PENETAPAN KOMANDEMEN TERITINGGI

ANGKATAN PERANG NEGARA ISLAM INDONESIA (APNII)

AWAL RAMADHAN, ‘IEDUL FITHRI DAN ‘IEDUL ADHA 1432 H

DAN ‘AMALIYAH RAMADHAN LAINNYA

 

Menimbang     : bahwa sehubungan telah datangnya bulan Ramadhan tahun 1432 H dimana pelaksanaannya sangat ditentukan oleh waktu sesuai fenomena alam (ketetapan Alloh), oleh karena itu sebagai wujud pertanggungjawaban Negara atas warganya dalam melaksanakan syari’at Alloh maka dipandang perlu adanya penetapan waktu pelaksanaan Ramadhan.

Mengingat       : 1) Al Quran dan Hadits Shohih        2) Qanun Asasi NII

Menetapkan    :

MEMUTUSKAN:

1. Awal Ramadhan 1432 H; tanggal 1 Ramadhan 1432 H jatuh pada hari senin, bertepatan dengan tanggal 1 Agustus 2011 M, dengan penjelasan:

1)      Ijtimak akhir sya’ban 1432 H, hari Ahad tanggal 31 Juli 2011 pukul 1.39’47” WIB.

2)      Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhan Ratu: -653’.32”; di Jayapura -4.48’32”; dimana hilal sudah wujud dan diseluruh wilayahIndonesia pada saat Matahari terbenam hilal diatas ufuk.

 2. ‘Iedul Fithri 1432 H; tanggal 1 syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa, bertepatan dengan tanggal 30 Agustus 2011 M dengan penjelasan:

1)      Ijtimak akhir Ramadhan 1432 H, hari senin tanggal 29 Agustus 2011 pukul 10.04’.18” WIB

2)      Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhan Ratu: 155’.08”; di Jayapura 0.02’18”; dimana hilal belum wujud dan diseluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam hilal dibawah ufuk.

3. ‘Iedul Adha 1432 H; tanggal 1 Dzulhijjah 1432 H jatuh pada hari Jum’at, bertepatan dengan tanggal 28 Oktober 2011 M dengan penjelasan:

1)      Ijtimak akhir Dzulqo’dah 1432 H, hari senin tanggal 27 Oktober 2011 pukul 02.56’.46” WIB

2)      Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhan Ratu: 633’.47”; di Jayapura 4.21’10”; dimana hilal belum wujud dan diseluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam hilal dibawah ufuk.

3)      Maka tanggal 10 Dzulhijjah 1432H jatuh pada hari Ahad, tanggal 6 Nopember 2011

4. Bahwa penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah sebagaimana dijelaskan diatas adalah berdasarkan hisab. Apabila hilal dapat dilihat baik di akhir Sya’ban maupun di akhir Ramadhan, awal Ramadhan dan ‘ied Fithri didasarkan kepada ru’yat (tampaknya hilal).

5. Apabila adanya perubahan jatuhnya waktu awal ramadhan dan ‘ied fithri berdasarkan ru’yat hendaklah tiap-tiap jama’ah senantiasa mampu menerima informasi perubahan tersebut.

6. Perihal penunaian zakat fithri sebagaimana ketetapan tahun yang lalu baik dalam hal penunaiannya maupun pendistribusiannya, yaitu dihimpun dan didistribusikan ditiap-tiap KPW. Dan untuk penunaian dan pendistribusian Zakat Fithri dilingkungan KPWB dan KT APNII disentralisir dan didistribusikan oleh Baitul Maal KT APNII. Dan untuk besaran nilai nominalnya dinilai uangkan per kg tho’am (beras) adalah senilai beras yang biasa dimakan oleh tiap-tiap jama’ah.

7. Untuk teknis penunaian zakat maal, penunaiannya sebagaimana ketentuan yang terdahulu. Dengan teknisnya disentralisir di Baitul Maal KT APNII. Kemudian setelah dipotong 30% untuk fakir miskin dan di Sabilillah di lingkungan KT APNII, sisanya di distribusikan kepada KPW setelah dipotong untuk fakir miskin dan fi sabilillah di lingkungan KPWB sebesar 20% dari nilai 70% (nilai 70% menjadi 100% kembali setelah dipotong 30% hak KT APNII).

8. Untuk shodaqoh, infaq fiddien dan infaq fi  sabilillah pelaksanaan teknisnya sebagaiman ketentuan pelaksanaan setiap bulan.

                                                                                                                                          Bisimillahi tawakkalna ‘alalloh laa haulaa walaa quwwata illa billah

Ditetapkan di : Mardhotillah

Pada                : 22 Sya’ban 1432/ 24 Juli 2011

KOMANDEMEN TERTINGGI APNII

Imam/ Plm.T.APNII

Ttd

(MYT)