C. Muslihin bukanlah mereka yang berkata : ‘’Bergabung dengan Anda Ibarat Menjatuhkan Diri pada Kebinasaan ! ‘’

Mungkin anda pernah mendengar keluhan seperti di bawah ini :

‘’Manfaat apa yang bisa saya ambil dari jama’ah  ini …. Yang jelas Cuma terancam dan penuh was was. So’al kemapanan tarbiyyah, banyak yang lebih baik dari jama’ah anda, belum lagi soal manajemen organisasi, apalagi kalau kita menghitung kekayaan organisasi dan dukungan ummah. Masuk jama’ah anda tak ubahnya dengan ‘’menjerumuskan diri dalam kebinasaan’’ !’’

‘’Mengapa anda tetap berada di jama’ah seperti itu ? Mengapa tidak bergabung saja pada jama’ah jama’ah yang jelas lebih layak dimasuki dari segi kemapanan organisasinya ? Anda terlanjur terikat dengan nostalgia sejarah, hingga buta mata untuk melihat kenyataan ! Anda dengan jama’ah terikat secara emosional, jauh dari rasional, hingga biar sudah jelas jeleknya, dibela juga, secara emosi lagi belanya juga ….’’

Berhadapan dengan pertanyaan seperti ini, terus terang kita [atau setidak tidaknya saya] sering terhenyak. Betapa tidak ? Sebab yang bicara berpijak pada fakta, sedang [kita akui] di alam kenyataan memang kita belum bisa berbuat banyak ..

Yah, kalau rakyat musuh mencemooh berbagai kekurangan tadi, wajar, sebab yang dibicarakan adalah yang dilihatnya. Hanya yang beda adalah situasi hati ketika membicarakannya.. Ada perbedaan mental ketika membicarakan hal hal yang nyata tadi.

Kita menyadari adanya kekurangan kekurangan tadi, dan berfikir keras bagaimana mengadakan yang kini hilang, memperbaiki yang kini rusak dan menyempurnakan berbagai kekurangan yang terasa. Sedang mereka dengan kekurangan kekurangan itu, justru jadi alasan untuk merusakkannya sekalian.[1] Atau meninggalkannya sama sekali, menganggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertahankan lagi.

Begitulah perbedaan sikap antara orang yang merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk merawat, dengan mereka yang tidak merasa itu miliknya.

Bagi rakyat Darul Kuffar, sikap demikian terhadap Daulah Islamiyyah berjuang, wajar adanya –rasa bela Negara mereka memang menghendaki demikian. Tapi bila fikiran yang sama, justru muncul dari rakyat Daulah Islamiyyah berjuang, maka kehadirannya perlu diwaspadai. Siapa dia, hingga ingin merusak rumah dari dalam ? ? Setidak tidaknya, perlu penyadaran lebih lanjut, agar harapan dan keyakinan[2] tetap terpelihara dalam qolbu tiap mujahid.

Orang yang masih punya harapan, akan terus berjuang, tapi bila harapan sudah sirna, maka sirna pulalah perjuangan itu. Tugas aparat Darul Kuffar adalah memupus harapan menang dari setiap mujahid Daulah Islamiyyah, sedang tugas kita adalah menumbuh suburkan harapan tadi ! Bila kita malah yang melontarkan gagasan gagasan memutus harapan, hendaklah bertanya pada diri, aparat siapakah kita ini ? ? ?

Orang yang penuh asa berbeda sekali dengan mereka yang putus asa dalam memangdang asus yang sama, saya akan kemukakan contoh contoh di bawah ini :

  1. Yang penuh asa berkata : ‘’Masalah ini memang susah dipecahkan, tapi bisa !’’ sedang mereka yang putus akan berkata : ‘’Masalah ini memang bisa dipecahka, tetapi susah !’’
  2. Orang yang penuh asa akan berkata : ‘’ Kita masih memiliki sisa kekuatan !’’, sedang mereka yang putus asa akan berkata : ‘’Kita kehilangan sebagian besar kekuatan kita !’’
  3. Orang yang penuh asa akan berkata : ‘’Dulu kita pernah punya kekuatan, mari susun kembali’’ Orang yang putus asa akan berkata : ‘’Sekarang kita telah lemah, marilah berhenti’’
  4. Orang yang putus asa akan berkata : ‘’Kita sudah bertahun tahun bersabar, tapi tak ada hasilnya, tinggalkan saja !’’ Sedang mereka yang penuh asa akan berkata : ‘’Kalau kita sudah bertahun tahun bershabar, artinya untuk urusan shabar kita sudah cukup punya pengalaman. Mengapa hari ini justru seperti orang yang tidak pernah bershabar sebelumnya, mana bekas bekas pengalaman itu ? Kalau anda bisa tahan menunggu/ulet berusaha selama bertahun tahun, masa tidak bisa bershabar untuk beberapa tahun lagi ? ?’’

Sa’atnya kita mengoreksi diri, masihkan kita menyimpan asa, atau memang sudah putus asa ? Bersyukurlah bila di dada masih ada asa, tapi jika itu telah hilang, berlindunglah pada Ilahi, sebab orang yang berputus asa adalah sesat [S.15:56] Orang yang berputus asa adalah kafir [S.12:87]

Kasus seperti ini pernah terjadi di jaman Rosululloh SAW, ketika muslimin terdesak di medan Uhud, para prajurit Musyrikin menebar isyu bahwa Muhammad SAW telah mati terbunuh. Mendengar itu, mereka yang putus asa berkata : ‘’Bila Nabi sudah mati, buat apa lagi kita berperang, tiada pimpinan yang harus dibela’’ Sebaliknya orang yang penuh asa diantara mereka, bukannya surut dan melemah daya perang, mereka malah berkata : ‘’Bila Nabi SAW telah gugur, maka apa gunanya lagi kita hidup, teruslah berperng, sosong keutamaan syahid !’’ Kalimat itu membangkitkan ruh jihad mereka yang shock mentalnya, serentak mereka bangkit dan berkata : ‘’Yah, buat apa lagi kita hiccup, mari berperang hingga tetes darah penghabisan !’’ Justru dengan semangat baja itulah pertempuran bisa diselamatkan dari kekalahan telak !

Karenanya bila suatu sa’at anda bertemu dengan orang orang yang melontarkan nada putus asa terhadap perjuangan Islam, berlindunglah pada Alloh dari mengalami hal serupa. Bila mungkin, nasihatilah, jika tidak mungkin lagi dinasihati, jangan berbantah bantah dengan mereka ! Buat apa habiskan energy beradu argument dengan mereka yang jiwanya telah mati !

Berbicara mengenai ketidak lengkapan sarana, dan belum efekfifnya manajemen, sejak dulu telah kita fahami bersama, dan terus tengah diperbaiki. Mungkin ada yang berkata : ‘’ Tinggalkan saja dan bikin yang baru !’’ katakanlah pada mereka :

‘’Kalau anda memulai lagi yang baru, maka hasilnya mungkin akan sama dengan yang telah dikerjakan sekarang, atau sedikit lebih baik dari padanya. Tapi jika anda melanjutkan yang telah ada, maka tinggal memperbaiki yang ada tadi !’’

Mana lebih effektif ? Mungkin mereka berkata : ‘’Habis berjuang di sini dikejar kejar melulu’’ Katakanlah pada mereka : ‘’Kalian pun bila alam pergerakannya sudah seperti demikian akan dikejar kejar juga’’, apa kalau suasananya sudah seperti itu kalian akan lari ? ? ?

Mungkin mereka bilang : ‘’Kami tidak akan pernah berniat mendirikan Negara, sebab kami bertujuan Cuma membangun ummah !’’

D. Arti Membangun Ummah yang Sebenarnya

Ummah bermakna sekumpulan manusia yang terbina atas suatu aturan yang diyakini bersama, dan sepakat memberlakukan hukum tersebut dalam struktur kepemimpinan [=imamah] yang diterimanya. Dari itu pengertian ummah senantiasa terkait dengan imamah.

Contoh, dikatakan Ummat nabi Musa adalah mereka yang bersetia pada ajaran Alloh yang diamanahkan kepada Nabi Musa AS, mengikuti kepemimpinannya, mendukung gerak langkah perjuangannya, serta rela menderita bersamanya demi keyakinan tadi. Mereka bukanlah ummah Fir’aun, walaupun di masa itu Fir’aun eksis dengan kekuasaan dan kelengkapan aparat pemerintahannya. Bahkan mereka tetap terpisah dari ummah Fir’aun, terlepas dari kendali kekuasaan/kepemimpinan [imamah Fir’aun, sekalipun oleh sebab itu mereka harus hidup di bawah ancaman dan terror kekuasaan Fir’aun tadi [S.10:83].

Bahkan kalaupun ada yang menjabat satu posisi dalam struktur Fir’aun tadi, ia tidaklah berwala kepadanya, ia berjuang sebagai mukmin yang menyembunyikan imannya, yang akan tampil dalam moment yang tepat bagi kepentingan perjuangan yang tengah dijalankan Nabi Musa AS [lihat S.40:23-51. Cermati ayat ayat ke 28,30-35,38-44,45].

Begitu pula dengan Ummah Muhammad SAW, Ummat Islam pengikut Nabi Akhir Zaman, disebut Ummah Islam bukan berarti secara hati dan fikir menerima ajaran Islam, bukan sekedar mereka yang melaksanakan rukun Islam. Tapi disamping semua itu, Ummat Islam adalah mereka yang bersetia pada Islam, mengikuti dan berjuang bersama Ulil Amri minal mukminain, bernaung di bawah Imaroh yang mengejawantahkan nilai nilai Islam, serta kufur kepada thoghut dan baro [tidak bersetia] dengan segenap kepemimpinan yang menimbulkan kemurkaan Ilahi.

Kalaupun ada ketika itu yang secara pribadi adalah seorang muslim, namun bila malah bertahkim kepada thoghut, atau berwakilan orang orang yang dimurkai Alloh, maka statusnya bergeser tidak lagi sebagai Ummat Islam walaupun tidak serta merta disebut Ummat kafir, tapi baina dzalik [di tengah tengah antara itu] Lihat S.58:14-16,4:60. Bagi golongan ini, jelas tidak mendapat jaminan keamanan sebagaimana halnya Ummat Islam yang utuh. Lihat S.8:72.

Ummat Islam adalah mereka yang di bawah Struktur Rosululloh SAW, bukan mereka yang berada di bawah kepemimpinan Abu Jahal, [sekalipun secara pribadi mereka muslim ! Lihat S.4:97]. Yang disebut Ummah Islam adalah mereka yang berada dalam kepemimpinan Mukminin dan berjuang menata kekuasaan Islam. Mereka yang tidak demikian tidaklah disebut Ummat Islam tapi munafiqin [S.4:138-139].

Jika telah jelas arti Ummah, seperti di atas, maka apakah yang mereka maksud dengan ‘’Membangun Ummah’’. Apakah sekedar membina kepribadian muslim, sekalipun secara struktur di bawah Kuffar ? Bila mereka bersikeras, bahwa itulah yang dimaksud membangun ummah, maka nyat ada perbedaan asasi antara kita dengan mereka dalam mengartikan ‘’Membangun Ummah’’ tadi.

Bagi kita membangun ummah tidak bisa dilepaskan dengan membangun imamah, sebab keduanya adalah sisi mata uang yang tidak boleh dipisahkan. Tapi jika mereka bersikeras mencukupkan diri dalam bidang pembinaan ummah sebatas apa yang mereka mengerti, maka biarlah ia dalam kesungguhan seperti itu sementara. Walaupun tidak berdampak langsung, apa yang dikerjakannya tidak sepenuhnya buruk bagi kita, tak perlu kita menghabiskan energy mengajak mereka, sebab kembali pada kapasitas mental dan wawasannya, Nampak hanya akan menjadi calon rakyat Islam id masa datang. Jika ditarik tarik/diajak sekarang, malah kita yang cape harus menarik narik melulu …. Coba perhatikan S.9:44-47,42

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Atau ada orang yang berkata : “ Kendaraan sudah butut masih dipakai,coba cari yang lebih canggih?”Orang berkata demikian ,berarti tidak tahu hakikat perjuangan Negara. Ketahuilah rakyat dari sebuah Negara tidak mungkin begitu saja meninggalkan negaranya, dalam keadaan terburuk sekalipun!

Bagaimana penilaian anda, apabila ketika Vietnam diserbu tentara Amerika, lantas rakyat Negara yang diserang malah ramai ramai meminta naturalisasi, pindah kewarganegaraan, ingin diakui sebagai rakyat  AS sekalian.Atau ketika Republik Indonesia diserang kembali oleh Belanda [NICA], mereka lantas ramai ramai ingin jadi warga kerajaan Belanda. Anda akan mengutuknya dan menghukum sebagai pengkhianat Negara ! Ya, di belahan bumi manapun, tingkah rakyat menyerahkan negaranya pada musuh, dikutuk habis habisan. Itu untuk Negara yang bukan Islam, anda bisa bayangkan betapa kemurkaan Allah pada rakyat Daulah Islamiyyah yang rela berhenti mempertahankan Negara berjuang yang dimasukinya hanya karena kekalahan yang panjang !

Benar kita tengah kalah. tapi kalah dalam satu babak pertempuran, bukan kalah perang secara keseluruhan. Kami belum, dan tidak akan menyerah ! ! ! Hingga Allah ssendiri menurunkan keputusanNya, di sini atau di Yaumil Akhir nanti !

Namanya Negara tengah kalah bertempur. sedang terpuruk dan terus didesak, wajar kalau mengalami banyak kekurangan, sekarang tinggal dikembalikan pada mental rakyatnya. Apakah mereka akan berjuang untuk bangkit meneruskan perjuangan, atau malah memperburuk keadaan dengan ocehan ocehan putus asa serta caci maki atas Negara sendiri dengan mengandalkan kekecewaan kekecawaan pribadi.

Aneh memang, presidennya sendiri tidak pernah merasa kecewa, walau telah berkali kali di tawan musuh, tapi rakyatnya, yang terkadang tidak pernah diinterograsi sama sekali, tapi paling vokal meneriakkan kekecewaan dan ingin berhenti. Na’udzu billahi min dzalik !

Orang kecewa itu boleh, bahkan pada sa’at sa’at tertentu terkadang harus. Tentu tidak normal namanya kalau orang merasa puas dengan kondisi yang buruk, sebab jika demikian, keadaan yang buruk tadi malah akan terus dipertahankan. Orang harus kecewa, agar timbul gagasan untuk memperbaikinya. Itulah kecewanya orang yang penuh asa. Yang tidak boleh adalah : anda kecewa, kemudian anda tinggalkan tanggung jawab memperbaikinya. Sudah jelek, dibuang lagi ……. Astaghfirullohal ‘Azhiem.

Sekali lagi, kalau suatu sa’at anda bertemu ummat yang mengeluhkan kekecewaannya atas perjalanan juang ini, jangan terburu salah sangka. Ajaklah duduk bersama, dan mintai pendapat bagaimana sebaiknya keluar dari problema tersebut, memperbaiki apa yang jadi sumber kekecewaan.

Sebab boleh jadi ia kecewa karna, berkeyakinan seharusnya bukan demikian pengelolaan Negara berjuang yang tengah bergerilya di daerah lawan. Ia ingin memperbaikinya, ia butuh telinga yang mendengarkan gagasannya. Bila kita mau menyimak dan menyambut usulan usulan mereka, dalam ketenangan hati dan kelembutan mendengarkan tadi terkandung dua keuntungan.[1] Saudara kita tadi bisa menyalurkan aspirasinya secara bertanggung jawab,[2] Daulahpun mendapat masukan baru demi perbaikan selanjutnya.

Tapi bila Sipengeluh, ketika ditanya tentang usulan jalan keluar, malah tetap menuntut keluar jalan. Berarti memang ia ngomong begitu, karena sudah tidak betah tinggal di Negara berjuang. Perlakukan ia dengan hati hati, agar tidak menambah musuh baru, yang berasal dari kalangan dalam sendiri. Sebab menurut Imam Awwal, yang begini ini lebih berbahaya dari iblis !


[1]  atau membiarkannya hingga lapuk di makan waktu, jadi sejarah silam –seperti hari ini orang memangdang Daulah Islam Samodra Pasai sebagai pahatan sejarah keemasan Islam. Setelah jadi sejarah, baru orang cerita macam macam, dianalisa, diperbincangkan di berbagai forum. Tentu saja aman karena tidak ada lagi keterkaitan dengan status diri hari ini. Begitulah Muslim Dzimmi …. bangga dengan masa lalu mereka, hingga lupa keniaan hari ini ! Apakah kita pun mau begitu, ketika nyawa terangkat, termasuk daftar catatan mereka yang ikut mengubur Daulah Islmaiyyah ? ? ? Na’udzubillahi min dzalik !!

[2]  Harap kemenangan di masa datang, dan yakin akan tibanya pertolongan Alloh [S.61:13], orang seperti inilah yang akan tetap istiqomah dalam barisan Anshorulloh [S.61:14]