Yang dimaksud dengan mereka adalah : Anshar para penguasa murtaed yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan diberbagai belahan negeri kaum muslimin hal ini.

Sedangkan Anshar mereka itu adalah mereka yang melindungi, menjaga dan membantu para thaghut itu terhadap orang yang hendak mencopot mereka dari kalangan muslimin mujahidin. Dan juga merupakan Anshar mereka adalah mereka yang membela-bela mereka dengan ucapan dan mengangkat senjata demi melindungi mereka dan mereka adalah sebab keberlangsungan hukum-hukum kafir dinegeri ini sebagaimana yang lalu telah disebutkan. Termasuk Indonesia, bahkan lebih dahsyat karena keberadaan Pancasila dll.

Dan anshar para thaghut itu adalah cabang dari status hukum para thaghut, dan status para penguasa yang berhukum dengan selain apa yang telah Allah turunkan itu adalah murtadun, dan akan datang penuturan dalil-dalil itu dalam pembahasan kedepan, Insya Allah ta’ala.

Adapun status Anshar mereka dari kalangan ulama’ suu’, kalangan media masa pemberitaan, tentara/polisi dan lainnya maka mereka itu orang orang kafir secara ta’yin dalam dhahir dan berikut ini dalil-dalilnya:

1. Dalil pertama adalah ijma’ para sahabat Radliyallahu ‘anhum.

Rosululloh Shalallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memerangi kaum murtadddin mumtani’in semasa hidupnya, namun mereka itu diperangi oleh para shahabat radliyallahu’anhum setelah beliau wafat dimasa kekhilafahan Abu Bakar Ash Shidiq radliyallahu’anhu sehingga dari Abu bakar dan shahabatlah diambil perincian hukum hukum masalah ini, sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

“Sesungguhnya barangsiapa diantara kalian yang hidup sesudahku, akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan janganlah kalian membuat hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu di neraka. (Hadits Riwayat At Tirmidziy dan dia berkata : “Hadits hasan shohih”

Para Shahabat telah berijma’ atas kekafiran anshar para pimpinan kemurtadan seperti Anshar Musailamah yang mengaku Nabi Alkadzab, dan anshar Thulaihah Al Asadi yang mengaku sebagai Nabi Alkadzab. Mereka merampas harta mereka sebagai ghanimah, menjadikan wanita wanita mereka sebagai budak dan bersaksi atas orang orang yang mati dari mereka bahwa mereka itu masuk neraka, sedangkan ini adalah pengkafiran dari Shahabat terhadap mereka secara ta’yin . Dan ini adakah dalilnya :

Apa yang diriwayatkan oleh Thariq Ibnu Syihab, berkata [ Datang utusan Buzakhah dari Asad dan Ghatafan kepada Abu Bakar mereka meminta berdamai kepadanya, maka beliau menmberikan pilihan kepada mereka antara peperangan yang menghabiskan seluruh harta al harbul mujliyah dengan perdamaian yang menghinakan as silmul mukhziyah. Maka mereka berkata peperangan yang menghabiskan seluruh harta telah kami ketahui maka apa perdamaian yang menghinakan? maka beliau berkata : Dirampas dari kalian senjata dan seluruh kuda, kami menjadikan apa yang didapatkan dari kalian sebagai ghanimah, kalian mengembalikan apa yang kalian dapatkan dari kami kepada kami, membayar Diyat orang orang yang terbunuh diantara kami dan orang-orang yang mati diantara kalian masuk neraka dan kalian dibiarkan sebagai kaum kaum yang mengikuti ekor onta sampai Allah memperlihatkan kepada Kahalifah RasulNya dan muhajirin suatu yang dengannya mereka mengudzur kalian]. maka Abu Bakar menyadarkan apa yang beliau katakan kepada orangorang maka Umar bangkit da berkata : [Saya tidak memiliki pendapat dan kami ingin mengisyaratkannya kepada engkau. Adapun apa yang engkau sebutkan berupa peperangan yang menghabiskan seluruh harta dan perdamaian yang menghinakan maka sungguh bagus apa yang telah engkau sebutkan. Dan adapun apa yang engkau sebutkan “kami menjadikan apa yang didapatkan dari kalian sebagai ghanimah dan kalian mengembalikan apa yang kalian dapatkan dari kami kepada kami” maka sungguh bagus apa yang telah engkau sebutkan adapun apa yang engkau sebutkan “kalian membayar diyat orang-orang yang terbunuh diantara kami dan orang-orang yang terbunuh diantara kalian adalah masuk neraka” maka sesungguhnya orang yang telah berperang diantara kita telah berperang dan terbunuh dijalan Allah sehingga pahalanya atas Allah lagi tidak ada diyat baginya] maka orang-orangpun mengikuti apa yang dikatakan Umar]. Diriwayatkan Al Barqaniy sesuai syarat Al Bukhary. Dari Nailul Author, AsySyaukani 8/22 dan Ibnu Hajar menuturkannya dalam Fathul Bariy terus berkata AlHumaidiy berkata : AlBukhariy meringkasnya terus menyebutkan ujung darinya yaitu ucapannya kepada mereka “mengikuti ekor unta –hingga ucapannya dengannya mereka mengudzur kalian” Dan Al Barqaniy mengeluarkannya secara utuh dengan isnad yang mana Bukhari mengeluarkan potongan itu darinya (Fathul Bariy 13/210), sedangkan asal hadits ini pada Al Bukhariy dalam bab Al Istikhlaf pada kitabul Ahkam no 7221. Dan utusan Buzakhah adalah kaum Thulaihah Alasady yang berperang bersamanya kemudian tatkala mereka dikalahkan oleh para shahabat mereka mengirim utusannya kepada Abu Bakar.

Ibnu Hajar telah menuturkan hadits ini dan berkata dalam syarhnya : { Dan (Muljiyah) adalah meninggalkan seluruh harta dan (Makhziyah) maknanya berada diatas kehinaan dan kenistaan. Dan (halqah) artinya senjata, dan (Alkuraa’) artinya semua kudasedangkan faidah merampas itu dari mereka adalah mereka tidak memiliki kekuatan supaya manusia aman dari arah mereka dan ucapannya (kami jadikan apa yang kami dapatkan dari kalian sebagai ghanimah) artinya itu tetap jadi ghanimah bagi kami yang kini kami bagikan sesuai pembagian syar’i dan sedikitpun tidak kami kembalikan kepada kalian. Dan ucapannya (dan kalian kembalikan apa yang kalian dapatkan dari kami) artinya apa yang kalian jarah dari kaum muslimin saat peperangan. Dan ucapannya (taduuna) artinya kalian membawa membawa diyat kepada kami, ucapannya (qatlakum finNaar) yaitu tidak ada diyat bagi mereka didunia karena mereka mati diatas kemusyrikan mereka, dimana mereka dibunuh dengan haq sehingga tidak ada diyat bagi mereka.Dan ucapannya (tutrakun) dan (yattabi’uuna adznaabal ibili) yaitu menggembalakannya karena bila alat perang dicabut dari mereka maka mereka kembali menjadi arab-arab badui yang tidak memiliki pencaharian kecuali apa yang mereka dapatkan dari manfaat unta-unta mereka. Ibnu Bathuthah berkata: mereka murtad kemudian bertaubat lalu mereka mengutus utusan mereka kepada Abu Bakar seraya meminta maaf, maka Abu Bakar ingin tidak memutuskan diantara mereka kecuali setelah musyawarah dalam urusan mereka maka beliau berkata kepada mereka : Kembalilah dan ikuti ekor-ekor unta dipadang pasir.selesai. Dan yang nampak adalah bahwa yang dimaksud dengan masa akhir yang diberikan penangguhan buat mereka adalah nampaknya taubat mereka dan kebaikan mereka dengan kebaikan islam mereka) (Fathul Bari, 13/210211).

Dan bukti dari hal ini adalah ucapan Abu Bakar terhadap orang-orang murtad yang bertaubat [ dan orang-orang yang terbunuh diantara kalian adalah masuk neraka ] serta persetujuan Umar dan seluruh shahabat Radliyallahu ‘anhum terhadapnya atas hal itu. Ini adalah Ijma dari mereka atas takfir anshar para pemimpin kemurtadan dan bala tentara mereka secara Ta’yin, karena tidak ada perbedaan bahwa orang-orang yang terbunuh itu adalah orang-orang tertentu (mu’ayyan) sebagaimana tidak ada perbedaan diantara Ahlus Sunnah bahwa orang Mu’ayyan tidak boleh dipastikan masuk neraka kecuali orang yang dipastikan kekafirannya. Adapun orang muslim bagaimanapun ia fasiq maka keyakinan Ahlus Sunnah adalah sebagaimana yang dikatakan Ath Thabari rahimahullah (dan kami memandang shalat dibelakang setiap orang yang baik dan jahat dikalangan ahli kiblat dan menshalatkan orang yang mati diantara mereka serta tidak memastikan seorangpun darai surga dan neraka) lihat (Syarh Aqidah aththahawiyah terbitan Al Maktab alislamy 1403 H hal 421-426).

Adapun orang yang mati dalam keadaan kafir maka ia disaksikan pasti masuk Neraka dan bahwa ia termasuk dalam calon ahli nereka sebagaimana sabda Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada dineraka”. (HR Muslim)

Sebagaimana juga sabda Rosululloh mengenai pamannya Abu Tholib: Dia ditempat yang dangkal dari neraka.(HR Bukhari 3883).

Sabda Shalallahu’alaihi wa sallam :
Dimana saja kamu melewati kuburan kuburan orang kafir maka berikan kabar gembira kepadanya dengan api neraka.

Al Haitsami berkata diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thobroniy dalam Al Kabir, dan perawinya adalah para perawi hadits yang shohih”. (Majma’uz Zawaaid, 1/ 118).

Ini adalah penukilan yang shohih dan ijmaa’ yang shorih (jelas) dari para sahabat atas pengkafirkan anshar para imam kemurtaddan dan bala tentara nya secara ta’yin dengan tanpa tabayyun (mencari kejelasaan) akan keterpenuhan syaratsyarat dan dan ketidak adaan mawani (penghalang-penghalang) terlebih dahulu pada orang orang itu tatkala merekamumtani’un bisy syaukah (melindungi diri dengan kekuatan). sedangkan Jumlah mereka itu ribuan. Dan Ibnu Taimiyyah menuturkan bahwa pengikut Musailamah Al Kadzab itu berjumlah sekitar seratus ribu atau lebih. (Minhajus Sunnah, 7 / 217).

2. Dalil kedua dari Kitabulloh Ta’ala

Firman Alloh Ta’ala :
“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An Nisa’ : 76)

Adapun thoghut maka telah lalu penjelasannya dipembukaan. dan bahwa masuk didalamnya dengan nash setiap orang yang dijadikan acuan hukum selain Allah seperti, yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan atau dustur (UUD) atau Qonun (hukum/UU) kafir. Allah ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu… (QS. An Nisaa’ : 60)

Jadi setiap yang dijadikan rujukan hukum selain (hukum) Allah adalah thaghut. Dan Ath Thobariy telah mendefinisikan sabiluth thoghut (jalan thoghut) bahwa ia adalah: “Tha’at kepada Syaithan, jalan dan ajarannya yang ia tetapkan untuk teman-temannya dari kalangan orangorang yang kafir kepada Allah.” (Tafsir Ath Thobariy, 5 / 169).

Jadi setiap orang yang berperang dalam rangka membela pemimpin yang kafir atau UUD atau Qonun kafir –sebagaimana yang dilakukan oleh Anshar para penguasa murtad—maka iatelah berperang dijalan thaghut sedangkan setiap orang yang berperang dijalan thaghut maka dia adalah orang kafir, karena Allah ta’ala berfirman :

”dan orangorang kafir berperang dijalan thoghut”.

Dan masuk dalam hal ini : perang dengan ucapan atau perbuatan sebagaimana yang telah kami nukil dari Ibnu Taimiyyah.

Catatan kaki :
Masuk didalamnya para ulama dan du’at yang mengetahui apa yang diterapkan oleh thaghut-thaghut Negara Kafir Republik Indonesia (NKRI) seperti Pancasila, UUD 45, Demokarasi, perpu/KUHP/UU, Nasionalisme, tahakum pada piagam PBB dan mahkamah Internasional dan yang lain sebagainya, terus mereka mengatakan ini pemerintah yang syah yang wajib atasnya diberi loyalitas dan para pemuda muslim yang membangkangnya adalah Khawarij (teroris). (pent).

Dan perhatikanlah firmanNya ta’ala :
”maka perangilah wali-wali syaitan”,

Ayat ini menjelaskan kepadamu bahwa thoghut yang sebenarnya adalah syaitan yang mengajak kepada setiap kekafiran. Dan bahwa sesungguhnya orang yang berperang di jalan thoghut sebenarnya dia berperang di jalan syaitan. Dan ini juga sebagai penguat akan status kekafiran mereka, karena wali-wali syaitan itu adalah orang-orang kafir, sebagaimana firman Alloh ta’ala :
Dan orangorang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan… (QS. Al Baqoroh :257)

Dan firmanNya ta’ala :
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu wali-wali (teman–teman / pemimpin pemimpin) bagi orang-orang yang tidak beriman”. (QS. Al A’rof : 27)

Ini termasuk dalil yang paling jelas akan kekafiran anshar para penguasa murtad dengan ucapan seperti sebagian ulama suu’ dan orang orang pers dan dengan perbuatan seperti militer dengan segala bentuknya, sungguh mereka itu berperang dijalan thaghut dan siapa yang berperang dijalannya maka ia itu kafir. Dan tidak mesti untuk menghukumi kafir setiap dari mereka itu ia terjun perang langsung atau terjadi peperangan, namun setiap orang yang disiapkan oleh para penguasa itu untuk berperang demi membela mereka dan sistem pemerintahan kafir mereka –yang mana ia adala hjalan thaghut—maka ia kafir. Dan bila saja Allah telah mengkafirkan orang yang berhakim kepada thaghut maka bagaimana dengan orang yang berperang melindunginya dan dijalannya?

Firman Alloh Ta’ala :
Barangsiapa yang menjadi musuh Alloh, malaikat-malaikatNya, Rosul-RosulNya, Jibriil dan Mikail, maka sesungguhnya Alloh adalah musuh orangorang kafir. (QS. Al Baqoroh :98)

Para ahli tafsir berkata tentang sebab nuzul ayat ini bahwa: Sesungguhnya orang-orang yahudi tatkala mengetahui bahwa Jibril alaihisallam yang turun membawa wahyu kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam maka mereka berkata : “Sesungguhnya Jibril itu turun membawa adzab dan siksa, maka sesungguhnya ia adalah musuh kami.” Maka Alloh menurunkan ayat ini dan yang sebelumnya seraya menjelaskan bahwa orang yang memusuhi satu orang dari Rosul dari Rosulrosul Alloh dari malaikat dan manusia maka ia telah memusuhi semua Rosul (utusan) Alloh Sebagaimana FirmanNya ta’ala :
“Alloh memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia (QSAlHajj :75)

Sedangkan orang yang memusuhi rasul-rasul Allah maka ia telah memusuhi Alloh dan ia termasuk orangorang kafir.
…maka sesungguhnya Alloh adalah musuh orangorang kafir. (QS. Al Baqoroh : 98)
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1 / 131 – 133)

Camkanlah wahai Ummat Islam Bangsa Indonesia…!!!

Maka macam permusuhan terhadap Alloh, Rosulnya dan AgamaNya manakah yang lebih besar dari peninggalan hukumhukum syari’atNya dan menggantinya dengan undangundang kafir? Permusuhan terhadap Alloh, RosulNya dan agamaNya macam apa yang lebih besar daripada memperolok ajaranajaran agama seperti jenggot atau hijab dan yang lainnya yang memenuhi media massa para thoghut itu? Permusuhan terhadap Alloh, RosulNya dan agamaNya macam apa yang lebih dahsyat dari sikap memusuhi wali wali Allah yang berpegang terguh terhadap agama mereka, memenjarakan mereka, menyiksa mereka, membunuh mereka dan memerangi mereka dalam pencaharian mereka? Dan permusuhan terhadap Alloh, RosulNya dan agamaNya macam apa yang lebih dahsyat dari sikap membantu sistem pemerintahan sekuler yang kafir dengan ucapan dan perbuatan, berperang dalam rangka melanggengkannya dan perang dalam rangka mempertahankan para aimmatul kufri (para pemimpin kafir) yang memerintah dengan sistem ini? Dan bukankah ini yang dilakukan oleh para penguasa murtad, anshar mereka dan bala tentaratentaranya? Dan bukankah perbuatan perbuatan mereka ini jelas permusuhan terhadap Alloh, RosulNya dan AgamaNya? Sedangkan siapa yang menjadi musuh Alloh, RosulNya, dan AgamaNya maka dia kafir.