Dari pembahasan sebelumnya, terbayang betapa banyaknya dana yang harus dimiliki seorang mujahid, sebab dia tidak sekedar menafkahi diri dan keluarganya, tapi juga membiayai sabilillah yang diperjuangkannya. Setiap saat dia berada dalam kondisi perang (fie waqtil harbi), selalu ada musuh mengintai dan memburunya, dia mesti memiliki daya mobilitias tinggi yakni memiliki kemampuan berpindah-pindah tempat secara cepat. Siap pergi kapan saja, dengan demikian tentunya harus ada dana stand by yaitu dana siaga, yang tidak boleh diganggu, hingga kapan saja diperlukan, tersedia.untuk keperluan mendadak tadi. Belum lagi dengan resiko yang tak terduga, tertangkap musuh misalnya (na’udzubillah min dzalik), mesti dipersiapkan sebelumnya, bagaimana agar perjuangan dan keluarga mujahid yang ditinggalkan bisa tetap survive (bertahan), menghadapi kondisi demikian.

Darimana dana sebanyak itu harus tersedia? Sepanjang sejarah perjuangan, mulai dari Rosululloh hingga kini, sumber utama dan pertama dana perjuangan adalah dari diri mujahid itu sendiri! Dimana setiap dana dan tenaga yang dikeluarkan tadi, langsung dibeli oleh Allah dengan syurga yang disediakan untuk mereka (QS. 61:10-12) yang tidak akan akan pernah merugi. Firman Alloh SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS, Faathir:29)

Dari itu setiap mujahid, mestilah bersungguh-sungguh bekerja keras dan bekerja cerdas guna mengumpulkan dana penopang hidup dan perjuangannya. Mujahid tidak boleh malas bekerja, apapun mau, sepanjang itu halal dan menghasilkan uang. Tidak ada malu dan gengsi, mengumpulkan karung-karung bekas, besi-besi tua pun jadi. Setiap usaha mulia mengurus tenaga penggerak perjuangan (isteri, anak, ikhwan/akhwat) dan perjuangannya itu sendiri.

Pemalas, maunya cuma enak-enak belaka, orang-orang yang hobinya cuma makan tidur dan berleha-leha, tidak pantas jadi pejuang Islam, malah akan jadi beban perjuangan yang memperlambat gerak maju. Tidak pantas seorang mujahid malas menyingsingkan lengan baju mencari nafkah, bukankah berperang saja siap. Menderita dibawah tekanan perang yang panjang saja dia siap, masa kerja mencari nafkah tidak mau. Walaa takuunuu kaallan ‘alan nas kata Nabi SAW, Janganlah kalian jadi beban bagi manusia!! Pejuang adalah orang yang bekerja keras untuk diri, keluarga dan agamanya Camkanlah ini wahai saudara-saudaraku …

Mujahid yang beruntung telah memiliki penghasilan yang cukup besar, hendaklah memikirkan saudara-saudaranya bagaimana agar memiliki penghasilan pula. Bukan dijatah per bulan dikasih uang, tapi bagaimana agar saudaranya bisa menghasilkan uang pula!. Pihak Baitul Mal hendaknya kreatif mengusahakan usaha-usaha ekonomi penunjang perjuangan, dengan demikian tercipta pula lowongan pekerjaan bagi ummat. Perjuangan tersambung dana, keluarga mujahid pun dapat penghasilan dari upah kerjanya. Saya ingin di kemudian hari kita bisa berkata : Di front perjuangan sabilillah ini NOL % pengangguran! Semua memiliki penghasilan, bahkan mampu mempertanggungjawabkan tenaga-tenaga full timer yang dibiayai kas perjuangan. Tenaga full timer atau mujahid faqir, bukanlah penganggur atau pemalas kerja. Dia bahkan tenaga aktif yang penuh semangat kerja, hanya berhubung perjuangan lebih memerlukan tenaganya secara penuh, maka urusan nafkah keluarganya ditanggung kas perjuangan (Qs. 2:273).