Dalam hal ini kita lihat Firman Allah SWT :

وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَاوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (74)

“Dan orang-orang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan pertolongan, mereka itulah sebenar-benarnya yang beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal : 74).

Umat Islam pada zaman Nabi SAW telah berhijrah dari Makkah ke Yatsrib. Dan setelah memproklamirkan negara Islam di Yastrib kemudian menjadi Madinah, dapat leluasa menjalankan hukum-hukum Islam tanpa gangguan dari konco-konconya Abu Jahal, Abu Lahab dan sebangsanya.

Walaupun di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menerangkan tentang hijrah, namun tidak didapat ayat yang mengharuskan kita berhijrah ke sesuatu tempat tertentu. Adapun nabi berhijrah ke Yastrib, di sana pada masa itu di dapat banyak umat mu’minin yang kemudiannya dinamakan golongan Anshar (penolong). Yang mana telah sanggup membantu kedatangan pihak muslimin dari Makkah. Tentu sebagai jalan yang paling mudah untuk berhijrah pada waktu itu hanya ke Yastrib.

Makkah bumi Allah ; Yastrib pun bumi Allah, maka mengapa umat Islam di kala itu meninggalkan Makkah ? Tentu, karena di Makkah selalu diancam secara fisik oleh pihak musyrikin. Dan mengapa demikian diancam ? Sebabnya ialah “konsisten” terhadap ajaran Islam, tidak mencampuradukkan antara ajaran yang hak dan yang bathil. Sehingga tidak kompromi dengan kaum penentang azas Islam. Pengikut-pengikut Rasul itu “benar-benar hanya menyembah kepada Allah SWT”, berarti siap berjuang mengenyahkan rangkulan pihak musyrikin. Karena itulah dapat diambil pengertian bahwa yang menjadi masalah pokok dari sebabnya hijrah, bukanlah persoalan tempat. Melainkan, keharusan mempunyai garis pemisah dari kekuasaan yang bathil. Kemudian memperkuat yang hak supaya dapat didhahirkan dan dipertahankan.

Telah kita jelaskan bahwa bagi umat Islam pada zaman Nabi lebih mudah memproklamirkan Negara Islam Madinah (Yastrib) daripada di Makkah. Berbeda dengan itu, maka keadaan umat Islam di Indonesia dewasa ini yang pada umumnya tidak mempunyai kaum anshar di luar Indonesia. Namun dengan hal-hal itu tidak berarti lepas dari kewajiban berhijrah. Hijrah adalah syarat bagi seseorang yang memisahkan diri dari keadaan yang bathil. Jadi, bila kita sadar bahwa diri masih berada (terlibat) pada hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah, maka harus segera berhijrah semaksimal kemampuan yang ada, walau hanya dalam bentuk aqidah. Hal itu sejalan dengan yang dinyatakan dalam QS.  Ali Imran : 28-30. Bagaimanapun keadaannya, maka berhijrah dalam bentuk aqidah adalah wajib dilakukan (fardhu a’in).

Sebagai analogi untuk itu ; kita diwajibkan melakukan shalat yang lima waktu pada prinsipnya harus dilakukan dengan berdiri, tetapi bilamana dalam keadaan darurat yang benar-benar telah memaksa kita tidak sanggup berdiri, maka dibolehkan sambil duduk. Bila duduk pun tidak dapat dilakukan, maka boleh dilakukannya sambil berbaring. Namun, shalat tetap hukumnya wajib dikerjakan. Berhijrah yaitu memisahkan posisi diri dari yang bathil adalah tegas perintah dari Allah SWT, sama wajibnya dengan shalat. Jadi, wajib dalam mengerjakannya, hanya cara pelaksanaannya saja yang harus dengan sehabis-habisnya daya. Dengan itu bila tidak berdaya untuk berhijrah yang sama dengan kesempurnaan semustinya, maka tetap diwajibkan berhijrah sebatas kemampuan usaha kita.

Antara shalat dan berhijrah fisabiilillah, keduanya mempunyai kaitan satu sama lain. Kedudukan hukumnya tidak dapat dibeda-bedakan, hukumnya sama wajib. Sebagaimana bahwa esensi dari mengerjakan shalat, berarti bersedia membuat garis yang memisahkan dari hal-hal yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT. Namun, bagaimanapun wajibnya sesuatu amal, kita adalah manusia, lemah. Kita diperintahkan taat kepada Allah menurut kemampuan yang ada pada diri kita. Allah tidak membebankan kewajiban pada seseorang kecuali berdasarkan kemampuannya. (lihat QS. 2 : 286, QS. 7 : 42, QS. 64 : 16).

Dalam ayat itu diterangkan, bahwa yang “sebenar-benarnya beriman” adalah yang berhijrah dan mempertahankan posisi hijrah (jihad fisabiilillah). Juga, yang memberi tempat kediaman serta menolong yang sedang mempertahankan kedaulatan Islam dari ancaman musuh.

Memperhatikan surat Ali Imron ayat 28-30 beserta sejarah Nabi SAW. dimengerti bahwa pada masa nabi pun tidak semua pengikut rosul itu dapat melakukan hijrah dalam bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah Mekkah karena mereka terpaksa oleh kondisi dan situasi. Namun dalam aqidah mereka hanya mengakui kelembagaan yang berazas Islam di Madinah. Sejajar dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat dari Alloh SWT. mengharuskan tinggal di Indonesia, maka berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi, tempat berbakti kepada Alloh SWT.  Kita mempunyai hak untuk menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuatan yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaffah. Serta wajib mendepak pemerintahan yang telah merampok hak-hak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan kitabulloh. Kita mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari kepemimpinan yang bathal. Untuk itu perhatikan sekelumit sabda Nabi SAW. “…orang yang berhijrah (muhajir) yaitu yang pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh SWT.” (HR. Bukhori).

Kesimpulan…!!!

Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah itu, bukanlah meninggalkan tempat, akan tetapi keharusan meninggalkan hal yang bathal serta pindah kepada yang hak. Dalam kalimat yang lain yaitu beralih dari struktur thoghut kepada yang berdasarkan “kebenaran Alloh SWT atau pindah kepemimpinan  (ulil amri) yang bukan Islam kepada berpedoman hukum-hukum Islam. Oleh karena itu bahwa Ummat Islam Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah”, yang mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah kepada yang bernama “Negara Islam Indonesia” (NII) yang berdasarkan kepada Al Quran dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 1-2 konstitusi NII).

Ummat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah dari pemerintah Belanda, yang mana sebelum itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari kaum nasionalis Indonesia ketika pemerintahan Sukarno-Hatta mengibarkan bendera putih pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta “…dia bersama banyak pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma memilih untuk  mengibarkan bendera putih dan menyerah.”(“TEMPO”, 20 Maret 1982 hal. 15). Dengan pengibaran bendera putih maka sejak saat itu juga, secara de jure bahwa Proklamasi Kemerdekaan  yang pernah diumumkan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pun telah bubar-menyerah total akibat agresi Belanda pada tanggal 19-12-1948 di Yogyakarta. Sebab itu, agar kita mengetahui adanya proses yang merintangi NII, maka selanjutnya silakan pahami kembali artikel dibawah ini:

  1. Hilangnya nilai Proklamasi RI 17-8-1945
  2. Menguliti Mitos RI buatan Sukarno dengen kelompok Unitaris RI nya
  3. Proklamasi NII vs Proklamasi RI

Sekali kebenaran yang berdasarkan Islam diproklamirkan, maka sikap kita adalah wajib mempertahankannya. Perjuangan NII bukanlah hanya hak seseorang yang menjadi oknumnya, melainkan hak ummat Islam. S.M. Kartosuwiryo tertangkap saat memimpin perjuangan dan tidak pernah membubarkan kelembagaan NII. Sebab itu beliau siap dihadapkan ke muka regu tembak, tidak bersedia menandatangani perintah mencabut proklamasi, dan tidak menuruti perintah dari pihak Republik Indonesia  untuk menghentikan perjuangan. Begitulah bahwa mempertahankan furqon wajib terus dilakukan sejalan dengan kemampuan kondisinya. Kini bagi beliau telah selesai menyandang tugas dari Alloh SWT. Maka, kita inilah selaku pelanjutnya. Jelas kita sambut dengan gembira karena merupakan kesempatan diri guna mencapai “ridho Alloh SWT”. Dan wajib bersyukur bahwa kita masih diberikan usia untuk menjual diri kepada Alloh, serta berpihak pada jalan yang benar.

Satu kali yang “hak” dinyatakan berdiri, maka pada dasar sejarahnya tak dapat dihapuskan. Dari itu bagi yang tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Islam 7 Agustus 1949 itu, berarti tidak mengakui kebenaran yang telah ada. Atau selain itu termasuk juga pemecah perjuangan (mufariq lil jama’ah). Cuma ada dua jalan (Qs. 90:10). Pengertiannya, bilamana posisi diri seseorang itu tidak pada yang “hak”, maka berarti ada pada jalan yang “bathal”. Selaras dengan itu bahwa lembaga Imamah yang diproklamasikan pada tanggal 7 Agustus 1949 itu adakah “satu-satunya” wadah yang memisahkan yang hak dari kekuasaan yang bathal di Indonesia, juga sesuai dengan bunyi proklamasinya yang menyatakan berlakunya hukum Islam bagi seluruh ummat Islam Indonesia, maka bagi yang melawannya berarti diluar garis hijrah dan wajib ditumpas. Demikianlah “Furqon di Indonesia”. Allohu Akbar…!

NII dari dulu sampai sekarang sudah banyak di propokasi dan dipropaganda oleh Musuhnya (Thogut RI) dengan sebutan gerombolan, aliran sesat, Duruk Imah (DI, terjemahannya bakar rumah) dan bahkan sekarang istilah terorisme sudah mulai mereka publikasikan.

Wahai para ulama, para kyai, cendekiawan,  politisi, sejarawan, Ilmuwan, para Executive, Pengusaha, Mahasiswa, para pelajar dan aktivis lainnya, jika anda semua merasa sebagai muslim apakah benar NII itu seperti yang dituduhkan  musuh ?. Padahal anda masih mendengar sebatas isu, kata si A, menurut si B, seperti di TV A, berita dari TV B. Jika anda memang ingin tahu seperi apa NII itu, silakan baca dan pahami link dibawah ini lalu bagaimana kesimpulan anda?

  1. Proklamasi NII
  2. Qonun Asasi NII
  3. Strafrecht NII
  4. Pedoman Darma Bakti NII
  5. Program Perjuangan NII
  6. Marhalah Jihad NII
  7. Fikih Jihad fi sabilillah