Setiap wanita yang menjadi isteri seorang mujahid, bahkan dengan siapa saja yang terikat kekerabatan dengan figur seorang mujahid, baik itu bapaknya, saudaranya, anaknya dsb mesti memahami kehidupan mujahid yang “lain daripada yang lain”seperti dijelaskan dimuka.

Harus diupayakan bagaimana caranya agar bapak, anak, isteri, saudara, kerabat, tempat usaha dan tempat tinggal, semuanya mendukung kelancaran tugas juang, bukan menghambat dan membebani kegesitan gerak kita ! Mereka semua harus dibina agar bisa menyesuaikan diri dengan pola hidup mujahid yang keras, dan tak bisa diperkirakan itu.

Kerukunan rumah tangga akan tercipta bila sang isteri bercita-cita dan mengangankan kehidupan normal seperti layaknya orang-orang. Mereka harus sadar bahwa suaminya atau anaknya, atau bapaknya bukan lagi “Orang biasa”, tapi “Orang luar biasa”. Karenanya mental sang isteri dan anak-anak harus pula dididik untuk siap menjadi “Luar Biasa”! semua harus dibimbing menurut pola garis perjuangan kita.

Setiap isteri mujahid harus maklum dengan kehidupan suaminya, senantiasa taat berbakti, sopan, menghargai dan senantiasa mendorong jiwa suami untuk tetap bergairah menunaikan tugas juangnya. Bukannya menghalangi dan merintangi, mencaci maki suami dengan dengan kata kata yang tidak sopan, karena dianggapnya selama ini aktivitas suami sibuk kesana sini tapi tidak banyak mendatangkan uang melimpah [malah jatah belanja yang disedot biaya transportasi biaya juang]. Tidak seperti kesibukan kesibukan suami tetangganya, yang pergi pagi pulang pagi lagi, memang kerja lembur cari penghasilan tambahan.

Isteri mujahid, mesti menghargai upaya kerja keras suaminya dalam mengangkat kedaulatan Islam, toh kalau Allah ridho, yang masuk surga bukan hanya suaminya saja, juga dia dan anak-anaknya:

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ(23)سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ(24)

(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) : “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS. Ar Ra’d:23-24).

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikut mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath Thur:21).

Isteri mujahid tidak boleh marah-marah, muka kusut jika suami terlambat pulang, atau larut malam baru ia kembali, begitu juga andai berhari hari ia tak pulang. Mesti disadari semua itu bukan untuk kepentingan hawa nafsunya, tapi berbakti untuk masa depan keluarga yang lebih cerah diakhirat. Doakanlah suami yang tengah pergi ditiap penghujung malam, di atas sajadah seusai engkau tahajjud.

Setiap isteri mujahid mesti tahu kehidupan berat yang diderita setiap mujahid, sehingga dia tidak gampang mengeluh, apalagi iri hati melihat tentramnya keluarga keluarga non mujahid. Kesadaran jihad yang tertanam dalam hati anda, lebih mahal dari apapun yang bisa dimiliki manusia, sebab dengan “sadar jihad” tadi Allah akan membeli kalian dengan surga! Bergembiralah dengan bai’at yang telah anda lakukan !, jangan resah dan gundah! Ini baru namanya isteri mujahid! :

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلاِنْجِيلِ وَالْقُرْءَانِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(111)

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah:111)

Mungkin suatu saat saudara seperjuangan suaminya datang, berunding hingga jauh larut malam, isteri yang tak sopan biasanya akan berusaha mengusir sang tamu dengan berbagai cara. Membanting pintu, menghardik anank, atau memarahi suami agar segera mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak mendesak harus diselesaikan saat itu. Sekedar mencari dalih agar tamu malu, dan pamit meninggalkan suaminya. Ini ahklak yang paling buruk yang pantang dimiliki seorang isteri mujahid.

Isteri mujahid harus pandai-pandai menyimpan rahasia yang mungkin selintas sempat ia dengar lewat obrolan antara suami dan saudara seperjuangannya. Sebab isteri yang tidak teliti dan cermat menyimpan rahasia, sama sekali tidak pantas mendampingi hidup sang mujahid. Apalagi kalau sang isteri sampai berani membocorkan rahasia, berkhianat terhadap suami sekaligus roda pergerakan, meneruskan informasi kepihak musuh. Ini isteri pengkhianat namanya, jauhi isteri model begini, berlindunglah kepada Allah dari hadirnya “musuh dalam selimut”. Karena itu jauh-jauh hari hendaknya selektif dalam memilih isteri, jangan sampai terlanjur beristerikan “orang berbahaya”seperti ini.

Isteri pejuang Islam mestilah seorang yang bersungguh-sungguh lagi tabah bekerja keras, berusaha sungguh-sungguh menerapkan kehidupan Islami dalam rumah tangganya, dibawah perlindungan sang mujahid yang jadi suaminya. Jangan main-main dengan agama, sebab kafir hukumnya :

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ(50)الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ(51)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga : “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni syurga) menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya diatas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main atau senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami (Qs. Al A’raf:50-51).

Perempuan yang tidak mau disiplin dengan Islam, tidak pantas jadi isteri pejuang Islam!

Bagi mereka yang telah beristri sebelum tampil sebagai mujahid, harus dididik dan dikondisikan dalam kehidupan Islam yang teladan. Dalam makan, minum, pergaulan, berpakaian dan peribadahan. Isteri-isteri pejuang Islam harus membantu isteri saudara seperjuangannya yang belum kental Islamnya agar segera menyesuaikan diri, hingga layak menjadi isteri sang mujahid.

Jika suatu waktu isteri mujahid melihat isteri saudara juang suaminya, ada yang belum Islami, jangan menambah dosa baru dengan menggunjingkannya. Lakukanlah syuro antar sesama isteri mujahid untuk melakukan perbaikan.

Tak pantas seorang isteri pejuang Islam menggunakan cutex pemerah kuku, bibir berlipstik, berbedak berlebihan, keluar dengan wewangian, berhias mas gemerlapan, membuka aurot, atau memakai pakaian ketat yang membentuk tubuh. Jauh … jauh … semua itu harus dijauhi isteri mujahid yang berbudi tinggi.

Walaupun secara hukum memakai emas tidak dilarang, namun seyogyanya mereka lebih menghayati suasana perjuangan yang tengah dialaminya. Anda harus mencolok dalam ketaatan, bukan dalam glamournya kehidupan, apalagi dalam suasana “kalam bertempur”seperti sekarang ini.

Ini bukan berarti isteri mujahid dilarang memiliki emas, terkadang itu perlu sebagai bekal yang mudah dibawa pergi. Bila suatu dikejar lawan, tidak ada yang sempat dibawa, maka perhiasan itulah yang dijual untuk menyambung hidup, yang artinya menyambung perjuangan juga ! Yang ditekankan disini adalah ketulusan hati anda dalam memiliki emas tadi dan jangan sekali-kali memakai untuk memamerkannya. Kita semua sudah mengerti betapa bahaya riya merusak hati

Upayakan hidup tidak mubazir, sebab orang mubazir dianggap punya hubungan famili dengan syetan (QS. 17:27). Jangan mudah membuang makanan yang tersisa, atau pakaian yang terasa sudah agak kusang. Carikan jalan keluarnya supaya pekerjaan mubazir tidak terjadi. Kita tahu masih banyak saudara seperjuangan membutuhkan pakaian penutup aurat. Alangkah indah bila setiap isteri mujahid membeli pakaian baru, maka ia keluarkan satu pakaiannya untuk saudari mujahidah lain yang memerlukan. Dalam kitab Mukhtarul Hadist banyak keutamaan yang bisa kita dapat dengan memberikan pakaian pada saudara/I muslim, silahkan anda menelitinya.