Kalau penataan jama’ah dihitung fase satu, maka menegakkan daulah adalah fase keduanya, sedang tegaknya kekuasaan yang mendunia [khilafah Islamiyyah/Daulah Islamiyyah ‘Alamiyyah] adalah fase ketiganya. Ini disepakati oleh para ulama haroki [Lihat Hasan Al Bana ‘’Dakwah Kami Kemarin dan Hari ini’’, atau Mustafa Masyhur ‘’Muslim Kaffah Teladan Ummat’’ hal 2, 57, 63, 28].

Cuma anak anak muda sajalah yang bermimpi dari jama’ah langsung ingin tegak khilafah[1], belakangan kita tahu, ternyata idea itu disetir segelintir koloni kelima[2], sengaja dibuat demikian, agar tidak bertabrakan dengan kepentingan politik Negara non wahyu yang mereka berada di dalamnya.

Mereka hanya menebar gagasan padahal mustahil wujud di alam nyata, bagaimana menebar ke khilafah, jika saran daulahnya tidak mereka fikir sama sekali.

Dulu kita mengira rencana itu dibuat agar pada fase awwal ‘’Tidak bertabrakan’’ dengan kekuatan bathil, katakanlah sebansa Taqiyyah, ternyata ‘mereka’ juga yang mengaturnya, Subhanallah … Thoghut juga thoghut juga ternyata yang jadi pangkalnya …..

Inilah sementara yang bisa penuylis ungkapkan, seperti dikatakan di muka, kekurangan pasti adanya. Yang jelas itu hanyalah karena kelemahan penulis pribadi, Allah dan Rasulnya, juga kesucian dan kehormatan Daulah Islam Berjuang tidaklah ternoda karenanya.

Tulisan ini berawal dari diskusi demi diskusi yang sering penulis alami selama melaksanakan tugas di lapangan. penulis sering tersentak ketika diberondong dengan pertanyaan pertanyaan ‘di luar dugaan’ baik dari rakyat DADRUL kuffar. Terasa sekali betapa kurangnya ilmu, hingga kehabisan akal untuk mempertahankan apa yang hati telah meyakini benarnya.

Alhamdulillah, sekalipun sa’at itu saya terdesak, tapi hati tidaklah bimbang, saya yakin ini hanya kasus kurangnya ilmu saya saja. Sebab nurani tidak bisa ditipu, bahwa dia yang kini kelihatan lebih mantap dalilnya tidak lebih dari sekedar  ‘rakyat yang baik’ dari sebuah Darul Kuffar.

Bangkit dari rasa santai, tidak boleh kita membiarkan saudara seagama[3] terus keliru dalam milih wadah beramal, saya berfikir keras untuk menjelaskan ini masalah tanpa menimbulkan debat kusir berkepanjangan. Dengan segala keterbatasan, penulis coba cari jawabnya di Al Quran dan Sunnah serta sejarah Perjuangan Rasulullah SAW. Dan inilah hasilnya, semoga bisa dijadikan gambaran, walaupun kekurangan masih terselip di sana sini. Tugas pembacalah untuk menyempurnakannya. Insya Allah, Aamiin.

Penulis berharap, semoga kiranya hari demi hari yang kita lalui semakin memberi makna bagi terwujudnya janji Ilahi yang kita damba bersama :

Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba hamba Kami yang menjadi Rasul, uaitu sesungguhnya merekalah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya merekalah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah kamu dari mereka [musuh] sampai suatu ketika [dimana kalian memperoleh cukup kekuatan !] QS.37:171-174.


[1] sebagian lagi berkata :’’Kalau pakai Negara khan harus dibatasi wilayah, karena itu sudah jangan pakai negara’’. Kita jawab : Terus anda mau tinggal di Negara mana ? Dinegara kafir ?? Apa tidak semakin dibatasi pelaksanaan syariatnya ? Anda sebagai pribadi memang tidak dibatasi, dalam arti bisa pergai kemana saja, dan dakwah dimana saja, tapi lihat Islam anda, apa tidak dipreteli ??

[2] Orang orang yang disusupkan musuh untuk merusak dari dalam. Baik dmaksudkan untuk merusak citra, keutuhan maupun menghancurkan kita sama sekali.

[3] walaupun bukan saudara senegara. Ini perlu difahami agar gejala takfir [gampang mengkafirkan] tidak menjalar di Daulah Islamiyyah. Rosul tetap menyebut ‘’muslim’’ pada mereka yang berada di tengah tengah mushrikin. Hanya saja beliau SAW tidak lagi mempertanggung jawabkan mereka [lih.kitab Bulughul Marom Bab Jihad dan selanjutnya]