Terhadap yang mengatakan Pedoman Darma Bakti (PDB) membuat sebagian kita pusing, berbeda-beda menafsirkannya sehingga berpecah-pecah, maka kami menyatakan hal itu sungguh salah besar! Sebab, yang benar adalah sebagai berikut di bawah ini :

Pertama, Justru kita berpegang pada pedoman (undang-undang) tersebut itu supaya kita tidak pusing, kecuali jika bagi yang belum bisa memahaminya. Atau juga bagi yang sudah memahami serta mengakui kebenaran yang dikandung undang-undang itu sedang hatinya berat menerimanya. Itu satu di antara penyakit hati ; mengaku kebenaran cuma di dalam hati menolak dalam sikap. Ada dua penyebab bagi yang menafsirkannya menyalahi dari penafsiran yang sebenarnya, yaitu :

  1. Kurangnya wawasan dalam hal yang berhubungan dengan undang-undang itu.
  2. Wawasan cukup, tapi tidak ikhlas untuk mengaku kebenarannya, sehingga tidak jujur dalam mengemukakannya.

Point yang kedua ini biasanya terjadi pada orang yang takut dengan undang-undang itu dirinya tergeser. Atau juga gengsi serta malu, jatuh wibawa karena sudah terlanjur mempertahankan pendapatnya. Jadi, yang membuat umat pecah-belah itu bukan undang-undangnya. Melainkan, jika bukan factor ketidakmengertian, tentu sebab ketidakikhlasan sang penafsirnya. Perhatikan ayat di bawah ini:

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya.” (Q.S. Asy Syu’araa : 197).

Pada ayat di atas itu terdapat kata “Ulama”. Hal itu untuk saat dewasa ini tidak ditujukan kepada ulama Bani Israil saja, melainkan orang yang sudah mengerti. Berkaitan dengan itu kita lihat lagi ayat yang bunyinya :

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Q.S. Al An’am : 33).

Asbaabunnuzul dari ayat itu menerangkan bahwa para pentolan musyrikin seperti Abu Jahal, Abu Sofyan dan Akhnas dalam hati mereka membenarkan bahwa Muhammad s.a.w itu sebagai Nabi. Namun mereka menyembunyikan hal itu dihadapan para pengikutnya, karena takut masing-masing kedudukannya jatuh. Artinya, jika ketahuan oleh para pengikutnya niscaya akan didepak dari masing-masing kepemimpinannya. Atau jika terus terang mengakui kenabian Muhammad Saw, berarti para pentolan yang bangsawan itu akan dipimpin oleh Muhammad yang asalnya penggembala domba.

Memang, ayat itu ditujukan kepada para pentolan Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Sofyan serta Akhnas yang jelas tidak Sholat dan tidak berpuasa Ramadhan, juga mereka sudah tiada. Akan tetapi, kesombongan serta dengki dari sifat iblis tidak berhenti sampai sekarang, Iblis sudah berikrar untuk menyesatkan manusia dari segala segi kehidupan (Q.S. 7 : 16-17) sehingga seseorang tidak menyadarinya. Menuntun ummat keluar dari undang-undang Ulil Amri yang hak sungguh suatu kebathilan. Sedangkan perbuatan bathil itu merusak shalat. Sebab itu, waspadalah terhadap pintu masuknya Iblis!.

Tujuan Iblis ialah supaya manusia masuk neraka (Q.S. 35 : 6). Caranya berbeda-beda tergantung kondisi manusianya. Bisa saja dari segi shalat dan puasa seseorang tidak tergoda, tapi dalam menghilangkan keangkuhan dan gila hormat tidak mampu, yang akibatnya terus membohongi ummat sehingga ummat tidak tahu dasar hukum pemimpinnya, dituntun kepada kepalsuan atau digiring kepada anggapan belum adanya pemimpin. Sungguh berani jika infaqnya diambil sedangkan belum ada pemimpinnya. Atau tidak berdasarakan hukum. Bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti di Akhirat ?

Padahal pihak thagut alias ‘Setan’ saja punya pemimpin. Apalagi dalam Islam sebelum Khadijah, Abu Bakar serta Ustman bin Affan menginfaqkan harta mereka, juga sebelum Yassir dan Sumayyan dibunuh dan Bilal bin Raba’ah disiksa musuh, kesemuanya itu sudah ada kejelasan pemimpinnya.

Kedua, Justru dengan berpegang pada undang-undang itu supaya kita tidak berbeda-beda. Sebab, di dunia manapun tidak ada undang-undang yang dibuat supaya di antara para pemegangnya berbeda-beda dan berpecah-belah.

Ketiga, Justru pula kita harus berpegang pada undang-undang (PDB) itu karena kita berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.

Contoh Pertama, Yakni, di dalam Al-Qur’an ada ayat yang memerintahkan kita supaya mentaati “Ulil Amri (para pemegang urusan)” yaitu pemimpin atau majlis kepemimpinan. Artinya, kita diperintahkan mentaati peraturan./undang-undang yang ditetapkannya. Jadi, untuk kita berpegang pada Al-Qur’an itu kita wajib juga berpegang pada undang-undang, yang untuk NII yaitu Qanun Azasy, PDB dan Straftrecht. Berkaitan dengan undang-undang, kita perhatikan ayat yang bunyinya :

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan Shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Asy Syura : 38).

Dari ayat itu kita diwajibkan bermusyawarah. Hal itu berarti kewajiban merujuk kepada undang-undang. Sebab, undang-undangnya itu juga hasil musyawarah. Dengan demikian musyawarah itu ada batasannya. Diantaranya:

  1. Harus sesuai dengan undang-undang, karena jika tidak demikian, akan kacau, semua bisa ngaku telah bermusyawarah. Dan bisa-bisa hasil rekayasa “Thagut (musuh)” pun diakukan sebagai hasil musyawarah.
  2. Yang dimusyawarahkan itu ialah yang belum ada dalam undang-undang. Sebab, jika yang sudah ada dalam undang-undang, misalnya masalah kepemimpinan selalu diperdebatkan, maka tidak akan habis-habisnya sehingga tidak akan kerja-kerja.

Contoh Kedua, Al-Qur’an mewajibkan kita bersatu, sebagaimana diungkapkan dalam ayat yang bunyinya :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,…),” (Q.S. Ali Imron : 103).

Dari ayat itu dimengerti bahwa umat itu bisa bersatu apabila berpegang pada “Hablullah (garis yang ditentukan Allah)”, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Sebagai bukti, pada awalnya berdirinya Negara Islam di Madinah umat Islam yang minoritas dan terus menghadapi berbagai gangguan fisik dari dalam ataupun luar, namun tetap bersatu sebab semua umat berpegang pada undang-undang (Piagam/Undang-undang Madinah) sehingga seragam, baik itu dalam hal kepemimpinan maupun dalam penentuan mana musuh dan mana bukan. Dengan demikian bisa disimpulkan secara hukum bahwa yang disebut berpecah belah itu mereka yang tidak berundang-undang (inkonstitusional). Perhatikan sabda Nabi SAW :

“Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Sesungguhnya Allah tidak menyatukan ummatku atas kesesatan. Tidak akan bersatu ummat kecuali dalam petunjuk (Hudaan).” (H.R. Tirmidzi).

Yang disebut “Hudaan” yaitu petunjuk. Dan yang disebut petunjuk itu ialah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, atau perbuatan Nabi seperti halnya membuat undang-undang negara di Madinah. Nabi Muhammad SAW membuat Undang-Undang Negara Islam, ummat diwajibkan mentaatinya. Sebab, apa artinya berUlil Amri jika tidak taat kepada undang-undangnya. Jadi, yang tidak taat pada undang-undang negara yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, merekalah yang tidak berpegang pada Sunnah (Hudaan).

Contoh Ketiga, Bagian akhir dalam undang-undang pemerintahan Nabi di Madinah disebutkan antara lain :

“Sesungguhnya tidak ada orang yang akan melanggar ketentuan (undang-undang) tertulis ini kalau bukan pengkhianat dan pelaku kejahatan”.

Dengan itu jelas ummat Nabi SAW diwajibkan berpegang pada undang-undang pemerintahan Islam di Madinah yang pada waktu itu. Jadi, bahwa kita juga berpegang pada Undang-Undang Negara yang berdasarkan Qur’an dan Hadits Shahih, mencakup didalamnya semua Maklumat hasil musyawarah Dewan Imamah NII itu disebabkan kita berpegang pada Sunnah Nabi SAW.

Dalam semua perkumpulan atau kelembagaan, orang-orangnya bisa bersatu apabila semuanya konsisten pada perundang-undangan atau peraturannya. Misalnya, dalam permainan bola saja dari setiap negeri bisa bersatu dalam satu kompetisi, karena semua berpegang pada peraturan main bola. Sebaliknya, meskipun cuma dalam satu kampung, namun jika sebagian ada yang tidak mau berpegang pada peraturan main bola, maka tidak akan jadi main bola yang sebenarnya, melainkan main bola bohongan. Sama halnya dengan itu, bisa disebut NII apabila memakai perundang-undangan NII. Bisa bersatu di dalamnya jika semua pakai aturan-aturannya. Antara lain yaitu PDB.

Kesimpulannya, bahwa berpecah-belah itu, karena tidak berpegang pada satu rujukan (undang-undang). Yaitu, ingat pada negara tapi lupa pada peraturannya, ingat pada ayat jihad lupa kewajiban taat pada undang-undang yang dikeluarkan oleh Ulil Amri (Dewan Imamah), maka terjadilah berfirqoh-firqoh (cerai-berai). Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan : “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S. Al maidah : 14).

Pelajaran berharga!!! baru-baru ini negeri kita diramaikan oleh peristiwa “Jatiasih” dan “Temanggung”. Terlepas siapa orangnya, benar atau tidak perjuangannya, kita dapat mengambil pelajaran bahwa RI melalui tulang punggung negaranya yakni TNI dan Polisi bersatu padu untuk mengamankan negaranya dari segala ancaman dan gangguan yang bisa mengganggu eksistensinya negara RI. Ingatlah RI itu seperti “Masjid Dhiror, Kufron dan Tafriqon” seperti firman Alloh dibawah ini:

“dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan/ dhiror (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran (kufron) dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin (tafriqon) serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (Qs. At Taubah: 107)

janganlah kamu berdiri dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu berdiri di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Qs. At Taubah: 108)

Jika dulu pada zaman Rosululloh SAW. ketika Madinah sudah Eksis maka dibangunlah Masjid Quba sebagai pusat pemerintahannya dalam menjalankan roda pemerintahannya dibawah kepemimpinan Rosulullah SAW. Dan selanjutnya ada beberapa orang munafik yang tidak suka kepada Rosululloh sehingga membuat “Masjid tandingan”.

Ada ayatnya berarti ada kejadiannya. Kita tahu bahwa fakta sejarah eksistensi RI sebenarnya cuma 3 tahun (17 Agustus 1945 sampai 19 Desember 1948) yang ditandai pengibaran bendera putih oleh Sukarno di Yogyakarta sebagai tanda menyerah kepada Belanda sehingga Indonesia dalam keadaan Vacum of Power (Kekosongan penguasa).

Karena karunia Alloh ‘Azza Wa Jalla maka pada tanggal 7 Agustus 1949 ummat Islam Bangsa Indonesia memproklamasikan Negara Islam Indonesia dengan menggunakan hukum Islam. Inilah sebagai “Masjid Taqwa” sebagai awal tempat bersujudnya Ummat Islam Bangsa Indonesia kepada Alloh selama 24 jam dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengingatkan kembali silakan klik cikal bakal NII dan Menguliti Mitos RI buatan Sukarno

Oleh karena itu marilah kita sebagai ummat Islam bangsa Indonesia bersatu kedalam “Masjid Taqwa” yakni Negara Islam Indonesia sebagai Negara Karunia Alloh. Perhatikan firman Alloh dibawah ini:

“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim.” (Qs. At Taubah: 109)

Wahai para Mujahidin Indonesia yang masih “ada aqidahnya” dan Ummat Islam bangsa Indonesia, musuh saja terus bersatu padu untuk mengamankan negaranya padahal negara mereka dalam keadaan eksis, bagaimana dengan kita semuanya yang sudah disediakan NII oleh para pejuang dulu sebagai “Masjid Taqwa (Qs.9:108), tempat kita bersujud 24 jam kepada Alloh ‘Azza Wa Jalla dalam kehidupan sehari-hari, akankah kita bercerai berai terus, akankah selalu mengedepan ego kita terhadap pola perjuangan masing-masing?

Simaklah ayat berikut ini sebagai motivasi buat kita:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. (Qs. Al Maidah: 112)

Pada ayat diatas yang dimaksud dengan “Tali Alloh” adalah perlindungan yang telah ditetapkan oleh Alloh yakni Al Quran, sedangkan “Tali Manusia” adalah perlindungan yang diberikan oleh Pemerintahan Islam. Adanya pemerintahan Islam berarti terlebih dahulu harus mewujudkan Negara Islam yang berdasarkan Al Quran (Tali Alloh) dan Sunnah.

Jika kita tidak berpegang kepada kedua tali tersebut maka akibatnya bangsa Indonesia yang mayoritas muslim akan selalu ditimpa kehinaan, kemurkaan dari Alloh dan kerendahan. Mengapa bisa demikian? karena Ummat Islam Bangsa Indonesia telah mengingkari ayat-ayat Alloh, tidak melanjutkan risalah Nabi SAW (membunuh para Nabi tanpa hak) dan berbuat durhaka serta melalmpaui batas.

Wallohu a’alm bish showab