Sering terdengar pihak pihak yang mengatakan :’Kita effektifkan dakwah di sini, kita perbaiki orang orangnya, sehingga kalau Islam telah menyentuh seluruh ruangan kantor pejabat, bergema di tiap gedung pemerintahan. Maka keputusan keputusan Islami dengan sendirinyaakan mengatur negeri ini. Inilah upaya kita dakwah fisabilliah bil hikmah … Bukan menimbulkan permusuhan sebangsa dan membangkitkan rencana kekerasan. Islam itu damai, bawakanlah ia dengan damai, sejuk dan lembut…’’

Sebuah pernyataan yang indah, satu impian yang manis …. Janji perubahan tanpa pertumpahan darah dan chaos [kekacauan]. Sungguh merupakan puncak harapan manusiawai …… Saya pun sangan menginginkan itu terjadi, andai bisa terjadi ….

Kalau saja saya tidak melihat sejarah, kalau saja Quran tidak mendahului saya mengingatkan, tentu saya pun terbuai janji ideal di atas, kemudian mencukupkan diri berdakwah dari mimbar ke mimbar, seraya berharap semua orang segera bersedia menempuh jalan hidayah, agar impian tadi segera jadi …

Kapan mimpi itu terbukti ? ? Jawab mereka : ‘’Kapan – kapan …. mungkin seratus tahun, mungkin dua ratus tahun, atau kapan sajalah, tokh yang diminta Allah bukan hasil, tapi usahanya yang diminta. Usaha kita adalah dakwah, terus tak bosan bosannya menyeru manusia walaupun harus 950 tahun seperti usia dakwahnya Nabi Nuh AS

Pernyataan di atas benar dan patut dipuji bila dilihat semata dari sisi keuletan dakwah, namun ternyata belakangan kita tahu, bahwa menurut sunnah, yang dilakukan nabi bukan sekedar dakwah, tapi juga pembinaan warga Islam. Bukan sekedar dakwah, namun juga menata wilayah mencari tempat untuk tegaknya Dienul Islam. Tidak hanya membangun ummat tapi juga membina tentara untuk membela dakwah. tidak hanya mengangkat Mush’ab ra. sebaga juru dakwah, tapi pula membentuk aparat keamiran [Imaroh]. Bahkan pembentukan imaroh dilakukan lebih dulu seusai bai’ah Aqobah II, Rasululloh SAW melebas personil mubayyi’un dengan kata kata :

Idzhab wa anta amiruhum

Berangkatlah dan engkau amir mereka !

Mengapa ? Sebagai alternative …. kalau orang lain tidak mau, maka harus ada kekuatan mukminin terpimpin yang mau dan mampu menegakan kitabulloh dan menjadikan hukum hukumNya berlaku [jelas ini harus ditata sejak awwal]. Sebab undang undang Allah harus berlaku tanpa menunggu persetujuan penduduk bumi, bukan mereka yang memiliki bumi, tapi Allah yang menitahkan Quran ! Kersadaran orang memang bisa ditunggu, tapi tegaknya hukum Allah mendesak harus berlaku, sebelum kerusakan demi kerusakan di bumi bertambah parah ditingkahi nafsu angkara [QS.23:71,30:41-43].

Kedua, apakah kita menunggu semua orang yang kafir itu[1]insyaf dan sadar, kemudian secara sukarela mengganti hukum yang telah sekian lama berjalan dengan Wahyu ? Indah sekali kalau bisa terjadi ….. Bagaimana dengan Firman Allah :

‘’ Sesungguhnya bagi orang orang kafir itu, sama saja kalian beri peringatan,atu tidak diberi eringatan, mereka tidak akan beriman ‘’ [QS. 2:6].

Artinya akan ada dari sekian puluh juta orang kafir itu, yang tidak lagi bisa ‘diapa apain’lagi, mereka tetap membatu jadi kekuatan Kontra Aktif yang senantiasa menentang. Bahkan Allah menegaskan, tidak akan pernah terjadi seluruh manusia di bumi beriman semuanya, betapapun kita sangat menginginkannya ! [QS.12:30],  Mereka harus dilawan, untuk menghadapi mereka, sejak sekarang kekuatan harus dibangun [QS.8:60]

Quran memang menyuruh agar pada orang kafirpun Al Quran tetap harus dijelaskan [QS.13:30], namun untuk pelaksanaannya tidak harus menunggu mereka semua menyetujui. Tanggung jawab melaknsanakan Quran, bukan terletak pada pundak mereka, tapi pada kita

‘’ Wa anihkum bainahum bimaa anjalallahu, walaa tattabi’ ahwaahum, wahdzarhum ay yaftuka ‘am ba’di maa anzalallahu ilaika … ‘’

Dan jalankan hukum diantara mereka dengan aga yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Waspadalah, jangan sampai mereka memalingkanmu dari sebagian wahyu yang telah diturunkan kepadamu …[QS.5:49].

Andai mereka tidak mau melaksanakan Quran, maka bukan berarti kita lepas tuntutan dengan tidak berlakunya Quran di bumi. Karenanya bukan semata dakwah yang harus dijalankan, tapi juga pembangunan structural, persiapan, andai merka yang diseur tidak mau, kita telah punya kekuatan buat menjalankannya. Supaya jangan dosa semuanya ……

Bagaima kalau seluruh pihak yang diseru menyambut seruan Islam, dengan sukarela mengganti seluruh tata hukumnya dengan wahyu ? ? Yaa… Alhamdulillah, kita bisa bekerja sama mengaawasi dan memberlakukan Islam dalam kehidupan masyarakat dan Negara. Antara Negara kita dengan mereka berhenti jadi Negara yang bermusuhan, tapi jadi negara bersaudara [Innamal mukminuuna ikhwah –QS.49:10]. Yang bersatu padu seia sekata memberlakukan Hukum Ilahi di Bumi.

Tentu kta tidak langsung jadi warganya sebab sempat berbeda pemerintah dan berpisah Negara, urusan ini akan ditangani oleh para pemimpin Negara masing masing dalam kadar taqwa dan rasa ihsan yang mendalam.

Sebagai rakyat Daulah Islamiyyah, kita mengharap terjadi koordinasi dalam bentuk apaun yang baik dalam kelas Negara [federasi, konfederasi, atau berintegrasi sama sekali] Yang jelas terhadap Negara yang berhukum Islam kita dilarang saling berperang [ta’awanu ‘alal birri wat taqwa walaa ta’awanuu ‘alal ismi wal udwan –QS. 5:2]. Sebab kita berbuat begini bukan ingin merebut kekuasaan, tapi ingin hidaup dalam kekuasaan Islam, walaupun bukan saya yang harus jadi pemimpin !

Cuma berhenti menyusun kekuatan, karena mengharapkan yang megarara Non Islam berubah dengan sendirinya lewat corong corong pengeras suara, bukanlah hal yang bijaksana … Iya kalau mereka mau, kalau tidak ? ?!! Apa kita akan beralasan diakhirat sana ‘’Tidak jadi ya Allah, habis merekanya sich tidak mau diajak kerja sama ….’’.

Marilah kita berhenti pada ‘’andai dan kalau’’, tata saja yang ada sesuai kemampuan kita, masalah ada perubahan di masa datang, itu bisa diatur kemudian [tokh yang diandaikannya pun belum datang, bahkan seperetinya semakin jauh dari kenyataan]. Jangan kerja kita terhambat oleh sesuatu yang belum pasti. Syetan memang senantiasa membisik agar kita terlena dan menunda, syetan sadar suatu sa’at ia akan kalah oleh kekuatan mukminin, karena itu ia hanya mengambil untung dari ‘’menunda kekalahannya’’. Dibuatnya kita lambat lambat bekerja, mengharap ini mengharap itu, nanti … nanti … kalau begini … kalau begitu , akhirnya tidak ada yang dikerjakan selain debat dan diskusi, Islam hanya jadi kata kata, tanpa pernah berubah jadi kekuatan …. Na’udzubillaahi min dzalik, Aamiin …


[1] Pelaksanaan hukum non wahyu QS.5:44[ujung ayat]