Setiap mujahid harus hidup ramah dan merakyat, bukan hidup ningrat-ningratan, borjuis-borjuisan, atau feodal-feodalan. Senantiasa gemar membebaskan belenggu, beban, kesusahan yang merampas ketentraman sesama.

Kalau tidak ada materi untuk membantu, berilah sumbangan tenaga dan pemikiran, atau mencarikan bantuan materi buat saudaranya. Mujahid itu sungkan meminta bantuan pada orang jika itu terkait langsung dengan dirinya (laa yasalunanasa ilhafa S. 2:273). Namun tidak segan-segan memintakan bantuak untuk saudaranya, jika dilihatnya saudara sejihad memerlukan bantuan, sebab takut terkena ancaman S. 107:1-3.

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (Qs. Al Baqoroh:273)

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim .  dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin”. (Qs. Al Maa’uun:1-3)

Jangan sekali-kali angkuh, sombong, tinggi hati, serakah, kikir lagi tamak, jadilah teladan buat masyarakat sekitar lewat hidup keseharian kita. Ingat bahwa memperoleh simpati rakyat, berkait langsung dengan kepentingan juang kita.

Jangan bersikap yang aneh dan ganjil-ganjil, ingat siapa status diri anda sekarang, setelah mengikuti millah Ibrohim ini. Pasca Baroah, anda adalah warga negara asing,  gelap dalam pandangan setiap warga negara yang tidak berlandas wahyu. Hati-hati, jangan sampai dengan kekanak-kanakan sikap kita, terbongkar kekuatan perjuangan yang telah lama kita bina.

Terhadap amal Islami yang tidak bisa tidak, mesti kita jalankan sebagai bagaian dari nilai kemujahidan kita, lakukanlah dengan teguh! Sekalipun anda mesti jadi yang pertama berubah arah dan menyimpang dari kebiasaan orang banyak [Wa ana awalul muslimin, QS. 6:163]. Dengan tetap berpegang pada asas “memberi pengertian”bukan sengaja “membuat orang salah paham”.

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Qs. Al An’am:162-163)

Terhadap amal Islami yang masih “asing” di masyarakat, awalilah dari diri dan keluarga anda dalam melaksanakannya, kemudian gemarkanlah agar orang-orang di sekitar anda bisa menerima dan melaksanakannya pula. Dengan demikian anda tidak menjadi “orang yang lain sendiri”. Tetapi tetap melekat dan berbaur dengan masyarakat Islam, yang berkembang bersama dengan perkembangan anda sendiri, tetap tersembunyi dibalik aktivitas Islami masyarakat Islam kita, adalah tehnik penyamaran yang paling jitu dan “aman”.

Jangan anda yang “mengalah”dan pura-pura jahiliyah, karena kebetulan anda menempati posisi “kurang strategis”, tapi benahilah orang-orang di sekitar kita berada hingga menjadi massa yang menerima, melindungi serta berakhlaq seperti para mujahid. Hingga samar dalam pandangan musuh, mana mujahid dan mana yang bukan mujahid karena semuanya sama-sama tampil sebagai warga masyarakat yang shaleh.