Bila terjadi suatu kejadian menimpa kaum muslimin atau salah seorang mereka dan orang-orang yang pantas berijtihad ingin berijtihad untuk mengetahui hukumnya secara syar’y, maka kewajiban pertama atasnya adalah ia melihat apakah ia tergolong masalah yang sudah diijma’kan ataukah ia masalah yang diperselisihkan ulama? Dan ini agar ia tidak memfatwakan didalamnya dengan fatwa yang menyelisihi ijma sehingga ia sesat dengan sebab ia mengikuti selain jalan kaum mukminin. Dan tidak boleh menyengaja kepada dalil dari Alkitab atau assunnah untuk berdalil dengannya suatu masalah tanpa melihat kepada ucapan para ulama didalamnya karena ia bisa memahami dari dalilapa yang tidak ditunjukkan olehnya dan ia bisa saja meletakkan dalil bukan pada tempatnya sehingga ia tergolong orangorang yang memalingkan ucapannya dari tempat semestinya.

Abu Muhammad Almaqdisy berkata dalam AnNukat  Al Lawami dalam koreksinya terhadap hal ini : Seandainya beliau berkata bahwa hal seperti ini beliau pilihkan bagi orang-orang yang tidak memiliki alat-alat ijtiihad dan dikhawatirkan keliru dalam berdalil tentulah ini masih bisa diterima dengan syarat dia menelusuri orang-orang yang menulis dan mengumpulkan tentang tingkatan ijma dan tempat-tempatnya. Akan tetapi beliau berkata : “orang yang pantas Ijtihad . . “ sedangkan orang yang pantas ijtihad itu mengetahui perselisihan dalam hal ijma, terutama setelah menyebarnya para shahabat diberbgai negeri sedangkan apa yang diklaim banyak orang berupa berbagai ijma adalah tidak syah dan tidak memiliki pijakan syar’y. Ia juga mengetahui banyaknya mereka menggunakan ijma sukuty yang sangat ma’ruf diperselisihkan.

Setelah itu ia melihat kepada keumuman-keumuman dan dhahir-dhahir Al Kitab. Kemudian melihat kepada dalil-dalil yang mengkhususkan keumuman, berupa khabar-khabar ahad dan qiyas, bila ternyata qiyas menentang keumuman atau khabar ahad menentang keumuman maka kami telah menuturkan apa yang wajib didahulukan darinya. Bila tidak mendapatkan lafadh nash dan dhahir maka ia melihat kepad qiyas nushush. Bila saling bertentangan dua qiyas atau dua khabar atau dua keumuman, maka ia mencari pentarjihan, kemudian bila keduanya setara menurutnya, maka ia tawaqquf atas suatu pendapat dan memilih atas suatu pendapat] (Al Musthapa, Al Ghozaliy 2/392. Dinukil dari “Ar Raddu ‘Ala man Akhlada ilal Ardli” karya As Suyuthy hal : 163164, terbitan Darul Kutub Al’ilmiyah 1403 H)

Firqah-firqah yang menyelelisihi Ahlus sunnah wal jama’ah tidaklah menyimpang kecuali dengan sebab mengikuti metodhe yang bengkok ini, yaitu memiliki keyakinan sebelum berdalil terus mencari dalil dari Kitab dan As Sunnah untuk menguatkan keyakinannya tanpa melihat kepada ucapan-ucapan salaf dalam masalah-masalah itu sehingga dengan inilah sesatlah khawarij, Murjiah,Mu’tazilah dan lainnya.

Dan kami bila mengatakan wajib memulai dengan melihat ijma sebelum melihat pada dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah, maka ini bukan pengedepanan ijma terhadap nushush dalam tingkatan urutan, akan tetapi pengedepanan dalam pengamalan. Inilah yang dituturkan Abu Hamid Al Ghozaly rahimahullah dalam kitabnya “Al Mankhul hal: 466.


FaidahFaidah yang Berkaitan dengan Ijma’, Status Kehujjahan Ijma’ itu serta
Penjelasan Kekafiran Orang yang Menyalahi Ijma’ Shahabat

A. Ijma’: sebagaimana yang dikatakan Asy Syaukani adalah “kesepakatan para mujtahid ummat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat pada suatu masa terhadap suatu hal.” Dan yang dimaksud dengan kesepakatan adalah kesamaan baik dalam keyakinan ataupun dalam ucapan ataupun dalam perbuatan (Irsyadul fuhul hal :68)

B. Bagaimana ijma’ diketahui? Al Khothiib Al Baghdaadiy rahimahullah berkata : ”Ketahuilah bahwa ijma’ itu bisa diketahui dengan ucapan, dengan perbuatan, dan iqror (pengakuan), serta dengan perbuatan dan iqror (pengakuan). Adapun dengan ucapan maka ia adalah sepakatnya ucapan seluruh mereka terhadap suatu hukum, dengan mengatakan semua ini halal atau haram. Adapun dengan perbuatan maka ia adalah mereka seluruhnya mengerjakan sesuatu. Adapun dengan ucapan dan iqror (pengakuan) maka ia adalah sebagian mereka mengucapkan sesuatu kemudian ucapan itu menyebar pada yang lain kemudian mereka diam dari menyelisihinya. Adapun dengan perbuatan dan iqror (pengakuan),maka adalah sebagian mereka melakukan sesuatu dan ia menghubungi yang lainnya kemudian mereka diam dari mengingkarinya”. (Al Faqih Wal Mutafaqqih, Al Baghdadiy, terbitan Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah 1400 H, juz).

C. Kehujjahan Ijma : Ijma’ adalah sebagai dalil ketiga dari dalil-dalil hukum syar’iy setelah Al Qur’an dan AsSunnah dan dalildalil atas hujjiyahnya ijma’ ini adalah banyak diantaranya. Firman Alloh Ta’ala :

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ : 115)

Sedangkan ijma’ ulama termasuk sabilul mu’minin (jalan orangorang yang beriman) secara pasti. Sedang telah datang ancaman bagi orang yang menyelisihinya, maka itu menunjukkan kewajiban mengikutinya. Dengan ayat inilah Asy Syafi’iy dan yang lainnya berdalil atas kehujjahan ijma’. Lihat Al Mushtashfa, Al Ghozaliy, terbitan Al Amiriyah 1 / 175 dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 19 / 178 179.

D. Ijma’ sahabat adalah hujjah qhot’i yang menyelisihinya kafir. Ijma’ shahabat adalah hujjah, tidak ada perselisihan didalamnya diantara para ulama. termasuk orang yang mengingkari diantara mereka akan kemungkinan terjadinya ijma’ setelah masa shahabat, karena sebab tersebarnya ulama diberbagai negeri, seperti Ibnu Hazm rahimahullah, sesungguhnya ia bersepakat bersama para ulama lainnya akan keabsahan ijma’ shahabat dan bahwasa ijma’ adalah hujjah. (Lihat Al Muhalla, Ibnu Hazm, 1 / 54)

Faidah :
Ijma’ adalah hujjah walaupun tidak diketahui dalil orang orang yang berijma’ dari AlKitab dan As Sunnah sehingga dengan sekedar ijma’ mereka terhadap hukum sesuatu maka ia adalah hujjah dengan sendirinya. Dan bila diketahui nash dalam masalah itu maka ia adalah dalil lain.