemimpinan saat itu (hampir seluruh komandan puncak berada di tahanan NKRI sejak 1978-1996)

Maka dengan demikian, Imam Negara adalah ujian bagi seluruh Prajurit TII siapapun itu, seberapa besar kepangkatannya, untuk mewujudkan kembali NKA NII dengan sungguh-sungguh melalui Revolusi (Jihad Fii Sabilillah) tiada henti hingga kemenangan terwujud dengan sempurna (Futuh Mekah, Hancurnya NKRI), dan tentunya haruslah menyambut kembali perintah Allah mewujudkan perang suci dan menyusunnya kembali tanpa kenal menyerah melalui MKT 11, kepemimpinan dalam Perang Totaliter.

Ada atmosfir yang menarik didalam Negara Islam Indonesia, bahwa prajurit-prajurit TII yang ada didalamnya jauh dari Taklid Buta, sebuah kondisi yang biasa terjadi dalam amal jama’i. hampir semua komponen TII Taklid hanya kepada Allah dan Rosulullah, sehingga jika ada Komandan yang mulai ngelantur dari Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah mereka terisolir dengan sendirinya. Kecuali hanya orang-orang bodoh yang mengikutinya, contoh mudah adalah Panji Gumilang, orang-orang yang sekarang mendukungnya adalah jama’ah yang memang dia yang merekruitnya, itupun yang tidak faham Al Qur’an, Sunnah Rosulullah dan Hukum Negara (NKA NII). Kebanyakan dari kami prajurit TII adalah orang-orang yang iklas berjihad di jalanNya, tidak perduli siapapun komandannya, dengan syarat akan membawa kami dalam Jihad Fii Sabilillah, dengan naungan Qur’an dan Sunnah Rosulullah. Kebanyakan dari kami tidak memperdulikan masalah Imamah, selain kami mempunyai Komandan masing-masing yang konsisten, kami lebih perduli kepada aksi bukan propaganda dan rethorika para Imam. Yang mewakili ekspresi kami Prajurit TII adalah seperti sya’ir Nasyid (Izzatul Islam) dibawah ini :

Kami relakan jua serahkan dengan tekad di hati

Jasad Ini… Darah ini.. dengan penuh ridho ilahi

…..Kami adalah panah-panah terwujur

Yang siap dilepaskan dari busur… tuju sasaran….. siapapun pemanahnya

Kami adalah pedang-pedang terhunus

Yang siap terampil menebas musuh …. Tiada perduli siapapun Komandannya.

Kami adalah tombak-tombak berjajar

Yang siap dilontarkan dan menghujam, menembus dada, tantangan keangkuhan

Kami adalah butir-butir peluru yang siap ditembakan dan melaju

Dan Mengoyak meruang Kedzaliman