Dimasa lalu, saat saya mengajak sahabat saya untuk merapatkan barisan dengan TII, komentar dia adalah “NII adalah Negara yang harus dibela, tapi Intelegen sudah menyusup sedemikian jauh pada jaringannya, lebih baik saya menolaknya”, saya katakana pada sahabat saya, “untuk bergabung dengan NII janganlah melihat individu yang berada didalamnya (yang mungkin sebagai agen NKRI), tetapi lihat Negaranya (statusnya sebagai Daulah Islamiyah), dan apakah secara hukum/syar’I kita wajib membai’atnya, jika toh kita dikhianati oleh Intelegen yang berada didalamnya, inilah resiko dalam perjuangan. Dan resiko ini jauh lebih baik daripada menolaknya (resiko dimusuhi Allah karena menolak syari’at)” Akhirnya dia berbaiat menjadi TII.

Dalam sebuah peperangan, Intelegen adalah ujung tombak. Intelegen bergerak sebelum pasukan lainnya melakukan aksi pergerakan. Bahkan di era modern ini, Intelegen digunakan bukan hanya kepada Negara yang diperangi, kadang untuk hal yang bersifat ekonomi/bisnis, strategi penyusupan intelegen dilakukan oleh para pesaingnya. Kontra Intelegen (strategi pengantisipasian menghadapi Intelegen musuh) hanyalah mampu untuk meminimalisir, bukan untuk mencegahnya sama sekali. Di Jaman Rosulullah, Intelegen dipergunakan oleh kedua belah fihak (Madinah dan Mekah), salah satunya adalah Abbas paman Nabi yang di ‘simpan’ oleh nabi di Mekah sebagai agen. Di Madinah, Abdullah bin Ubay bahkan bukan hanya sebagai agen Qurais/Mekah, tapi juga menjadi agen Yahudi bahkan Romawi.

Perang Intelegen terjadi pula dalam peperangan NKRI dan NKA NII. Bahkan paska NKA NII melakukan gerakan bawah tanah (setelah kekalahan perang), maka perang Intelegenlah yang dominan antara keduanya. Banyak agen NKRI yang menyusup ke NKA NII, tapi lebih banyak lagi agen NKA NII yang menyusup ke NKRI. Kondisi ini sebenarnya telah berlangsung sejak dimulainya perang antara keduanya. Bahkan TII banyak dipasok persenjataan oleh agen mereka di Divisi Siliwangi. Begitu pula tentang kekalahan perang yang dialami NKA NII, banyak agen NKRI bahkan komunis yang menyusup ke NKA NII dan membuat makar dalam tubuh NII, hal ini membuat TII menjadi lemah. Paska kekalahan Perang 1962/1965, agen NKA NII merembak ke NKRI, mereka dijuluki D I Kota (Darul Islam Kota), menyusup ke ormas-ormas, berdakwah dan merekruit calon-calon kader TII. Bahkan paska tahun 90-an, agen NKA NII menyusup ke berbagai instansi pemerintah hingga ke parlemen (DPRD/DPR). Pada saat NKA NII mulai bergerak secara militer pada 1976, agen NKRI mulai menyusup dan mempengaruhi pola gerakan NKA NII dari mulai tingkat atas (Ali Murtopo) hingga tingkatan prajurit (tangan kanan Warman (seorang TII) adalah agen ganda, tapi kemudian di eksekusi langsung oleh beliau). Dan yang paling fenomenal adalah agen ganda yang bernama Panji Gumilang, yang berhasil melakukan pembusukan dari dalam (diantisipasi tahun 1997 dengan tidak diakuinya lagi Abu Toto sebagai bagian dari jaringan NII).

Jadi bagaimana mungkin saya menghindar dari perjuangan NKA NII hanya disebabkan oleh agen-agen NKRI yang berada di NKA NII. Karena mereka tidaklah akan mampu menjadikan NKA NII yang suci menjadi najis. Bagaimana mungkin saya akan keluar dari NKA NII gara gara para intel busuk ini. Karena agen NKRI bukanlan TII, mereka bukan warga NKA NII. Mereka bukan NII. Mereka (NKRI) sedang berbuat makar, dan kamipun (NKA NII) berbuat makar terhadap mereka. Dan Allah sebaik-baiknya pembuat makar.

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari”.” (QS. An Naml [27]: 50)

14: 46. Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar , padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS. Ibrahim [14]: 46)