Masyarakat merupakan bentukan dari ideology sebuah Negara. Pada Negara yang berhaluan komunis, maka secara otomatis terbentuk masyarakat komunis. Tidak peduli apakah di dalamnya ada orang islan, orang Kristen atau agama lain. Demikian pula halnya pada Negara pancasila, meskipun sebagian besar penduduknya beragama islam tetapi karena ideologi yang dianut masyarakat tersebut adalah ideology pancasila. Maka masyarakat yang terbentuk secara otomatis dinamakan masyarakat pancasila. Sehingga karena merupakan masyarakat pancasila sadar tidak sadar setiap aktifitas yang dilaksanakan di dalamnya dengan sendirinya semakin memperkuat kedudukan pancasila sebab tidak satupun kehidupan berbangsa di Negara pancasila ini kecuali di dalamnya ada nafas pancasila. Sebagai contoh, dalam lapangan industry, pancasila Nampak dalam bentuk HIP (Hubungan Industrial Pancasila). Dalam lapangan agama-agama pancasila mengajarkan “toleransi” yang ditafsirkan dalam ujud kebersamaan di dalam melaksanakan ibadah seperti perayaan natal bersama atau buka puasa bersama. Bahkan di dalam membangun masjid yang diselenggarakan oleh nagara, masjid tersebut mempunyai cirri khusus dimana tulisan الله  ‘dibelenggu’ oleh segi lima sebagai symbol pancasila. Seolah-olah hendak mengatakan bila perlu ‘kepentingan’ الله  pun harus dibatasi agar tidak keluar dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yaitu pancasila itu sendiri. Dalam lapangan pendidikan, pancasila menjadi pelajar PPkn atau yang dulu disebut PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Dan dalam bidang politik, pancasila merupakan ideology yang harus dipertahankan. Terbukti dengan kewajiban setiap kontestant pemilu untuk tetap mempertahankan ideology pancasila meskipun partai tersebut berasaskan Islam.

Memang pancasila bukan agama, tetapi pancasila telah membelenggu agama. Pancasila telah mengalahkan kepentingan agama. Pertimbangan masyarakat tidak lagi atas kaca mata agama tetapi atas kaca mata demi melaksanakan pancasila secara “murni dan konsekwen”, maka tidak aneh kalau kemudian ditengah-tengah kehidupan yang relijius ada pabrik bir yang memang diberi tempat oleh pancasila kepada mereka–mereka yang punya hobi “ngedot”. Juga tidak aneh kalau disela–sela kesucian suara adzan ada juga hingar bingar musik yang mempertontonkan hal–hal yang diharamkan agama yang justru dari sudut nilai-nilai pancasila dibolehkan. Ada nasyid–nasyid Islami yang menyejukkan hati tetapi ada pula nyanyian– nyanyian syetan yang mengundang nafsu. Ada majalah – majalah Islam yang membangun keimanan yang berbaur dengan majalah – majalah yang justru merusak keimanan. Ada siaran siraman rohani di TV dan radio yang mengajak kepada jamaahnya agar memerangi kebatilan, tetapi anehnya siaran itu sendiri didanai dari sumber–sumber yang batil dan mendukung kebatilan. Dalam gambaran seorang Abdul Qadim Zallum[1]. Islam di Negara seperti ini hanya Nampak sebagian gerakan  moral yang menganjurkan pemikiran sangat general, belum mengkristal dan tidak  memiliki transparansi yang bisa mencerminkan Islam sebagai system kehidupan, Negara dan masyarakat yang sempurna. Mereka selalu menganjurkan untuk kembali kepada islam dalam bentuk general, terbuka yang dalam benak-benak mereka belum ada gambaran yang jelas mengenai system Islam  serta metode mengembalikan pemerintahan berdasarkan Islam. Telah sirna dalam benak mereka bahwa  mengembalikan pemerintahan berdasarkan apa yang diturunkan الله  tidak akan tercapai kecuali dengan tegakkanya Negara Islam. Dan karenanya menegakkan khilafah dan mengembalikan pemerintahan berdasarkan apa yang diturunkan الله  sama sekali tidak mempunyai ruang dalam kurikulum aktifitas mereka”.

Itulah sekilas wujud dari masyarakat Pancasila. Masyarakat yang hidup diantara keiamanan dan kekafiran. Setengah hati melaksanakan ma’ruf, setengah hati melaksanakan yang munkar. Masyarakat yang ragu-ragu  antara iman dan kafir. Adakah ini mirip dengan sinyalemen الله  dalam QS. 4 : 143?

Kepada para Mujahid, sadarilah bahwa antum hidup ditengah-tengah kehidupan seperti di atas. Dibutuhkan seni tersendiri untuk bisa bertahan ditengah-tengah kehidupan jahili yang menjanjikan. Ambilah I’tibar ikan bisa bertahan didalam air asin tanpa dirinya harus menjadi asin kecuali jika ikan tersebut sudah mati. Demikian pula halnya dengan antum yang hidup membaur di tengah-tengah kejahilan, tentu saja akan terkena “asinnya”  masyarakat manakala diri antum sudah “mati”, baik mati semangatnya, mati kemauannya, mati kepeduliannya ataupun mati hatinya (QS. 22 : 46). Bukankah Rasul pernah bersabda bahwa barang siapa yang bergaul dengan tukang besi maka ia kan terkena baunya besi?. Maka berhati-hatilah antum berada di dalamnya. Pandai-pandailah antum membawa diri. Bergaullah dengan mereka dengan cara yang lemah-lembut (QS. 3 : 159) sehingga antum tidak menjadi asing atau aneh dihadapan mereka. Sebab keanehan atau kekakuan sekecil apapun meskipun itu benar menurut syar’I akan menjadi batu penghalang bagi kelangsungan perjuangan. Dengan cara bergaul kepada mereka antum akan tahu bagaimana cara menghadapi mereka. Karena itu tolaklah kejahilan yang ada pada mereka dengan cara yang lebih baik (sebab antum yang paling tahu mereka) sehingga seolah-olah antara antum dengan mereka seperti teman setia (QS. 41 : 34).

Ingat bahwa antum tidak berjalan sendirian. Antum berjalan membawa misi dengan waktu yang tidak terbatas hanya pada diri antum atau keluarga antum saja. Tetapi antum mewakili generasi berikutnya yang bakal menyusul. Apalah jadinya kalau hari ini benang yang seharusnya kita pintal dengan teguh, kita urai kembali (QS. 16 : 92) hanya gara-gara “penampilan kita” yang membuat jengah orang lain? Harap diingat kembali bahwa peletak dasar Islam pertama difase futuh Madinah adalah bukan Umar Bin Khottob yang namanya saja ditakuti musuh, tetapi Mushab Bin Umair, orang yang mirip Raasulullah. Orang yang penuh  dengan kesejukan. Orang yang bisa tegak berdiri diatas prinsip  kebenaran tanpa harus kehilangan daya tarik dari masyarakat sekitar. Orang seperti Mushab Bin Umairlah yang diutus Rasul untuk ‘menyemai’ masyarakat Madinah sehingga ketika Rasul datang berhijrah maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat saat itu kecuali merelakan dirinya diatur dalam wadah Negara Islam Madinah pimpinan Rassulullah SAW. Nah, dapatkah antum berperan sebagai Mushab Bin Umair yang membuat masyarakat menyimpan klerinduan akan hadirnya Negara Islam sebagai satu-satunya pilihan mereka sebagaimana dulu pernah ditempuh oleh Mushab Bin Umair? Dapatkah antum ‘menyemai’ masyarakat dimana antum tinggal sehingga kelak jika الله mentakdirkan ‘idharuttandzim’ muncul, masyarakat disekitar antum menyambutnya seperti Rasul disambut penduduk Madinah?. Dapatkah antum membuat masyarakat disekitar antum mendengarkan tola’al Badru ‘alaina min tsaniatil wada’, wajabasyukru ‘alaina ma da’a lillahi da (telah datang kepada kita bulan purnama dari kelokan lembah wada’, wajiblah kita bersyukur atasnya dengan dakwah lillahnya) ketika idharuttandzim muncul, seperti masyarakat Madinah menyambut Rasul, maka yang mereka percayai sebagai pemimpin sekalipun mereka belum pernah melihatnya atau mengenalnya?.

Jadikanlah diri antum sebagai “al-Amin”- orang yang terpercaya di lingkungan antum masing-masing sebagai mana dahulu Muhammad SAW pernah melakukannya. Sebab hal semacam ini sangat berguna sebagai upaya ‘pertahanan awal’ dimana biasanya musuh ‘mengambil seseorang atas dasar bahwa orang tersebut meresahkan masyarakat. Sepanjang menurut kacamata masyarakat antum orang yang baik-baik saja. الله انشا masyarakat tadi merupakan ‘tentara’ yang tidak Nampak dimata lawan.

Selanjutnya pertahankan hubungan kekerabatan yaitu hubungan pertalian darah atau kekeluargaan meskipun tidak segaris dalam perjuangan. Lebih-lebih kepada kedua orang tua (QS 31 : 15). Sebab, pada saat sahabat-sahabat kita tidak ada kesempatan menolong kita karena keadaan, maka  الله انشا akan tetap ada orang-orang yang memberikan pertolongan atas dasar hubungan darah. Bukankah seluruh kerabat bani hasyim (baik yang sudah islam atau belum) turut menyertai Rasulullah ketika diboikot selama 3 tahun? Bukankah Abu Dzar Al Ghifari ditolong oleh Bani Ghifar pada saat Abu Dzar melaksanakan dakwah jahr dan dipukuli oleh orang-orang kafir Quraisyi?. Saat itu Ummat Islam tidak mampu menolongnya. Bukankah Nuh AS hampir-hampir menolong anknya karena sentiment kejiwaan antara anak-bapak (QS. 11 : 45-46)? Jadi kepada para Mujahid, perbanyaklah ‘kantong-kantong pertahanan’ yang  الله انشا pada saat genting sangat diperlukan. Kantong-kantong itu tidak lain adalah hubungan antum dengan kerabat karena memang sebetulnya merekalah yang lebih berhak untuk mendapat sentuhan dakwah pertama kali (QS. 8 : 75). Wallahu a’lam bish showab.


[1] Baca Abdul Qadim Zallum (dengan sedikit perubahan redksional) dalam Nidhamul Hukmi Fil Islam tulisan Taqiyyudin An-nabhani. Terjemahan dalam bahasa Indonesia : Sistem pemerintahan Islam … oleh Moh. Maghfur Wachid. Bangil : Al-Izzah. 1996