KHUTBAH DALAM RANGKA TADZKIROH KE 63 APNII (bag 2)

Para pejuang Islam di masa lampau, mereka telah berusaha maksimal dengan sebesar-besar taqwa dan sesempurna-sempurnanya tawakkal ‘alallah. Mereka telah purna tugas atas kewajiban yang dipikulkan kepada pundaknya. Kini, melanjutkan perjuangan untuk tegaknya Negara Islam Indonesia ada pada kita. Maka barangsiapa yang berbuat baik (jihad), sesungguhnya kebaikan itu untuk menghindarkan dirinya dari ancaman neraka jahannam dan kemuliaan hidup di dunia.

Untuk sempurnanya jihad fi sabilillah sehingga datangnya pertolongan dan kemenangan kepada Umat Islam Bangsa Indonesia, maka kita dalam menjalani perjuangan ini harus sesuai dengan mabda dan minhaj yang digariskan oleh nash dan telah diuswahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Dengan semaksimal kemampuan, kita telah rumuskan tahapan-tahapan perjuangan yang termaktub dalam Marhalah Jihad NII sebagai Pedoman Umum Program Perjuangan Negara Islam Indonesia. Marhalah jihad itu adalah; I’dad, ribath, qital, futuh, dan khilafah.

Jama’atul mujahidin, Tentara Islam Indonesia dan seluruh jajaran APNII, dalam momentum peringatan proklamasi Negara Islam Indonesia tahun ini (1431 H / 2010 M), marilah kita rapatkan barisan dan pusatkan perhatian kita Marhalah Jihad NII dengan segala aplikasinya untuk menyongsong fatah dan falah yang telah Allah janjikan kepada Umat Islam Bangsa Indonesia, semoga Allah ridho dengan apa yang sedang kita perbuat.

Sebagai arahan dalam kita menunaikan tugas dan kewajiban marilah kita sawasiah dalam tiga hal, yaitu sawasiyah fil aqidah, sawasiyah fil fikroh, dan sawasiyah fil maharoh.

Aqidah kita yang bertitik pangkal dari syahadatain, yang telah kita ikrarkan hendaklah kita hujamkan dalam jiwa kita yang terdalam, kemudian direfleksikan dalam amal perbuatan yang nyata dengan segala konsekwensi dan resikonya. Ingatlah, bahwa makna syahadatillah adalah sebuah tekad bulat dalam menafikan thoghut (ilah selain Allah) dan mengisbatkan (menetapkan) Allah satu-satu yang hak diibadati. Kalam syahadat adalah kalam yang ringan diikrarkan, namun sangat berat dalam memenuhi konsekwensi dan resikonya. Sekalipun demikian, karena kita telah bertekad maka yakfur bith thoghut wa yu’min billah dengan segala manifestasinya wajib diwujudkan dalam perbuatan yang nyata dengan kesiapan yang purna dalam menghadapi konsekwensi dan resikonya.

Kemudian, makna syahadati rasulillah, bahwa kita telah bertekad bulat mengakui dan mengangkat Muhammad sebagai utusan Allah yang berhak mendapatkan loyalitas ketaatan dari segenap umat Islam. Maka apa-apa yang telah diuswahkan oleh beliau melalui perbuatan maupun lisannya adalah tuntunan bagi umat Islam. Dalam konteks aktual di masa kita sekarang ini, soal ketaatan ini masih sering terjadi pelanggaran (adanya ketidakataatan) sehingga sering mengganggu stabilitas perjuangan dan kita disibukan oleh hal itu, bahkan terkadang berlarut-larut dalam penyelesaiannya. Salah satu hadits Rasulullah terkait dengan ketaatan, menegaskan; bahwa barangsiapa yang taat kepada amirku, maka ia taat kepadaku, dan barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah. Inilah refleksi dari sebuah nash yang diperintahkan Allah, “taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada Ulil Amri diantara kamu”. Oleh karena itu diserukan kepada seluruh jajaran yang mempunyai masalah ketaatan kepada amir yang telah diangkat oleh Imam/Plm.T. APNII agar secepat-cepatnya insyaf dan sadar, bahwa perbuatan tidak taat kepada amir itu adalah pelanggaran dan mempunyai konsekwensi hukum bagi para pelakunya.

Dalam tataran keyakinan, kita tegaskan, bahwa yakfur bith thoghut dengan segala manifestasinya adalah wajib diyakini dan direfleksikan dengan perbuatan oleh setiap mukmin secara mutlak. Berteman akrab, berkasih-sayang dan hingga memilih dan atau mengangkat thoghut sebagai wali (pemimpin) adalah tergolong kepada perbuatan kekafiran yang dapat membatalkan syahadat. Oleh karena sangat mendasarnya persoalan loyalitas ini, maka peliharalah keimanan kita dan tidak melakukan loyalitas ganda.

Kemudian, sawasiyah yang kedua adalah sawasiyah fil fikroh. Dalam hal berfikir, tentu setiap hasil fikir seseorang akan berbeda-beda hasilnya dan ini tidak dapat disamakan, karena itu adalah fitrah dan kembali kepada kemampuan seseorang dalam memikirkan sesuatu. Sekalipun hasil fikir setiap orang berbeda-beda, namun bila pola fikirnya sama maka insya Allah hasil fikirnya akan mengerucut kepada kesamaan persepsi dan pendapat. Dalam hal ini semua mujahidin bahwa fokus konsentrasi kita berfikir untuk penegakan dienullah, yaitu dienul Islam dan atau tegasnya untuk tegaknya Negara Islam Indonesia (q.s. 30: 30). Kemudian dalam tataran maksimisasi mengingat Allah dalam refleksinya mengingat persoalan-persoalan penegakan dienul Islam yang diperintahkan Allah, kita dituntut mengingatnya dalam setiap keadaan, baik dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk, maupun dalam keadaan berbaring. Konsentrasi pemikiran dalam setiap keadaan itu adalah semata-mata dalam rangka memikirkan tegaknya qiyadah dan tanzim Negara Islam Indonesia serta memikirkan persoalan-persoalan umat yang membutuhkan arahan dan binaan dalam melaksanakan hak dan kewajibannya kepada Allah SWT. Dengan demikian, bagi seluruh jajaran APNII semuanya dituntut untuk menjadi negarawan dan pejuang sejati.

Dan yang ketiga adalah sawasiyah fil maharoh. Dalam kondisi berjuang, tuntutan tugas dan tanggung jawab sering tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh para pejuang. Baik dalam kemampuannya pada bidang ulumuddin sampai pada persoalan ilmu hukum (islam), ataupun dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan yang bersifat akademis. Hal demikian adalah wajar, karena potensi mujahid berasal dari berbagai basik bahkan ada yang tidak memiliki kesempatan untuk menyelesaikan studynya. Namun tuntutan tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul, kiranya kita harus mampu untuk memiliki berbagai macam keahlian yang diperlukan dalam upaya menegakan dienullah. Kesamaan kemahiran ini dapat kita miliki dengan cara belajar sambil praktek, dimana yang mempunyai pengetahuan akan bersedia memberikan shodaqoh ilmu pengetahuannya kepada yang belum memiliki. Kemahiran yang perlu dikuasai oleh tiap-tiap mujahid adalah kemahiran dalam mengelola negara dan perjuangannya, serta kemahiran dalam kemiliteran.

Usaha-usaha yang kita lakukan secara maksimal dengan kemampuan yang dimiliki untuk tegaknya Islam di permukaan bumi, tidak akan luput dari perhatian Allah SWT. Yakinlah bahwa segala kelemahan dan kekurangan yang tidak kita sanggupi untuk mengadakannya, Allah SWT akan memberikan pertolongan kepada kita, amin, Insya Allah.

Bismillaahi tawakalna ‘alallah… laa haula walaa quwwata illa billah. Allahu akbar!