Bila sang pejuang Islam itu telah beristri, maka ia akan memperlakukan isterinya dengan baik. Sang Komandan teladan Ummat (Nabi Muhammad pernah bersabda : Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga, dan aku adalah yang terbaik dalam bersikap terhadap keluarga”). Ia memandang isterinya sebagai karib perjuangan, bukan sekedar pelengkap penderitaan perjuangan. Ia tidak akan semena-mena memerintah isterinya semau sendiri, harus ada pengertian dan saling membantu, walau dalam urusan rumah tangga, seperti mencuci pakaian, mencuci piring, memasak, membelah kayu dan sebagainya.

Harus diingat, bahwa yang pertama kali harus merasakan nikmatnya kepemimpinan dan warna kehidupan Islam (yang kini tengah diperjuangkan) adalah isteri dan anak-anak kita. Qur’an mengistilahkan “Quu anfusakum wa ahlikum Naaro”(QS. 66:6). Agar mereka bisa berpikir, bahwa baru dalam proses juang saja sudah begini sakinah, apatah lagi bila sudah menang nanti… jika ini yang ada dalam benak keluarga, maka tentu mereka jadi tenaga pendorong yang kuat bagi kelangsungan perjuangan. Jangan sampai terjadi, ada ‘mujahid’ yang dikagumi oleh saudara seperjuangannya yang jauh-jauh, sementara keluarga, dan kerabatnya yang dekat dengan dia, sudah sejak lama dikecewakan oleh sikap-sikapnya. Mungkin ada yang berkata, “Tidak semua keluarga nabi mendukung nabi, apalagi kita yang bukan nabi”Betul, begitulah kenyataan sejarah, tapi sudahkah kita semaksimal Nabi dalam mendakwahi keluarga? Bagaimana dengan ayat “Wa andzir asyirotakal aqrobiin”(QS. 26:214 juga S.20:132)?? Atau semua itu hanya apologis karena kita terlanjur malu, sebab keluarga telah terlanjur tahu kekurangan dan ketidak alegan sikap kita??? Hendaknya para pejuang tidak keburu mengidentikkan dirinya dengan Nabi Nuh as dalam masalah keluarga, sebab belum tentu dirinya selamat dari pertanggungjawaban keluarga seperti nabi Nuh telah selamat!

Di rumah juga perlu diusahakan usaha wiraswasta, menjahit pakaian yang halal, kebun kecil-kecilan untuk menopang hidangan sehari-hari, beternak atau apa saja sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang ada.

Didiklah anak-anak, agar jangan banyak jajan. Jadilah orang yang “effektif dalam menimbang harga”, hindari pemborosan. Belilah barang yang bisa terpelihara lama, sehingga anda tidak harus terus menerus membeli, bukan sekedar membuang waktu tapi juga jatuhnya jadi mahal bila berulang kali. Bersabar sedikit rela menunggu waktu hingga mampu membeli barang berkualitas lumayan, ternyata bisa lebih menghemat daripada sikap tergesa-gesa ingin punya.

Didiklah anak-anak jangan banyak jajan, kita perlu penghematan, disiplinlah dalam berbelanja, belilah yang benar-benar mendukung tegaknya Islam di rumah dan di bumi ini. Jangan masukkan barang ke rumah kita yang justru akan merusak daya juang, sebab itu bom waktu yang disimpan musuh di rumah kita.

Belilah pakaian yang harganya tidak terlalu mahal, utamakan keawetannya, kalau bisa tawar serendah mungkin. Ingat uang anda amat berharga bagi perjuangan.

Soal kelaparan dan melarat, adalah kehidupan yang khas bagi mujahid sejati, lihatlah bagaimana menderitanya para isteri Nabi Muhammad dan anak-anaknya. Lihat keluarga shahabat nabi, bagaimana kehidupan Abu Bakar, Umar, Ali, dsb. Namun semua penderitaan itu terobatkan manakala melihat Islam jaya. Itulah pengorbanan bagi setiap mujahid sejati.

Setiap perjuangan yang murni akan memakan waktu yang sangat panjang, karenanya kemampuan mengatur dan mengelola kehidupan ala mujahid mesti benar-benar difahami oleh para mujahid sejati. Ia mesti menyiapkan diri, bukan sekedar secara mental, tapi juga pembiasaan diri.

Lihatlah bagaimana Tholut mendidik tentaranya, air itu tidak haram, halal-halal saja, tapi beliau batasi jangan sampai para prajurit meminumnya terlalu banyak (jangan mentang-mentang halal). Bagus kalau tidak menyentuhnya sama sekali.

Hasilnya memang kelihatan, orang yang banyak minum air, tidak kuat lagi melakukan perlawanan terhadap thoghut Jalut yang aniaya (QS. 2:249).

Kalau air saja bisa menghambat semangat juang, apalagi harta duniawi dengan berbagai variasi kenikmatannya. Betapa banyak kita melihat orang yang ‘ketika melarat’ meletup-letup semangat juangnya, namun setelah hidup ‘sedikit lumayan’ ia perlahan menjauh dari saudara seperjuangannya. Takut bisnis yang mulai naik daun, jatuh karena resiko yang tidak terduga akibat perjuangan.

Waspadalah barang haram seperti anda mewaspadai musuh yang menyerang. Janganlah anak-anak mujahid dibiarkan bergaul seenaknya dengan keluarga-keluarga bukan mujahid, sebab mereka tengah membesarkan anak-anaknya ke arah yang berbeda dengan kita.

Ali Al Khowwad : Barangsiapa memakan makanan haram, sedang ia orang yang amat rajin beribadah, maka ia bagaikan burung merpati yang mengerami telur rusak. Ia hanya memayahkan diri dalam bermalam-malam mengeram, tetapi tidak keluar seekorpun anak merpati daripadanya, bahkan telur itu menjadi busuk.

Imam Abu Hanifah Rohimahulloh berkata : Seandainya ada seorang hamba yang beribadah pada Allah demikian khusyuknya, sampai-sampai tak bergerak seolah-olah seperti tiang, sementara ia tidak peduli dengan apa yang masuk ke dalam perutnya – apakah halal atau haram – maka tidak diterima ibadah daripadanya”.