Bismillahirrohmanirrohim

Sehubungan akan datangnya bulan Ramadhan 1430 H, dimana pelaksanaannya sangat ditentukan oleh waktu sesuai fenomena alam (ketentuan Alloh), oleh karena itu sebagai wujud pertanggungjawaban dalam melaksanakan syari’at Alloh, maka dipandang perlu adanya penetapan waktu pelaksanaan ramadhan, yaitu:

  1. Penetapan 1 Ramadhan 1430 H
  2. Amaliyah Ramadhan supaya bisa mencapai gelar Muttaqiin disisi Alloh

1. Penetapan 1 Ramadhan 1430 H

Tanggal 1 Ramadhan 1430 H jatuh pada hari Sabtu tanggal 22 Agustus 2009, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Ijtima’ akhir Sya’ban 1430 H jatuh hari Kamis tanggal 20 Agustus 2009 pukul 17.02′.40″ WIB.
  • Ketinggian Hilal waktu Maghrib di Pelabuhan Ratu: -1 derajat 10’42,2″; di Jayapura 3 derajat 25’53,7″; di Yogyakarta (-07 derajat 48′ dan 110 derajat 21′ BT)= -1 derajat 10’20”, dimana hilal sudah wujud dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam Hilal diatas ufuk

2. Amaliyah Ramadhan 1430 H

Untuk amaliyah Ramadhan 1430 H dalam amanahnya sebagai berikut:

Pertama, di tengah-tengah sebagian para pekerja atau pengusaha baik kecil maupun besar merasakan adanya peningkatan aktivitasĀ  yang berkaitan dengan ekonomi. Akan tetapi, sebagian justru ada yang mengurangi kegiatannya karena pertimbangan tertentu. Maka dalam kedua hal itu bagi pribadi Mukmin harus menjadikannya sebagai amal sholeh. Firman Alloh ‘Azza Wa Jalla:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr: 1-3)

Sebab itu, apabila datangnya bulan Ramadhan membuat sebagian kita sibuk dalam ekonomi yang melebihi bulan-bulan lainnya, maka hal itu harus dijadikan penunjang amal sholeh sebagian persiapan jihad fii sabilillah yang dalam prosesnya adalah mengajak masyarakat Islam kepada hak dan menempati kesabaran (tidak lemah dan tidak menyerah kepada musuh). Firman Alloh ‘Azza Wa Jalla:

“dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Qs. Ali Imron:146)

Begitupun bagi sebagaian yang sementara terhenti atau berkurangnya dari kesibukan ekonomi karena pertimbangan dan kondisi tertentu, maka keadaan seperti inipun tetap waktunya harus dialihkan kepada amal sholeh dalam bentuk lain.

Kedua, Berkaitan dengan bulan Romadhan, Alloh ‘Azza Wa Jalla berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqoroh:183)

Pada ujung ayat tersebut terdapat “agar kamu bertaqwa” yang mengandung arti bahwa dengan shaum pada bulan Ramadhan itu bagi kita harus menambah nilai tambah daripada bulan-bulan sebelumnya. Artinya, ketaqwaan kepada Alloh harus bertambah, paling tidak harus bertahan dalam bertaqwa kepada-Nya.

Satu contoh, kita pernah menyaksikan pada sebagian wanita yang mengaku Islam (Muslimah), meski sebelum bulan Ramadhan tidak mengenakan busana Muslimah (Jilbab), tetapi bulan Ramadhan mereka mengenakannya bahkan setelah diawali bulan Ramadhan itu, untuk bulan-bulan seterusnya pun maka mereka tetap menutup auratnya. Mungkin saja pada awalnya hanya keterpaksaan atau memaksakan diri. Tetapi sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan maka sukar berubah jika tidak dipaksakan untuk merubahnya.

Bagi sebagian ada yang mengerjakan kebaikan karena keterpaksaan oleh pergaulan bahkan karena ketaqwaan kepada Alloh, sehingga bila lepas dari bulan Ramadhan dan kembali bergaul dengan sesama yang tidak menutup aurat atau berbuat yang tidak islami maka terpengaruhi kembali oleh kebiasaan sebelum Ramadhan.

Bertolak belakang dengan hal tersebut diatas maka diserukan kepada segenap Mujahidin dan Mujahidah dalam shaum Ramadhan ini untuk bisa memanfaatkan kesempatan dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh SWT. sehingga didapat “shibghotulloh” (Qs. 2:138). dan tidak terwarnai oleh hal-hal yang mengurangi ketaqwaan . Mujahidin dan Mujahidah harus bagaikan belut putih, meskipun bergemul dengan lumpur, namun tetap putih, tak sedikit pun lumpur melekat padanya.

Ketiga, Meningkatkan dakwah. Revitalisasi dakwah harus sering dilakukan karena dakwah yang berhasil adalah yang sebagaiaman yang sudah dilakukan Nabi SAW. dan para sahabatnya terdahulu, yakni yang dimulai dengan memberikan teladan yang baik kepada masyarakat yang dihadapinya.

Dengan datangnya bulan Ramadhan tahun ini, semoga kita semua bisa meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla, sehingga Alloh memberikan jalan dari kesulitan (Qs. 65:2) sehingga kalimatillah tinggi dan hukum Islam berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan ummat Islam bangsa Indonesia. Aamiin.