Fitnah terbesar yang terjadi pada NKA NII adalah paska kekalahan perang dan syahidnya Imam Negara sekaligus sebagai KPSI (Komandan Perang Seluruh Indonesia), Berkhianatnya beberapa Komandan Perang (sebagian komandan malah berkhianat saat Imam dalam kepungan tentara Thoghut) mengakibatkan krisis kepercayaan antara Komandan Perang, juga antara Prajurit terhadap Komandannya. Sesungguhnya inilah ujian terbesar bagi para mujahidin saat itu, tapi kehendak Allah lah yang akan memilih siapa hambaNya yang istiqomah, dan akan dipisahkannya antara HambaNya dengan para Munafiq di lingkungannya.

supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi” (QS. Al Anfaal [8]: 37)

Diantara para komandan yang murtad secara politik itu ada yang kemudian hatinya terbuka dan mendapatkan rahmat Allah, sehingga mereka bertaubat dan mengkonsolidasi kembali prajuritnya. Akan tetapi dosa masa lalu itu kadang menjadi tanda dimana mereka (para Komandan yang bertaubat) belum tentu diterima baik oleh para prajuritnya atau oleh Komandan lainnya yang konsisten (tidak pernah menyerah), hal ini adalah cikal bakal terpisahnya shaff, antara komandan satu dangan komandan lainnya. (salah satunya adalah munculnya faksi Abdul Fatah Wiranagapati, eks KUKT-Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi- yang menolak dikomando oleh Komandan yang pernah menyerah)

Hal kedua yang menjadikan mereka membentuk komando masing-masing adalah perbedaan strategi perjuangan (mulai mengemuka tahun 1976 puncaknya th 1978) antara mempersiapkan kembali Revolusi (Jihad Fii Sabilillah) dengan yang menolak jalan Revolusi serta mengedepankan persiapan kader, mengembangkan lembaga-lembaga dakwah dan Pesantren (Jihad Fillah), yang pada era berikutnya perbedaan dalam tataran strategi ini menjadi lebih samar, karena keduannya akhirnya sama-sama melakukan strategi yang sama dalam hal pengkaderan dan pembentukan lembaga dakwah dan pendidikan.

Hal ketiga yang menjadikan mereka terpisah komando adalah miss komunikasi antar wilayah, baik antara Komandemen Wilayah (KW) dan yang paling parah adalah antar Komandemen Wilayah Besar (KPWB, Aceh-sulawesi-Jawa), syahidnya seluruh komandan puncak menjadikan koordinasi antar wilayah besar terputus sedikit demi sedikit. Dan bagaimana represifnya pemerintah Soeharto dalam menghadapi gerakan Mujahidin menjadikan komunikasi antar wilayah menjadi sangat sulit. Dan pada akhirnya setiap wilayah membentuk inisiatif gerakan yang tentunya demi keamanan dan kontra intelegen, setiap gerakan ini dirahasiakan dalam koordinasi antar wilayah, dan akhirnya terbentuk dengan sendirinya faksi-faksi gerakan independent di wilayah masing-masing.

Hal keempat adalah factor eksternal, dimana NKRI berhasil mengkader agen-agen intelegen ganda memanfaatkan permasalahan ketiga hal diatas. Dan yang terparah dialami NKA NII adalah munculnya Jaringan Abu Toto/Panji Gumilang (salah satu agen yang disusupi) yang menyempal dari Komandemen Wilayah 9 bentukan Adah Djaelani (eks komandan wilayah 7, wilayah 9 sendiri pelebaran wilayah dari wilayah 7). Dan Abu Toto atas bantuan NKRI berhasil membentuk jaringan yang tersebar di Indonesia dan Malaysia, serta tidak pernah merubah nama gerakannya, mereka tetap menamakan dirinya NII. Akan tetapi sejak 1997 jaringan ini atas kesepakatan seluruh faksi yang ada di NKA NII, mereka sudah dianggap keluar dari Negara (NII), dan dianggap bersatu dengan NKRI.

Munculnya berbagai faksi ini sepintas membuat para prajurit dan umat kebingungan (mulai terkuak ke permukaan paska penulis Al Chaedar menulis buku “SM Kartosuwirjo : Proklamator NKA NII”) beberapa simpatisan akhirnya menolak bergabung, sebagian prajurit menolak dikomando oleh faksi lainnya (Tahmid, eks KSU-Kepala Staff Umum- berhasil mengkoordinir beberapa faksi), sebagian menyatakan keluar dari NKA NII (meski tetap menolak taat pada NKRI) dan memilih membentuk Tandzim Baru.

Siapa dan bagaimana sebenarnya Faksi-faksi ini? Dan apakah mereka memboikot NKA NII? Serta, Apakah Saya harus keluar dari NKA NII atas alasan ini?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa pada kenyataannya Faksi-faksi ini ada. Tapi Faksi bukanlah “Negara Baru “ di NKA NII, dimana antar faksi ini memperebutkan pengaruh dan berperang satu dengan lainnya. Saat saya menghadiri salah satu pertemuan antar faksi, mereka (para pimpinan faksi) bertemu seperti bertemunya antara sobat lama, nyaris tidak ada konflik baik dalam perdebatan apalagi secara fisik, bahkan di kalangan bawah nyaris kita tidak memperdulikannya, beberapa sahabat saya dari Faksi Tahmid, instruktur I’dad nya adalah sahabat saya dari Faksi Abdullah Sungkar. Beberapa kali sahabat saya dari faksi Tahmid, mengikuti acara pembaiatan dari faksi Ali Machfudz (turunan faksi Abdul Fatah W). tapi tidak bisa dipungkri pula, ada sebagian komandan tanggung (bukan komandan tertinggi) dari beberapa faksi yang masih tidak faham dan sok pintar, dengan menyatakan bahwa faksi dirinyalah yang benar, sehingga faksi lainnya dianggap bukan NII. Tapi komandan model seperti ini sangat sedikit dan sangat tidak berpengaruh pada Gerakan Revolusi yang sedang berjalan di NKA NII.

Saya melihat munculnya Faksi adalah Karunia Allah yang Maha Pembuat Makar, Sungguh, NKRI sangat kesulitan mendeteksi gerakan NKA NII dalam merebut kembali kemerdekaanya hingga menyusupkan Agen semacam Panji Gumilang, dan tidak berhasil. Entah berapa Agen ganda lagi yang akan disusupi, tapi banyaknya isu Faksi membuat mereka bingung sendiri, faksi mana yang akan disusupi, faksi mana yang paling berpengaruh, faksi mana yang sendang mempersiapkan terror bagi mereka (NKRI). Dan pada akhirnya setiap Faksi akan menghancurkan NKRI dari berbagai sisi, sedangkan mereka (NKRI) tidak mengetahui. Melalui Faksi-faksi ini Allah akan menghancurkan NKRI sebagaimana Allah menghancurkan Bani Israil.

17: 5. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Al Israa [17]:5)

Dan saya tidak pernah terpikirkan bahwa alasan sepele ini menjadikan saya keluar untuk membentuk Tandzim baru, atau Taat kembali pada NKRI (Negara Jahiliyah Laknatullah). Maka tugas dari setiap Komandan Tentara Islam Indonesia untuk mempersatukan lagi barisan dalam barisan yang Kokoh Kuat, agar Allah mencintai mereka, mencintai Jihad Mereka, Mencintai setiap aksi mereka, agar Allah memenangkannya (Perjuangan para Mujahid TII dalam merebut kembali tanah yang di akuisisi NKRI), dan saya tidak akan pernah terpikirkan untuk kemudian melemahkannya, dengan memboikot Gerakan mereka, dengan keluar dari Nagara yang dikaruniai Allah ini.