Kata sebagian orang :

‘’Kalau Negara pasti isinya bangsa, dan ini ashobiyyah, musyrik, bukan lagi ummah Muhammad, laisa mina man da’aa ila ashobiyyah. buat apa susah susah dikejar kejar penguasa, kalau yang diperjuangkan Cuma ashobiyyah yang membawa kemusyrikan …..’’

Perlu diketahui, bahwa ashobiyyah itu ada definisinya dari nabi sendiri, tidak bisa dikarang karang sendiri lalu dituduhkan pada orang lain.

Ketika seorang bertanya pada Rosululloh SAW, tentang seseorang yang mencintai kaumnya, apakah itu ashobiyyah. Dijawab oleh Rosululloh SAW ‘’Tidak, Ashobiyyah itu adalah apabila kamu menolong kaummu dalam kedzaliman’’ [lihat buku Islam dan kebangsaan A.Hassan]

Dengan demikian bila anda sebagai bangsa Indonesia, ingin agar hukum yang berlaku itu yang selaras dengan citra dan kepribadian bangsa, tanpa mengindahkan hukum hukum Alloh, maka itulah ashobiyyah, tapi bila anda sebagai bangsa Indonesia, menyatakan ingin agar hukum yang berlaku mengatur bangsa ini adalah aturan dari yang menciptakan bangsa tersebut [Alloh Azza wa Jalla], sama sekali itu bukan lah ashobiyyah, tapi Tasyakkur Bi Ni’mat ! Sebab Alloh pun mengakui eksistensi bangsa [S.49:13], Cuma tidak mengakui kedaulatannya dalam membuat hukum. Karena urusan hukum dan pemerintahan, hanyalah hak Alloh semata [S.7:54].

Jawabannya simple memang, Cuma menjadi ruwet karena berbicara Islam Indonesia, mengundang resiko. Yang jadi masalah sebenarnya bukan Indonesianya, tapi Islamnya ! Bagi anda tentu lebih mudah meneriakkan ‘’Islamkan dunia …. islamkan Dunia !!!’’ atau menyablon kaos dengan tulisan besar besar : ‘’Islam hukum bagi dunia !!!’’, Tapi coba bilang Islam Hukum bagi Indonesia ? ? Jelas bukan, kembali pada tantangan nyata dan kesiapan menghadapinya ….

Perlu juga dibedakan antara bangsa sebagai etnis dengan bangsa sebagai kesatuan politis. Bila dilihat dari segi etnis, maka Bangsa Indonesia adalah sekumpulan manusia yang memiliki kekhasan dalam budaya, warna kulit, bentuk tubuh dsb, yang bisa dibedakan dengan Bangsa Cina yang kuning dan sipit, berbeda dengan bangsa Indian yang berkulit merah dan berhidung bengkok. Bangsa dalam arti demikian, tidak lebih dari sekedar keragaman ciptaan Ilahi yang sengaja dibuat agar terjalin ta’aruf [S.49:10].

Bila hanya dari keberbedaan etnis seperti di atas, kemudian merasa berhak untuk membuat hukum khas bersi bangsanya masing masing. Maka ini jelas musyrik ! sebab bangsa dari sisi etnis diakui adanya, tapi tidak untuk berdaulat sendiri sendiri sesuai dengan kekhasan etnisnya tadi.

Tapi arti ‘’Bangsa’’ dari segi politis amat berbeda dari hal seperti diatas. Orang dikatakan bagaian dari ‘’Bangsa Malaysia’’

‘’Kontrak Sosial’’ dengan Negara Malaysia sebagai lembaga tertinggi yang berkuasa di wilayah territorial tertentu, tidak peduli apa secara etnis ia orang Tiong Hoa, melayu, atau negro sekalipun. Sepanjang ia menerima, rela terikat dengan tatanan Negara Malaysia, maka dimanapun ia berada, sekalipun ia tinggal di bulan sana, ia adalah Bangsa Malaysia. Sebab bangsa secara politis tidak mengenal perbedaan suku, tapi didasarkan atas kesamaan kontrak social tadi.

 

Begitu pula dengan Bangsa Islam Indonesia, dalam artian politis, ini tidak menunjukkan kekhasan suku, ataupun budaya khas regional. Orangnya boleh berasal dari suku mana saja, tak peduli ia etnik negro, china, semit, Indian atau melayu. Sepanjang dia setuju dan terikat kontrak social untuk menegakkan Islam, li I’la-I kalimatillah dalam Negara itu. Maka ia adalah Bangsa Islam Indonesia. Bahkan bukan sekedar lintas kesukuan seperti di atas, orang kafir pun sepanjang ia rela di atur oleh hukum Negara Islam tadi, walaupun bukan muslim mereka adalah ‘’Rakyat Islam Indonesia’’ yang dilindungi hukum Islam, keberadaannya tidak boleh diganggu atas jaminan hadits nabi SAW[1].

 

Jadi bila anda dihadapkan pada olokan murahan tentang pencantuman Indonesia tadi, jangan emosi tapi justru harus ‘’Qolu salama[2], sebab yang bertanya memang belum mengerti duduk permasalahannya. Belum faham kalau kebangsaan yang dicela nabi, bukanlah ‘’bangsa’’ dalam kamus kewargaan Negara.

 

Disamping itu, kalaupun sudah mengerti, belum tentu secara mental mampu mengaplikasikannya.

Saya sering melihat anak muda dengan kaos bersablon menyala bertuliskan [yang artinya :] Ambil senjata, masukkan peluru, tembak tentara Serbia ! Yah disini anda bisa menulis begitu karena tentara Serbianya tidak ada, coba kalau di sana …..

Saya tuliskan ini bukan untuk mencemooh pemuda yang begitu peduli dengan keprihatinan Islam di dunia internasional tadi[3]. Sekedar mengingatkan, bahwa kita memang cenderung jadi berani, bahkan beringas, terhadap sesuatu yang tidak mungkin mengusik kita ! Banyak pemuda memprotes kekejaman tentara terhadap pejuang muslim di berbagai belahan bumi, tapi kelu bahkan mencibir terhadap derita mujahidin di tanah airnya sendiri. Mengapa, karena mereka yang diprotes tidak ada di sini ……[4]


[1] Namun keberadaan pribadinya, tetap bukan seorang muslim, sebelum ia mengucapkan syahadat berikrat masuk Dienul Islam. Dalam piagam madinah orang kafir dzimmi diklasifikasikan sebagai ummatun ma’al mukminin.

[2] Ada etika dalam S.25:63, bahwa mukminin dilarang berbantah bantah dengan orang yang belum faham, sebab bila pun terjadi dialog, jelas masing masing akan berangkat dari cara pandang yang berbeda. Tidak heran bila kesimpulannya pun bisa berlainan. Keadaan ini tidak bisa dipaksakan menjadi sama dalam sekejap, tapi lewat proses tarbiyyah yang membebaskannya dari cengkraman ideology yang membatasi cakrawala keislaman mereka tadi. Dan ingat bahwa mendidik bukanlah bertengkar !

[3] Disini lain kita pun memandang positif dukungan terbuka terhadap perjuangan seperti itu, walaupun yang didukung mereka hari ini bukan kita, tapi usaha mereka tetap bermanfa’at bagi Daulah Islam berjuang di belahan bumi yang lain. Perkara mengapa mereka antusias mendukung, ikut prihatin dengan derita perjuangan Daulah Islam di seberang lautan, tapi tak peduli dengan derita perjuangan Daulah Islam Berjuang di sini, itu patut mengundang muhasabah kita. Boleh jadi karena terikat jiwa dengan Darul Kuffar yang mereka ada di dalamnya, atau karena kita sendiri tidak professional mengelola perjuangan menegara ini, hingga terkesan sekedar jama’ah pemberontak yang melawan secara setengah hati …..

[4] Atau karena Muslim Mujahidin di Indonesia adalah musuh bagi negaranya, wajar sekalipun satu cita cita, ikut pula memusuhi sebab cintanya pada Negara sendiri. Kita tidak marah, tiap rakyat berhak dan wajib membela negaranya, perkara tanggung jawab di Mahkamah Ilahi, bersiap siaplah, siapa sebenarnya yang berada di pihak Ilahi…