Artikel ini meliputi pembahasan:

  1. Agama dan Ideologi
  2. Agama dan Negara
  3. Ideologi Islam
  4. Implementasi Ketahanan Ideologi Islam
  5. Cita-cita dan Kenyataan (Ideologi dan Realiteit)

A. Agama dan Ideologi

  • Pengertian Agama dan Ideologi

Agama menurut arti umum, ialah peraturan atau hukum kebaktian. Didalam Islam ia dinamakan “Dien”, yang secara lengkap berarti : “Keseluruhan peraturan (hukum) kebaktian (ibadah) yang diwahjukan Allah kepada Rasul-Nja (Muhammad Qlm) untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan ummat manusia, kini dan kelak. Didalamnya terkandung kepercayaan, cita-cita dan ajaran-ajaran, yang bersifat dasar, pokok dan perundang-undangan.

Adapun arti ideologi, menurut pendapat sebagian para ahli, ialah : “kumpulan (komplek) dari pada ide-ide, doktrin-doktrin dan ajaran-ajaran yang bersifat esssensial, prinsipil dan konstitutif untuk mencapai tujuan”. Akan tetapi, karena tidak mungkin ada sesuatu ide dan ajaran tanpa adanya kepercayaan, maka baiklah kita lengkapkan batasan ideologi  itu, dengan kalimat : “kumpulan (komplek) daripada kepercayaan, ide-ide dan seterusnya.

  • Ideologi adalah Agama (Din) dan Din adalah Agama

Dengan dikemukakannya dua titik batasan agama dan ideologi diatas, teranglah bagi kita, bahwa ideologi itu tidak lain, melainkan agama atau din, terbukti :

– Din atau agama adalah peraturan (hukum) yang mengandung kepercayaan, cita-cita dan ajaran-ajaran.
– Ideologi ialah kepercayaan, cita-cita dan ajaran-ajaran yang mengandung peraturan alias hukum Dus.

Perbedaannya hanyalah :

Agama atau Dien menonjolkan wudjudnya hukum, sedangkan ideologi yang menonjol adalah cita-cita.

Din terang-terangan menjebut dirinja peraturan kebaktian, tetapi ideologi, tidak. Kata-kata bakti didalam ideologi disembunyikan, padahal kita tahu, bahwa tidaklah seseorang berbuat, melainkan bakti, ternyata perbuatannya itu senantiasa berlaku menurut perintah, sekali pun perintah tersebut lahir daripada akal dan hawa nafsunya sendiri, sebagai tuhan yang dibakti-i / disembahnya. Ingat firman Alloh Q.S. Al Furqon ayat 43

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

  • Jangan Terpedaya

Hendaknya kita tidak terpedaya oleh kata-kata rekaan orang, yang mau menyesatkan Islam, yang memisahkan antara Agama (Dien) dan Ideologi, sehingga terpaksa kita menjadi syirik, karena akibat menganut rangkap Agama, yaitu : Agama yang satu untuk menyembah Tuhan, dengan sebutan Agama dan Agama lain untuk mengatur pergaulan hidup, dengan sebutan Ideologi. Untuk tidakk mengelirukan pandangan, mesti kita berani mengatakan, bahwa :

  • Ideologi Islam atau Islamisme, itulah Agama Islam.
  • Ideologi Komunis atau Komunisme, itulah Agama Komunis.
  • Ideologi Sosialis atau Sosialisme, itulah Agama Sosialis.
  • Ideologi Sinto atau Sintoisme, itulah Agama Sinto

dan demikianlah seterusnja, bagi penganut sesuatu ideologi/isme, itulah agamanja.

Kalau kita berbicara tentang Agama atau Dien, tentu akan terlintas didalam pikiran kita, siapa gerangan Tuhannya ? siapa Rosulnya ? dan siapa pula Khalifahnya ? Untuk itu baiklah kita tegaskan seperti berikut :

Tuhan ialah : tiap-tiap yang disembah, dibaktii, dita’ati dan dituruti segala kehendak dan perintahnya. Maka untuk mengetahui Tuhan bagi sesuatu ideologi, lihatlah apa dan siapakah yang mempunyai sifat dan kedudukan seperti itu, dibakti-i dan dita’ati umpamanya :

  •  Yang dibakti-i dan dita’atinya Allah, Allah jualah Tuhannya.
  • Yang dibakti-i dan dita’atinya matahari, mataharilah Tuhannya.
  • Dan seterunja, dan seterusnja.

Rasul adalah utusan pembawa amanat/perintah Tuhan (Allah), pelaksana dan realisator kehendak, kekuasaan dan lain-lain sifat ‘Al-afiatnja, yang berhubungan dengan manusia dan alam lainnya dipermukaan bumi, serta menjadi contoh teladan bagi ummat pengikutnya dalam pelaksanaan menyembahkan bakti kepada-Nya. Tegasnya ia adalah pemimpin pembawa ideologi atau agama sehingga setiap pembawa ideologi bisa disebut Rasul bagi Tuhan pemberi wahju atau inspirasi agama atau ideologi yang bersangkutan. Pengganti atau pelanjut Rasul disebut Khalifah yang berfungsi dan bertugas sebagaimana Rasul.

Untuk memudahkan gambaran bagi ketiga titik, Tuhan, Rasul dan Khalifah seperti tersebut diatas, baik kita ambil contoh dalam agama Sinto, antara lain : Ideologi atau Agamanya Sinto atau Sintoisme, Tuhannya Dewi (Ibu) Amaterasu Omikami, alias matahari, Rasulnya Jimmu Tenno Kaisar pertama, yang diutus kebumi, Khalifahnya : Tenno Heika, kaisar pelanjut.

B. Agama dan Negara

  • Pengertian Negara

Negara adalah satu-satunya lembaga, dimana semua hukum yang meliputi peri hidup dan kehidupan manusia itu berlaku. Ia tidak bisa disebut Negara, kalau seandainya tidak berlaku atasnya hukum kenegaraan, meskipun sering kali terjadi, akibat terjangkitnya penyakit despotisme atau dan lain-lain sebangsanya, maka hukum kenegaraan yang berlaku itu, mencerminkan keadaan “luar biasa” daripada keadaan batas-batas yang ditentukan. Oleh sebab itu, bolehlah kita katakan bahwa Negara adalah wadah daripada sesuatu Agama/Ideologi, walaupun dirinya tidak menyebutkan Negara beragama atau berIdeolgi.

Kalau kita bandingkan nisbat antara agama / ideologi dan negara, tak ubahnya laksana gula dan manisnya, bagaikan api dan panasnya, antara satu sama lain tak dapat berpisah atau dipisah-pisahkan, sehingga kalau kita menyebut agama/ ideologi, mesti diartikan negara, baik dalam arti yuridis atau / dan formil. Begitulah sebaliknya.

Adapun nama bagi sesuatu negara, bergantung kepada agama atau ideologi yang terkandung didalamnya. Pendeknya :

  • Kalau agama atau ideologinya itu Islam, ia dinamakan Negara Islam.
  • Kalau agama atau ideologinya itu komunis, ia disebut Negara Komunis. dan seterusnja, dan seterusnja.

Menurut pandangan Islam, maka dari seluruh agama/ ideologi yang ada didunia, yang dibenarkan dan diridhoinya hanyalah satu-satunya agama / ideologi , yaitu Islam. Firman Allah dalam hal ini Q.S.  Ali-Imran : 19

“ Barang siapa (perseorangan, golongan, masyarakat, bangsa), yang tidak berlaku atasnya hukum (agama / ideologi) yang diturunkan Allah, maka mereka adalah kafir”

Sedangkan yang lainnya, dinamakan-Nya kafir, seperti dalam firmannja Q.S. Al-Maidah : 44

“…Barang siapa (perseorangan, golongan, masyarakat, bangsa), yang tidak berlaku atasnya hukum (agama / ideologi) yang diturunkan Allah, maka mereka adalah kafir”

C. IDEOLOGI ISLAM

Beda dengan ideologi-ideologi yang lainnya, maka Ideologi Islam tidak hanya menuju kepada Keselamatan Dunia saja, melainkan juga Kesejahteraan Akhirat. Apabila kita sebagai ahli ilmu jiwa (psycholog) dan sebagai ahli ‘ilmu masyarakat (sosiolog) meneropong jiwa dan gerak-gerik sukmanya ummat Islam, serta suka pula membandingkannya dengan ideologi Islam, maka terdengarlah suara sayup-sayup laksana teriakan penunggang unta ditengah-tengah lautan pasir yang amat luas, dan ada kalanya terdengar pula sebagai dentuman meriam dan letusan bom, seolah-olah seperti halilintar ditengah-tengah hujan-angin yang lebat dan taufan yang dahsyat. Sari daripada suara jiwa ummat Islam yang serupa itu mengalir kesatu jurusan yang tetap dan tentu, ialah: cita-cita Islam, atau ideologi Islam. Dalam hal ketatanegaraan dan didalam masarakat suara jiwa ummat Islam ini bolehlah kami terjemahkan, sebagai berikut:

1)Hendaklah Republik Indonesia menjadi Republik yang berdasar Islam;
2)Hendaklah pemerintah dapat menjamin berlakunya hukum syara’ Agama Islam; dalam arti yang seluas-luas dan sesempurna-sempurnanya;
3)Kiranya tiap-tiap Muslim dapat kesempatan dan lapangan usaha, untuk melakukan kewajibannya, baik dalam bagian duniawi maupun dalam urusan ukhrowi;
4)Kiranya rakyat Indonesia, teristimewa sekali ummat Islam, terlepaslah daripada tiap-tiap perhambaan yang mana pun jua.

Dengan ringkas tapi tegas bolehlah kita katakan, bahwa cita-cita Ummat Islam (Ideologi Islam) ialah: hendak membangunkan Dunia Baru, atau Dunia Islam, atau dengan kata-kata (terminologi) lain: Dar-ul-Islam. Sebab, sepanjang keyakinan dan pendapat Ummat Islam, maka hanya dengan Islam didalam bangunan Dar-ul-Islam sajalah masyarakat Indonesia khususnya dan segenap perikemanusiaan umumnya dapat terjamin keselamatannya, baik yang behubungan dengan hidup dan peripenghidupannya maupun yang bersangkutan dengan kepentingan dan keperluan keduniaan yang lainnya.

Selain daripada itu, kejurusan ukhrowiyah Ummat Islam bercita-citakan “memperoleh Keselamatan dan Kesejahteraan Akhirat”, ialah Dunia Baqa; atau dengan kata-kata lain: Dar-ul-Salam. Ialah Dunia sempurna,’ alam dibalik kubur, yang dijanjikan Allah atas tiap-tiap hamba-Nya, yang sengaja dan pandai melakukan kewajibannya dengan sempurna, sepandjang tuntunan dan pertunjukan Kitab-Nya dan contoh tauladan Nabi-Nya yang penutup.

Begitulah harap dan do’a tiap-tiap jiwa yang berideologi Islam, jika pada suatu saat ketemu dengan ujung kesudahan hidupnya; setelah menyelesaikan ‘amal-usaha dan kewadjibannya, yang perlu diperbuat semasa diberi hanya oleh Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Asih. Karenanya pula, maka sering dikatakan oleh pemuka-pemuka Islam dan para ‘alim- ‘ulama, bahwa cita-cita Ummat Islam ialah : menuju dan memperoleh Mardhotillah dan Rahmatillah. Mardlotillah dan Rahmatillah di dunia, merupakan Dar-ul-Islam ! Sedang mardlotillah dan Rahmatillah diakhirat, mewujudkan Dar-us-Salam !

Cita-cita yang serupa itu tertanam dalam-dalam dan berakar kuat-kuat dalam kalbu Ummat Islam, sehingga tiap-tiap Muslim dan Mu’min menganggap hidupnya tiada berguna (mubadzir), bahkan ia merasa menanggung dosa yang sebesar-besarnja, jika ia menghentikan ikhtiar dan usahanya, bagi mencapai Dar-ul-Islam Dar-us-Salam !

D. IMPLEMENTASI KETAHANAN IDEOLOGI ISLAM

Perhatikanlah Q.S. Fushshilat:30

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

1) Istiqomahistiqomah
Yang dinamakan ,,Istiqamah” ialah pendirian yang tegak, haluan yang lurus, sikap yang tegas dan nyata, dan menuju satu maksud yang tentu. Ia tidak tergantung kepada jalannya angin, atau pun besar kecilnya gelombang di laut; tiada api yang menghanguskan dia, tiada pula air yang membasahinya. Gerak dan langkahnya tidak digantungkan kepada perjalanan gerak ‘alam manusia, melainkan terlebih penting dan utama bagi dia ialah: berjalannya wajib khas dan wajib ‘am. Ia tidak ta’luk kepada kehendak ‘alam, melainkan ‘alamiah yang dita’lukkan kepada dirinya, sehingga orang yang demikian itu, semasa hidup di dunia mendapat sejahtera dan sentausa, sedang di akhirat dijanjikan Allah bahagia yang ta’ terhingga.Orang-orang yang ,,istiqamah” bukanlah orang-orang yang ,,terendam tak basah, terapung tak hanyut”, melainkan ialah orang yang dengan tegak dan teguh menjalankan wajib menurut perintah Allah dan bandingkanlah lebih lanjut dengan ajaran-ajaran Islam, yang termaktub di dalam Al-Qur-an, Surah Saba (34) ayat 46, Surah Al-Baqarah (2) ayat 238, Surah Asy-Syura (42) ayat 13, dan Surah Ha Mim (41) ayat 6 dan 30.

2) Isti’anahisti'anah

Yang dimaksud Isti’anah ialah Isti’anah, yang mengandung pelajaran: jangan hendaknya kita mengharapkan perlindungan, pertolongan, kekuatan ataupun yang lain-lain, kecuali dari pada Allah. Harus pula ditanam dalam I’tiqad dengan teguh dan kuatnya akan kepercayaan, bahwa tiada yang Maha Luhur dan Maha Besar melainkan Allah; tiada yang wajib disembah dan wajib ditakluk-tunduki melainkan Dia; tidak ada yang dapat memberi rizqi, menghidupkan dan mematikan, melainkan Dia; singkatnya, hendaklah tertanam dalam hati kita, bahwa tidak ada yang boleh mengenai kita, melainkan dengan izin-Nya.

Kepercayaan yang demikian itu boleh tumbuh dari pada penyerahan diri (tawakkal) yang penuh-penuh kepada Allah! Sikap pendirian Isti’anah ini memang mahal, karena tak dapat dibeli dengan harta dunia ! Lebih-lebih tidak dapat tercapai dengan kenang-kenangan belaka ! Tetapi sebaliknya, boleh jadi dikatakan murah, karena untuk membeli kita tak perlu memakai mata uang, melainkan kita hanya wajib berjalan dan berlaku dengan bersungguh-sungguh pada jalan yang diridloi oleh Allah. Periksa dan bandingkanlah dengan Kitaboellah, Surah Al-Fatihah (1) ayat 5, Surah Al-Baqarah (2) ayat 153, dan Surah Al-‘Araf (7) ayat 128.

 

3) Istitho’ahistitho'ah

Istitha’ah ini mengandung ajaran, supaya tiap-tiap manusia yang hendak mencapai ‘amal kesempurnaan, hendaklah suka membanyak-banyakkan, memperluas-luas dan memperdalam sekalian perbuatan dan usahanya. Sebanyak tenaga yang ada pada kita, sebanyak itu pula hendaknya digunakan untuk keperluan membela Agama Allah ! Sebanyak-banyak pengetahuan, harta, pengertian dan lain-lain yang dikeruniakan Allah kepada kita itu, sebanjak itu pula hendaknya kita ber’amal !

Tak ada tawar-menawar, dan tidak pula kenal sikap menanti-nanti ! Tiada tujuan bagi dia, melainkan ‘amal-‘ibadah yang sempurna, ‘amal ‘ibadah yang menuntut sekalian apa yang ada padanya, dlohir dan bathin, yang sekecil-kecil hingga yang sebesar-besarnya.

Demikianlah arti Istitha’ah itu dengan amat ringkas. Lebih jauh, hendaklah dibandingkan dengan ajaran-ajaran dalam Al-Qur-an, Surah Al-Anfal (8) ayat 60 dan Surah At-Taghabun (64) ayat 16 !

5. CITA-CITA & KENYATAAN (IDEOLOGI DAN REALITEIT)

Didalam perjuangan politik, maka kita selalu harus berpegangan kepada dua aqidah politik. Aqidah yang pertama ialah Ideologi atau cita-cita, tegasnya maksud dan tujuan daripada perjuangan politik. Tiap-tiap usaha dan amal politik yang dilakukannya harus dan wajib diarahkan kepada tercapainya Ideologi itu, walaupun betapa pula goda dan coba dalam perjalanan itu. Adapoen akidah politik kedua ialah Realiteit, tegasnya: Kenyataan, ialah bukti syari’at yang terletak didepan mata kita. Kenjataan itu boleh merupakan sejumlah kekuatan, jiwa, harta, kecakapan, kepandaian, dan lain-lain seterusnya. Semuanya itu mewujudkan syarat dan alat perjuangan, untuk mendekati dan mencapaikan maksud serta tujuan (Ideologi).

Satu tamsil mumkin memudahkan kita berpikir secara politik. Taruhlah, kita ingin pergi ke Bandung atau Jakarta. Menginjak Bandung atau Jakarta adalah maksud kita. Itulah ideologi kita. Lalu kita mencari dan memperoleh syarat dan alat, untuk menyempurnakan perjalanan, mendapatkan Bandung atau Jakarta. Dikumpulkannya uang untuk pelbagai biaya dijalan; dipersiapkannya perbekalan lainnya, seperti: mencari kereta-api atau mobil yang pergi kearah itu, naik sado pergi ke stasiun, dan lain-lain seterusnya. Semua persiapan dan perlengkapan untuk melangsungkan pepergian itu dinamakan Realiteit atau Kenyataan. Taruhlah, kereta api tidak ada, karena perhubungan jalan kearah itu terputus, hendaknya kita mencari mobil, Taruhlah, mobil tidak kita dapatkan, maka haruslah kita mencari kendaraan lain. Dan kalau akhirnya kendaraan apapun tidak mumkin diperdapat, maka dengan jalan kaki atau merangkak-rangkak sekalipun hendaknya perjalanan harus terus dilangsungkan, asal perjuangan (pepergian) jangan sampai tertunda atau terhenti, karena kekurangan atau sepinya syarat.

Seorang ahli perjuangan yang ber-ideologi tidak pernah terhenti – jangankan sengaja menghentikan diri —dalam usahanya mendekati dan mencapai cita-citanya. Mumkin pada suatu waktu ia tampak lari “milir-mudik”, melompat kekanan dan kekiri, terbang kebarat atau ketimur – karena keadaan dan kenyataan masyarakat tidak memberi kemumkinan atau kelapangan lebih daripada itu– , tetapi dalam pada ia terombang-ambing oleh gelombang masyarakat dan terdampar diatas pantai kesengsaraan, maka mata-hatinya tidak pernah lepas dari Ideologi. Tiap-tiap langkah dan geraknya selalu diarahkan kepada tercapainya ideologi. Ia hidup dengan ideologinya dan ingin mati pun dalam jalan dan usaha menuju tercapainya ideologi itu. Jiwa perjuangan yang serupa itu tiadalah ternilai harganya. Jiwa yang serupa itu adalah mustika bangsa, yang menjjadi benih kemuliaan dan keluhuran sesuatu ummat dan Agama.

Alhamdu lillah, kita bangsa Indonesia masih boleh merasa bangga, bahwa didalam kalangan bangsa kita masih terdapat pemimpin-pemimpin ummat yang berbudi luhur itu. Hal ini kami anggap perlu menyatakannya, walau hanya dengan sepatah dua patah perkataan. Sebab menurut kejadian dalam waktu yang silam, baik pada zaman Belanda atau pada zaman Jepang maupun pada zaman merdeka ini, tidak sedikit jumlahnya pendekar-pendekar bangsa yang hanyut dalam lautan goda dan coba keduniaan (pangkat, harta dan lain-lain seterusnya) atau karena tidak tahan lagi kena pukulan badai nista dan sengsara hina dan papa, ialah kadar resiko yang boleh dikurniakan kepada tiap-tiap pemimpin ahli perjuangan bangsa, nusa dan agama.