Kehidupan sanak keluarga mujahid juga mesti disesuaikan agar semuanya “serba perjuangan”, rukun, bantu membantu sesama keluarga mujahid, saling meringankan beban sesama keluarga mujahid. Dalam penitipan anak, pengasuhan, kekurangan makanan, keterbatasan pakaian, kesulitan uang, lapangan kehidupan dan sebagainya.

Setiap mujahid mesti mengakrabkan dirinya dengan karib kerabat, sanak keluarga, walaupun karib kerabatnya itu bukan mujahid, usahakan mereka bersimpati pada kita. Suatu waktu mungkin kita memerlukan mereka, sikap meremehkan keluarga sedarah, dengan alasan tidak searah dalam perjuangan, membuktikan bahwa sang mujahid tadai, belum pandai memanfaatkan sarana dan keadaan untuk perjuangan itu sendiri.

Ketika seorang mujahid ditawan, maka siapa yang paling mudah untuk bisa menghubunginya? Tentu keluarganya sendiri, sebab sesama mujahid belum tentu bisa mengkontak, baik karena tertahan keadaan, atau mungkin dalam pengejaran. Jika keluarga tidak terbina sebelumnya, maka peluang untuk saling komunikasi menjadi sulit dimanfaatkan.

Walaupun kita dan mereka berbeda rujukan beribadah, beda ideologi atau bahkan kewarganegaraan, selalulah diusahakan agar ada pendekatan dari hati ke hati secara kekeluargaan. Namun waspadalah jangan terbawa arus kebiasaaan mereka yang non mujahid, jangan terjebak dengan perangkap mereka, yang mungkin saja menggunakan jalur kekeluargaan untuk menghancurkan perjuangan kita.

Kalau ada dari keluarga mujahid itu yang memerlukan penampungan, usahakanlah bantuan kita pada kerabat mujahid itu tidak merugikan perjuangan. Bila dimungkinkan jalur perjuangan bisa dibuka dan disambung lewat kekerabatan, upayakan secara bertahap agar jalur kekeluargaan ini bermanfaat untuk kelanjutan perjuangan.

Kalau ada sanak keluarga dari mujahid yang memerlukan perjodohan, carikan pasangannya, sebisa mungkin dari warga seperjuangan, agar menambah kekuatan juang, jangan sebaliknya.