Setiap mujahid sejati harus tahan menghadapi segala penderitaan dan resiko perjuangan,  sebab perjuangan menuntut pengorbanan. Tahukah anda apa yang pertama kali harus dikorbankan seorang mujahid? Perasaan ! Ya ! yang paling pertama akan ia rasakan adalah “korban perasaaan”, jika dengan itu ia tabah, ia akan berhadapan dengan hal lain yang menuntut “pengorbanan tenaga”, meningkat pada “pengorbanan harta”, hingga akhirnya “pengorbanan jiwa” sekalipun!

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ(186)

“Kalian sungguh akan diuji terhadap harta dan dirimu. Dan juga kalian sungguh-sungguh akan mendengar ejekan yang menyakitkan hati dari orang-orang ahli kitab sebelum kalian dan dari orang-orang musyrik. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, maka yang sesungguhnya yang demikian itu sungguh-sungguh termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Q.S. Ali Imron:186).

Jika untuk “berkorban perasaan saja sudah tak mampu, tak tahan dihina” misalnya, cepat kehilangan kendali bila diejek dan dicaci maki, akan sulit baginya untuk melangkah lebih jauh. Ingat anda punya lawan, dan tindakan pertama mereka adalah menghancurkan daya tahan mental anda !

Itu baru ujian mental ringan yang artinya bila kesiapan berkorban perasaan tidak ada, maka biasanya kalaupun pernah berkorban tenaga atau harta, ia akan segera surut kalau mendapat celaan, baru akan bangkit lagi kalau ada yang memuji. Di sini keikhlasan tergadaikan, na’udzubillahi min dzalik! Lebih parah lagi bagi orang yang bisa berkorban harta karena kaya, berkorban tenaga karena perkasa, siap bersabung nyawa karena memang pemberani, namun jika tidak siap “berkorban perasaan”, satu kali harga dirinya tersinggung, diabaikan atau hatinya tak terpuaskan, maka segeralah ia marah-marah dan mengungkit-ngungkit jasa-jasa besarnya …. Sudah pahala amalnya hilang, beberapa dosa pun bertambah memperburuk nilai dirinya, dosa takabbur, riya dan sum’ah.

Bila ujian mental ringan telah lulus maka datang lagi ujian tekanan kanan fisik, dianiaya lawan, dikejar, ditawan, dibunuh, itu merupakan agenda kehidupan yang akrab dengan para mujahid. Hidupnya diujung senjata musuh.

Berhari-hari ia kekurangan makanan, bahkan tidak makan minum sama sekali, tidurpun tak bisa, sebab diri senantiasa dikejar-kejar pasukan musuh, diintai dinas rahasia lawan, dikeroyok rakyat musuh (seperti Rosululloh, dianiaya penduduk Tho’if).

Seorang mujahid harus menyiapkan mental ekstra sampai kondisi seburuk itu, begitu juga dengan kewaspadaannya, dengan anak-anak berumur 8 tahun pun ia harus berhati-hati, kalau-kalau bocah itu dimanfaatkan musuh sebagai kaki tangannya.

Hidup para mujahid senantiasa dibayangi ketakutan, senantiasa merasa terancam dan akan terus begitu sampai perjuangan mencapi kemenangan (QS. 24:55). Namun bagi mujahid sejati, rasa takut tidak membuat mereka lari, hanya membuat mereka semakin berhati-hati. Ditatapnya semua itu dengan tabah hati, sebab dibatas kesabarannya, Allah menjanjikan berita gembira, berupa berkah yang sempurna, rahmat serta tambahan penduduk, obor bagi perjuangan berikutnya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ(155)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ(156)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ(157)

“Dan sungguh kami akan memberikan sedikir cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, terancam jiwa dan kekurangan buah-buahan, dan berikan kabar gembira bagi mereka yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”Kami ini milik Allah dan sesungguhnya kami kepada-Nya akan kembali. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna, rahmat dari Pemelihara mereka (Robbihim), dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqoroh:155-157).

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي اْلاَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(26)

“Dan ingatlah ketika kalian berjumpa sedikit lagi tertindas di muka bumi, kalian takut orang-orang kafir menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap dan dijadika Nya kalian kuat dengan pertolongan-Nya dan diberikan-Nya kalian rizki yang baik-baik, agar kalian bersukur (Qs. Al Anfal:26).

Waktu untuk keluarga? Jangan harap bisa hidup normal seperti orang-orang Non Mujahid, seringkali mereka pulang malam, adakalanya sampai pagi baru datang, kadang-kadang sampai berhari-hari tidak pulang, berbulan atau bertahun-tahun tidak bertemu keluarga.

Bukan tidak bertanggung-jawab atau “tak lagi punya hari”, ditelannya semua kerinduan itu demi kepentingan perjuangan dan tugas juangnya, demi keselamatan pribadi, shohabat seperjuangan atau bahkan seluruh perjuangannya.

Pulang ke rumah isteri tak punya uang, tidak juga ia membawa oleh-oleh makanan. Orang lain jauh dari keluarga pulang membawa harta, ia hanya membawa harapan dan masa depan perjuangan. Kemelaratan yang panjang harus siap ditanggung para mujahid. Kegembiraannya bukan lagi pada pemenuhan kebutuhan hidup biologis lagi, tapi pada tercapainya cita-cita perjuangan!

Itulah kehidupan para mujahid … bila menang, semua rakyat satu nasion ikut merasakannya. Bila kalah, ia sendirilah yang menanggung resiko. Singkatnya seorang mujahid adalah target incaran peluru lawan, sasaran pengisi kamp tawanan musuh. Tiada tempat beristirahat kecuali dalam sholat, atau di keheningan kuburnya kelak.

Maka dari itu, setiap yang melangkah ke gelanggang perjuangan, mesti mempersiapkan diri untuk hal ini jauh-jauh hari sebelumnya. jangan sampai sebelum tertangkap, berkoar-koar mengumbar semangat, puluhan tahun habis-habisan bergerilya sampai tak pernah menemukan kesenangann, namun sekali masuk kamp tawanan, tak berapa lama, segera saja membuat pernyataan menyesal dan mengaku salah di depan publik … memalukan … Sebab menyesal berarti mengakui bahwa dulu dia telah salah perhitungan dalam menentukan pilihan!, … Subhanalloh”. Salahkah menentukan sikap memperjuangkan Islam!!! Padahal kalau memang mau menyesal seperti itu sudah saja dari dulu jangan berjuang. Andai hari-hari pahit perjuangan itu dari dulu-dulu dipakai wiraswasta, mungkin hari ini sudah kaya. Ini bagaimana … sudah puluhan tahun menderita, sekalinya tertangkap, malah menyesal dan mengaku salah. Oleh musuh jadi cemoohan, kawan seiring menghinakan, apatah lagi Allaoh azza wa jalla ???

“Janganlah kamu lemah dan minta damai (menyerah kepada musuh) padahal kamulah yang diatas dan Allah pun beserta kamu; dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi amal-amal kamu”(Qs. Muhammad:35)

Bila sang mujahid telah beristri, didiklah isteri itu untuk bisa berdiri diatas kaki sendiri, berdagang misalnya, menjahit, bertani dsb dalam batas-batas yang dihalalkan Alah swt tentunya. Sehingga si isteri tidak selalu harus menunggu suami pulang. Baru masak kalau suami pulang membawa uang, baru beli baju anak, setelah suami datang… Ini terlalu gawat bagi kehidupan rumah tangga mujahid!

Begitu juga dengan pemberangkatan yang tiba-tiba, entah siang ataupun malam, sedang enak-enak berkumpul dengan keluarga, atau tengah tidur lelap di tengah malam, datang tugas dan ia harus cepat tinggalkan rumah menuju tugas juang.

Atau mungkin di larut malam, saudara seperjuangannya datang, sang isteri harus sigap bangun dan menyediakan makanan yang halal untuk saudaranya yang baru datang. Mungkin tamu-tamu itu menginap, mungkin pula mengajak suaminya untuk pergi malam itu juga untuk suatu tugas penting.

Begitulah keadaan rumah tangga mujahid, jangan dibayangkan akan santai, senantiasa romantis tanpa pernah terusik orang datang. Meski demikian rumah tangga mujahid akan tetap kukuh bila masing- masing pihak menyadari surat At-Taubah ayat 24

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ(24)

“Katakanlah : Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Alloh dan Rosul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah:24)

Karena itu pengajian dan berbagai bentuk pengokohan mental mesti secara menerus dikonsunsi keluarga mujahid.

Tidak akan ada Islam kaffah, kalau tidak ada orang-orang yang siap mengorbankan dirinya di jalan Allah. Titik! Itulah adagium perjuangan Islam.

Banyak ‘mujahid’ yang tahan dengan pukulan derita semasa, tapi tak bisa sabar manakala kemenangan dianggapnya tak kunjung datang, problema perjuangan tak kunjung selesai. Mereka patah di tengah jalan, kemudian mereka berkata pada generasi muda “Kami pernah lalui itu dalam masa yang panjang, tapi tak menghasilkan apa-apa, carilah jalan lain...Na’udzubillahi min dzalik. Mereka tidak mensyukuri waktunya yang telah habis dalam perjuangan sabilillah, mereka minder karena tidak berhasil. Yah … karena yang diincarnya cuma keberhasilan duniawi!.