Orang yang bersungguh-sungguh hendak merealisasikan cita-citanya melalui perjuangan yang gigih disebut dengan Mujahid. Ada dua macam kegigihan, yaitu melalui kegigihan di jalan الله dan kegigihan di jalan thogut (QS. 4 : 76). Karena itu Mujahid juga terbagi menjadi dua kelompok : Mujahid di Jalan الله dan Mujahid di jalan Thogut. Kedua belah pihak sama-sama berjuang dengan sungguh-sungguh baik dengan harta, nyawa maupun dengan dirinya sendiri demi tercapainya tujuan yang telah dicanangkan masing-masing. Keduanya secara structural tidak akan menjadi satu walaupun secara kekerabatan satu darah (QS. 58:22). Karena itu masing-masing kelompok ini akan saling bahu membahu, saling memperkuat diri. Semakin kuat dirinya, semakin eksis, semakin lemah dirinya semakin tenggelam ditelan sejarah. Pada kondisi seperti ini, maka kemenangan atau kekalahan tidak diukur dari siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi diukur dari kesolidan struktur masing-masing. Semakin terorganisir, semakin memiliki peluang untuk bisa mengalahkan. Ali ra, pernah berkata: “Kebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir”.

Kemampuan mengorganisir tidak ditentukan oleh jumlah personil yang ada tetapi lebih ditentukan oleh kualitas tiap-tiap personil. Apalah artinya bangga dengan jumlah kalau hanya akan menjadi batu sandungan perjuangan. Bukankah perjuangan para Rasul didukung oleh para Mujahid yang jumlahnya sepersepuluh lebih sedikit dibanding musuhnya (QS. 8:65)? Bukankah di Al Qur’an tertulis bahwa “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan seizin الله ” (QS. 2:249). Bukankah الله juga berjanji akan membinasakan kebathilan meskipun memiliki  kekuatan yang besar? (QS. 43:8). Maka sudah barang tentu bagi para Mujahid bahwa bekal yang pertama dan utama adalah himmah atau semangat memandaikan diri.

Rasa-rasanya tidak pantas menyandang gelar Mujahid kalau hanya bisa “nyandong” menengadahkan tangan menunggu materi dari Murobinya. Kalau Murobi tidak hadir atau tidak memberi materi, maka ilmunya juga tidak bertambah meski sedikitpun. Mujahid seperti ini cepat-cepatlah istighfar minta ampun kepada الله karena ia telah menjadi beban perjuangan. Secara tidak sadar ia telah menghambat perjuangan karena para Murobi terpaksa harus berhenti sejenak untuk menerangkan hal-hal yang semestinya bisa diperoleh dengan cara belajar sendiri atau belajar di luar. Sebab seorang Mujahid harusnya juga seorang Mujtahid. Maksudnya seorang yang sedang bersungguh-sungguh berjuang (Mujahid) dia harus memiliki daya kreasi yang tangguh yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah untuk mensukseskan perjuangan itu. Mujahid yang memiliki kreatifitas atau taktik berjuang dalam bahasa fiqh disebut dengan Mujtahid. Sedang buah pikirannya disebut ijtihad. Untuk bisa menjadi Mujahid yang Mujtahid memerlukan bekal yang memadai. Untuk mendapatkan bekal yang memadai, para Mujahid diharuskan secara mandiri mencari dan mengembangkan ilmunya. Kalau setiap Mujahid bisa berbuat demikian,  الله انشا   ia termasuk mereka yang menguatkan, memuliakan dan mensucikan Din-Nya (QS. 48:9) dan tidak lagi menjadi beban perjuangan. Sebab ia tidak lagi menjadi “pengangguran” di negaranya sendiri. Ia telah bisa tampil di depan. Ia telah berbuat sesuai dengan kemampuan dan keahlian di bidangnya masing-masing. Ia tidak lagi minta “disuapi” terus-terusan oleh Murobinya atau Aparat yang terkait tetapi berbekal keyakinan akidah yang sholihah dan pertolongan الله semata. Ia menjadi corong kebenaran sebagaimana Mushab bin Umair bisa mandiri dan berhasil menyiapkan lahan bagi berseminya Islam di bumi Madinah, bumi yang pertama-tama tegak hukum islam di dalamnya.

Untuk bisa mencapai hal di atas, para Mujahid perlu memiliki beberapa kesadaran seperti di bawah ini:

1.         Kesadaran Ulul Albab

2.         Kesadaran Ibadah

3.         Kesadaran Kenegaraan

4.         Kesadaran Struktural

5.         Kesadaran Tugas

6.         Kesadaran Maisyah

7.         Kesadaran Keluarga

8.         Kesadaran Masyarakat

9.         Kesadaran Intelijensi

10.      Kesadaran Kesabaran