1.  Berbuat Kemudian Bermohon

Telah menjadi kenyataan dalam sejarah bahwa senjata tidak bisa dilawan dengan suara. Melainkan, harus dengan senjata pula. Telah kita pahami bahwa pemerintah thagut itu akan terus merugikan potensi Islam. Karena itu, kita tidak berpikir mereka akan menyerah tanpa dikenakan tindakan dari kita. Sejalan dengan itu perhatikan kembali ayat yang bunyinya: “Dan persiapkanlah kekuatan untuk menghadapi mereka sekuat kemampuanmu…” (Qs. Al Anfal : 60).

Pada ayat di atas itu didapat kata “kekuatan”. Yaitu kekuatan yang menjurus kepada perlawanan fisik. Nyata bahwa kekuatan yang dimaksud oleh ayat itu bukan suara hasil permohonan (referendum) kepada pemerintah thagut atau dari sesuatu pemilihan.

Menghadapi musuh tidak cukup dengan berdo’a yang tidak didahului dengan perlawanan. Perhatikan Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّوْنَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلاَّ أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147)

“Dan berapa banyaknya Nabi-nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut-pengikutnya. Mereka tidak lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah, dan tidak lesu dan tidak menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS.Ali Imran : 146). “Tidak ada do’a mereka selain ucapan : “Ya, Rabb kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami (terhadap kaum kafir), dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum kafir”. (QS.Ali Imran : 147).

Ayat yang pertama, menerangkan tentang ketabahan dan kesungguh-sungguhan dalam berperang. Adapun ayat berikutnya, menerangkan tentang do’a yang diantaranya minta diampuni dosa dari tindakan yang berlebihan dalam berperang, juga memohon terhindar dari penguasaan kaum kafir. Dengan itu diambil pengertiannya ialah bahwa sebelum para penegak kalimat Ilahi itu berdo’a adanya pertolongan dari Allah, maka tidak menyerah terhadap kekuatan thagut. Jadi, kesimpulannya sebagai berikut di bawah ini :

  • Bagi yang tidak berjiwa lemah dengan terus mengadakan perlawanan terhadap kaum kafir, maka dinyatakan oleh Allah, termasuk sebagai orang-orang sabar.
  • Bilamana kita sudah berbuat dalam hal bertindak melawan musuh, sedang dalam tindakan itu terjadi sesuatu yang berlebihan, maka jalan satu-satunya adalah berdo’a agar diampuni dosa. Dan tidak boleh dibesar-besarkan. Sungguh kerdil bagi yang memperbincangkannya, bila dirinya sendiri tidak ikut bergerak melawan kafir. Arti lain hanya bisa mencela.
  • Adanya tindakan berlebihan dari kita yang tidak disengaja, karena luapan konfrontasi dengan barisan thagut mungkin saja terjadi. Hanya saja dalam hal itu kita berdo’a agar diampuni dosa kita. Sebab, jangankan kita bahkan umat terdahulu pun demikian.

Demikian halnya bila merasa belum ada kemampuan untuk menghancurkan kekuatan thagut, maka harus terlebih dahulu kita membuktikannya melalui gerakan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist Saw. Perlawanan demikian itu merupakan ujian bagi kita. Firman Allah SWT yang bunyi-Nya :

… وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لاَنْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

“…dan apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka (orang-orang kafir, dhalim, fasik). Akan tetapi, Allah hendak menguji sebagian kamu dengan yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, tidak disia-siakan amal mereka.” (Qs. Muhammad : 4).

Menghadapi lawan tidak boleh hanya dengan mengharapkan Allah saja yang membinasakannya. Sebab, bahwa adanya mereka itu adalah sebagai penguji terhadap keimanan kita ; apa mau terus tunduk ataukah akan melawan terhadap mereka. Kalau kita tunduk kepada mereka, berarti tidak taat kepada Allah, dan jahannam di hadapan kita. Jika kita tunduk kepada Allah, maka harus melawan mereka dan risikonya adu kekuatan, bahkan mungkin juga berpisah dengan alam dunia. Di sini letak ujian, mana yang mau dipilih ?.

2.  Pasrah Terhadap Cobaan

Disebut “beriman”, karena didasari oleh keyakinan “diberi amanat dari Allah”. Dengan begitu akan sadar bahwa apa pun yang menimpa padanya tidak lebih dari akan kembali kepada Allah. Sehingga hidupnya bertujuan mengemban amanat Allah, supaya dipercaya sebagai “pemegangnya”. Karena itu, tidak dijuluki beriman, bila tidak memegang amanat Allah. Bagi yang beriman itu bahwa soal menghadapi kekuatan thagut adalah soal biasa. Melawan atau tidak melawan terhadap thagut, maka tetap kita bakal bertanggung jawab kepada Allah dari hal kemampuan kita memperjuangkan hukum-hukum-Nya.

Sudah menjadi ketentuan bagi yang memegang amanat Allah, bila dalam memperjuangkannya itu akan menghadapi berbagai macam cobaan. Sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat yang bunyinya :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu ? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rasul dan orang-orang beriman bersamanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah ? “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. 2 : 214).

Dari ayat di atas itu diambil ketegasannya, bahwa untuk ke surga tidak bisa ditempuh dengan cara bersantai. Pada galibnya, bahwa bagi seseorang untuk memperoleh kesenangan duniawi saja harus terlebih dulu mengalami jerih payah. Maka, apalagi untuk mencapai sorga, tempat kenikmatan yang abadi, yang mana sejak diri dilahirkan, kita tidak melihat pernyataan yang mewariskan pada kita untuk memilikinya. Artinya, bahwa diri belum tahu akan di mana tempat kita. Sedangkan selain surga adalah neraka…….. Dan hanya satu alternatif jika tidak di surga, maka di neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Jelaslah pula jalan ke surga tidak diraih dengan berkaok-kaok tanpa pembuktian langkah yang menuju pelaksanaannya. “Alangkah besarnya kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. 61 Ash-Shaff : 3).

Kembali kepada masalah “tidak lepas dari ujian”, kita perhatikan ayat yang menerangkan tentang ujian bagi pengikut Rasulullah Saw yang bunyinya :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلاَمْوَالِ وَاْلاَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155)

“Dan sungguh akan kami berikan ujian kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira bagi orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 155).

Ayat tersebut di atas itu ditujukan kepada yang telah berada pada garis furqon, atau kepada yang telah bertekad melawan kekuatan pemerintah musyrik. Berarti hanya kepada yang telah bersedia berperang. Sebab, bahwa ujian berupa adanya kelaparan yang secara mutlak tidak membedakan antara yang kaya dan yang miskin, hanyalah dalam berperang. Walau sebagai hartawan, tetapi bila di medan perang tentu akan sama saja laparnya dengan yang miskin. Dan hanya dalam berperang akan terasa adanya hal-hal seperti yang dicantumkan pada ayat tadi. Dan juga ayatnya memang diturunkan berurutan dengan ayat mengenai hal yang berperang pada jalan Allah (QS. 2 : 154).

Tentu saja hal-hal yang diungkapkan oleh ayat di atas tadi itu tidak berlaku bagi yang kaya raya ; sedang jumud dan pengecut. Pula tidak berlaku bagi yang beratribut kiai haji, tetapi penjilat ; dengan tidak merasa akan menghadapi musuh. Bagi yang serba cukup dalam duniawi sedemikian itu, tidak terpikir olehnya akan situasi kelaparan, sebab tidak mempunyai tekad untuk pergi berperang. Baginya tidak akan merasa ketakutan, karena tidak punya rasa bakal diancam oleh thagut ; yang mana thagut pun telah dianggapnya sebagai kawan. Dan memang baginya tidak merasa mempunyai musuh, walau hidup di bawah pelaksanaan hukum-hukum dari KUHPidana, jahiliyah. Dirinya pun tidak bakal merasa kekurangan harta, sebab sebagian besar waktunya juga hanya dipergunakan mencari “duit”, yang tidak diarahkan untuk konfrontasi dengan pemerintah kafir. Dalam hatinya pun tidak terlintas akan adanya korban jiwa, karena manusia yang serupa itu selalu mengikuti pemerintah mana saja yang sedang menang. Para pengekor dan sebangsanya itu berlagak tidak tahu bahwa Islam sedang dipreteli dan hukum-hukumnya diinjak-injak thagut. Tafakurilah oleh bapak-bapak ; apakah ayat Al-Qur’an di atas tadi tidak berlaku bagi anda atau karena memang setan selalu menggandeng anda hingga diri sukar menerima kebenaran Ilahi ?

Sampai di sinilah uraian ringkas mengenai proses perjuangan yang dapat penulis kemukakan dalam buku ini yaitu ;

  • Menempatkan pola Rasulullah Saw sebagai strategi perjuangan.
  • Adanya jama’ah yang riil.
  • Berada di dalam furqon.
  • Berjihad fisabilillah.
  • Memiliki kekuatan senjata.
  • Sadar bahwa tidak luput dari ujian.