NII kalah Perang dari NKRI (1962/1965), NII hanya tinggal sejarah, NII hanyalah Gerakan Sakit Hati para petualang politik yang menggunakan Agama sebagai cara mendapat simpati. Kakek saya adalah politikus Sosialis (dari fihak ibu) dan seorang Marhaenis (dari fihak bapak), sehingga doktrin tentang nasionalisme sudah mendarah daging di dada saya sejak sekolah dasar (SD). Sehingga Nasionalisme menjadi Ideologi pertama saya hingga akhirnya bertemu seorang ustadz yang membuat sebuah statement dimana pernyataanya merubah haluan ideology saya 180 derajat (kelas 1 SMA). Statemen sederhana, bahwa kebenaran hanyalah diukur oleh dua parameter pasti, Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah. Sehingga ketika orientasi politik praktis mulai tumbuh dalam khasanah intelektual saya, parameter yang menjadi ukuran pembenaran tidak terlepas dari dua sisi tadi (Al Qur’an dan Sunnah Rosulullah). Nama DI (Darul Islam) sudah hadir di telinga saya sejak umur 7 tahun melalui dongeng kakek bagaimana beliau menggambarkan kekejaman saudaranya sendiri (yang menjadi TII) hampir membunuh dirinya hingga akhirnya kakek melarikan diri dari Garut ke Jakarta. Pernyataan utama dan mendasar dari beliau adalah bahwa mereka hanyalah sekumpulan barisan sakit hati (atas rasionalisasi tentara, dimana banyak lascar Hizbullah tidak dimasukan ke Lembaga Resmi/TNI) yang dipimpin oleh petualang politik yang tidak kebagian kursi di Pemerintahan. Dan setelah membaca dari berbagai literature tulisan sejarah Indonesia terutama sejak kebangkitan Islam di Indonesia (1905), maka pernyataan tadi hanyalah korban dari perang ideology di Indonesia sejak awal kebangkitan politik di Indonesia. (Islam-Nasionalisme-Sosialisme-Marxisme). Hingga akhirnya mengkristal dengan diproklamasikannya tiga Negara yang saling bertentangan dalam konsep ideology hingga militer, Nasionalisme (Republik Indonesia, 1945), Marxis-Komunisme (Negara Komunis Indonesia,1948), dan Islam (NKA NII, 1949). Melalui dua Parameter pasti (Al Qur’an dan Hadits), untuk memilih tiga Negara tersebut bukanlah hal yang sulit, karena baik Nasionalisme (Ashobiyah) dan Komunisme (Atheis) banyak ayat dari Al Qur’an hingga Hadits Sahih menyatakan kesesatan keduanya. Terutama dalam hal penolakan syari’at/hukum dalam manifesto politik dari keduanya. Dan kebalikannya, Daulah Islamiyah (Negara Islam) adalah menjadi kewajiban bagi umat islam dalam hal pendiriannya. Keputusan memilih ini menjadi sedikit rumit ketika dalam setiap diskusi tentang NII dengan para politikus foundamentalis yang masih loyal kepada NKRI menyatakan bahwa NII hanyalah tinggal sejarah, dan Negara ini telah kalah perang pada tahun 1962. Tidak ada alasan lagi untuk mendukungnya apalagi berbaiat kepadanya. Benarkah, jika ada sebuah Negara yang mengalami kekalahan perang dan setiap jengkal tanahnya direnggut dan dijajah maka secara otomatis Negara tersebut tidak mempunyai hak lagi untuk dibela dan dibantu, dan kita tidak usah lagi merapatkan barisan dengan mereka (para pengikutnya) meski Negara tersebut ternyata Daulah Islamiyah,? dan akhirnya kita lebih baik diam? atau malah harus mendukung Negara pemenang perang meski secara syari’ Negara tersebut adalah Negara Jahiliyah dan Dzalim pula? “Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka” (QS. Asy Syuuro [42]:41) Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”. (QS. Ali Imron [3]:146) Dan ketika mereka setelah bertahun-tahun dalam penganiayaan, rakyatnya dipaksa untuk berhukum kepada hukum jahiliyah (setelah mereka berhukum kepada Allah), para mujahidnya dikhianati, dan dengan kelemahan mereka (dari jumlah dan peralatan) mereka mengajak kita bersama sama membebaskan negrinya dan rakyatnya umat islam Bangsa Indonesia, membebaskan rakyatnya dari penjajahan dan kedzaliman pemimpin (thoghut NKRI) dan rakyatnya (para nasionalis, musyrikin, murtadin, munafiqin, dan seluruh antek Pancasila), yang setiap saat berdoa dalam keteraniayaannya , berharap kebebasan, kemerdekaan bersyari’at. 4:75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.                        (QS. An Nisa [4]: 75). “Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al Israa [17]: 80-81)