Perlu disadari bahwa tipe perjuangan Mujahid adalah perjuangan yang terstruktur. Bershaf-shaf sesuai dengan posisinya masing-masing. Setiap Mujahid hendaknya memahami dan mengetahui posisinya sendiri-sendiri. Sebab sebagaimana malaikat yang mengatur alam semesta ini. Mereka juga dalam kondisi bershaf-shaf, berjenjang, sehingga seperti itu malaikat bertasbih (QS 37:164-166). Sama halnya dengan antum yang Mujahid yang mengemban amanat (QS 33:72) untuk mengatur bumi dengan aturan islam (QS 21:105) maka antum tidak akan disebut bertasbih kalau tidak berstruktur seperti malaikat yang berstruktur didalam memakmurkan alam jagad raya ini. Untuk mengalahkan system islam, system kafirpun berstruktur (QS 8:7) karna itu janganlah antum terkalahkan oleh mereka lantaran tidak berstruktur.


Gambaran tentang mekanisme atau kerja struktur bisa diibaratkan seperti halnya tubuh kita. Tubuh kita memilik bagian-bagian yang satu sama yang lain tidak sama baik secara fisik maupun fungsinya. Ada bagian tubuh yang hanya berfungsi sebagai pelengkap keindahan seperti tahi lalat. Ia bisa terletak pada bagian mana saja pada tubuh baik yang tampak atau yang tertutup. Tetapi dimana saja adanya tugasnya hanya memberi keindahan bagi sipemilik maupun yang memandangnya. Ada pula bagian tubuh seperti mata yang memliki kemampuan memandang, melirik, melotot atau meneteskan air mata. Kaki yang bisa berlari, menendang atau meloncat. Tangan yang bia mengekspresikan belaian kasih sayang, bsa bertindak kasar dengan menampar atau mencubit. Dan ada pula mulut yang bisa berkata jujur atau dusta, berkata-kata kasar atau berbicara penuh kelembutan. Juga ada bagian tubuh yang namanya Qolb atau hati yang menjadi pusat seluruh gerakan tubuh kearah kebaikan dan atau keburukan (Hadits Arbain:6). Bagian-bagian tersebut saling terkoordinasi dengan baik dan rapih. Tidak ada pelanggaran fungsi terhadap masing-masing bagian tubuh tersebut. Bagian-bagian tubuh ini saling bekerja sama sesuai fungsi dan posisi masing-masng dibawah satu komando yaitu hati. Kita akan bisa melihat betapa serasinya masing-masing bagian tubuh tersebut ketika memberikan respon terhadap kondisi sekitar. Dalam kondisi berlari, berjalan, diam, duduk atau apa saja masing-maasing bagian tubuh tadi berperan dengan sangat sempurna. Hal ini bisa terjadi karena adanya system koordinasi yang sangat baik dimana masing-masing bagian tubuh tadi tidak saling menganiaya dengan cara ”merebut” kinerja bagian lain. Masing-masing mengatahui posisi dan fungsinya: dan masing-masing melaksanakan sesuai posisi dan fungsinya: masing-masing tidak berjalan sendiri-sendiri tetapi masing-masing berjalan dibawah perintah. Demikian pula halnya kinerja Mujahid. Seorang Mujahid haruslah berfikir bahwa ia tidak sendrian. Ia memiliki sahabat-sahabat yang satu sama lain saling menguatkan. Yang satu sama lain saling menyelamatkan sebgaimana halnya tubuh manusia yang saling bahu membahu jika salah satu bagian tubuh terganggu. Karena itu setiap Mujahid tentu mengetahui bahwa tindakan yang ceroboh tidak hanya mengancam dirinya saja tetapi juga diri Mujahid lain. Kesalahan yang dilakukannya pasti akan memberi dampak buruk bagi sahabat Mujahid lain. Tingkah lakunya menjadi cermin bagi Mujahid lain. Kesedihan dirinya juga kesedihan Mujahid yang lain. Kesenangan dirinya juga kesenangan Mujahid yang lain. Sesama Mujahid adalah seperti satu tubuh (kal jasadil wahid). Sebab itu agar bisa memberi daya saling kuat menguatkan. Saling selamat menyelamatkan, wajib bagi Mujahid untuk selalu berkoordinasi baik secara horizontal maupun vertical sehingga dimanapun Mujahid berada akan selalu dalam gerak ritme yang terkoordinasi secara rapih dan dibawah komando yang sama. Inilah yang disebut dengan kesadaran structural. Dalam hal ini seseorang Mujahid perlu mengingat hadits Rasul : “… Man ’a mila a’malan laisa lahu min amrina fahua roddun”. Barang siapa melakukan sesuatu perbuatan yang tidak ada perintah dari kami maka tertolaklah dia. Hadits ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang berkaitan langsung dengan kebijakan system keperintahan (Ulil Amri) maka secara structural ada benang merah yang merentang dari pusat sampai ke rakyat. Karena itu kewajiban Mujahid adalah Sami’na wa atho’na —. Sedangkan mengenai tanggung jawab dikembalikan sepenuhnya kepada pemerintah (QS 4:59) . Suatu contoh, Umar ra terkadang bertanya kepada Nabinya : “Apakah ini dari Muhammad bi Abdulloh ataukah dari Muhammad Rosululloh?”. Kalau dari Muhammad bi Abdulloh saya akan memberikan usul tetapi kalau dari Muhammad Rosululloh saya taat sepenuhnya .

Jadi sebagai seorang Mujahid harus mampu memilah mana yang bersifat perintah (Amruna dalam hadits di atas) dan mana yang bersifat wacana atau pandangan. Untuk yang bersifat “amruna” tugas Mujahid adalah mentaatinya sedangkan untuk yang bersfat pandangan tugas Mujahid adalah memberikan saran penyempurnaan.

Kalaulah setiap Mujahid bisa bertindak rapi sebagaimana rapinya gerakan-gerakan dalam sholat yang dikomandoi oleh imam: sebagaimana rapatnya barisan dalam sholat dan sebagaimana khusuknya sholat yang diawasi langsung oleh الله (QS 26:217-220), maka الله انشا sudah pasti bahwa tahapan idharutandzim yang sedang kita tapaki lambat laun akan menjadi kenyataan, sebab ia bedara di atas komando yang satu : kepemerintahan yang bertanggung jawab الله انشا. Ya muqolibal qulb tsabit qolbi ‘ala dinik…………